NovelToon NovelToon
Kau Menolakku, CEO Itu Memilihku

Kau Menolakku, CEO Itu Memilihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: masadepan_

Aurelia Evandra datang membawa sebuah kontrak.
Bukan untuk ditandatangani olehnya, melainkan oleh Nathaniel Alister—pewaris keluarga Alister yang terkenal dingin dan tak pernah tunduk pada siapa pun.
Semua orang menganggap Nathaniel akan menolak tanpa berpikir dua kali.

Namun, Aurelia datang dengan syarat yang tak bisa diabaikan. Sebuah tanda tangan menjadi awal dari permainan berbahaya yang mempertemukan dua pewaris, dua keluarga besar, dan rahasia yang selama bertahun-tahun terkubur.

Awalnya hanya kontrak.

Hingga perlahan berubah menjadi ikatan yang tak seorang pun mampu putuskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon masadepan_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepercayaan

Mereka tidak saling menyapa meskipun  saling mengetahui keberadaan masing-masing. Aurelia kembali mengobrol dengan Tyana. Begitu juga dengan Nathaniel yang sedang berbincang dengan dua orang pria yang tidak Aurelia kenal.

Waktu semakin pagi. Tapi Aurelia masih memilih tetap di sini. Ia mulai mencicipi makanan ringan yang tersedia. Tyana bersedia menemani dan ikut duduk, tapi tidak lama. Ia memberikan batasan waktu untuk Aurelia.

Tyana mengambil cangkir kopi di hadapan Aurelia tanpa meminta izin. Tak lama kemudian, ia kembali meletakkan secangkir teh hangat di depannya.

"Apa anda akan menyetujui kontrak dengan tuan Nathaniel?" Tyana duduk dengan punggung tegak. Kedua tangannya bertumpu rapi di atas paha, sementara sorot matanya menyapu seisi ruangan tanpa tergesa. Meski terlihat tenang, tak ada satu pun sudut yang luput dari pengawasannya.

Aurelia tidak langsung menjawab. Jemarinya mengusap pelan bibir cangkir teh yang sudah mulai kehilangan uap hangatnya. Pandangan Aurelia jatuh pada permukaan teh yang memantulkan cahaya redup club, seolah mencari jawaban di sana.

"Kalau semua persyaratan ku dipenuhi, kontrak itu akan aku tandatangani."  Dia menjawab dengan santai. Kemudian mencicipi teh itu dengan perlahan.

Mata Tyana masih beredar mengawasi sekitar. Ia tidak terlalu khawatir, karena beberapa pengawal Aurelia berpencar mengawasi tanpa ada yang tahu, termasuk Aurelia sendiri. Tapi waspada adalah hal utama. Fokusnya teralihkan pada ponsel miliknya yang berdering. Tyana merogoh di dalam kantung jas.

Benda pipih itu ia tempelkan di telinga.

"Pastikan Aurelia sudah berada di rumah sebelum saya datang menjemputnya sendiri."

Tyana menatap Aurelia yang saat ini tengah sibuk dengan ponselnya.

"Baik, tuan." Sambungan terputus. Tyana menghela napas panjang, lalu berdiri dan meraih tas milik Aurelia.

"Mari, nona. Kita pulang sekarang juga." Nada bicaranya terdengar serius. Tangan Tyana bergerak merapihkan barang-barang yang dibawa atasannya itu.

"Aku ngga mau." Aurelia menggeleng cepat.

Tyana melihat kearah jam tangan yang ia pakai. Jarum jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi.

"Saya mohon, nona. Kalau tidak, tuan akan menyeret anda dari sini secara paksa."

Awalnya Aurelia ingin menolak lagi. Tapi melihat raut Tyana yang begitu serius, akhirnya ia mengalah. Kepalanya mengangguk, ponsel yang berada ditangannya ia berikan kepada Tyana.

"Kira-kira, Papa bakal nampar atau lebih dari itu?"

"Nona..." Tyana memberi peringatan. Ia tidak ingin ada hal buruk terjadi lagi setelah mereka sampai di rumah nanti. Lalu ia memasukkan ponsel Aurelia kedalam tas. Tyana mempersilahkan agar Aurelia berjalan lebih dulu.

