Pangeran Mahkota Arjuna terbangun dari mimpi buruk tergelap dalam hidupnya — hanya untuk menyadari bahwa ia telah kembali ke tiga tahun yang lalu.
Di kehidupan sebelumnya, ia terlalu dingin, terlalu bodoh, dan terlalu terlambat. Ia kehilangan wanita yang seharusnya ia lindungi, dikhianati oleh saudara yang ia percayai, dan mati di tangan mereka yang seharusnya ia waspadai.
Kali ini, segalanya akan berbeda.
Kali ini, ia akan menikahi Anindya — gadis yang dulu ia abaikan — dan menjadikannya permata yang paling ia jaga di seluruh kerajaan. Ia akan membongkar setiap kebohongan, menjatuhkan setiap pengkhianat, dan memastikan semua yang pernah menyakiti mereka... menyaksikan dunia mereka runtuh tepat di saat mereka merasa paling tak terkalahkan.
Tapi takdir tidak mudah diubah. Musuh-musuhnya lebih licik dari yang ia ingat, rahasia kerajaan lebih gelap dari yang ia bayangkan, dan cinta yang tumbuh antara dirinya dan Anindya... mungkin menjadi senjata paling berbahaya yang pernah ia miliki.
"Aku sudah pernah mati sekali. Kali ini, aku bersumpah — tidak akan ada yang menyentuhmu selama jantungku masih berdetak."
Genre: Kerajaan · Romansa · Reinkarnasi · Balas Dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26 Jalan Utara
"Jika pesan ini benar, seseorang ingin memastikan Eyang Maha tidak pernah kembali ke Kota Raja."
Kata-kata Garuda membuat udara di Puri Timur berubah dingin.
Arjuna mengambil tabung bambu itu. Segelnya bukan hanya tergores. Ada bekas kuku di tepinya, seolah orang yang mengirim pesan menutupnya dengan terburu-buru sambil menahan sakit.
Adi menyalakan lampu tambahan. Anindya menarik selimut lebih rapat, bukan karena dingin, melainkan karena tubuhnya mengenal tanda bahaya dari wajah Arjuna.
Surat di dalam tabung hanya setengah lembar.
Rombongan penjemput diserang di jalan utara. Pos penjaga menyatakan surat perintah kerajaan palsu. Eyang Maha dipaksa kembali ke tempat pengasingan. Ada orang dalam pos yang membantu mengirim kabar ini.
Tidak ada tanda tangan lengkap. Hanya goresan kecil berbentuk matahari tenggelam, lambang lama keluarga Cendekia.
"Mereka berani memakai pos penjaga," kata Adi.
"Mereka berani karena yakin tidak akan dihukum," jawab Arjuna.
Garuda menunduk. "Hamba bisa berangkat sekarang."
"Berangkat, tetapi jangan sendirian. Ambil empat orang Pasukan Garuda. Jangan memakai lambang Puri Timur."
"Siap."
Garuda hampir pergi ketika Anindya bersuara.
"Tunggu."
Semua orang menoleh.
Anindya memegang tepi meja untuk duduk lebih tegak. Wajahnya masih pucat, tetapi matanya tertuju pada surat itu.
"Pos penjaga tidak akan berani menyebut surat Pangeran Mahkota palsu hanya karena seorang petugas ragu. Mereka pasti menerima surat lain lebih dulu."
Arjuna menatapnya.
"Surat yang mengatakan perintah penjemputan dibatalkan," lanjut Anindya. "Atau surat yang memberi mereka alasan untuk menahan rombongan sampai orang yang menyerang datang."
Adi langsung menunduk. "Hamba akan memeriksa daftar surat keluar."
"Bukan hanya daftar keluar," kata Anindya. "Periksa daftar penerimaan di pos. Jika seseorang mengganti surat di tengah jalan, catatan asal dan catatan pos tidak akan sama."
Hening sesaat.
Arjuna meraih jubah luarnya. "Adi, panggil Harsa. Suruh ia membuka catatan Pengadilan untuk semua surat kerajaan yang melewati jalan utara tiga hari terakhir."
"Baik, Yang Mulia."
Anindya menahan napas ketika melihat Arjuna mengikat keris di pinggang.
"Kakanda akan pergi sendiri?"
"Eyang Maha adalah darah ibuku. Jika aku hanya mengirim orang, pihak yang menghalangi akan menganggap ia masih bisa diperlakukan seperti tawanan tua."
"Tubuh Kakanda juga bukan batu."
Kalimat itu keluar lebih cepat daripada yang Anindya rencanakan.
Arjuna berhenti.
Wulan menunduk dalam-dalam, pura-pura tidak mendengar. Adi bahkan tidak berani bernapas terlalu keras.
Arjuna berjalan ke sisi Anindya. "Aku akan kembali sebelum fajar kedua."
"Itu janji atau cara menenangkan orang sakit?"
"Janji."
Anindya menatapnya, lalu mengambil selendang tipis dari sandaran kursi. Selendang itu bukan miliknya yang terbaik, hanya kain hangat yang dipakainya saat demam semalam.
"Bawa ini untuk Eyang Maha," katanya. "Jika beliau terluka atau kedinginan di jalan, setidaknya ada sesuatu dari rumah."
Arjuna menerima selendang itu dengan kedua tangan. Kainnya masih menyimpan sedikit aroma jamu dan bunga melati dari ruang Anindya.
Untuk sesaat, matanya melunak.
"Aku akan menyampaikannya."
***
Jalan utara menuju Kota Raja melewati deretan pohon jati dan sawah yang mulai mengering. Saat malam turun, suara serangga menutup jejak kaki. Di kejauhan, pos penjaga berdiri dengan dua obor yang nyalanya terlalu kecil.
