Aynara terpaksa menikah dengan Aksa karena perjanjian kedua kakek mereka. Pernikahan itu diikat satu syarat: jika mereka bercerai sebelum satu tahun, Aynara harus membayar denda 10 miliar, sementara Aksa akan kehilangan haknya sebagai pewaris keluarga Wicaksono.
Namun, usai janji suci diucapkan, Wicaksono mengalami kecelakaan dan terbaring koma.
Merasa tak ada lagi yang bisa mengaturnya, Aksa berkata kepada Aynara, "Pernikahan ini terjadi karena Kakek. Aku sama sekali gak suka, apalagi mencintaimu. Dunia kita beda. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing sampai tiba waktunya bercerai."
Aynara terpaksa menelan kenyataan pahit itu. Namun, takdir mengubah segalanya ketika kecelakaan merenggut nyawa Aksa.
Regan, pembelot yang sedang diburu organisasi kriminal, memanfaatkan kematian Aksa untuk menyelamatkan dirinya.
Aynara tidak pernah tahu bahwa suami yang ia benci telah mati. Dan pria yang kini hidup sebagai Aksa adalah orang asing yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Berpapasan Seperti Orang Asing
Tak lama kemudian, kendaraan yang ditumpangi Aynara dan Riva memasuki kawasan pusat bisnis.
Di hadapan mereka berdiri sebuah gedung tinggi dengan fasad kaca yang memantulkan cahaya matahari pagi. Logo Aksara Group terpampang jelas di bagian depan gedung.
Riva menunjuknya. "Nah, itu tempatku kerja."
Aynara mendongak menatap gedung tersebut. "Perusahaan besar juga."
"Makanya jangan sampai telat." Riva melirik jam tangannya. "HRD-nya memang baik, tapi tetep bukan malaikat."
Taksi berhenti di area drop-off. Setelah membayar ongkos, Aynara dan Riva turun dari kendaraan.
"Semangat, calon karyawan Aksara Group!" Riva mengepalkan tangan di depan dada.
Aynara terkekeh. "Doain aku."
"Pasti," sahut Riva cepat. "Tapi kalau gak diterima, jangan pulang. Numpang dulu di kontrakanku sampai dapet kerja. Aku gak keberatan kok punya temen ngobrol sama bobok."
Aynara tersenyum. "Siap."
Mereka kemudian masuk ke dalam gedung.
Beberapa menit kemudian, Riva mengantar Aynara sampai ke depan sebuah ruangan. "Ini bagian HRD. Kamu tinggal bilang mau melamar pekerjaan."
Aynara mengangguk. "Kamu kerja dulu aja. Nanti aku kabari kalau sudah selesai."
"Jangan lupa senyum." Riva menunjuk wajahnya. "Siapa tahu HRD-nya langsung terpukau."
"Katanya HRD-nya bucin akut," seloroh Aynara.
"Justru itu." Riva menepuk pundak Aynara ringan. "Dia pasti tahu bedanya orang cantik sama istrinya."
Aynara tertawa kecil. "Pergi sana."
Riva akhirnya kembali ke posnya.
Aynara menarik napas panjang sebelum melangkah menuju meja HRD. Ia membawa map berisi dokumen lamaran dengan kedua tangan.
"Permisi, Pak. Saya ingin menyerahkan lamaran untuk posisi yang sedang dibuka."
HRD menerima map tersebut. "Silakan duduk."
Ia membuka berkas dan mulai membaca CV Aynara. Alisnya perlahan terangkat.
Lulusan salah satu universitas ternama, IPK di atas rata-rata, serta memiliki beberapa pengalaman organisasi dan pekerjaan paruh waktu. Riwayat pendidikannya cukup kuat untuk dipertimbangkan sebagai kandidat posisi sekretaris.
HRD kemudian mengangkat wajah. Tatapannya sempat berhenti pada Aynara. Penampilannya sederhana, tetapi tubuhnya proporsional dan wajahnya memiliki kecantikan alami yang sulit diabaikan.
Namun, ia segera kembali melihat CV di tangannya.
"Bagus," gumamnya pelan.
Satu kata itu membuat Aynara merasa peluangnya mendapatkan pekerjaan mungkin tidak terlalu buruk.
Setelah menyerahkan berkas lamaran, Aynara keluar dari ruang HRD.
