Nikah muda? ✅
Nikah online? ✅
Satu kelas sama suami sendiri yang ternyata idola sekolah? Nah, yang ini di luar prediksi BMKG!
Satu tahun lalu, sebuah ijab kabul via video call mengikat takdir Ellea dengan seorang pria di kota. Tanpa cinta, tanpa tatap muka langsung.
Kini, Ellea harus menyusul sang suami ke kota setelah kepergian neneknya. Namun, saat tiba di sana, justru pria itu kabur dari rumah dan takdir membawa mereka untuk bertemu kembali di koridor sekolah.
Pria itu bernama Albiru, pria yang paling dielu-elukan, sang kapten tim basket yang dingin dan tak tersentuh, ternyata adalah pemilik cincin yang sama dengan yang melingkar di jari Ellea.
Bagaimana cara Ellea menyembunyikan rahasia besar ini di depan teman-teman barunya? Dan mampukah sang kapten basket mengenali istrinya sendiri yang bercadar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilazahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Biar aku yang pergi
Albiru mengembuskan napas perlahan, menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan tatapan menghakimi sang ayah yang terasa begitu mengintimidasi. Seluruh keangkuhan yang biasanya ia pamerkan di sekolah mendadak menguap tanpa bekas.
"Bunda, Papa, maafkan Al," ucapnya lirih, suaranya terdengar parau menahan gejolak emosi yang masih tertahan di dada.
Ellea yang duduk di sebelahnya, meski hatinya masih terasa remuk redam akibat rentetan kalimat kasar Albiru di kamar tadi, tetap menjaga sopan santunnya. Ia ikut mengangkat suara dengan nada yang teramat lembut namun bergetar. "Ellea juga minta maaf, Papa, Bunda. Karena kehadiran El di sini, suasana rumah malah jadi tidak tenang ..."
"Enggak, Ellea nggak salah! Yang salah itu suamimu yang keras kepala ini!" potong Mahira cepat dengan nada tinggi, matanya melotot tajam ke arah putra tunggalnya.
"Lho, kok jadi salahin Al semuanya sih, Bun?" protes Albiru tidak terima, merasa posisinya benar-benar disudutkan tanpa ada ruang untuk membela diri.
"Lah iya, emang semua salah Kakak! Coba aja dari awal Kakak nerima pernikahan ini dengan ikhlas. Tinggal akur, terus kalian bikin keponakan buat Alisa, apa susahnya sih?" celetuk Alisa dengan wajah tanpa dosa, melontarkan kalimat polos yang seketika membuat ruangan yang tegang mendadak membeku.
"ALISA!!" teriak Rendra, Mahira, dan Albiru serempak, membuat gadis remaja itu langsung menciut di tempat duduknya.
"Iya, iya, Alisa diam," gumamnya sambil menutup mulut rapat-rapat menggunakan kedua telapak tangan, merasa salah bicara di waktu yang tidak tepat.
Rendra mengusap keningnya yang mendadak pusing akibat tingkah laku anak-anaknya. Suasana hening sejenak, hanya menyisakan detak jam dinding yang terasa kian memburu. Setelah meredam kekesalannya, sang kepala keluarga menatap tajam putra tunggalnya.
"Sekarang, apa maumu, Albiru?" tanya Rendra dingin, menuntut kepastian dari mulut pria muda yang setahun lalu telah resmi memikul tanggung jawab sebagai seorang suami.
Albiru menegakkan tubuhnya, berusaha mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang ia miliki. Pandangannya sejenak menoleh ke arah Ellea. Di saat yang bersamaan, Ellea juga mendongak. Untuk beberapa detik, sepasang netra abu-abu jernih milik Ellea bertemu langsung dengan tatapan mata elang Albiru yang tajam namun tersirat kebingungan. Ada badai emosi yang tak tersampaikan di antara sepasang remaja yang terikat pernikahan rahasia itu.
Ellea memejamkan matanya rapat-rapat di balik sekat cadar hitamnya. Di dalam kesunyian jiwanya yang paling dalam, ia kembali meratap dan berdoa kepada Sang Pemilik Hati.
"Ya Allah, jika memang takdir jodohku dengan Kak Al hanya sampai di sini, ikhlaskan hatiku. Dan izinkan aku melupakan semua rasa sakit ini ..."
Albiru membuang muka, tak sanggup berlama-lama menatap mata yang memancarkan luka sedalam itu. Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya melontarkan keputusan yang sudah ia pikirkan sejak di kamar tadi.
"Al ... Al akan tinggal di apartemen Paman Sam untuk sementara waktu, Pah. Al butuh waktu sendiri."
Mendengar keputusan itu, Ellea menoleh cepat dengan dada yang kian sesak. Pria di depannya ini benar-benar egois. Alih-alih menyelesaikan masalah atau menghadapi kenyataan, Albiru justru memilih melarikan diri dari rumah dan membiarkan orang tuanya kecewa demi egonya sendiri.
"Biar Ellea saja yang pergi, Kak Al tetap di sini. Rumah ini milik keluarga Kakak," ujar Ellea dengan suara yang bergetar hebat sebelum akhirnya bangkit berdiri. Tanpa menunggu persetujuan siapa pun, ia setengah berlari menuju kamar di lantai dua untuk menyembunyikan tangisnya yang kembali pecah.
"Astaghfirullah, Albiru!" pekik Mahira, menatap punggung menantunya yang menghilang di balik kelokan tangga dengan hati yang mencelos.
"Lho, kok Al lagi yang disalahin? Al nggak ada usir Ellea ya, Bun!" jelas Albiru frustrasi, mengacak rambutnya dengan kasar karena merasa serba salah.
