NovelToon NovelToon
SUAMIMU BUKAN SUAMIMU

SUAMIMU BUKAN SUAMIMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Cinta Seiring Waktu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:67.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Aynara terpaksa menikah dengan Aksa karena perjanjian kedua kakek mereka. Pernikahan itu diikat satu syarat: jika mereka bercerai sebelum satu tahun, Aynara harus membayar denda 10 miliar, sementara Aksa akan kehilangan haknya sebagai pewaris keluarga Wicaksono.

Namun, usai janji suci diucapkan, Wicaksono mengalami kecelakaan dan terbaring koma.
Merasa tak ada lagi yang bisa mengaturnya, Aksa berkata kepada Aynara, "Pernikahan ini terjadi karena Kakek. Aku sama sekali gak suka, apalagi mencintaimu. Dunia kita beda. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing sampai tiba waktunya bercerai."

Aynara terpaksa menelan kenyataan pahit itu. Namun, takdir mengubah segalanya ketika kecelakaan merenggut nyawa Aksa.
Regan, pembelot yang sedang diburu organisasi kriminal, memanfaatkan kematian Aksa untuk menyelamatkan dirinya.

Aynara tidak pernah tahu bahwa suami yang ia benci telah mati. Dan pria yang kini hidup sebagai Aksa adalah orang asing yang akan mengubah seluruh hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Berpapasan Seperti Orang Asing

Tak lama kemudian, kendaraan yang ditumpangi Aynara dan Riva memasuki kawasan pusat bisnis.

Di hadapan mereka berdiri sebuah gedung tinggi dengan fasad kaca yang memantulkan cahaya matahari pagi. Logo Aksara Group terpampang jelas di bagian depan gedung.

Riva menunjuknya. "Nah, itu tempatku kerja."

Aynara mendongak menatap gedung tersebut. "Perusahaan besar juga."

"Makanya jangan sampai telat." Riva melirik jam tangannya. "HRD-nya memang baik, tapi tetep bukan malaikat."

Taksi berhenti di area drop-off. Setelah membayar ongkos, Aynara dan Riva turun dari kendaraan.

"Semangat, calon karyawan Aksara Group!" Riva mengepalkan tangan di depan dada.

Aynara terkekeh. "Doain aku."

"Pasti," sahut Riva cepat. "Tapi kalau gak diterima, jangan pulang. Numpang dulu di kontrakanku sampai dapet kerja. Aku gak keberatan kok punya temen ngobrol sama bobok."

Aynara tersenyum. "Siap."

Mereka kemudian masuk ke dalam gedung.

Beberapa menit kemudian, Riva mengantar Aynara sampai ke depan sebuah ruangan. "Ini bagian HRD. Kamu tinggal bilang mau melamar pekerjaan."

Aynara mengangguk. "Kamu kerja dulu aja. Nanti aku kabari kalau sudah selesai."

"Jangan lupa senyum." Riva menunjuk wajahnya. "Siapa tahu HRD-nya langsung terpukau."

"Katanya HRD-nya bucin akut," seloroh Aynara.

"Justru itu." Riva menepuk pundak Aynara ringan. "Dia pasti tahu bedanya orang cantik sama istrinya."

Aynara tertawa kecil. "Pergi sana."

Riva akhirnya kembali ke posnya.

Aynara menarik napas panjang sebelum melangkah menuju meja HRD. Ia membawa map berisi dokumen lamaran dengan kedua tangan.

"Permisi, Pak. Saya ingin menyerahkan lamaran untuk posisi yang sedang dibuka."

HRD menerima map tersebut. "Silakan duduk."

Ia membuka berkas dan mulai membaca CV Aynara. Alisnya perlahan terangkat.

Lulusan salah satu universitas ternama, IPK di atas rata-rata, serta memiliki beberapa pengalaman organisasi dan pekerjaan paruh waktu. Riwayat pendidikannya cukup kuat untuk dipertimbangkan sebagai kandidat posisi sekretaris.

HRD kemudian mengangkat wajah. Tatapannya sempat berhenti pada Aynara. Penampilannya sederhana, tetapi tubuhnya proporsional dan wajahnya memiliki kecantikan alami yang sulit diabaikan.

Namun, ia segera kembali melihat CV di tangannya.

"Bagus," gumamnya pelan.

Satu kata itu membuat Aynara merasa peluangnya mendapatkan pekerjaan mungkin tidak terlalu buruk.

 

Setelah menyerahkan berkas lamaran, Aynara keluar dari ruang HRD.

Ia berjalan menyusuri koridor sambil menundukkan kepala, membaca beberapa pesan yang baru saja masuk ke ponselnya.

