"Gue benci banget sama lo. Tapi kalau lo pergi... gue bisa hancur."
Ini tentang ego yang sama-sama keras kepala, sampai akhirnya sadar kalau kehilangan itu ternyata jauh lebih nakutin daripada ngakuin perasaan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecolongan, Sedikit
Pagi hari.
Langit Jakarta masih diselimuti mendung tipis ketika Arsen berdiri di depan jendela kamar hotel.
Di tangannya masih tergenggam secarik kertas yang semalam dilemparkan ke balkon.
"Aku tahu kau membawanya."
Kalimat itu singkat.
Namun cukup untuk memastikan satu hal.
Mereka bukan lagi sekadar diikuti.
Mereka sedang dipermainkan.
Tok...
Tok...
Tok...
Suara ketukan pelan terdengar dari pintu.
Arsen membuka pintu tanpa banyak bicara.
Genta masuk bersama dua anggota tim lainnya.
"Pagi, Tuan."
"Laporan."
Genta langsung mengeluarkan tablet.
"Kami sudah memeriksa rekaman CCTV di sekitar hotel."
"Hasilnya?"
"Pelaku sengaja menghindari kamera."
"Namun..."
Genta memperbesar sebuah gambar.
"Mobil ini muncul tiga kali sejak tadi malam."
Arsen memperhatikan layar.
Sebuah sedan abu-abu.
Plat nomornya berbeda dengan mobil yang kemarin mengikuti mereka.
"Plat palsu."
"Ya, Tuan."
Arsen mengangguk pelan.
"Lanjut."
"Dan kami juga menemukan sidik jari di batu yang dilempar ke balkon."
Senja yang baru keluar dari kamar mandi ikut mendekat.
"Bisa ketahuan pelakunya?"
Genta menggeleng.
"Sidik jarinya sengaja dihapus."
Arsen sama sekali tidak terlihat kecewa.
Justru bibirnya membentuk senyum tipis.
"Itu berarti mereka mulai panik."
Genta mengangkat alis.
"Tuan?"
"Kalau mereka masih sempat menghapus sidik jari..."
"...berarti mereka belum siap berhadapan langsung."
Ruangan kembali hening.
Beberapa detik kemudian...
Arsen menatap Genta.
"Mulai hari ini..."
"...berhenti bertahan."
Genta langsung memahami maksud atasannya.
"Anda ingin kita memburu mereka?"
"Bukan."
Arsen menatap kembali tulisan di secarik kertas itu.
"Saya ingin mereka percaya..."
"...bahwa saya masih belum tahu siapa dalangnya."
"Lalu?"
Tatapan Arsen berubah dingin.
"Begitu mereka lengah..."
"...baru kita ambil semuanya sekaligus."
Senja memandang Arsen tanpa berkedip.
Selama ini ia hanya mengenal Arsen sebagai pria dingin dan penyelamatnya.
Namun pagi itu...
Ia melihat sisi lain dari pria tersebut.
Sisi seorang pemburu.
Yang tidak pernah terburu-buru menerkam.
Karena ia tahu...
Mangsa yang merasa aman akan jauh lebih mudah ditangkap.
Saat Genta dan kedua anggota timnya hendak keluar...
Ponsel Senja tiba-tiba berdering.
Semua orang langsung menoleh.
Senja melihat layar ponselnya.
Nomor tidak dikenal.
"Pak..."
Arsen mengulurkan tangan.
"Jangan diangkat."
"Tapi kalau penting?"
"Saya bilang jangan."
Nada suara Arsen tetap tenang.
Namun kali ini...
Tidak memberi ruang untuk dibantah.
Ponsel itu terus berdering.
Sekali.
Dua kali.
Lalu berhenti.
Beberapa detik kemudian...
Masuk sebuah pesan.
Senja membuka layarnya.
Wajahnya langsung memucat.
Di layar hanya ada satu foto.
Foto dirinya...
Yang diambil kemarin saat keluar dari minimarket.
Di bawahnya tertulis satu kalimat.
"Kau tidak akan bisa bersembunyi selamanya."
Arsen membaca pesan itu tanpa mengubah ekspresi.
Namun Genta yang berdiri di sampingnya tahu...