"Kamu memang benar-benar susah diatur, Albiru. Bunda heran sama jalan pikiran kamu. Benar-benar keras kepala!" tukas Mahira dingin. Tatapan matanya memancarkan kekecewaan yang teramat mendalam sebelum akhirnya ia bergegas bangkit untuk menyusul menantunya ke lantai atas.
Albiru sempat memanggil ibunya, namun sosok Mahira sudah telanjur melangkah pergi tanpa berniat menoleh sedikit pun.
Kini, di ruang tengah yang luas itu, hanya tersisa Rendra dan Albiru, sementara Alisa sudah menyelinap pergi entah ke mana karena takut terkena imbas amarah sang ayah. Rendra memperbaiki posisi duduknya, menatap putra tunggalnya dengan tatapan yang sulit diartikan perpaduan antara ketegasan seorang ayah dan kekecewaan seorang pria dewasa.
"Al, bisa papa bicara sebagai sesama laki-laki?" tanya Rendra, suaranya terdengar begitu berat dan tenang, namun justru ketenangan itulah yang paling menakutkan bagi Albiru.
Albiru yang sudah berada di puncak batas kesabarannya akhirnya meledak. Emosi yang ia pendam selama satu tahun ini meluap begitu saja tanpa bisa ia bendung lagi.
"Apalagi, Pah? Papa mau marahin Al, atau mau usir Al seperti yang Papa lakukan kalau Al bikin masalah di sekolah? Silakan, Pah!" seru Albiru frustrasi, berdiri dari duduknya dengan napas yang memburu pendek-pendek.
"Al capek, Pah, dengan pernikahan ini! Satu tahun Al hidup dalam bayang-bayang pernikahan rahasia yang bahkan Al nggak pernah minta! Al cuma pengen punya pilihan sendiri, pengen kayak anak-anak lain di sekolah yang bebas menentukan siapa yang mereka suka tanpa harus dibebani status sebagai suami dari wanita yang nggak Al kenal sebelumnya!"
Rendra tidak beranjak dari tempat duduknya. Ia tidak memaki, tidak memukul, tidak pula membentak putranya yang sedang berapi-api itu. Pria paruh baya itu justru menghela napas panjang, menatap Albiru dengan sorot mata yang teduh namun sarat akan pengalaman hidup.
"Papa tidak akan memukulmu, Al. Karena memukul tidak akan membuat otakmu yang bebal itu paham apa arti sebuah tanggung jawab," tutur Rendra pelan, membuat Albiru tertegun di tempatnya berdiri. "Kamu bilang kamu ingin punya pilihan sendiri? Lalu, apakah setahun ini kamu pernah benar-benar mencoba membuka hatimu untuk mengenal Ellea? Atau kamu hanya sibuk memelihara gengsimu karena dia seorang gadis yang berpenampilan tertutup?"
Albiru bungkam, lidahnya mendadak kelu mendengar pertanyaan rentetan dari ayahnya.
"Laki-laki yang hebat bukan dia yang bebas memilih siapa saja wanita yang ia mau untuk bersenang-senang, Al," lanjut Rendra, berdiri lalu menepuk bahu kokoh Albiru dengan pelan. "Tapi laki-laki yang sejati adalah dia yang mampu menjaga dan menghormati wanita yang sudah diserahkan oleh keluarganya di bawah kalimat ijab kabul. Pikirkan itu baik-baik sebelum egomu benar-benar menghancurkan masa depanmu sendiri."
Setelah mengatakan itu, Rendra pergi meninggalkan Albiru yang duduk termenung.
“Astaghfirullah, kenapa semua jadi seperti ini? Kenapa juga mulut dan hatiku ini tak sejalan,” gumam Albiru lirih.
*
Malam kian larut, namun keheningan di kediaman Samudra terasa begitu mencekam. Albiru mengurung diri di dalam kamarnya terduduk di tepi ranjang dengan pikiran yang berkecamuk hebat. Kata-kata ayahnya terus berputar di kepala, bersahut-sahutan dengan bayangan Ellea yang menangis tersedu-sedu sambil memunguti pakaian yang berserakan di lantai tadi sore.
Rasa sesak yang asing itu kembali menghantam ulu hatinya, membuat Albiru frustrasi. Ia bangkit dari kasur, melangkah perlahan menuju pintu kamar dan membukanya sedikit. Keadaan koridor lantai dua sudah sangat sepi dan remang-remang.
Langkah kaki Albiru bergerak tanpa suara, menuntunnya berhenti tepat di depan pintu kamar tamu yang berada di ujung lorong, kamar tempat Ellea mengungsi malam ini.
Saat ia mendekatkan telinganya ke daun pintu, sayup-sayup suara lantunan ayat suci Al-Qur'an yang dibacakan dengan begitu tartil dan merdu mengalun dari dalam ruangan. Suara Ellea terdengar begitu bergetar, sarat akan kesedihan yang mendalam di setiap hela napasnya.
Mendengar lantunan suci itu, ada sesuatu yang retak di dalam dada Albiru. Gengsi yang selama satu tahun ini ia agungkan setinggi langit mendadak terasa begitu hambar dan tak berwujud. Untuk pertama kalinya dalam hidup, seorang Albiru merasakan ketakutan yang nyata, ketakutan bahwa ia mungkin telah benar-benar kehilangan hak atas hati suci seorang Ellea, wanita yang selama ini ia sia-siakan.
“Apa aku harus mencoba membuka diri untuk Ellea? Tapi, gimana kalau tetap tidak bisa?”