Ia berjalan menyusuri koridor sambil menundukkan kepala, membaca beberapa pesan yang baru saja masuk ke ponselnya.
Di saat yang hampir bersamaan, dari arah berlawanan, seorang pria dengan ponsel yang menempel di telinga melangkah menuju lift.
Aksa Wicaksono.
Langkah keduanya perlahan mendekat. Satu langkah, dua langkah, jarak mereka semakin menyempit.
Aynara masih sibuk dengan ponselnya. Ketika menyadari ada seseorang yang berjalan tepat dari arah berlawanan, ia sedikit menggeser tubuh ke samping untuk memberi jalan.
Sementara Aksa masih fokus mendengarkan lawan bicaranya dari sambungan telepon.
Beberapa detik kemudian, bahu mereka hampir bersentuhan.
Hampir.
Aynara terus melangkah tanpa mengangkat wajah. Aksa pun tidak menoleh sedikit pun. Mereka akhirnya melewati satu sama lain.
Tidak ada sapaan, tidak ada tatapan. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari siapa orang yang baru saja berpapasan.
Padahal pria yang baru saja melewati Aynara adalah suaminya sendiri.
Dan perempuan yang baru saja dilewati Aksa adalah istrinya.
Ironisnya, setelah dipisahkan oleh keputusan Aksa, takdir justru mempertemukan mereka kembali di tempat yang sama.
Hanya saja... kali ini mereka berjalan melewati satu sama lain seperti dua orang asing.
Riva yang sejak tadi berada di balik meja resepsionis terlihat gemas saat melihat Aynara berjalan mendekat.
"Ra!"
Aynara mengangkat wajahnya dari ponselnya. "Apa?"
"Itu! Manager ganteng yang aku ceritain kemarin!" Riva hampir saja melompat dari balik meja resepsionis.
Aynara mengernyit. "Yang mana?"
"Itu! Yang di depan lift." Riva buru-buru menunjuk ke arah belakang Aynara. "Ya ampun, Ra. Tadi kalian berpapasan dekat banget!"
Aynara mengikuti arah telunjuknya.
Seorang pria berjalan menuju lift dengan langkah tenang. Jas yang dikenakannya terlihat rapi, sementara satu tangannya masih memegang ponsel yang digunakan untuk berbicara melalui sambungan telepon. Pria itu tinggal beberapa langkah dari pintu lift. Entah mengapa, punggung itu terasa familiar.
Aynara mengerutkan dahi. "Kayaknya aku pernah..."
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, pintu lift terbuka dan pria itu masuk. Beberapa detik kemudian, pintu lift kembali tertutup dan sosok itu menghilang dari pandangan.
Aynara masih menatap pintu tersebut. "Kenapa rasanya aku pernah lihat dia?"
"Yakin pernah lihat?" Riva langsung menyahut. "Dia itu orang terganteng di perusahaan ini. Namanya—"
"Selamat siang, Mbak," sapa seorang tamu menghampiri meja resepsionis.
"Selamat siang, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" Riva langsung beralih melayani tamu tersebut.
Sementara itu ponsel Aynara tiba-tiba berdering, ia menunduk melihat layar. Nama Mama Asti muncul di sana.
"Oh, Mama."
Aynara segera mengangkat ponselnya, ia berjalan sedikit menjauh dari meja resepsionis sebelum menerima panggilan.
"Halo, Ma?"
"Sayang, alergimu sudah sembuh?" tanya Asti dari seberang telepon.
"Sudah, Ma," jawab Aynara sambil duduk di salah satu kursi yang tersedia di lobby.
"Kapan kira-kira kamu ada waktu untuk ketemu Mama?"
Suara Asti tetap terdengar lembut, seperti saat pertama kali berbicara dengannya.
Aynara terdiam sejenak. Sebenarnya ia masih ingin mencari pekerjaan ke perusahaan lain. Namun, setelah semua kebaikan yang diberikan Asti kepadanya, ia merasa tidak enak jika terus menghindar.
"Hari ini bisa, Ma," jawab Aynara akhirnya.
"Sekarang?" tanya Asti.
Aynara mengangguk meski Asti tak bisa melihatnya. "Kalau Mama mau."
"Beneran?" Suara Asti seketika terdengar lebih ceria.
"Iya, Ma." Tanpa sadar, sudut bibir Aynara terangkat mendengar nada bahagia dari ibu mertuanya.