Sorot mata atasannya kini jauh lebih berbahaya daripada sebelumnya.
Kamar hotel kembali hening.
Ponsel Senja masih berada di tangan Arsen.
Tatapannya terpaku pada foto yang baru saja dikirim.
Foto itu diambil dari jarak cukup dekat.
Berarti...
Pelaku pernah berada hanya beberapa meter dari Senja.
Arsen menekan tombol layar.
"Lacak nomor ini."
Genta langsung menerima ponsel itu.
"Baik, Tuan."
Beberapa menit kemudian...
"Nomornya sudah tidak aktif."
"Buang."
"Ya, Tuan."
Arsen kembali menatap foto tersebut.
Kemudian tiba-tiba berkata,
"Mereka ingin membuat kita panik."
Senja mengernyit.
"Supaya kita terus pindah tempat?"
"Bukan."
Arsen menggeleng pelan.
"Supaya kita melakukan kesalahan."
"Kesalahan?"
"Orang yang sedang takut biasanya berhenti berpikir."
"Tapi..."
Senja menunduk.
"Jujur aja, saya memang takut."
Suara itu begitu lirih hingga membuat ruangan kembali sunyi.
Arsen menoleh.
Untuk pertama kalinya sejak pesan itu datang...
Dia benar-benar melihat wajah Senja.
Perempuan itu berusaha terlihat baik-baik saja.
Namun jemarinya saling menggenggam erat.
Arsen melangkah mendekat.
"Takut itu wajar."
Senja mengangkat kepalanya.
"Tapi..."
"...selama kamu bersama saya."
"...tidak akan ada yang menyentuh kamu."
Kalimat itu diucapkan tanpa keraguan sedikit pun.
Bukan janji kosong.
Melainkan keyakinan.
Entah kenapa...
Rasa takut di dada Senja perlahan berkurang.
Ia mengangguk pelan.
"Iya, Pak."
Arsen kemudian berbalik menghadap Genta.
"Siapkan mobil."
"Tuan mau pindah?"
"Tidak."
Genta tampak bingung.
"Lalu?"
"Kita keluar."
"Keluar?"
Senja ikut menoleh.
"Pak... bukannya itu berbahaya?"
Arsen justru tersenyum tipis.
"Justru itu yang mereka tunggu."
"Tapi kalau kita keluar..."
"Mereka akan mengikuti."
"Betul."
"Lalu kenapa tetap keluar?"
Sorot mata Arsen berubah tajam.
"Karena..."
"...saya juga ingin tahu siapa yang mengikuti."
Ruangan kembali sunyi.
Genta perlahan ikut tersenyum.
Sudah lama...
Ia tidak melihat atasannya mulai bermain seperti ini.
"Mobil siap dalam lima menit, Tuan."
"Jangan."
Genta terdiam.
"Kita jalan kaki."
"Hah?"
Bahkan Senja ikut membelalakkan mata.
"Jalan kaki?"
"Iya."
"Mereka pasti mengira kita keluar menggunakan mobil."
"Kalau begitu..."
Arsen mengambil topi hitam dan masker dari atas meja.
"...kita buat mereka berpikir lebih keras."
Senja menatap Arsen beberapa detik.
Lalu tanpa sadar tersenyum kecil.
"Pak..."
"Hm?"
"Kadang saya kasihan sama orang yang jadi musuh Bapak."
Sudut bibir Arsen terangkat tipis.
"Saya juga."
Jawabannya begitu datar.
Namun justru itulah yang membuat Genta hampir menahan tawa.
Beberapa menit kemudian...
Empat orang itu keluar melalui pintu darurat hotel.
Tanpa diketahui siapa pun...
Seseorang di balik layar CCTV sedang memperhatikan setiap langkah mereka.
Dan sebuah pesan singkat langsung dikirim.
Target bergerak. Ikuti dari jarak aman.
Mereka keluar melalui pintu darurat hotel.
Arsen berjalan paling depan.
Di belakangnya, Senja mengenakan topi hitam, masker putih, dan hoodie krem yang membuat penampilannya jauh berbeda dibanding beberapa hari lalu.
Sementara Genta dan dua anggota tim lainnya menjaga jarak beberapa puluh meter.
Tidak terlalu dekat.
Namun cukup untuk mengawasi.