Arjuna tiba sebelum bulan mencapai tengah langit.
Ia tidak membawa iring-iringan besar. Hanya Adi, Garuda, beberapa orang Pasukan Garuda tanpa lambang, dan dua prajurit Puri Timur yang mengenakan pakaian pengawal biasa.
Di depan pos, sebuah kereta tua berhenti miring. Satu rodanya rusak. Dua pelayan Cendekia duduk di tanah dengan lengan dibalut kain. Di sisi lain, beberapa penjaga pos berdiri kaku, sementara orang-orang bersenjata yang mengaku sebagai pengawal wilayah mengepung kereta.
"Perintahnya jelas," kata salah satu pengawal wilayah. "Adipati Cendekia Mahadewa harus kembali ke tempat pengasingan sampai surat kerajaan yang sah datang."
Dari dalam kereta, suara tua terdengar tenang.
"Surat sah telah kubawa. Kalau kalian tidak bisa membaca cap, jangan salahkan mataku yang tua."
Arjuna hampir tersenyum.
Suara itu belum berubah.
Pemimpin pengawal wilayah mendengus. "Kami hanya menjalankan titah."
"Titah siapa?" tanya Arjuna.
Semua orang menoleh.
Obor mengangkat wajah Pangeran Mahkota dari gelap. Penjaga pos langsung berlutut. Beberapa pengawal wilayah terlambat meniru, sehingga gerakan mereka tampak seperti orang yang baru sadar telah menginjak ular.
"Yang Mulia Pangeran Mahkota."
Arjuna turun dari kuda. "Aku bertanya. Titah siapa?"
Pemimpin pengawal wilayah menelan ludah. "Titah dari kantor pos kerajaan, Yang Mulia. Surat penjemputan Adipati Cendekia dinyatakan palsu."
"Kau sudah melihat surat penjemputan itu?"
"Sudah."
"Kau bisa membedakan cap palsu dan cap asli?"
Wajah orang itu berubah. "Hamba mengikuti keterangan pos."
Arjuna menoleh pada penjaga pos. "Bawa catatan penerimaan."
Penjaga pos tertua merangkak masuk, lalu keluar membawa papan catatan. Tangannya gemetar saat menyerahkannya kepada Adi.
Adi membaca cepat, lalu berbisik, "Catatan mereka menyebut surat pembatalan tiba lebih dulu sore kemarin. Tidak ada nama pembawa. Hanya tanda kantor dalam."
Garuda berdiri di belakang pemimpin pengawal wilayah. "Orang yang membawa surat itu tidak tercatat?"
Penjaga pos tertua langsung bersujud. "Hamba takut, Yang Mulia. Pembawanya memakai cincin istana. Ia berkata jika kami membiarkan Adipati Cendekia lewat, kami dituduh membantu pemalsuan titah."
Arjuna tidak menaikkan suara. "Jadi kalian memilih menahan seorang adipati tua di jalan malam."
Tidak ada yang berani menjawab.
Pintu kereta terbuka.
Seorang lelaki tua turun perlahan dengan tongkat kayu hitam. Rambutnya memutih, tubuhnya lebih kurus daripada ingatan Arjuna, tetapi punggungnya tetap tegak. Pada bahunya ada kain tua yang robek di ujung, dan di pelipisnya tampak luka kecil yang sudah mengering.
Arjuna maju dua langkah, lalu berlutut.
"Eyang."
Adipati Cendekia Mahadewa menatap cucunya lama.
Mata tua itu menyimpan terlalu banyak tahun, terlalu banyak pemakaman, terlalu banyak surat yang tidak pernah boleh dibalas.
"Bangun, Pangeran Mahkota," katanya. "Lututmu bukan untuk orang tua yang dibuang."
"Lutut ini untuk keluarga ibu hamba."
Eyang Maha terdiam.
Di samping kereta, seorang pelayan Cendekia menunduk sambil mengusap air mata dengan punggung tangan.
Arjuna berdiri dan membuka selendang dari Anindya. "Putri Mahkota mengirim ini. Ia berkata, jika Eyang terluka atau kedinginan, setidaknya ada sesuatu dari rumah."
Untuk pertama kalinya malam itu, wajah Eyang Maha retak oleh kelembutan.
Ia menerima selendang itu dan menyentuh kainnya dengan jari gemetar.
"Istrimu," katanya pelan, "memiliki hati yang tahu cara pulang."
Arjuna menunduk. "Ia menunggu Eyang di Kota Raja."
Pemimpin pengawal wilayah masih berlutut dengan keringat membasahi leher.
Arjuna menoleh padanya. "Mulai sekarang, Adipati Cendekia Mahadewa dikawal Puri Timur. Jika ada yang masih ingin menyebut surat penjemputan palsu, katakan padanya untuk datang ke Balai Agung dan mengatakannya di depan wajahku."
Tidak ada yang bergerak.
Garuda memberi isyarat. Orang-orang Pasukan Garuda mulai memperbaiki roda kereta dan memeriksa luka pelayan.
Eyang Maha menggenggam ujung selendang Anindya. "Jangan terlalu cepat puas, Arjuna."
Arjuna menatapnya. "Eyang tahu siapa yang menghalangi?"
Lelaki tua itu mengangkat potongan anak panah dari balik kainnya. Ujungnya kecil, tetapi bulu merah di pangkalnya masih utuh.
"Perampok jalan tidak memakai tanda pelatihan keraton."
Obor bergetar ditiup angin.
Eyang Maha menatap cucunya dengan mata yang tiba-tiba setajam masa mudanya.
"Yang ingin menahanku bukan orang luar. Ia duduk di dalam istana."