Aurelia mulai melangkahkan kakinya. Suasana club semakin ramai dan bising. Tubuhnya berjalan tegap diantara kerumunan yang sedang asik berjoged. Tangan Tyana terlentang melindungi tubuh Aurelia dari beberapa orang yang bisa jadi menyenggol tubuhnya.

Tangan Aurelia terangkat melindungi kepala. Matanya sedikit menyipit karena terlalu silau oleh cahaya lampu. Hingga tubuhnya berhasil melewati kerumunan.  Tapi kesialan tiba-tiba datang. Seseorang tidak sengaja menabrak tubuhnya hingga minuman yang orang itu bawa tumpah, dan membasahi bajunya. Aurelia menutup mulutnya. Matanya membesar, Cairan dingin itu langsung meresap ke kain putih yang dikenakan Aurelia. Dalam hitungan detik, warna kulitnya mulai samar terlihat di balik kain yang basah.

"Apa anda tidak melihat?" Tyana maju, ia sedikit lengah.

Aurelia melihat wajah orang itu, seorang pria mabuk yang membawa satu gelas minuman.

"Apa, hah?" Tubuhnya gentoyongan. Matanya terlihat sulit untuk terbuka lebar. Pakaiannya kusut, bau alkohol terlalu menyengat. Mata pria itu kemudian teralihkan pada Aurelia. Ia tersenyum miring, bola matanya bergerak mengamati kemeja putih Aurelia yang basah, hingga terlihat transparan.

Baik Aurelia maupun Tyana menyadari itu. Tubuh Tyana maju menghalangi Aurelia. Ia merentangkan kedua tangannya, dengan tangan kanan yang masih menenteng tas.

"Pergi dari sini sekarang juga." Tyana menatap tajam pria itu.

"Apa? Perempuan secantik dia seharusnya menemani saya." Pria itu menggigit bibir bawahnya, tubuhnya berusaha meraih Aurelia, namun berhasil dicegah Tyana.

"Jangan terlalu banyak bicara Tyana. Kita pergi saja." Aurelia berbisik dari belakang. Perasaannya tiba-tiba tidak enak. Tapi dirinya masih berusaha bersikap santai. Kedua tangannya memeluk tubuhnya yang mulai terasa dingin.

Tyana mengangguk. Ia menarik tangan Aurelia pelan dan mulai berjalan. Tapi pria itu tidak membiarkan mereka pergi, tangannya menarik Aurelia kasar.

"Saya sangat jatuh hati. Senang sekali melihat perempuan seperti kamu."

Di sudut lain ruangan, Nathaniel yang sejak tadi berbincang dengan dua pria berjas menghentikan percakapannya. Tatapannya beralih ke arah keributan itu. Wajahnya tetap datar, tetapi sorot matanya berubah tajam. Jemarinya meletakkan gelas air di atas meja bar tanpa suara.

"Attar."

Hanya satu panggilan pelan. Attar yang berdiri di sampingnya langsung memahami maksud atasannya. Ia mengangguk kecil, lalu memberi isyarat nyaris tak terlihat kepada beberapa pria berpakaian hitam yang menyamar sebagai pengunjung di berbagai sudut club.

Mereka mulai bergerak.

Aurelia memberontak. Tyana maju dan mendorong kasar tubuh pria itu. Mereka sudah menjadi pusat perhatian semua orang sedari tadi.

"Jangan bicara lagi, atau aku akan merobek mulutmu."

Prang!

Pecahan kaca berhamburan ke lantai.

Tubuh Tyana terdorong setengah langkah ke samping.

"TYANA!"

Aurelia menjerit. Ia kemudian menutup mulut menggunakan kedua tangan. Ia melihat pria itu memukul kepala Tyana dengan gelas yang sedari tadi ia pegang. Aurelia ingin maju, tapi cekalan tangan seseorang menghentikannya. Matanya menoleh pada Nathaniel yang entah sejak kapan berada dibelakangnya.

Nathaniel melepaskan cekalan tangannya karena melihat beberapa pengawal yang keluar. Dua orang menyeret tubuh pria itu menjauh dan menghampiri Tyana, sebagian lagi menghampiri Aurelia.

"Anda harus pergi dari sini sekarang juga. Nona."

Aurelia menggeleng cepat. Ia bergerak menghampiri Tyana yang berdiri dengan tangan yang mencekal pelipis yang terus mengeluarkan darah hangat.