"Pak..."
"Hm?"
"Kita mau ke mana?"
"Jalan."
Senja mengernyit.
"Hanya... jalan?"
"Iya."
"Tapi Bapak bilang mau mencari orang yang mengikuti kita."
Arsen memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"Saya tidak mencari."
"Lalu?"
"Saya sedang menunggu dia menunjukkan dirinya."
Senja semakin bingung.
Namun akhirnya memilih diam.
Beberapa menit kemudian.
Mereka memasuki sebuah kawasan pertokoan yang mulai ramai.
Orang-orang berlalu-lalang.
Sangat cocok untuk berbaur.
Arsen tiba-tiba berhenti di depan sebuah kedai kopi kecil.
"Duduk."
Senja menurut tanpa bertanya.
Seorang pelayan datang menghampiri.
"Mau pesan apa, Kak?"
"Dua kopi."
Arsen menjawab singkat.
"Saya nggak minum kopi, Pak."
"Nanti kamu minum teh."
"Oh..."
Pelayan itu tersenyum kecil sebelum pergi.
Beberapa saat kemudian...
Arsen mengambil ponselnya.
Layar menampilkan denah kawasan sekitar.
Titik-titik biru mulai bergerak.
Itu adalah posisi Genta dan timnya.
Lalu...
Muncul satu titik merah.
Berhenti.
Sekitar lima puluh meter dari kedai.
Arsen tersenyum tipis.
"Ketemu."
"Pak?"
"Hm."
"Kenapa senyum?"
"Tidak apa-apa."
Padahal...
Orang yang mereka tunggu akhirnya muncul.
Seorang pria berkacamata duduk di bangku halte sambil berpura-pura membaca koran.
Namun sejak lima menit lalu...
Halaman korannya tidak pernah dibalik.
Arsen menekan tombol kecil di jam tangannya.
Suara Genta langsung terdengar pelan melalui earphone.
"Tuan?"
"Target di halte."
"Topi abu-abu."
"Kacamata."
"Jangan dekati."
"Ikuti saja."
"Baik."
Arsen mematikan sambungan.
Lalu menatap Senja yang sedang memainkan sedotan minumannya.
Perempuan itu sama sekali belum sadar.
Bagus.
Semakin alami sikapnya...
Semakin kecil kemungkinan mereka dicurigai.
"Pak."
"Hm?"
"Kenapa lihat saya terus?"
Arsen tersadar.
Entah sejak kapan pandangannya memang tertuju pada Senja.
"Biasa."
"Biasa gimana?"
"Kamu terlalu tegang."
"Ya jelas tegang."
Senja mendengus pelan.
"Orang saya lagi dijadiin umpan."
Arsen terkekeh lirih.
Suara tawanya begitu pelan hingga membuat Senja menatapnya tidak percaya.
"Bapak..."
"Apa?"
"Bapak ternyata bisa ketawa juga."
"Sesekali."
"Bagus sih."
"Kenapa?"
"Soalnya kalau Bapak senyum..."
"...nggak seseram biasanya."
Arsen menggeleng kecil.
"Kalau begitu..."
"...berarti saya harus berhenti tersenyum."
"Eh, jangan!"
Senja spontan memprotes.
Lalu buru-buru menutup mulutnya sendiri.
Arsen menatap Senja beberapa detik.
Sudut bibirnya kembali terangkat tipis.
Untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan ini dimulai...
Suasana terasa sedikit ringan.
Namun hanya sesaat.
Ponsel Arsen bergetar.
Sebuah pesan masuk dari Genta.
Tuan... target tidak sendirian.
Ada seseorang baru saja menghampirinya.
Kami berhasil memotret wajahnya.
Arsen membuka foto yang dikirim.
Tatapannya langsung membeku.
Rahangnya mengeras.
Senja yang melihat perubahan ekspresinya langsung ikut tegang.
"Pak..."
"Siapa itu?"
Arsen tidak menjawab.
Matanya masih terpaku pada layar.
Foto itu memperlihatkan pria bertopi abu-abu sedang berjabat tangan dengan seseorang yang sangat dikenalnya.
Devan Malik.
Arsen menatap layar ponselnya tanpa berkedip.
Foto itu diambil dari kejauhan.