"Kalau begitu, setengah jam lagi kita ketemu di Kafe Arunika, ya. Bisa?"
Aynara berpikir sebentar. "Iya, Ma."
"Oke! Kita ketemu di sana."
Panggilan berakhir. Aynara memasukkan ponselnya ke dalam tas, kemudian beranjak dari kursinya dan berjalan menuju meja resepsionis.
"Riv, aku pergi dulu, ya."
Riva yang sedang merapikan beberapa dokumen langsung menoleh. "Mau ke mana?"
"Aku mau ketemu seseorang." Jawaban itu diiringi senyum kecil yang masih tersisa di wajah Aynara.
Riva langsung menyipitkan mata. "Waduh..." Ia mengamati wajah sahabatnya dari atas sampai bawah. "Wajahmu terang banget. Lebih terang daripada lampu seratus watt."
Aynara terkekeh. "Apaan, sih?"
Riva semakin mendekatkan wajahnya. "Jangan-jangan... kamu mau ketemu..."
Belum sempat Riva menyelesaikan kalimatnya, sebuah suara dari belakang membuat keduanya serempak menoleh.
"Nara, Riva?"
Aynara membeku. Riva pun ikut terdiam. Suara itu terdengar begitu familiar.
...🔸🔸🔸...
...“Tidak semua pertemuan harus berakhir dengan saling mengenali. Ada kalanya takdir hanya ingin menunjukkan bahwa jalan dua manusia masih saling terhubung, meski mereka belum siap mengetahui ke mana jalan itu akan membawa mereka.”...
...“Dalam hidup, ada pertemuan yang datang terlalu cepat dan ada yang datang terlalu lambat. Namun, jika dua hati memang masih memiliki jalan yang sama, kesempatan yang terlewat hari ini mungkin hanya menjadi awal dari pertemuan yang lebih berarti di kemudian hari.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Asti tidak menjawab pertanyaan Regan tentang Aksara Group.
Gunadi yang melihat Tuan Mudanya ada di taman dan terlihat sedih, merasa khawatir.
Gunadi berdiri di samping kursi tempat duduk Regan.
Tuan Mudanya bertanya pada Gunadi kenapa mamanya menangis ketika bertanya kenapa nama perusahaan Aksara Group.
Tuan Muda Arsa di mana ? Atau dia Regan ?
Regan tahu ada salah satu berkas yang harus dicek ulang oleh bagian keuangan.
Gunadi merasa heran, tuan mudanya bisa menemukan masalah tersebut.
Gunadi semakin heran dengan Aksa yang sekarang. Aksa lebih teliti.
Gunadi masih antara yakin dan tidak yakin, yang ada di rumah sakit itu Tuan Muda atau orang lain.
Regan minta sama Gunadi mengirimkan berkas-berkas yang perlu dia kerjakan di rumah sakit.
Nanti kalau ada yang perlu ditandatangani bagaimana. Lupa juga tanda tangannya.
Juga tentang ayahnya Aksa, Aditya Wicaksono tak luput dari pemberitaan. Mempunyai anak diluar pernikahan.
Berita unggahan tentang kecelakaan yang menimpa Aksa, juga tentang Aditya yang mempunyai anak diluar penikahan sudah sampai kepada Aksa, Gunadi dan Asti
Diiih orang yang sudah meninggal diusik juga. Ayahnya sendiri juga.
Kelakuan jahat Doni akibat sakit hati tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.
Doni nanti musuhnya Regan. G
Gunadi menanyakan kondisi Aksa setelah kecelakaan.
Dokter dengan sabar menjawab semua pertanyaan Gunadi, dan memberikan penjelasannya.
Semua perbedaan Aksa yang dirasakan Gunadi ditanyakan kepada dokter.
Perubahan Aksa secara medis masih dianggap normal.
Penjelasan dari dokter, Aksa berubah setelah kecelakaan, semua masuk akal.
Gunadi masih merasa ada yang ganjil.
Keturunan Wicaksono yang ada kini tinggal dua anak dari dua gundik Ayahnya Aksa.
Kalau Aynara nanti menikah ulang dengan Aksa palsu, kalau sampai hamil tentunya bukan keturunan Wicaksono.
Gunadi setelah selesai berinteraksi secara langsung dengan Aksa, pamit akan kembali ke kantor.
