NovelToon NovelToon
KUTUKAN KUYANG

KUTUKAN KUYANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Kutukan / Tumbal
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Siti H

Teror yang mengguncang Desa Keramat sudah melahirkan kondisi yang mencekam bagi warga.

Dimana ada banyak anak-anak yang menghilang, wanita hamil, dan bahkan orang dewasa tak luput dari serangan tersebut.

Siapakah penerornya?

Ikuti kisah selanjutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Guru Baru Yang Aneh

Kabut turun cukup tebal di Desa Keramat pagi ini.

Sungai Mahakam terlihat tenang. Bahkan sangat tenang, seolah semalam tidak terjadi apa-apa. Bahkan seperti tidak menelan jiwa siapapun.

Akan teapi di setiap rumah, pintu dan jendela dikunci cukup rapat. Anak-anak tidak ada yang berani untuk keluar.

Berita hilangnya Anto menyebar cukup cepat. Dan ini membuat suasana semakin mencekam.

Para ibu-ibu sedang bergosip saat mereka sedang berbelanja di warung. "Desa kita semakin mengerikan ya. Ketiga korban hilangnya pas maghrib semua," ucap Bu Rodiah dengan berbisik.

"Iya... kita harus waspada," Halimah menimpali.

Mereka mendadak merasakan bulu kuduknya meremang.

****

Waktu memperlihatkan pukul lima pagi. Dayang Sari terbangun dari tidurnya. Keringat dingin membasahi pakaian tidurnya.

Ia melirik syal tenun berwarna merah marun miliknya yang tergeletak di atas lantai, tak jauh dari tempat tidurnya.

Ia seperti sedang bermimpi buruk, dan wajahnya sangat pucat. I

Dayang Sari memijat kepalanya yang terasa sangat pusing, dan menahan rasa ingin muntah.

Dengan sempoyongan, ia berjalan menuju kamar mandi yang ada di bawah rumah. Saat melintasi lemari pakaian dengan cermin yang besar, ia menatap lama wajahnya yang terlihat semakin cantik.

Dayang menghampiri cermin. Meraba wajahnya, dan ia tersenyum tipis. Akan tetapi, ia merasa heran dengan lehernya yang tampak garis merah melingkar, seperti luka sayatan yang sudah menjadi keloid.

"Apa yang harus aku lakukan?" bisiknya dengan rasa serba salah.

Di satu sisi ia semakin cantik, di sisi lainnya ia tak rela karena mendapatkan kecantikannya dengan cara yang salah.

Ia bergegas pergi ke kamar mandi, dan memilih untuk membersihkan dirinya.

Setelah berberes, ia pergi menuju rumah Atok Damang. Ia menapaki anak tangga, tetapi pintu rumah itu terkunci.

"Tok..." panggilnya dengan suara lirih.

Tidak ada jawaban. Atok Damang sudah berangkat ke balai desa sejak subuh.

Dengan tangan gemetar, Dayang membenahi syalnya. Mengikatnya lagi untuk menutupi keloid di lehernya. .

"Hari ini ulun akan mengajar," gumamnya. Lalu memilih untuk turun dari tangga, dan tampaknya ia tersenyum dengan sumringah. "Demi untuk anak-anak."

Dayang melangkah dengan sepatu pansus berwarna hitam, rambutnya di kuncir ekor kuda. Langkahnya cukup ringan.

Saat bersamaan, ia tanpa sengaja berpapasan dengan Bu Rodiah yang baru saja pulang dari warung. Perutnya membuncit, dan ia sudah memasuki usia kehamilan empat bulan.

"Eh, Bu Dayang... Mau mengajar ya?" sapa Rodiah dengan ramah.

Dayang Sari berhenti sejenak. Lalu mengulas senyum yang cukup misterius. Entah mengapa ia merasa sangat senang melihat perut buncit milik Bu Rodiah.

Ia sempat menatapnya lama, dan seperti sepiring makanan lezat yang menggiurkan, air liurnya sampai menetes.

Rodiah mengerutkan keningnya. "Ada apa ya, Bu Guru? Kok liatin saya sampai segitunya?"

"Hah!" Dayang tersentak kaget. "Oh, anu, Bu. Saya sedang mengusulkan program MBG untuk wanita hamil, balita, dan juga ibu menyusui," sahutnya cepat.

