NovelToon NovelToon
Menyamar Demi Kamu

Menyamar Demi Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Idola sekolah
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Umi Nurhuda

Rui Naru sebenarnya capek jadi pewaris yang hidupnya diatur-atur kakeknya. Baru bahagia sebentar saja bisa pulang ke Indonesia untuk memeluk sang bunda, kakek masih saja menjadi bayang-bayang yang terus mengekangnya.

Satu-satunya hiburan buat dia cuma Nuha, cewek polos berkuncir air mancur yang diam-diam dia taksir. Setiap kali bertemu, ada saja kesan yang membuatnya kian ingin mendekat.

Makanya, waktu tahu Nuha lagi diincar dan mau dimanfaatin sama cowok narsistik paling populer di sekolah, Naru enggak bisa tinggal diam lagi. Ini saatnya dia bertindak.

​Naru nekat lepas total atribut mewahnya dan menyamar masuk ke sekolah Nuha lewat jalur yayasan ibunya. Dia rela jadi cowok "biasa" demi bisa jagain Nuha dari dekat sekaligus jadi pembatas dari gangguan Dilan.

Bisa tidak Naru sukses melakukan penyamarannya tersebut sampai akhir? Apa sih yang dia cari sebenarnya??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umi Nurhuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 04. Drama & Konflik Kelas

​Pukk!

​Belum sempat Nuha meredakan napasnya setelah meluapkan kekesalan, siswa tersebut sengaja melempar segumpal kertas leceknya. Kertas itu mendarat telak di kepala Nuha, membuatnya tersentak kaget dan refleks memejamkan mata.

​"Bullshit!"

​Kata-kata kasar dan tindakan fisik itu seketika menyulut emosi sang Ketua OSIS. Wajah ramah penuh karisma yang tadi ia jaga langsung lenyap, berganti dengan kilat amarah yang mengerikan.

​Tanpa aba-aba, ia menyambar sebuah penghapus papan tulis kayu di dekatnya dan melemparkannya kembali ke arah siswa itu dengan akurasi tinggi.

Plak!

Penghapus itu mengenai bahu si pelaku. Belum sempat siswa itu memprotes, sang Ketua OSIS sudah melangkah lebar mendatangi mejanya. Lalu menekan kepalanya hingga miring terhantuk ke atas permukaan meja kayu.

​Brak!

​"Berani sekali anak baru kemarin sore melakukan tindakan perundungan di depan saya?!" bentaknya. Ia menatap tajam seisi kelas yang kini mendadak pucat pasi. "Ada apa dengan kelas kalian, hah?! Kalian semua masih baru di sini, kenapa sudah sok merasa superior?!"

​Suasana mendadak mencekam, namun seorang siswa lain yang duduk di baris tengah nekat menyahut dengan suara agak bergetar, mencoba membela rekannya.

"Ke- kenapa Kakak malah mencoba melindunginya? Bukannya Kakak sendiri kemarin yang menghukum dia di depan lapangan karena dia telat? Gara-gara cewek itu telat di hari pertama, kelas kami dicap buruk dan ditertawakan kelas lain, Kak! Itu kesan pertama yang sangat memalukan buat jurusan kami!"

​Mendengar pembelaan konyol itu, sang Ketua OSIS melepaskan cengkeramannya dari kepala siswa tadi, lalu merapikan jas almamater OSIS-nya yang sedikit bergeser. ​"Sepertinya kelas ini memang sengaja melahirkan banyak begundal sampah," desisnya dengan nada menghina yang teramat pekat.

"Bagaimana bisa otak kalian tidak berfungsi? Dia sudah menerima konsekuensinya dari kami, dan itu sudah lebih dari cukup. Kenapa kalian masih lancang mengungkitnya?!"

​Kalimat telak itu sukses menampar harga diri seluruh murid di ruangan, membuat atmosfer kelas seketika membeku.

​"Dan kalian ..." Ia menggantung kalimatnya sejenak. Sepasang matanya meneliti ruang kelas, mencari sosok-sosok provokator yang baru saja merundung Nuha.

Jika tidak diselesaikan sekarang, mental penakut seperti mereka tidak akan pernah mengerti arti dari sebuah hukuman. Untuk memahami bahwa Nuha sudah menebus keterlambatannya saat MOS saja mereka tidak becus, malah berbalik menyalahkan secara brutal.

​"Kalian semua yang tadi ikut menyorakinya, maju ke depan sekarang!" Tunjuknya tegas pada lima siswa dan siswi yang mendadak pucat pasi.

​"Kau," ujung jarinya mengarah lurus pada siswi di samping Fani. "Berani meremehkan hasil karya orang lain dan mencemoohnya seperti anak TK? Cupu, cemen ... entah sumpah serapah apa lagi yang keluar dari mulut sampahmu itu. Maju!"