"Tyana. Kita ke rumah sakit sekarang juga." Aurelia masih terlihat syok. Mata wanita itu terlihat berkaca-kaca.

Tyana menggeleng pelan.

"Tidak, nona. Lebih baik anda pulang sekarang juga." Tyana lebih mengkhawatirkan Aurelia jika pulang terlambat. Wanita itu berusaha terlihat tidak kesakitan.

"Apa kamu buta?" Rahang Aurelia mengeras.

"Kamu terluka, Tyana. Jangan melawan, dan pergi ke rumah sakit sekarang juga!" Nada bicaranya meninggi. Aurelia menggeram dan mengepalkan kedua tangannya.

Tyana melihat Nathaniel yang masih berdiri dibelakang Aurelia.

"Tuan Nataniel. Saya tidak mempercayai siapapun selain anda."

"Bisakah anda mengantarkan nona Aurelia kerumah?"

Nathaniel terdiam, pria itu masih berdiri tanpa ekspresi apapun. Kemudian terlihat Attar yang menghampirinya.

"TYANA, KAMU GILA. PERGI BERSAMA SAYA SEKARANG JUGA!" Aurelia tidak mau dibantah. Ia baru saja memperlihatkan ekspresi yang belum ia tunjukkan kepada siapapun sebelumnya. Ia sudah menitikan air mata entah sejak kapan. Ekspresi khawatirnya terlalu kentara, bersama dengan amarahnya yang bergejolak.

Tyana maju satu langkah. "Keselamatan anda adalah prioritas saya." Ia berbicara dengan nada rendah, bahkan mirip seperti bisikan. Ia tidak mau, suasananya menjadi tidak terkendali.

"Tuan Giovani menunggu anda dirumah. Pulang bersama tuan Nathaniel dan beberapa pengawal. Saya akan pergi kerumah sakit bersama Leon." Tyana melangkahkan kakinya pelan. Perih dan pusing dikepala mulai ia rasakan.

Ia berhadapan dengan Nathaniel. Kepalanya menunduk, ia kemudian membungkukkan tubuhnya.

"Maaf jika saya lancang, tuan. Nona Aurelia harus sampai kerumah secepatnya dengan selamat. Saya tidak bisa mengantarnya, saya takut dia semakin khawatir jika tahu kondisi saya yang sebenarnya." Tangan Tyana masih menahan kain yang membungkus pelipisnya. Kain itu diberikan pengawal tadi.

Nathaniel memperhatikan darah yang mengalir di pelipis Tyana. Tatapannya tetap datar, tetapi sorot matanya berubah lebih tajam. Situasi itu sudah cukup baginya untuk memahami apa yang baru saja terjadi.

Ia kemudian mengangguk kecil, lalu berpindah menatap Attar. Asisten pribadinya itu berjalan menghampiri Aurelia.

Tatapan Nathaniel singkat beralih pada kemeja putih Aurelia yang masih basah. Rahangnya mengeras nyaris tak terlihat.

"Mobil sudah siap. Mari saya antarkan sampai kerumah, nona." Tubuh Attar sedikit membungkuk. 

Sedangkan Aurelia masih diam membeku. Gadis itu tidak mendengar apa yang sedang Tyana dan Nathaniel bicarakan.

Tapi ia menyerah. Aurelia mengangguk pelan dan mulai melangkahkan kakinya yang gemetar. Attar mengikut dari belakang. Lalu Nathaniel juga berjalan bersama mereka. Beberapa pengawal mulai mengikuti mereka dari belakang.

Tubuh Tyana gontai. Ia melihat orang-orang yang mulai berpencar dari kerumunan. Matanya kemudian menatap punggung Aurelia yang mulai menghilang.

Tyana percaya pada calon rekan bisnis atasannya. Tyana percaya pada Nathaniel. Bukan tanpa alasan. Ada sesuatu yang selama ini ia simpan seorang diri.

"Bereskan orang itu." Tyana memberi perintah pada beberapa pengawal yang tersisa. Pandangannya mulai kabur. Lututnya melemah. Tubuh Tyana hampir ambruk sebelum Leon sigap menopangnya.

1
Lalapouu
dmi apaa makin seru
Lalapouu
siapa?
Lalapouu
betull ituuu
Muhtarom Ardianto
semangat
Muhtarom Ardianto
wow
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!