"Oh, begitu. Ya semoga saja cepat tersampaikan. Saya permisi dulu, Bu Guru. Soalnya mau memasak," Rodiah berpamitan.

Dayang Sari menganggukkan kepalanya. Dan Ia menoleh sejenak untuk memandangi kepergian Bu Rodiah.

Setelah lima menit berlalu, akhirnya Dayang Wulan tiba di TK TUNAS HARAPAN tepat pukul tujuh pagi.

Sebuah sekolah yang di bangun dengan bangunan rumah panggung yang hanya lima meter kali lima meter saja.

Terlihat halaman sekolah sudah sapu dan bersih, dan cat nya yang memudar juga sudah di perbaharui.

Sekolah TK TUNAS HARAPAN adalah Negeri yang sempat terbengkalai karena tidak adanya tenaga pengajar.

Kehadiran Dayang Sari, membawa gairah baru bagi warga dan dunia pendidikan di desa.

Lima belas anak sudah duduk menantinya. Usia mereka antara empat samapi lima tahun.

Ia melangkah masuk dengan wajah yang sumringah.

"Selamat pagi, anak-anak!" suara Dayang Sari cukup cerah. Hari ini ia mengenakan pakaian seragam guru berwarna krem. Syalnya tetap melingkar di lehernya.

"Selamat pagi, Bu Guru!" jawab anak-anak kompak, dan serempak. Para murid sangat bersemangat, apalagi di ajar oleh guru yang cantik dan juga masih muda.

Dayang Sari tersenyum. Ini yang dia rindukan selama di kota. Tawa anak-anak yang selalu memanggilnya.

Ia mulai mengajari mereka bernyanyi, menggambar burung enggang, dan juga bermain tepuk.

Tapi di tengah kegiatan, Dayang beberapa kali menoleh ke arah jendela.

Ia merasa tak nyaman. Seolah ada merasa ada yang sedang mengawasinya.

"Bu Guru, kenapa pakai syal terus? Apa tidak panas." tanya Mawar, murid paling cerewet dan ingin tahu banyak hal, usianya belum genap lima tahun.

Dayang Sari tersentak kaget. Tetapi mencoba menjawab dengan santai. "Ini... alergi, Sayang. Leher Ibu gampang gatel."

Mawar mengangguk kepalanya yang tak gatal. Lalu tiba-tiba menunjuk ke luar.

"Bu, itu siapa?" ucapnya dengan suara yang menggemaskan.

Semua anak menoleh ke arah luar. Di depan pagar, berdiri seorang laki-laki tampan.

Pria itu mengenakan kemeja berwarna putih, celana kain hitam, rambut di pangkas rapi, dan membawa kamera serta buku catatan. Ia adalah Arkan Ananta.

Pria itu tersenyum ke arah Dayang Sari. Lalu melambaikan tangannya.

Jantung Dayang berdegup. Entah kenapa ia begitu gugup saat pertama kali pandangan mata mereka beradu.

Ia membenahi syalnya, seolah memberi isyarat agar tak ingin ada yang melihat keloid di lehernya.

 "Anak-anak, Ibu keluar sebentar ya."ucapnya pada para muridnya. Matanya menatap Mawar, murid paling muda dan tampak aktif dari yang lainnya.

Sementara itu, di halaman TK, Arkan mengulurkan tangannya. "Permisi, Bu...Saya Arkan Ananta. Jurnalis dari Jakarta."

Pria itu memperkenalkan dirinya. Wajahnya tampan. Kulitnya sawo matang, karean ia bekerja di bagian lapangan.

Dayang Sari membalas uluran tangan tersebut, dan menjabatnya. Tangannya terasa dingin. "Saya Dayang Sari. Guru TK di sini,"

Dayang melepaskan jabatan tangannya, dan entah mengapa ia merasa gelisah.

"Bu guru baru di sini ya? Saya lihat di data dari kelurahan, belum ada guru tetap yang mengajar di sini," ucap Arkan. Setiap kalimatnya seperti sebuah penyelidikan.

"Iya, Saya baru pulang dari Banjarmasin, menyelesaikan kuliah di sana," suara Dayang cukup pelan, tetapi jelas di telinga Arkan.

Suasana mendadak hening. Arkan memperhatikan syal di leher Dayang. Dimana dalam kondisi cuaca yang panas, tetapi tidak juga di lepas.

