Jackly Ellesmere Zloty- dia adalah pamanku yang galak dan posesif. Tapi, dia selalu menuruti permintaanku. asal tidak bersangkutan dengan satu orang yang begitu di bencinya. yaitu.. Papa.
~BillbyImona
Tidak hanya kami.. semua orang pasti bertanya-tanya siapa sebenarnya Billby itu?
~tigabujangprancis
#family drama with romcom
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon whimsy quinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sleeping Queen In Paradise
"Gak ke kantin?"
Suara feminin yang terdengar asing itu membuat Vahan refleks mengalihkan pandangan dari layar tabnya. Cowok itu mengerjap terkejut. Gadis di sebelahnya—Billby—sedang menatapnya. Walaupun mereka sudah duduk sebangku sejak awal semester, ini adalah kali pertama Vahan mendengar suara gadis itu.
Bagaimana tidak? Keseharian Billby di sekolah hanya diisi dengan tidur dan tidur.
"Lo... ngomong sama gue?" tanya Vahan, tidak percaya kalau baru saja ia diajak bicara oleh si Sleeping Queen.
"Ngg..." Billby mengangguk santai.
Vahan terkekeh canggung sambil mengusap tengkuknya. Jujur, ini kali pertama Vahan melihat wajah Billby sejelas dan sedekat ini. Biasanya, wajah imut gadis itu hanya menghadap ke tembok atau permukaan meja setiap kali dia mendengkur halus—tergantung posisi tidur si ratu ngorok.
"Gue lagi belajar. Ada satu ulangan susulan yang ketinggalan dan habis ini harus dikerjain. Gak ada waktu buat ke kantin," tutur Vahan menjelaskan keadaannya.
Billby mengangguk paham. Ia lalu mengambil kotak bekal dari dalam tasnya.
Pizza.
Setelah membuka tutupnya, ia meletakkan kotak bekal tersebut di depan Vahan. "Makan... suara perut lo gak enak didengar."
Ekspresi cowok itu tampak semakin kebingungan karena tidak tahu harus merespons apa.
Melihat lawannya bergeming, Billby kembali bersuara, "Kenapa? Mau disuapin?"
Vahan langsung menggeleng panik. "Eh... e-enggak..." Cowok itu mengambil satu potong pizza di depannya dengan ragu. Penampakan keju mozarella yang melimpah di atasnya memang tampak sangat menggoda.
Lalu, Vahan menyadari Billby tengah menatapnya sambil memangku tangan. Gadis itu memperhatikan Vahan seolah sedang memandang sesuatu yang sangat indah. Gue tahu gue ganteng. Tapi, gak usah seintens itu juga kali ngelihatnya, batin Vahan ke-PD-an.
Sebenarnya, Billby tidak bisa sepenuhnya disalahkan karena menatap cowok itu tanpa kedip. Vahan memang memiliki visual yang sangat mencolok di sekolah. Garis wajahnya tegas dengan hidung mancung yang khas—tipe struktur wajah aristokrat yang langsung membuat orang tahu bahwa ia memiliki darah Prancis yang kental mengalir di tubuhnya.
Namun, yang paling memikat dari seorang Vahan adalah sepasang matanya. Sepasang manik mata berwarna hijau jernih bak batu zamrud yang diteduhi oleh bulu mata lentik dan lebat. Siapa pun yang menatap mata hijau itu terlalu lama pasti akan merasa seperti sedang tersedot ke dalam hutan pinus yang tenang sekaligus misterius. Termasuk si Sleeping Queen yang biasanya acuh tak acuh pada dunia.
"Ngapain lo ngeliatin gue?" tanya Vahan risih. Ia memutus kontak mata mereka sambil terus mengunyah pizza di mulutnya.
Billby mengendikkan bahunya sekilas. "Gak apa-apa... cuman mau lihat respons lo makan masakan gue."
"Oh... ini masakan lo? Enak kok... enak," balas Vahan cepat, mungkin agar Billby tidak memandanginya lagi.
Namun, balasan Billby justru di luar dugaan.
"Padahal ada racunnya," celetuk Billby santai. Ucapan itu sukses membuat Vahan syok setengah mati.
Laki-laki itu langsung terbatuk-batuk sampai wajahnya memerah. "Lo gila?!" desis Vahan dengan aura membunuh.
"Makan lagi." Billby menunjuk pizzanya dengan dagu.
Vahan menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir. "Habis bilang ini ada racunnya, lo masih bisa nyuruh gue buat makan lagi?"
"Ya udah kalau gak mau... sana ke kantin. Suara perut lo beneran gak enak didengar." Billby menarik kembali kotak bekalnya. Lalu, dengan santai gadis itu mengambil satu potong pizza dan memakannya sendiri.
Melihat hal itu, ekspresi Vahan berubah sedikit lebih tenang. "Lo bohong, ya? Pizza ini gak ada racunnya. Kenapa lo makan?"
Billby menggelengkan kepalanya. "Semua masakan gue ada racunnya. Tapi anehnya, gue gak mati-mati." Billby terkekeh kosong seperti orang frustrasi.
