Deskripsi ~S1~(Alan & Ulan) , ~S2~(Elang & Mentari)
Ulan Diandra Maera. Gadis berusia 25 tahun harus mengalami masa pahit karena masa lalunya yang membuat sang tunangannya harus meninggalkannya untuk selama-lamanya. Hingga dirinya di benci oleh keluarga sang tunangan dan keluarga kandungnya sendiri, hingga datang kembaran dari sang tunangan bernama Alan yang juga ia pernah cintai di masa lalu dan ternyata adalah CEO di perusahaan tempat Ulan bekerja. Alan ternyata bisa membuat hidup Ulan lebih berwarna setelah kebencian yang ia terima dari keluarganya dengan alasan yang sama sekali tidak di ketahui oleh gadis itu.
Alan Mahendra, lelaki 32 tahun yang diam-diam mencintai Ulan sejak dulu, hanya karena egonya membuat Ulan berpaling pada Althaf Mahendra, kembarannya. Alan akan membuat Ulan mencintainya dengan cara lembut maupun kasar.
Akankah Alan bisa membuat Ulan mencintainya seperti dulu?
warning : kisah ini murni dari pemikiran author. Jika ada kesamaan tokoh dan yang lainnya itu hanya sebuah kebetulan yang tidak disengaja. saling mendukung dengan memberikan like, vote, komentar dan tips. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syafitri wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
...Happy reading...
****
Cinta datang ibarat suprise yang tak terduga
Membuatmu sulit bernafas, bahkan membuatmu tak percaya jika cinta benar-benar datang tanpa di minta.
Dalam persekian detik Ulan benar-benar tidak bernafas, ia masih mencerna kata-kata Alan dan masih menatap Alan dengan mematung. Wajah Pria itu tampak serius dan tegas tidak ada keraguan dari gurat wajahnya yang sangat tampan tersebut. Ulan menelan ludahnya dengan gugup bahkan kakinya terasa gemetar dan dapat di pastikan dirinya akan terjatuh jika ia tadi masih dalam keadaan berdiri.
"M-maksudnya?" tanya Ulan dengan terbata menatap Alan dengan pandangan yang sangat sulit di artikan.
"Mas Alan ingin menikahi gadis pembawa sial ini?" tanya Akbar tak percaya membuat hati Ulan berdenyit sakit. Sebegitu tidak pantaskah dirinya berada di tengah-tengah keluarga Althaf? Ulan juga tidak mau Althaf meninggalkannya. Namun, takdirlah yang harus membuat ia menerima jika Althaf sudah berbahagia di surga dan tidak bisa bersanya kembali.
"Akbar!" Andra berbicara dengan nada memperingati. Ia ingin anaknya menghargai Ulan karena ia tahu Ulan tidak salah dalam kepergian Althaf.
Akbar diam. Adrian juga sama, lelaki itu tak habis fikir jika Alan akan menikahi Ulan. Bagaimana bisa terjadi? Setahu Adrian, Alan sangat membenci Ulan dengan sikap dingin pria itu.
"Kamu yakin ingin menikah dengan Ulan?" tanya Siska dengan sorot mata bahagia karena memang sejak dulu dirinya ingin Ulan menjadi menantunya. Gadis baik, ramah dan sangat perhatian itu sudah sangat mencuri hatinya dan Siska sangat senang karena Alan dengan cepat ingin menikahi Ulan walau gadis itu sangat terlihat syok sekali. Siska sudah menduga jika Alan tak membicarakan hal penting ini terhadap Ulan terlebih dahulu.
"Kapan kalian akan menikah?" tanya Andra yang melihat keseriusan di mata anaknya.
"Adrian tidak setuju Mas Alan menikah dengan Ulan. Mas gak ingat jika Ulan yang telah menyebabkan Mas Althaf meninggal? Mas mau di suruh ini dan itu sama gadis manja ini hingga mengorbankan seluruh hidup Mas hanya untuk menuruti kemauan gadis pembawa sial ini?" ucap Adrian dengan tajam membuat tangan Ulan mengepal karena merasa tak sanggup dengan hinaan Adrian. Ulan sudah sangat sabar dengan penghinaan mereka, namun ini kenapa tetap saja membuat hatinya berdenyut sakit.
Alan juga sama, ia merasa emosi dan sakit dengan ucapan adiknya yang sangat pedas dan tertuju pada Ulan, calon istri yang diam-diam ia cintai walau gadis itu sama sekali tak mengetahuinya. "Dengan atau tanpa restu kalian berdua Mas akan tetap menikahi Ulan. Tanpa persetujuan dari kalian berdua Mas akan tetap bisa menikah dengan Ulan," ucap Alan dengan menatap tajam Adrian dan Akbar yang membuat kedua pria itu hanya bisa menahan kekesalan mereka di dalam hati.
Sedangkan Ulan, gadis itu masih tak percaya jika Alan akan menikahinya, ia seakan sedang bermimpi sekarang. "Aku tidak bisa," ucap Ulan dengan lirih membuat semua tertuju pada ulan kembali.
"Coba katakan kembali!" ucap Alan dengan tajam ia ingin mendengar dengan jelas apa yang di ucapkan Ulan walau dirinya sudah mendengarnya.
"Saya tidak bisa menikah dengan Bapak! Betul apa yang di katakan Kak Adrian dan Akbar, saya tidak pantas untuk Pak Alan," ucap Ulan dengan lirih bahkan dirinya tak berani menatap Alan dan Siska.
"Kenapa?" tanya Siska dengan raut wajah kecewa. Menurutnya Ulan sangat pantas untuk Alan dengan pembawaan yang sangat dingin tersebut.
"Karena saya..."
"Saya tidak menerima penolakan Ulan. Kamu tahu saya bagaimana di kantor, kan? Jadi, setuju atau tidaknya kamu, mau atau tidaknya kamu menikah dengan saya, saya akan tetap menikahi kamu!" ucap Alan dengan dingin.
"Tapi..."
"Bunda, Ayah. Persiapkan pernikahan Alan dengan Ulan minggu depan! Alan pastikan jika Ulan menolak menikah dengan Alan, kalian akan mendapatkan cucu secepatnya," lanjut Alan dengan tajam membuat semua mata menatap Alan dengan syok terutama Ulan.
Ulan ingin pingsan rasanya! Benarkah ia akan menikah dengan Alan secepat itu?