namaku seira Aurora artis ibu kota dengan imange seksi dan penuh dengan skandal.
ceritaku dimulai saat aku tidak sengaja bertabrakan dengan seorang Gus Hanif dan berciuman dengan dia.
sejak saat itu gus Hanif terus muncul dihadapan ku,mengikutiku.dengan alasan ingin mempertanggungjawabkan kejadian yang tanpa sengaja itu.
bahkan secara terang terangan ia mengatakan ingin menikahi ku, alasannya? membimbingku.
aku tertawa sumbang bagaimana mungkin artis dengan imange buruk sepertiku bisa menikah dengan anak seorang kiay.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilaarumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab26
Sebuah mobil pickup terparkir di halaman pesantren.
Dengan senyum yang merekah seira menghampiri mobil pick up itu.
" Mbak tolong tanda tangan disini."
Seira mengambil kertas itu dan membubuhi tanda tangannya.
" Nih udah pak."
Nahla dan Gus Hanif menghampiri Seira.
" Ini apa seir?"
" Ini cat."
" Cat.?"
" Ia,cat warna pink sesuai dengan warna favorit ku."
" Kamu membeli ini untuk pesantren?."
" Ngak,lebih tepatnya ini sumbangan berkat Vidio yang kemarin kuposting diakun pesantren ini."
" Secepat itu."
" Mungkin akunya mudah berkembang karna ada nama aku dan nama kamu Gus."
" Catnya sudah ada ,jadi sekarang kita akan mulai membenahi pesantren ini."
Para santri dipesantren Al mukmin mulai bergotong royong,seira tidak berhenti tersenyum melihat antusias para santri.
Meskipun cibiran cibiran tentang minimnya ilmu agama pada dirinya terus tertuju padanya.ia berusaha untuk tidak mengambil hati karna apa yang dikatakan oleh para santri tentang dirinya itu memang benar,ia tidak marah bukan berarti tidak peduli.seira bertekad akan belajar suatu hari nanti.bukan karna ingin dicap pantas sebagai istri dari seorang gus.ia ingin belajar karna ia tahu selama ini ia memang terlalu jauh dari sang pencipta.
Dari kejauhan ummi dan nahla memperhatikan seira,yang tampak antusias,Gus Hanif terlihat selalu megangunnya.meskipun sudah dibentak,dimarahi Gus Hanif tetap menggangunya.
Nahla tersenyum.
" Ummi kenapa menatap seira seperti itu."
" Ummi fikir selama di Jakarta,mas kamu itu akan dijebak dengan perempuan itu, hingga mas mu terpaksa menikahinya.tapi ternyata fikiran ummi selama ini salah.masmulah yang terlihat kecintaan dengan perempuan itu."
Tawwa nahla seketika pecah.
" Jadi sekarang pandangan ummi telah berubah kekak seira."
" Kalau dilihat lihat dia tidak terlalu buruk.hmm tapi tetap saja ummi memimpikan menantu seperti Zahra."
Nahla mengeleng,umminya itu memang terkadang gensinya terlalu ketinggian.
" Gus minum."
" Baiklah tuan putri."
Seira mulai meneguk air mineral yang diberikan Gus Hanif.
" Haus banget ya."
" Ia."
" Tolong geser kursi aku dong.aku mau ngecat yang bagian atas."
Gus Hanif melakukan apapun yang diperintahkan seira.seira mengambil kesempatan seperti ini untuk mengerjai Gus Hanif yang terus saja selalu dekat dekat dengannya.
Seira merasa telah mengerjai Gus Hanif tapi Gus Hanif tidak pernah merasa dikerjai ia justru selalu senang melakukan hal apapun untuk istrinya.
" Seira ada kiriman lagi."
" Apa ?"
" Buku."
" Wah.beneran nahla."
Nahla mengangguk.
" Kalau begitu aku urus buku buku itu dulu ya."
" Nahla kalau bisa buku buku yang rusak jangan dibuang dulu.siapa tahu masih bisa kita perbaiki."
Nahla mengangguk singkat.
Terlihat banyak perubahan pada pesantren Al mukmin semenjak kedatangan seira Aurora dipesantren ini.
Sering kali secara diam diam seira merekam kegiatan para santri lalu mengungah keakun media sosialnya,yang sontak membuat warganet kini lebih memuji sosok seira.
Karna menurut mereka semenjak menikah dengan seira Gus Hanif, kegiatan seira kini jauh lebih positif dari pada sebelumnya.
<<<
Seira sekarang mulai terbiasa bangun subuh tidak dibangunkan lagi.satu perubahan kecil pada hidupnya dan ia mulai menikmatinya.
Saat bangun ia sudah tidak melihat Gus Hanif,seira bangkit dari tidurnya bergegas untuk mengambil wudhu.sekarang ia pun terbiasa melakukan sholat shubuh tanpa disuruh lagi.
Hingga matahari terlihat tinggi tapi Gus Hanif tidak juga kembali.
Seira melangkah kedapur,yang entah sejak kapan Zahra ada disana membantu ummi dan nahla.
Tidak ada satu orang pun yang terlihat menyapa seira.mereka bertiga sibuk dengan pekerjaan masing masing.
Rasanya tidak nyaman tentu itu yang dirasakan seira, dengan gugup ia melangkah kearah ummi Zaenab.
" Pagi."
" Pagi."
" Seira tolong kamu ambilkan piring."
Satu perintah itu cukup membuat seira merasa senang,baginya lebih baik diperintah daripada diabaikan.
Hingga mereka berempat duduk untuk menikmati sarapan tapi Gus Hanif tidak kunjung datang.
" Gus Hanif kemana ya."?
Bukan seira yang bertanya tapi Zahralah yang menanyakan keberadaan Gus hanif, hingga seira mendongak menatap Zahra lebih dalam.
Ditatap seperti itu Zahra menjadi kikuk.
" Hmm maksud saya tumbeng Gus Hanif tidak ikut sarapan."
" Dia kesawah."
Seira menoleh kearah ummi Zaenab.
" Kok Gus Hanif ngak bilang bilang keaku.'
" Ya ngakk tahu." Ucap ummi ketus.
Nahla tersenyum lembut kearah seira.
" Mungkin mas Hanif ngak sempat."
" Seira."
Seira menoleh kearah ummi.
" Kamu ngak ada panggilan lain apa kesuami kamu."?
" Haaaaaaaa. Maksud ummi."
" Ah sudah lupakan saja"
Senyum nahla merekah saat ummi mulai protes dengan panggilan seira ke Gus Hanif.