Gunadi pikirannya terus terganggu dengan perubahan Aksa.
Gunadi menuju ruang dokter sebelum kembali ke kantor. Sebelum menyimpulkan apapun, Gunadi harus mendapatkan jawaban yang masuk akal.
Gunadi seperti nggak yakin , apa cedera kepala dan amnesia bisa mengubah seseorang sampai sejauh itu.
Gunadi belum bertemu Aksa sejak mulai sadar. Gunadi nanti kalau bertemu dan berinteraksi dengan Aksa kemungkinan juga merasakan ada yang janggal.
Perasaan itu hilang sejak melihat Aksa setelah kecelakaan. Tidak ada raaa kesal, tidak berusaha menhaga jarak karena muak. Tapi ada rasa aneh yang sulit dijelaakan.
Aynara belum sadar saja kalau yang sedang dihadapi memang bukan Aksa.
Aynara selalu menepisnya - jangan-jangan karena amnesia.
Aynara sepakat untuk mulai dari awal. Dengan syarat tetap tinggal terpisah. Hubungan mereka dilihat perkembangannya. Di jalani seperti teman dulu.
Setelah satu tahun baru diambil keputusan, mau mempertahankan pernikahan atau bercerai.
Apa yang dikatakan Aynara, Regan setuju.
Hubungan di kantor mereka profesional. Interaksi mereka sebagai atasan dan bawahan.
Regan setuju dengan semua syarat yang dikatakan Aynara.
Wajah Regan bisa ya mirip sekali dengan wajah Aksa. Pengenalan wajah di layar ponsel Aksa utidak menolak wajah Regan.
Regan sebagai Aksa mengetik permintaan maaf atas semua sikapnya dulu yang sudah menyakiti Aynara.
Aynara tidak menyangka Aksa minta maaf.
Aynara memaafkan Aksa.
Regan mulai komunikasi sama Aynara dengan mengetik kalimat di ponselnya. Ia menunjukkan kepada Aynara.
Aynara mau menceritakan semuanya pelan-pelan.
Setelah Aynara menceritakan semuanya, apa yang akan dilakukan Regan nanti.
Aynara mulai menceritakan kenyataan yang ada.
Mendengar perlakuan dan hinaan Aksa terhadap Aynara, Regan punya penilaian lagi tentang Aksa. Jauh lebih buruk.
Aynara menyelesaikan ceritanya.
Regan baru tahu bahwa orang yang wajahnya hampir sama dengannya, saat sebelum kecelakaan terjadi, baru saja bertengkar hebat dengan istrinya.
Joseph sudah mendapatkan informasi tentang Aksa Wicaksono. Tentang nama-nama mereka. Kakeknya, Ayahnya, Ibunya, juga dua gundik Ayahnya Aksa yang masing-masing juga punya anak tapi tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.
Komplit sekali informasi yang di dapat Joseph.
Sampai tentang Aksa yang dijodohkan dengan Aynara.
Juga tentang pekerjaan Aksa.
Pembicaraan belum selesai, suara air dari kamar mandi berhenti. Aksa memutuskan sambungan.
Apa mobil Wicaksono yang mengalami kecelakaan juga Doni pelakunya ?
Kondisi Aksa dalam pemeriksaan secara medis baik semua. Dokter minta pasien tetap diobservasi.
Regan tahu kalau dokter merasa ada yang janggal.
Regan benar-benar mendalami perannya. Beberapa pertanyaan dokter dijawab dengan menggeleng.
Mendengar nasehat dari dokter, Regan menjawabnya mengangguk pelan.
Asti dan Aynara jadi memperkenalkan diri biar Aksa yang amnesia tahu siapa kedua wanita itu.
Dokter memeriksa Aksa. Ketika ditanya oleh dokter, jawabnya hanya mengangguk dan diam.
Bikin Asti khawatir saja nih.
Pura-pura panik, tidak tahu harus bicara apa.
Aynara terkejut melihat Aksa yang cuma membuka mulut, ngga ada suara yang keluar.
Aynara dan Asti memang orang asing bagi Aksa palsu. Aman saat ini Aksa menjadi tidak ingat sama mama dan istrinya.
Aksa hilang ingatannya serta suaranya. Itu yang Aynara tahu saat ini.
Suara jadi berbeda juga kalau Aksa bicara.
Regan membuat hidupnya rumit sendiri.