NovelToon NovelToon
Cinta Beda Umur Juga Asik

Cinta Beda Umur Juga Asik

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ananda Anggit

Arabella yang di paksa bertunangan dengan anak sahabat ayahnya. saat dia tau bahwa yang jadi tunangan nya adalah orang yang dia sukai, maka Bela dengan senang hati menerima nya.


Arga seorang CEO muda yang mempunyai kekasih matre harus rela bertunangan dengan Arabella.

apakah kisah mereka bakal berjalan dengan mulus atau kandas di tengah jalan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 26.

Di sebuah rumah besar dengan pagar tinggi tidak jauh dari situ, Sela berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya yang luas dan penuh perabotan mewah. Wajahnya merah padam menahan amarah yang belum sepenuhnya mereda sejak melihat pemandangan di kafe tadi. Di atas meja belajarnya, tumpukan uang yang didapatnya dari ayah siang tadi sudah terselip rapi di dalam dompet, tapi itu sama sekali tidak mampu menenangkan hatinya.

"Kenapa sih semuanya harus dia?!" teriak Sela frustasi, lalu menendang kursi di dekatnya hingga jatuh berguling ke lantai. "Cantik biasa aja, pakaiannya juga murahan, rumahnya jauh dari mewah. Tapi kenapa Bastian ngeliatin dia? Kenapa Pak Arga perhatian banget sama dia? Bahkan Galang, si anak populer itu, rela bawain dia makanan banyak banget hari ini. Apa sih yang dia punya yang nggak aku punya?!"

Di benaknya, kebencian terhadap Bela semakin membesar, tumbuh menjadi obsesi yang mengerikan. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa ada orang yang bisa hidup tenang dan dicintai, sementara dirinya yang memiliki segalanya - harta, jabatan ayah, rupa yang dikagumi banyak orang- selalu merasa kurang dan tersisih. Tiba-tiba matanya berbinar saat sebuah ide jahat melintas di kepalanya. Ia ingat betul perkataan papihnya tadi di kafe. Kalau emang ada hubungan terlarang, Papih bakal tendang dia keluar.

Sela segera duduk di depan meja riasnya, mengambil ponsel canggihnya, dan mulai menekan-nekan layar dengan cepat. Ia membuka grup obrolan sekolah yang berisi ratusan murid, serta beberapa grup kecil berisi teman-teman dekatnya yang selalu mendukung segala kemauannya. Ia juga teringat ada beberapa murid kelas 12 yang memang sering mengawasi gerak-gerik warga sekolah, mencari-cari kesalahan orang lain untuk dijadikan bahan gunjingan.

"Hai guys, ada yang tau nggak sih, Bela sama Pak Arga itu sebenernya ada hubungan apa sih? Kok kayaknya deket banget ya akhir-akhir ini? Tadi aja gue lihat mereka makan bareng berduaan di luar sekolah, pulang bareng lagi. Ngeri banget sih kalau beneran ada apa-apa, kan itu guru sendiri," ketik Sela di salah satu grup kecil dengan nada pura-pura penasaran namun menyindir.

Tak butuh waktu lama, pesan itu langsung memicu berbagai balasan. Ada yang kaget, ada yang menebak-nebak, ada yang langsung ikut menjelekkan, dan ada juga yang bersikap curiga namun tetap memancing informasi lebih lanjut. Sela tersenyum puas membaca setiap balasan yang masuk. Ia tahu betul selera teman-temannya; gosip, apalagi yang berbau skandal guru dan murid, adalah makanan paling lezat yang bisa menyebar api ke mana-mana.

"Kata temen gue sih udah lama loh, cuma diem-dieman aja. Gue juga pernah liat dengan mata kepala gue sendiri..di UKS mereka berduaan, penjaga UKS juga ngga ada. Padahal kan jelas banget salahnya," balas salah satu teman Sela, memperparah situasi.

Sela menutup ponselnya dengan senyum kemenangan. Ia tidak perlu bekerja keras sendiri. Cukup sedikit menabur benih kebencian dan isu, maka orang-orang di sekitarnya akan menjadi alat untuk menghancurkan Bela. Apalagi dengan posisi papihnya sebagai kepala sekolah, ia yakin isu ini akan cepat sampai ke telinga Pak Samsul dan akan ditindaklanjuti dengan serius.

sementara itu di sebrang sana ada seseorang yang memang termasuk anggota di grub itu, ia terus menyimak gosip yang masih panas. tangannya mencengkram kuat HP , nafasnya naik turun. ngga pakai lama dia menghubungi seseorang.

" ternyata ada tikus lain yang mau mengganggu Bela."

" siapa?" suara berat dan tegas.

Lula menyeringai. " anak kesayangan kepala sekolah."

Lula mematikan sambungan teleponnya dengan raut wajah yang berubah drastis. Dari yang semula santai, kini mata gadis itu menatap tajam ke layar ponselnya, seolah bisa menembus jarak dan melihat wajah Sela yang sedang tertawa puas di rumah mewahnya. Ia sudah curiga sejak lama. Sikap Sela yang selalu sinis, tatapan iri yang tak pernah bisa disembunyikan, semuanya kini terhubung menjadi satu gambaran jelas.

