Judul lama : Diagnosis: Falling For You
dr. Narendra Adiwijaya, Sp.B adalah putra tunggal dari keluarga konglomerat, Narendra dipersiapkan sejak kecil untuk menjadi penerus Adiwijaya Healthcare Group. Tuntutan tinggi tersebut membentuk Narendra menjadi pria kaku, dominan, dingin.
dr. Nayla Kartikasari, Sp.A adalah anak pertama dari pasangan Arga Dewantara dan Citra Kirana, memiliki seorang adik bernama Bintang. Nayla memiliki sifat yang hangat, ekspresif, namun bermental baja menjadikannya dokter yang disukai oleh anak anak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naila fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
D-day
Matahari terbit dengan sangat cerah menyinari kota Jakarta. Grand Ballroom Hotel telah bertransformasi menjadi ruang akad nikah yang luar biasa megah dan sakral. Ratusan tamu undangan VVIP—mulai dari menteri, jajaran direksi rumah sakit, hingga para dokter spesialis yang biasanya berwajah dingin di ruang operasi—kini berkumpul memenuhi kursi berbalut kain putih.
Di panggung utama, Narendra Adiwijaya sudah duduk tegap di depan meja akad nikah berhiaskan melati segar.
Dokter bedah itu tampil luar biasa tampan memakai beskap modern putih-perak. Namun, jika diperhatikan lebih dekat, raut wajah tegasnya tampak luar biasa tegang—sebuah pemandangan sangat langka yang belum pernah disaksikan oleh siapa pun sebelumnya di RS Medika Adiwijaya.
Di sebelah kiri Naren, Gibran yang bertugas sebagai pendamping pengantin pria berbisik sambil menahan tawa hingga bahunya berguncang pelan.
"Naren... napas, Bro. Napas," goda Gibran lirih. "Muka lo kaku amat, kayak orang mau melakukan operasi transplantasi jantung tanpa anestesi. Inget ya, yang lo pegang nanti tangan Papa Arga, bukan pisau bedah nomor 10."
Narendra melirik sepupunya itu dengan tatapan membunuh. "Gibran. Diam atau gue tambahin pasien operasi lo minggu ini."
Gibran seketika mengatupkan bibirnya rapat-rapat, mengangkat kedua tangan menyerah. "Bercanda, Pak Bos! Ampun!"
Tiba-tiba, suara alunan musik gamelan Jawa yang sakral bergema lembut. Pembawa acara mengumumkan kedatangan pengantin wanita.
Tirai besar di ujung karpet merah tersibak.
Nayla Kartikasari melangkah masuk secara perlahan, didampingi oleh Mama Citra dan Mama Widya.
Suasana ballroom seketika hening tanpa suara.
Nayla tampil luar biasa cantik dan anggun memikat. Kebaya putih tulang ber-ekor brokat halus membuat aura kecantikannya memancar murni.
Narendra yang duduk di meja akad seketika membeku. Sepasang mata elangnya mengunci presensi Nayla tanpa berkedip sedikit pun. Pria bedah yang biasanya memegang kontrol penuh atas emosinya itu kini tampak terpana sepenuhnya di depan ratusan pasang mata.
Nayla berjalan menuju meja akad, lalu duduk manis di samping kanan Narendra. Aroma wangi melati merayap di antara mereka. Nayla melirik calon suaminya, lalu tersenyum tipis. Pipi Naren yang biasanya dingin mendadak merona merah tipis—sebuah pemandangan langka yang langsung diabadikan oleh kamera fotografer.
---
Penghulu membetulkan posisi mikrofon. Papa Arga—ayah kandung Nayla—mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Narendra.
Narendra meraih jemari Papa Arga. Genggamannya begitu kuat, mantap, dan penuh kepastian.
"Saudara Narendra Adiwijaya bin Arsenio Adiwijaya," panggil Papa Arga dengan suara bergetar haru. "Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Nayla Kartikasari binti Arga Dewantara, dengan mas kawin berupa seperangkat alat sholat, emas murni 100 gram, dan logam mulia sebesar 2026 Euro, dibayar tunai!"
Narendra menarik napas panjang, menatap lurus mata Papa Arga, lalu mengucapkan kalimat ijab kabul dengan suara bariton yang menggelegar lantang, jernih, dan tanpa jeda sedikit pun dalam satu tarikan napas:
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Nayla Kartikasari binti Arga Dewantara dengan mas kawin tersebut dibayar TUNAI!"
"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya Penghulu.
"SAH!" seru seluruh saksi dan tamu undangan kompak, bahkan suara Gibran terdengar paling kencang di barisan depan.
Doa kebahagiaan membahana. Air mata haru menetes di pipi para ibu. Nayla menundukkan kepala, mengusap air mata bahagia yang lolos membasahi pipinya. Ujian fitnah, skandal, hingga teror musuh-musuh mereka resmi hancur lebur oleh kata 'SAH'.
Narendra memutar tubuhnya menghadap Nayla. Dengan gerakan sangat lembut, ia menyelipkan cincin pernikahan di jari manis Nayla. Nayla membalas menyematkan cincin di jari Naren, lalu meraih punggung tangan suaminya dan menciumnya.
Narendra menangkup kedua sisi wajah cantik istrinya. Ia menunduk, mendaratkan kecupan yang sangat dalam, hangat, dan lama di kening Nayla.
Nayla berbisik pelan sambil tersewarnai senyum manis di dekat dada Naren, "Lega kan, Dokter Bedah? Gak usah tegang lagi."
Narendra mengurai kecupannya, menatap mata bening istrinya dengan kehangatan yang amat posesif. "Siapa yang tegang? Aku cuma gak sabar nunggu acara resepsi selesai nanti malam."
Pipi Nayla seketika merona merah padam. "Naren! Ini masih di depan Penghulu!" bisiknya panik sambil menepuk pelan dada Naren.
Di barisan samping, Gibran kembali berbisik ke Rania, "Ran... tolong ingetin Pak Bos ya, ini baru akad pagi. Jangan sampai pengantin wanitanya diculik duluan sebelum resepsi malam."
Rania tertawa terbahak-bahak sambil menutup mulutnya dengan tangan.
Kiwww udah sah nihhh, mau di tambahin scene malam pertama ga friends?😋
Jangan lupa like yeahhh, yang ga like pantatnya kelap kelip😚
See uuuuuuuu