Di saat yang hampir bersamaan, dari arah berlawanan, seorang pria dengan ponsel yang menempel di telinga melangkah menuju lift.

Aksa Wicaksono.

Langkah keduanya perlahan mendekat. Satu langkah, dua langkah, jarak mereka semakin menyempit.

Aynara masih sibuk dengan ponselnya. Ketika menyadari ada seseorang yang berjalan tepat dari arah berlawanan, ia sedikit menggeser tubuh ke samping untuk memberi jalan.

Sementara Aksa masih fokus mendengarkan lawan bicaranya dari sambungan telepon.

Beberapa detik kemudian, bahu mereka hampir bersentuhan.

Hampir.

Aynara terus melangkah tanpa mengangkat wajah. Aksa pun tidak menoleh sedikit pun. Mereka akhirnya melewati satu sama lain.

Tidak ada sapaan, tidak ada tatapan. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari siapa orang yang baru saja berpapasan.

Padahal pria yang baru saja melewati Aynara adalah suaminya sendiri.

Dan perempuan yang baru saja dilewati Aksa adalah istrinya.

Ironisnya, setelah dipisahkan oleh keputusan Aksa, takdir justru mempertemukan mereka kembali di tempat yang sama.

Hanya saja... kali ini mereka berjalan melewati satu sama lain seperti dua orang asing.

Riva yang sejak tadi berada di balik meja resepsionis terlihat gemas saat melihat Aynara berjalan mendekat.

"Ra!"

Aynara mengangkat wajahnya dari ponselnya. "Apa?"

"Itu! Manager ganteng yang aku ceritain kemarin!" Riva hampir saja melompat dari balik meja resepsionis.

Aynara mengernyit. "Yang mana?"

"Itu! Yang di depan lift." Riva buru-buru menunjuk ke arah belakang Aynara. "Ya ampun, Ra. Tadi kalian berpapasan dekat banget!"

Aynara mengikuti arah telunjuknya.

Seorang pria berjalan menuju lift dengan langkah tenang. Jas yang dikenakannya terlihat rapi, sementara satu tangannya masih memegang ponsel yang digunakan untuk berbicara melalui sambungan telepon. Pria itu tinggal beberapa langkah dari pintu lift. Entah mengapa, punggung itu terasa familiar.

Aynara mengerutkan dahi. "Kayaknya aku pernah..."

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, pintu lift terbuka dan pria itu masuk. Beberapa detik kemudian, pintu lift kembali tertutup dan sosok itu menghilang dari pandangan.

Aynara masih menatap pintu tersebut. "Kenapa rasanya aku pernah lihat dia?"

"Yakin pernah lihat?" Riva langsung menyahut. "Dia itu orang terganteng di perusahaan ini. Namanya—"

"Selamat siang, Mbak," sapa seorang tamu menghampiri meja resepsionis.

"Selamat siang, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" Riva langsung beralih melayani tamu tersebut.

Sementara itu ponsel Aynara tiba-tiba berdering, ia menunduk melihat layar. Nama Mama Asti muncul di sana.

"Oh, Mama."

Aynara segera mengangkat ponselnya, ia berjalan sedikit menjauh dari meja resepsionis sebelum menerima panggilan.

"Halo, Ma?"

"Sayang, alergimu sudah sembuh?" tanya Asti dari seberang telepon.

"Sudah, Ma," jawab Aynara sambil duduk di salah satu kursi yang tersedia di lobby.

"Kapan kira-kira kamu ada waktu untuk ketemu Mama?"

Suara Asti tetap terdengar lembut, seperti saat pertama kali berbicara dengannya.

Aynara terdiam sejenak. Sebenarnya ia masih ingin mencari pekerjaan ke perusahaan lain. Namun, setelah semua kebaikan yang diberikan Asti kepadanya, ia merasa tidak enak jika terus menghindar.

"Hari ini bisa, Ma," jawab Aynara akhirnya.

"Sekarang?" tanya Asti.

Aynara mengangguk meski Asti tak bisa melihatnya. "Kalau Mama mau."

"Beneran?" Suara Asti seketika terdengar lebih ceria.

"Iya, Ma." Tanpa sadar, sudut bibir Aynara terangkat mendengar nada bahagia dari ibu mertuanya.

"Kalau begitu, setengah jam lagi kita ketemu di Kafe Arunika, ya. Bisa?"

Aynara berpikir sebentar. "Iya, Ma."

"Oke! Kita ketemu di sana."

Panggilan berakhir. Aynara memasukkan ponselnya ke dalam tas, kemudian beranjak dari kursinya dan berjalan menuju meja resepsionis.