Tidak terlalu jelas.
Namun wajah pria yang baru datang menghampiri target mereka...
Tidak mungkin salah.
Devan Malik.
Adiknya sendiri.
"Pak?"
Senja memanggil pelan.
Arsen mengunci layar ponselnya.
"Tidak ada apa-apa."
Senja jelas tidak percaya.
Ekspresi Arsen berubah.
Tidak marah.
Tidak panik.
Justru terlalu tenang.
Dan itu selalu menjadi pertanda buruk.
Beberapa detik kemudian, earphone kecil di telinga Arsen kembali berbunyi.
"Tuan."
Suara Genta terdengar lirih.
"Laporan."
"Target dan Tuan Devan sudah berpisah."
"Jangan ikuti Devan."
Genta terdiam.
"Tuan?"
"Saya bilang jangan."
"Lalu target?"
"Ikuti."
"Jangan sampai dia sadar."
"Baik."
Sambungan terputus.
Arsen mengembuskan napas pelan.
Matanya kembali menatap ke arah luar kedai.
Devan...
Apa sebenarnya yang sedang kamu lakukan?
Kalau semua ini hanya untuk menjatuhkan saya...
Kamu tidak perlu sampai melibatkan Senja.
Namun...
Kalau tujuanmu memang Senja...
Sorot mata Arsen perlahan berubah dingin.
Dia tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh perempuan itu.
Siapa pun.
Termasuk adiknya sendiri.
"Pak..."
Suara Senja kembali terdengar.
"Kita pulang?"
Arsen menoleh.
"Iya."
Mereka bangkit dari kursinya masing-masing.
Mereka baru saja meninggalkan kedai kopi.
Ponsel Senja kembali bergetar.
Nomor tak dikenal.
Senja menoleh ragu ke arah Arsen.
"Pak..."
Arsen mengangguk pelan.
"Angkat."
Senja menarik napas sebelum menggeser tombol jawab.
"Halo?"
Beberapa detik...
Tidak ada jawaban.
Hanya suara napas seseorang di seberang.
"Siapa ya?"
Lalu terdengar suara seorang pria.
Tenang.
Dingin.
Namun terdengar seperti sedang tersenyum.
"Tidak perlu tahu siapa saya."
Senja mengernyit.
"Kalau begitu kenapa menelepon saya?"
Pria itu tertawa kecil.
"Saya hanya ingin memastikan..."
"...kalau kamu masih baik-baik saja."
Jantung Senja mendadak berdegup lebih cepat.
"Siapa sebenarnya Anda?"
Beberapa detik hening.
Lalu suara itu kembali terdengar.
Kali ini lebih pelan.
Lebih dalam.
"Tidak peduli kamu bersembunyi di mana..."
"...aku akan selalu menemukanmu."
Senja tanpa sadar menggenggam ponselnya lebih erat.
"Apa maksud—"
Pria itu memotong ucapannya.
"...Senja Naura Bagaskara."
Tut.
Sambungan langsung terputus.
Senja masih terpaku menatap layar ponselnya.
Sementara di sampingnya...
Langkah Arsen mendadak berhenti.
Sorot matanya berubah.
"...Bagaskara?"
Bisiknya hampir tak terdengar.
Senja menoleh bingung.
"Pak?"
Namun Arsen sama sekali tidak menjawab.
Nama belakang itu...
Bukan nama yang asing baginya.
Justru terlalu dikenal.
Keluarga Bagaskara.
Salah satu keluarga paling berpengaruh yang seharusnya telah menghilang dari dunia bisnis Indonesia belasan tahun lalu.
Kalau Senja benar berasal dari keluarga itu...
Kenapa dia hidup sesederhana ini?
Kenapa Bu Ratih tidak pernah sekalipun menyebut nama tersebut?
Dan yang paling penting...
Kenapa Devan mengetahui identitas itu lebih dulu daripada dirinya?
Tatapan Arsen perlahan beralih kepada Senja.
Perempuan itu masih berdiri dengan wajah bingung, sama sekali tidak menyadari bahwa satu nama belakang yang baru saja disebut telah mengubah seluruh arah permainan.
Arsen mengepalkan rahangnya.
"Senja..."
"Sebenarnya... siapa kamu?"