"Kak Luis, tolong jangan ... ini menyakitkan!" titah Laura dengan wajah memerah. Bahkan ia memalingkan wajahnya ke arah lain. "Kamu berani menegurku!" Wajah Luis nampak menyeramkan. "Kak Luis ... Maafkan aku ... " Ucapan Laura saat tiba-tiba Luis beralih menciumnya. "Ini adalah hukuman karena kamu berani menentang perintahku Laura Ana ... " Kedua bola mata Laura membelalak sempurna, saat Luis ingin ... Luis Lucian sangat membenci Laura Ana, ia menganggap jika Laura anak haram dari ayahnya yang membuat ibunya pergi. Padahal yang sebenarnya terjadi, saat Lucian berumur 15 tahun, ibunya pergi karena berselingkuh. Sementara Laura anak dari sahabat ayah Lucian yang kedua orang tuanya meninggal saat kecelakaan. Saat umur 16 tahun, Laura dibawa kerumah Lucian dan tinggal disana. Karena kelebihan yang diderita Laura, Lucian mengira Laura pernah hamil dan melahirkan. Dia terus menganggu dan mempermainkan perasaan Laura, walaupun bagi Luis, ia dan Laura saudara satu ayah. Luis akan membuat Laur
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26.
Dylan mengeluarkan map yang berisi informasi tentang Laura, "semua informasi nona muda ada disini ... Silahkan dibaca," ucap Dylan.
Luis menerima map itu, tapi saat ingin membukanya. Ada seorang perawat yang menghampirinya.
"Tuan Luis, nona Emma mengamuk dan mencari anda. Dia berniat untuk bunuh diri dengan mengiris pergelangan tangannya dengan pisau buah," ujar perawat itu dengan wjaha panik.
Luis memasukkan kembali semua informasi tentang Laura.
Dylan yang ingin melihat langsung Luis membacanya ingin mengikuti Luis ke kamar inap Emma, tapi langkahnya terhenti saat dirinya mendapatkan telepon dan harus kembali ke luar negeri.
Karena keadaan Wilson memburuk dan harus segera dilakukan tindakan operasi.
Jadi Dylan kembali bertolak ke bandara.
Luis melangkah pelan memasuki ruang inap yang remang, aroma antiseptik bercampur bau obat luka menusuk hidungnya.
Di tengah ruangan, Emma berdiri dengan mata merah membara, tangan kirinya memegang kain putih yang kini basah oleh darah segar akibat goresan pisau kecil di pergelangan tangannya sendiri.
Beberapa dokter berusaha menenangkannya, wajah mereka serius tapi juga terlihat cemas.
Ayah Johan duduk di sudut ruangan, tubuhnya menggigil, napasnya keluar masuk tanpa teratur, menandakan kegelisahan yang mendalam.
"Luis! Ternyata selama ini kamu enggak mencintaiku?" suara Emma pecah, penuh dengan luka yang lebih dalam dari darah yang mengalir di tangannya.
"Kamu malah mencintai anak pelayanmu itu!" Tatapannya menusuk, penuh pengkhianatan dan amarah yang membara.
Emma yang melihat dari video yang beredar, betapa marah dan paniknya Luis saat melihat tubuh Laura tergeletak di lantai dekat gudang. Hatinya sakit, ia merasa yakin kalau pacarnya sudah berpaling hati.
Luis menatap Emma dengan campuran rasa lelah dan kesal yang sulit disembunyikan.
Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena kecewa pada situasi yang semakin runyam.
Ia mendekat perlahan, berusaha menenangkan, meski hatinya juga terkoyak.
"Emma," suaranya serak, menahan amarah yang hampir meledak, "teman-temanmu yang membully Laura sehingga membuatnya nyaris mati, bahkan kakinya tidak akan bisa dibuat berjalan normal selama sebulan ..."
"Dan biarkan aku memberitahumu sebuah fakta, sebenarnya dia bukan anak pembantu. Aku bohong padamu, dia adik Tiriku. Dia anak ayahku dari wanita lain."
"Jangan-kan mencintainya, aku bahkan lebih membencinya dari siapapun." Jelas Luis.
Matanya menatap dalam ke arah Emma, berharap bisa menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi.
Emma terdiam sejenak, darah di tangannya terus mengalir, tetapi matanya kini berubah, antara kebingungan dan sakit hati yang mendalam.
Ia menatap ke dalam bola mata biru Luis, tapi disana ia sama sekali tidak melihat kebohongan disana.
Emma terdiam, "apakah mungkin aku hanya salah paham?" Gumamnya dalam hati, ia nampak berdiri mematung.
Di sisi lain, dokter-dokter itu mulai mengambil kain bersih untuk membalut lukanya.
Johan pun bernapas lega, Luis meletakkan map-nya, tangannya memegang pergelangan tangan Emma yang lain.
"Emma, kamu tahu cintaku hanya sama kamu. Nggak ada yang lain, dia itu adikku satu ayah, aku sangat membencinya. Dia orang yang menyebabkan ibuku pergi dari rumah," ujar Luis, setiap kata yang ia ucapkan terdengar serius.
Johan yang melihat hubungan Emma dan Luis semakin dekat lantas berjalan mendekat, "apakah kamu pacarnya Emma, Luis?"
Johan memang tidak mengenal Luis, tapi ia tentu tahu namanya. Karena putrinya berkali-kali menyebut nama Luis.
Luis mengangguk, lalu ia berdiri dan mengulurkan tangannya. "Iya, aku pacar Emma. Aku dan dia sudah berpacaran selama lebih dari empat tahu."
Johan menatap calon menantunya dari atas ke bawah, tapi ia merasa tidak begitu asing dengan wajah Luis.
"Kalau begitu, bisa beritahu aku. Apa marga keluargamu?" Tanya Johan.
Sementara Emma yang berwajah pucat, berusaha memukul ayahnya. "Ayah, hubungan kami belum sejauh itu," ujar Emma malu-malu.
Luis menjawab dengan ekspresi datar. "Marga keluargaku Lucian, namaku Luis Lucian anak dari Lucian Wilson."
Jawaban Luis langsung membuat kedua bola mata Johan membulat sempurna.