"Bu, saya mau tanya soal kasus anak yang hilang. Boleh mengobrol sebentar?" Arkan membuka keheningan yang terjadi.

Akan tetapi, ia tak dapat memungkiri, jika wajah Dayang terlihat sangat cantik. Bahkan Arkan tak dapat menggambarkannya dengan kata-kata.

Jika saja Dayang mau ke kota, maka ia akan menjadi seorang artis terkenal.

Mendengar ucapan sang pemuda, wajah Dayang Sari langsung berubah. Ia menundukkan kepalanya. "Maaf, Mas. Saya masih mengajar. Kasihan anak-anak."

1
Siti Yatmi
aduh..pas tegang..eh udahan....
neni nuraeni
semoga Arkan tidak ketauan dan segera mndptkn 2 minyak,,, 💪💪 Arkan 💪💪💪pula buat kak thornya biar upnya dbnykin🤭,lnjutt
FiaNasa
semangat Arkan kau pasti bisa
tati st🌼🌼
ayo semangat arka kamu pasti berhasil
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: 😘😘😘😘😘😘😘
total 1 replies
neni nuraeni
semoga Arkan berhasil,semangat Arkan,, semngt juga buat kak thor nya
Siti Yatmi
ayo arkan semangat kamu pasti bisa..💪 author cantik juga yg semangat yah up nya...😍
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: 😘😘😘😘😘😘😘
total 1 replies
neni nuraeni
lnjuttt
neni nuraeni: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 2 replies
FiaNasa
baguslah sudah ada titik terang untuk bisa melepaskan kutukan itu
tati st🌼🌼
🧡🧡🧡🧡🧡
tati st🌼🌼
katanya dlm sebulan gak bakal.minta tumbal dulu,dasar iblis janji palsu
neni nuraeni
iiihhh sllu deh bikin aku pnsrn Bae kak thor mah🤭🤭,, lnjuttt lahhh
FiaNasa
klau cuma ngomong aja mau cari jalan kluar tanpa bertindak mana bisa Arkan,,dr awal cuma ngomong terus tp gak ada tindakan
FiaNasa: udah tak siapin gayung ni thor buat getok si arkan😅😅😅
total 2 replies
neni nuraeni
kuyang oh kuyang kau meresahkan sekali,,, pengen tak bakar kau kasian dayang
neni nuraeni: betul itu kak 😂😂tapi jijay juga kali kak😁😁
total 2 replies
Desyi Alawiyah
Damang Jaya meninggal?

Semoga Dayang Sari dan Arkan menemukan cara agar bisa memutus mata rantai kutukan itu..

Kasihan kan Dayang Sari kalau harus jadi Kuyang terus 😭
neni nuraeni
ih tatut.. semoga mereka bisa menemukn cara agar dayang terlepas dr kutukan itu
Anggita.🤗
Syng sekali, gadis ko jd kuyang😫, mungkin kh ilmu hitam itu diturunkan dri kakek buyutnya ya.
Secara ilmu hitam itu katanya turun temurun, dan harus punya pewaris, isshh geri juga ya. 😫
Anggita.🤗
Saya dulu juga pernah diganggu kuyang thor, saat ber 2 sm ank ku yg waktu itu msh balita drumah.
Sumpah deh takut bngt, waktu itu aku lg haid, pas waktu hampir tengah malem diganggu.
Nafas nya berat dan nyaring,😫persis diatas atap dikamarku.

Saking takut nya aku baca ayat kursi, Allhamdulillah dia pergi juga, dan trdengar dia jatuh.
Anggita.🤗: betul bngt.
total 2 replies
Anggita.🤗
Wahh ada bahasa daerah nya, atau bahasa Banjar🤭thor, kalimantan selatan merupakan suku Banjar.
Sya sendiri punya suami orang Banjar, tetapi saya asli suku Dayak, salam persahabatan dan salam sehat thor ku. ☺
Anggita.🤗: oh gitu🤭
total 2 replies
V3
smg Arkan menemukan cara nya untuk memutuskan kutukan itu 🤗
V3
hmmmm ..... Damang Jaya pdhal di percaya sbgi panutan warga tp mlh Dia sndri yg JD Kuyang nya 😔😱😱😱😔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!