"Dasar anak manja nggak tahu diri," geram Lula pelan, jari-jarinya yang lentik mengetik cepat di layar ponselnya, beralih dari grup tempat gosip itu beredar ke ruang obrolan pribadinya dengan Galang. Ia tidak akan membiarkan sahabatnya menjadi korban fitnah kotor hanya karena seseorang tidak bisa menerima kenyataan bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa dibeli atau dimiliki sendirian.

Tak lama kemudian, panggilan masuk kembali ke ponsel Lula. Kali ini nama 'Galang' yang tertera di layar. Lula segera mengangkatnya, menempelkan alat komunikasi itu ke telinga.

"Gimana, Lu? lu serius soal itu?" suara Galang terdengar tenang, namun ada nada tegas yang terselip di sana, menunjukkan bahwa ia pun mulai kehilangan kesabarannya. Ia memang populer, dikenal santai dan suka bercanda, tapi ketika menyangkut orang-orang yang ia sayangi, Galang adalah pelindung paling tangguh yang pernah ada.

"Serius banget, Lang. Lihat aja grup gosip, udah ricuh semua gara-gara ulah putri kecil kepala sekolah itu. Dia nyebar isu kalau Bela sama Pak Arga ada hubungan nggak wajar, ditambah dia rekayasa cerita kayak mereka beneran berbuat dosa. Dasar licik! Dia pikir dia siapa berani main kotor sama Bela?" Lula menumpahkan kekesalannya tanpa sisa. Di ujung telepon sana, Galang terdengar hening sejenak, menyimak setiap kata dengan saksama.

"Oke, gue udah paham situasinya. Sela mau main api ya? Oke, kita temenin. Tapi ingat Lu, jangan sampe Bela tau dulu. Dia terlalu lembut buat ngadepin hal sejahat ini, nanti dia malah sakit hati kalau tau ada orang yang sebenci itu sama dia. Biar gue yang atur strategi, lo kumpulin semua bukti pesan dan tangkapan layar yang ada. Kita simpan baik-baik, biar pas waktunya tiba, kita bales serangan itu dua kali lipat lebih sakit," ucap Galang dengan nada dingin yang jarang Lula dengar.

Hati Lula sedikit lebih tenang mendengar itu. Ia tahu Galang punya banyak koneksi, bukan hanya di kalangan murid, tapi juga staf sekolah dan warga sekitar. Sela mungkin merasa hebat karena punya ayah kepala sekolah, tapi ia lupa bahwa Galang dan Bela juga bukan orang sembarangan yang bisa diinjak-injak begitu saja.

"Terus Pak Arga gimana? Kita kasih tau nggak?" tanya Lula ragu.

Galang menghela napas panjang. "Gue bakal kabarin dia lewat Bastian. Pak Arga orang pinter, dia pasti udah ngerasa ada yang aneh. Biar dia siap mental, soalnya gue yakin banget Sela sama bapaknya nggak bakal berhenti cuma sampe nyebar gosip. Mereka pasti punya rencana lebih besar buat ngejatuhin mereka berdua."

Benar dugaan Galang. Di rumah besarnya, Sela baru saja menutup ponselnya dengan senyum mengembang. Ia berjalan menuju jendela kamarnya yang besar, memandang keluar dengan rasa puas yang luar biasa. Ia membayangkan besok pagi suasana sekolah akan berubah total. Bela akan jadi bahan pembicaraan semua orang, ditunjuk-nunjuk, dikucilkan, bahkan dicemooh. Pak Arga pun akan kena imbasnya, mungkin dicopot dari jabatannya atau dipindahkan ke sekolah lain. Dan saat itu terjadi, tidak akan ada lagi yang menghalanginya. Bastian pasti akan melihatnya kembali, menganggapnya satu-satunya gadis baik yang ada di sekolah itu.

"Nikmati hari-hari terakhirmu ya, Bela. Besok, dunia lo bakal runtuh," bisik Sela penuh kemenangan.

Namun, ia tidak sadar bahwa di tempat lain, pasukan pertahanan sudah bergerak. Galang segera menghubungi bastian melalui pesan singkat, memberinya peringatan halus namun jelas. Ada angin ribut mau datang. Hati-hati gerak-gerik, ada yang mau menjebak. sampaikan ke pak Arga.

Membaca pesan itu di layar ponselnya, Bastian tergopoh gopoh menghampiri Arga yang sedang di kamarnya. Arga yang sedang bersantai di kamar langsung duduk tegak. Ia tidak kaget, justru merasa firasat buruknya terbukti benar. Ia sudah menduga pertemuan tak terduga di kafe tadi bukanlah kebetulan semata. Tangan Arga mengepal erat. Ia tidak akan membiarkan siapa pun, meski itu anak kepala sekolah sekalipun, menghancurkan nama baiknya dan lebih penting lagi, menyakiti Bela.

Malam itu menjadi malam yang panjang bagi banyak orang. Di satu sisi, ada kejahatan yang bersiap menyerang dengan senjata fitnah. Di sisi lain, persahabatan dan cinta sedang bersatu padu membangun pertahanan sekuat batu karang. Besok pagi, saat gerbang sekolah terbuka, pertempuran sesungguhnya akan dimulai. Dan Bela, gadis polos yang tak tahu apa-apa itu, akan berada tepat di tengah pusaran badai yang dahsyat ini.

1
Rafi Hafizh
👍
Ananda Anggit
😍💪💪
Rafi Hafizh
semangat author👍
Rafi Hafizh
semangat author.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!