"Riv, aku pergi dulu, ya."

Riva yang sedang merapikan beberapa dokumen langsung menoleh. "Mau ke mana?"

"Aku mau ketemu seseorang." Jawaban itu diiringi senyum kecil yang masih tersisa di wajah Aynara.

Riva langsung menyipitkan mata. "Waduh..." Ia mengamati wajah sahabatnya dari atas sampai bawah. "Wajahmu terang banget. Lebih terang daripada lampu seratus watt."

Aynara terkekeh. "Apaan, sih?"

Riva semakin mendekatkan wajahnya. "Jangan-jangan... kamu mau ketemu..."

Belum sempat Riva menyelesaikan kalimatnya, sebuah suara dari belakang membuat keduanya serempak menoleh.

"Nara, Riva?"

Aynara membeku. Riva pun ikut terdiam. Suara itu terdengar begitu familiar.

 

...🔸🔸🔸...

...“Tidak semua pertemuan harus berakhir dengan saling mengenali. Ada kalanya takdir hanya ingin menunjukkan bahwa jalan dua manusia masih saling terhubung, meski mereka belum siap mengetahui ke mana jalan itu akan membawa mereka.”...

...“Dalam hidup, ada pertemuan yang datang terlalu cepat dan ada yang datang terlalu lambat. Namun, jika dua hati memang masih memiliki jalan yang sama, kesempatan yang terlewat hari ini mungkin hanya menjadi awal dari pertemuan yang lebih berarti di kemudian hari.”...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Hanima
😍😍😍😍👍
Puji Hastuti
trus gimana nanti,kalau Nara sadar
Eka Burjo
syukurlah selamat. jangan kasih ampun tuh si Doni
tse
waduh sayang sekali.....
mereka jadinya melakukan zina ya....
Regan ga kuat iman nya..
Eka Burjo
harus nikah ulang ijab qobul lagi si, biar jadi halal hubungannya 😁✌️, tanya ahlinya
Puji Hastuti
ayolah regan, selamatkan ay
Sugiharti Rusli
semoga saja Regan masih keburu menolongnya yah, karena kalo sampai Aynara dilecehkan oleh Doni, itu akan jadi malapetaka sih😔😔😔
Sugiharti Rusli
mana kondisi Aynara sedang tidak baik" saja karena obat yang diminum saat tadi di ballroom,,,
Sugiharti Rusli
pada akhirnya si Doni malah berhasil membawa Aynara kan jadinya,,,
Sugiharti Rusli
meski dia belum tahu kalo orang yang mencegat dirinya suruhan si Doni, dia seharusnya ga usah meladeni,,,
Sugiharti Rusli
waduh si Aksa kemakan umpan si Doni lagi dia yah,,,
Cicih Sophiana
ya Allah Nara... semoga Regan cepat menemukan Nara dan menolong nya...
Siti Jumiati
semoga regan cepat datang dan menolong Aynara
Siti Jumiati
semoga regan cepat datang dan menolong Aynara
Eka Burjo
aakh gubrak 👊😡
Wardi's
aahh... tidaaak...
Anitha
semoga Regan datang tepat waktu..biar Regan saja yang membantu Aynara menghilangkan panas di badannya efek pengaruh obat dosis tinggi
Anonim
Aynara pamit pulang sama kakek, walaupun kakek tidak bisa menjawab, mungkin bawah sadar kakek merasa kali ya.

Aynara tidak jadi pulang ketika melihat perawat mau membersihkan tubuh pasien. Ia minta izin sama perawat untuk membantu membersihkan kakek.

Lebih baik Aynara cari kontrakan di dekat rumah sakit, jadi bisa sering datang menjenguk kakek.

Tinggal di rumah sendiri malah makan hati. Lebih baik segera cari kontrakan

Siapa yang berheti di hadapan Aynara ?
Anonim
Ternyata Gunadi yang datang tapi mengurungkan niatnya untuk masuk.

Gunadi menghubungi seseorang lewat sambungan telepon untuk minta dikirimi foto Aynara. Dan menyuruhnya menyelidiki kegiatan Aynara beberapa hari terakhir.

Foto-foto Aynara sudah dikirim. Gunadi melihat foto-foto Aynara. Cantik.
Anitha
Regan agak ceroboh lengah dikit istrimu dalam bahaya padahal kamu sudah mencurigai si Doni,harusnya kamu lebih waspada...

semoga saja Regan tidak bisa di cegah oleh orang suruhan si Doni...hajar saja Regan jka orang itu mencegahmu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!