Melihat itu, Vahan malah jadi agak kasihan. Apa gadis ini punya masalah besar? pikirnya.
Haha... padahal yang lebih kasihan adalah Vahan karena termakan drama Billby.
"Lo ada masalah apa?" Vahan bertanya dengan nada prihatin.
Sialnya, balasan Billby setelah itu justru membuat Vahan kembali murka. "Lo gak mau makan lagi? Kali ini gue pakai racun baru yang katanya sangat manjur. Lo gak mau nemenin gue mati?"
"Lo... apa maksud lo ngasih gue makanan yang udah lo kasih racun? Lo kalau mau mati, mati sendiri, anj*ng!" Vahan bukan anak yang suka berkata kasar. Kalau dia sampai mengumpat kasar, sudah pasti dia berada di tahap di mana emosinya benar-benar lepas kendali.
Sebenarnya Vahan sudah sangat naik pitam. Rasanya ia ingin mencekik Billby sekarang juga sampai mata gadis itu melotot keluar. Namun, sebisa mungkin ia menahan diri karena takut kalau Billby ternyata anak orang penting. Bisa berabe urusannya nanti.
Sekolah ini sangat tertib dan memiliki banyak peraturan ketat. Siapa pun yang berani melanggarnya akan mendapat sanksi yang tidak main-main. Bahkan jika ada murid yang berbicara dengan temannya saat jam pelajaran berlangsung, sudah bukan hal aneh bila murid tersebut langsung diskors selama satu minggu.
Tapi Billby... gadis itu bisa melakukan apa pun di sekolah. Tidur di kelas, makan di jam pelajaran, tidak ikut kegiatan sekolah, bahkan tidak memakai seragam sekalipun. Semua bisa ia lakukan tanpa mendapat hukuman. Jangankan hukuman, teguran saja sepertinya tidak pernah. Sudah pasti Billby bukan anak orang biasa, kan?
Apa jangan-jangan gadis ini anaknya presiden? Wah... wah...
Billby yang sedang menikmati pizzanya terdiam sejenak kala mengingat sesuatu. Ia mengambil tasnya yang terasa sangat ringan, lalu meletakkannya begitu saja di pangkuan Vahan.
"Gue punya roti sobek. Kalau mau, makan aja... masih disegel kok, jadi gak mungkin beracun," ujar Billby tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Namun, lagi-lagi Vahan tidak memberikan reaksi apa pun. Sudah pasti karena ia kehilangan respek pada gadis itu. Sebenarnya memang sudah tidak respek dari awal, tapi gara-gara masalah pizza barusan, Vahan semakin tidak menyukai teman sebangkunya ini.
Bagaimana Vahan tidak kehilangan respek? Vahan itu murid terpintar di sekolah dan sangat tertib. Sedangkan gadis di sebelahnya ini kerjaannya cuma ngorok dan ngorok. Jujur, ia sangat terganggu. Kalau bisa pindah tempat duduk, sudah pasti akan ia lakukan dari zaman Nabi Adam. Ditambah lagi sekarang gadis itu mencoba meracuninya. Ck, sialan.
"Udah... makan aja... ntar kalau lo sakit, gue bakal tanggung jawab," ujar Billby karena Vahan hanya diam membatu.
Dengan malas Vahan melirik ke dalam tas Billby yang terbuka. Astaga...
"Lo... lo gak bawa buku?" Vahan memandang Billby dengan tatapan penuh keheranan. Ia memang tidak pernah melihat Billby belajar, namun ia tidak menyangka kalau ternyata gadis itu sama sekali tidak membawa buku pelajaran. Tasnya justru dipenuhi camilan yang jelas-jelas dilarang oleh pihak sekolah.
Billby hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.
Vahan menghela napas panjang. Ia kembali melirik isi tas Billby. Entah ini tas sekolah atau tas camping, isinya benar-benar hanya makanan ringan. Walaupun tidak banyak, tetap saja aneh. Di dalamnya ada roti sobek, cokelat, wafer Loacker, puding, dan susu Cimory. Vahan mendengus. Anak TK saja tasnya tidak sepeti ini.
"Lo anak siapa sih?" tanya Vahan heran.
"Anak Chef Juna," balas Billby asal.
Karena perutnya memang sudah sangat lapar, Vahan akhirnya mengambil roti sobek yang ditawarkan Billby tadi. "Gue makan, ya."
Billby mengangguk. Gadis itu kemudian sedikit mencondongkan tubuhnya untuk mengambil susu di dalam tasnya yang masih berada di pangkuan Vahan.
Sembari Billby mengocok susu tersebut sebelum meminumnya, diam-diam Vahan mencuri pandang pada teman semejanya itu.
Tak lama setelah itu, bel masuk berbunyi nyaring. Vahan segera meletakkan rotinya ke dalam laci meja. Sedangkan Billby? Gadis itu malah mengambil puding dari tasnya yang kini sudah pindah ke atas meja, lalu memakannya dengan santai. Persetan dengan guru yang baru saja memasuki kelas.
Hmph, dasar biad*b.
tp jangan lupa mimpir di karya ku juga
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan.
good story