Alya yang baru tamat SMA harus menerima takdir perjodohan kakak kandungnya yang mengakibatkan Alya harus mengubur mimpi dan menerima perlakuan kasar dari Suaminya sendiri yang merupakan Pacar kakak kandungnya.
Namun takdir membawa Alya bertemu dengan Trainer Aerobik yang memiliki kepedulian melebihi kakak kandungnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Payung Dibawah Hujan
Gemuruh petir bersahutan di atas langit kota, disusul oleh tirai hujan deras yang langsung mengguyur jalanan aspal di samping ruko Sangkar Hati.
Di dalam kedai ramen kecil yang hangat, kepulan uap kaldu gurih membubung di antara Alya dan Diana. Malam ini kelas perkuliahan diliburkan, memberikan Alya kelonggaran waktu yang jarang ia miliki.
Alya menyesap teh hangatnya, merasakan kehangatan menjalar di dadanya. Di hadapannya, Diana duduk dengan santai, mengenakan jaket kulit hitam yang mempertegas kesan maskulin dan dominan pada dirinya. Sepasang mata elang sang instruktur menatap Alya dengan kelembutan yang teramat intens, seolah seluruh dunia di luar sana tidak lagi penting.
"Kamu kelihatan lebih rileks malam ini, Alya," ujar Diana, suara baritonnya yang rendah mengalun tenang di antara deru suara hujan di luar.
"Biasanya, setiap kali jam dinding bergeser ke angka lima, matamu selalu bergerak gelisah seperti dikejar waktu."
Alya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyimpan kelelahan batin yang teramat dalam. Kehadiran Diana yang dewasa dan protektif selama beberapa minggu terakhir ini perlahan-lahan meruntuhkan sebagian dinding pertahanannya. Ia merasa butuh tempat bersandar, seseorang yang bisa mendengarkan keluh kesahnya tanpa menghakiminya sebagai pajangan murahan.
"Ada banyak... tekanan di rumah, Mbak Diana," bisik Alya lirih, jemarinya meremas cangkir teh. Ia sengaja menjaga kalimatnya agar tetap umum, menyembunyikan rapat-rahat rahasia kebrutalan dan keintiman kasar Reza di atas ranjang.
"Terkadang, berada di dalam rumah besar itu membuatku merasa seperti dikurung dalam ruang hampa. Semua hal diatur, semua gerak-gerik diawasi, dan aku... aku hampir tidak punya hak untuk menentukan jalanku sendiri."
Diana mencondongkan tubuhnya ke depan, tatapan matanya mengeras oleh kilatan amarah tersembunyi mendengar kata "dikurung". Tangan kanannya yang kokoh dan berotot bergerak di atas meja, menyelubungi jemari Alya yang dingin dengan genggaman yang teramat erat dan hangat.
"Laki-laki yang mengurungmu di sana tidak tahu cara menghargai permata yang dia miliki, Alya," ucap Diana, suaranya terdengar sangat dalam dan sarat akan getaran emosi yang tidak biasa.
"Kamu masih sangat muda, terlalu berharga untuk dihancurkan oleh ego seseorang. Jika suatu hari nanti tekanan itu sudah tidak tertahankan... ingatlah bahwa kamu selalu punya tempat untuk pulang. Bersamaku."
Alya tertegun merasakan intensitas genggaman Diana. Ada getaran rasa yang berbeda yang terpancar dari mata wanita matang itu—sebuah ketertarikan romantis sesama wanita yang kini semakin terang-terangan ditunjukkan.
Namun, di tengah badai hidupnya, perhatian intens Diana ini memberikan rasa aman yang ia butuhkan untuk menjaga kewarasannya.
"Terima kasih, Mbak Diana," bisik Alya hangat.
Hujan di luar semakin menggila ketika jam menunjukkan pukul delapan malam. Diana berdiri, memakai jaket kulitnya kembali.
"Hujan terlalu deras dan ini sudah malam. Tidak aman jika kamu pulang naik ojek daring. Malam ini, aku yang mengantarmu pulang."
Alya sempat ragu, namun melihat kilat yang menyambar di balik jendela kaca ruko, ia akhirnya mengangguk. "Baik, Mbak. Terima kasih banyak."