​"Kau juga! Menyuruh orang memanfaatkan kesempatan emas tapi dengan cara memaksa. Kami dari pihak OSIS saja tidak pernah memaksa. Dan sekarang, kau yang saya paksa maju ke depan!"

​"Satu lagi, berandal yang tadi berani melempar hingga melukai fisik orang lain. Maju!"

​Pandangan sang Ketua OSIS menyapu beberapa murid yang kini berdiri gemetar di depan kelas. "Kalian semua, ikut saya ke ruang BK sekarang!"

​Ia berbalik, melangkah tegap kembali ke depan papan tulis untuk menghampiri Lina dan sekretarisnya yang sudah bersiap. "Agenda hari ini cukup sampai di sini. Terima kasih atas partisipasinya."

​Tanpa membuang waktu lagi, ketiga pengurus inti OSIS itu pun berpamitan dan melangkah keluar dari ruang kelas XMM2. Kepergian mereka meninggalkan atmosfer ruangan yang mendadak mati suri. Diliputi rasa bersalah yang mencekik, amarah yang tertahan, serta riak dendam yang mulai memercik di antara mereka.

​​Asa berdiri tegak, menatap dingin ke arah seluruh teman sekelasnya. ​Ia mengacungkan telunjuknya ke depan tanpa rasa gentar sedikit pun, melayangkan peringatan final bagi siapa saja yang ada di ruangan itu.

"Denger kan kalian semua! Kalau sampai gue tahu ada yang berani kembali mengganggu KAMI lagi setelah ini ... kalian bakal langsung berurusan sama gue!"

​Kata "kami" sengaja ia tekankan dengan penekanan yang dalam, menegaskan bahwa Nuha, Fani dan Sifa kini berada penuh di bawah perlindungannya. Suara lantangnya menyapu ruangan, seketika membungkam desas-desus bisik-bisik ketakutan menjadi sunyi senyap.

​"Apaan sih lo, Asa. Lebay!" cicit salah satu murid di sudut bangku. Ia masih mencoba memberanikan diri, meski nyalinya langsung ciut begitu beradu pandang dengan riasan eyeshadow gelap yang mempertegas sorot mata tajam dan dingin milik Asa.

​"Apa? Mau ribut sama gue? Atau perlu gue panggil lagi Ketua OSIS yang tadi buat seret kalian semua ke ruang BK?" ancam Asa dengan nada datar yang justru terdengar jauh lebih mengerikan.

​Seketika, kelas menjadi senyap.

Nyali mereka benar-benar ciut.

Fani yang menyaksikan aksi kilat itu langsung menatap dengan binar mata kagum. "Wah, Asa keren banget! Emang bener ya, kalau kita nggak berani nunjukin gigi, kita nggak bakal punya kuasa buat bela diri. Bener kan, Nuha? Kamu tadi juga hebat lho bisa membela diri. Aku seneng deh."

​"A-- Ah, iya ... bener," angguk Nuha.

Tubuhnya masih terasa gemetar hebat, bukan hanya karena sisa-sisa keberanian yang ia paksa keluar saat membela diri tadi, melainkan juga karena syok melihat kebrutalan tersembunyi dari teman-teman sekelasnya Sendiri.

Di dalam benaknya, Nuha masih tidak menyangka bahwa pihak OSIS justru berbalik melindunginya secara total, bahkan tanpa ragu langsung menyeret siswa-siswi bermasalah itu ke ruang BK.

​Sifa langsung menimpali dengan nada ramah yang sedikit dilebih-lebihkan, namun entah kenapa terasa sangat menyenangkan untuk didengar.

​"Aduh, hellooo! Hari gini kalau kita lembek ya bakal diinjak-injak sama remah-remah rengginang kayak mereka, Sayang! Lagian ya, demi apa pun, aku ogah banget duduk jauh-jauh dari kalian. Apalagi bisa selalu lihat muka grumpy Nuha, pfft-- gemes banget tahu nggak! Berasa kayak mau ngajak tarung sama reog!"

​"Ka—kalian ..."

Suara Nuha bergetar pelan. Ya, segugup itulah dia sekarang. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya karena tidak terbiasa dikelilingi perhatian.

​"Kita temenan, ya?" Sifa mengulurkan tangannya yang lentik dengan kuku ber-manikur rapi. "Kamu nggak sendiri lagi sekarang, Nuha. Karena setelah gue perhatiin dari dekat, kamu sebenarnya manis banget. Cuma ketutupan sama muka sangar lo itu aja."

​"Heh?" Nuha melongo.

​Asa menimpali dengan ekspresi yang tetap datar, namun kalimatnya terdengar luar biasa ekstrem. "Dan rasanya ... Kalau melihat kamu dirundung sama cecurut-cecurut kelas ini, gue pengen banget mencabik-cabik mereka kayak daging ayam suwir. Tenang aja, gue bakal jadi bodyguard lo kalau mereka berani macam-macam lagi."

​"Ih, Asa ekstrem banget, deh!"

Sifa terkekeh geli, lalu kembali menatap Nuha dengan sorot mata yang melunak dan tulus. "Tapi serius, Nuha. Aku salut banget sama kamu. Kamu berani melawan mereka dengan caramu sendiri, dan kuat banget menahan pil pahit ini sendirian. Kalau aku jadi kamu, aku pasti udah ngereog tiap hari dan nggak bakal berhenti ribut sampai seisi sekolah rontok."

​Fani yang sejak tadi menyimak sambil menahan halaman novel Harry Potter-nya, ikut tersenyum tipis. "Kalau kata Profesor McGonagall yaa ... kita tuh nggak perlu nurunin standar diri hanya untuk menghadapi orang-orang yang nggak punya tata krama, Nuh. Mereka merundungmu cos mereka nggak punya keberanian and kecerdasan untuk memahami keunikanmu," ucap Fani dengan nada suara yang tenang, meniru wibawa sang Kepala Asrama Gryffindor.

​Ia menatap lekat-lekat mata Nuha. ​"Dunia sihir punya Horcrux untuk membagi jiwa, tapi kita punya persahabatan untuk membagi suka dan duka. Mulai hari ini, kamu nggak perlu menghadapi para Dementor di sekolah ini sendirian lagi. We're four all, fouuurever, okey?"

"Kita Kuartet Multimedia! Yay!"

Sifa mengajak mereka bertiga tos bersama.

.

.

.

. Next》Bab 05. Lanjut besok 👋

1
Filan
gimana mau cerita kalau dia tidur?
Filan
Harusnya Naru ngambil hati Muha bukan mengobarkan perang. Dasar bocah!
Surya Alfian
WKWKWK "BAMBANG" gue ngakak.
🤣🤣 Udah dibangun tegang, romantis, deg-degan, eh ditutup dengan panggilan Bambang.
Surya Alfian
gue kira mau dicipok ini ciwi, deg-degan woy!! 😳❤️ Kelihatan kalau dia udah mulai jatuh hati tanpa sadar.
Surya Alfian
Gue jadi pengen tahu pas Kakeknya nanti turun tangan bakal segila apa. 🍿😏
Surya Alfian
Ending-nya manis banget, asli bikin senyum. 😆💕 Waduh, fix ini mah udah masuk fase salah tingkah. 😂🌸
Surya Alfian
Scene Muha sama Nuha di meja makan tuh adem banget. 🥹☕ Kakaknya galak tapi kelihatan banget sayangnya tulus, sementara Nuha polos banget sampai bikin gue senyum-senyum sendiri. Chemistry kakak-adiknya enak dibaca.
Surya Alfian
Wkwkwk Naru ini licik level dewa.
🤣 malah ngajak tinggal bareng di kos biar bisa nyiksa mentalnya pelan-pelan. Musuh paling bahaya emang yang senyumnya paling kalem. 😭👌
Surya Alfian
😭📖 Doa Naru ke kakeknya kerasa tulus banget. Gue fix lanjut baca cuma buat tahu kenapa dia sampai harus minta "kebebasan". 🚀
Surya Alfian
🤔❤️ Dia perhatian banget sampai hafal detail-detail kecil tentang Nuha, tapi kalimat "cuma gue yang boleh memahami dia" itu vibes-nya agak posesif. Gue jadi penasaran dia bakal jadi green flag atau malah red flag nantinya. 👀
Surya Alfian
Dilan akhirnya kena mental. 😮‍💨👏
Selama ini dia kebanyakan gaya dan ngerasa semua bisa diselesain pake duit, eh giliran nama bokapnya dibawa langsung ciut. Karma emang nggak pernah salah alamat. 😂🔥
Muft Smoker
mereka lucuu kan ,, 😂😂😂😂 ,,



kak nama2 tokoh mu unik2 yx ,,
lanjut kak
Mega Siregar
padahal sebagai seorang dokter jiwa seharusnya tahu bahwa memanjakan anak tanpa ada kasih sayang dan perhatian dan pengajaran tentang hidup dari orang tua, hanya membuat seorang anak menjadi rusak
ginevra
ketikannya.... sumpah alay banget ini dilan....
ginevra
kakeknya keterlaluan sih... nggak heran baru jadi nggak betah. kasih kelonggaran dikit lah ...
Xlyzy
sumpah keterlaluan banget, pengen tak ketuk pala nya pakek martil
Xlyzy
Jahat ih kalian jangan gitu lah aku ketuk nih kening nya kalau nakal
Filan
gimana kalau diajak pacaran sama Naru? apa dia ga mikir ke sana?
Kan dia suka sama Naru.
Miu.Nuha: iya nanti dilemanya disitu...
Nuha blm sadar kalo dia suka, dia cuma lagi seneng2nya jatuh cinta #eh
total 1 replies
Filan
btw, Muha ini emang gampang marah juga ya.
Filan
ya ampun, tidur dua hari?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!