Di belahan kota yang lain, di dalam ruang tamu rumah mewah Blok C-12, atmosfer terasa mencekam dan sedingin es.
Reza berdiri terpaku di tengah ruangan dengan kemeja batik sutra yang rapi dan wangi parfum yang mahal. Malam ini, ia seharusnya pergi bersama Gita menuju rumah besar ibunya, Krisdayanti, untuk memenuhi undangan makan malam keluarga inti.
Namun, dalam perjalanan menjemput Gita, Reza menyadari bahwa berkas dokumen penting mengenai pembagian aset keluarga yang diminta ibunya tertinggal di dalam laci ruang kerjanya di rumah.
Ia memutuskan untuk berputar arah dan mampir sebentar ke rumah untuk mengambil berkas tersebut.
Begitu melangkah masuk, Reza iseng memeriksa ponselnya. Notifikasi integrasi dari sanggar aerobik menunjukkan kartu Alya digesek keluar sejak pukul lima lewat lima belas sore. Berdasarkan perhitungan waktu normal, Alya seharusnya sudah berada di dalam kamarnya sejak pukul enam sore.
Namun, saat Reza menaiki tangga dan membuka pintu kamar utama yang tidak terkunci, ruangan itu kosong melompong. Ranjang king-size rapi tanpa cela. Kamar mandi kering.
Reza berjalan turun kembali ke lantai bawah dengan rahang yang mengeras dan langkah kaki yang berat. Ia menemukan Aminah dan Wati sedang berdiri gemetar di dekat koridor dapur.
"Di mana Alya?" suara Reza keluar rendah, dingin, namun sarat akan ancaman yang mematikan.
Aminah menelan ludah yang terasa kesat, mencoba mengingat alibi yang biasa mereka gunakan.
"M-Mbak Alya... tadi pamit setelah pulang aerobik, katanya mau mencari udara segar sebentar di sekitar komplek, Bapak. Tapi karena hujan deras mendadak turun, mungkin Mbak Alya berteduh di suatu tempat."
"Berteduh?!" Reza mengulang kata itu dengan nada mengejek yang tajam. Ia mengangkat ponselnya, memeriksa riwayat aplikasi transportasi daring Alya yang terhubung dengan akunnya—tidak ada riwayat pemesanan ojek untuk jalan pulang.
"Dia keluar sejak jam lima sore, dan sekarang sudah jam delapan malam! Jangan pikir aku bodoh, Aminah! Di mana istriku?!"
Bentakan Reza membuat Wati nyaris menangis ketakutan. Sebelum Reza sempat meledak lebih jauh, suara deru mesin mobil asing yang berhenti di depan pagar jati rumah mereka terdengar di antara riuh suara hujan.
Reza menyipitkan matanya. Ia melangkah cepat menuju pintu utama, membukanya dengan sentakan kasar.
Di bawah guyuran hujan malam yang lebat, sebuah mobil SUV hitam mewah terparkir di depan pagar. Pintu kemudi terbuka, dan sosok Diana keluar memegang sebuah payung besar berwarna hitam. Wanita bertubuh tegap itu berjalan memutari mobil, membuka pintu penumpang depan, lalu memayungi sosok Alya yang keluar dari dalam mobil.
Alya melangkah dengan hati-hati di bawah naungan payung Diana, jaket biru tuanya sedikit basah terkena cipratan air. Diana merangkul bahu mungil Alya dengan sangat protektif, menjaga agar gadis itu tidak terkena air hujan, sambil sesekali membisikkan sesuatu yang membuat Alya tersenyum kecil.
Namun, senyuman di wajah Alya seketika membeku ketika matanya mendongak dan menatap lurus ke arah teras rumah.
Di sana, berdiri Reza Ardiansyah di bawah sorotan lampu teras yang terang. Wajah suaminya tampak memerah padam oleh amarah yang membakar, matanya yang tajam mengunci erat ke arah jemari tangan Diana yang masih bertengger posesif di atas bahu mungil istrinya. Badai di langit malam itu seolah berpindah sepenuhnya ke dalam dada Reza, siap meledak dan menghancurkan seluruh sandiwara yang telah mereka bangun.
jangan lupa mampir yaa🤭