Erina Hutomo, single mom yang harus berjuang sendiri mengatasi kekacauan hidup--anak sulung yang beranjak remaja dan banyak ulah, anak bungsu yang autis, tetangga yang selalu nyinyir karena dia janda--hingga tumpukan pekerjaan yang terus menghantuinya di kantor.
Sampai suatu ketika, petir terbesar menyambarnya--Erina divonis mengidap kanker otak, dan usianya tak akan lama.
Di tengah badai, Erina tak sempat menangis. Garis akhir itu seperti bom waktu. Dan ia memilih mati-matian mempersiapkan segalanya, terutama untuk buah hati yang paling dicintainya. Ia hanya ingin anak-anaknya hidup layak dan bahagia--bahkan setelah ia tak ada lagi di dunia.
Termasuk, memberi mereka sosok ayah yang bisa menjaga dan menyayangi mereka seperti darah daging sendiri, sampai akhir.
Berhasilkah Erina menuntaskan misi dan harapan terakhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. MALAM DUDA KESEPIAN
Lewat tengah malam, kedua mata Alvin masih belum terpejam. Ia sempat mondar-mandir gelisah dalam kamarnya yang sangat luas dan berperabot mewah selama satu jam terakhir-- alih-alih rebahan meski sudah mengenakan kimono tidur sutra mahal berwarna hitam dan berbordir benang emas asli.
Begitu mendengar ponselnya berbunyi, ia dengan cepat mengangkatnya, dan seketika raut wajahnya berubah lega.
"Jadi, dia sudah sadar...?"
Alvin tersenyum--bahkan tertawa kecil.
"Begitu, ya..."
Ia pun mengangguk beberapa kali. Sorot matanya serta merta melembut.
"Syukurlah... aku senang operasinya berhasil dan dia baik-baik saja. Terima kasih banyak sudah mengabariku. Tetap pantau ketat perkembangannya ya... terus beritahu aku update selanjutnya. Trims."
Alvin menutup telepon itu dan menghembuskan napas panjang, dadanya terasa jauh lebih ringan.
Syukurlah kamu baik-baik saja, Erina...
Ia bersandar sejenak di pintu geser kaca lebar sisi timur kamar, yang tersambung ke balkon, dan menatap pemandangan kebun hijau luas berhiaskan lampu-lampu cantik keperakan dan danau buatan di belakang mansion.
Malam itu, langit tak dihiasi bintang dan digulung mendung. Hujan perlahan turun.
Seiring menatap rintik bening membasuh udara dan pekarangan yang kian hening, perasaan lega yang semula memenuhi hati Alvin, perlahan surut dan berganti sepi dan sendu--rasa yang sudah lama merajam sanubari, dan barangkali tak akan pernah terobati.
Kesepian seakan adalah kawan abadi Alvin sejak kecil. Kedua orangtuanya yang adalah raja dan ratu dunia bisnis terlalu sibuk untuk mengisi hatinya karena lebih memilih membesarkan kekayaan keluarga--dengan alasan untuk kebahagiaan dan masa depannya juga.
Karena tak mendapat perhatian yang cukup dari ayah dan ibunya, Alvin kecil sering berulah dan bahkan berbuat onar--dengan harapan, kedua orangtuanya akan lebih memperhatikannya. Meski yang terjadi, ia jadi lebih sering dimarahi dan dihukum--tetapi Alvin tak pernah jera. Ia malah menganggap, hukuman itulah momen di mana orangtuanya benar-benar ada untuknya, sehingga ia makin gemar berbuat nakal.
Dan suatu hari ia kena batunya sendiri--saat ia melarikan diri kesekian kalinya dari para penjaga mansion dan pengasuhnya, ia malah tersesat di jalanan dan tak bisa menemukan jalan pulang, bahkan hampir diculik beberapa preman mabuk yang ingin menjualnya dan organ tubuhnya.
Beruntung, ia ditemukan dan diselamatkan supir angkot bernama Dasim Sakti. Dasim membawa Alvin ke kantor polisi, dan ia pun bisa kembali pulang ke keluarganya dengan selamat.
Karena peristiwa itu, sebagai ucapan terima kasih, ayah Alvin mempekerjakan Dasim sebagai supir pribadi yang mengantar jemput dan menjaga Alvin.
Dasim pun menjadi sangat dekat dengan Alvin dan keluarga Hermawan. Setelah Alvin beranjak dewasa, Dasim tak lagi menjadi supir pribadinya, dan hubungan mereka berubah menjadi rekan bisnis.
Dasim mendirikan perusahaan kecil distributor suku cadang motor dengan bonus yang dikumpulkannya selama bekerja untuk keluarga Hermawan, juga sedikit tambahan modal dan ilmu bisnis dari ayah Alvin. Bertahun kemudian, ketika Dasim jatuh sakit dan bisnisnya terancam bangkrut, Alvin pun memutuskan turun tangan untuk membantunya--sebagai balas budi atas kebaikan dan pengabdian Dasim padanya dan keluarganya sejak ia kecil.
Dari misi balas budi itulah, ia tak terduga bertemu wanita yang kini sangat menggetarkan hatinya--Erina Hutomo.
Ketika pertama melihat Erina, Alvin memang terpikat pada kecantikannya yang memancar alami meski tanpa riasan. Wajah tirus dengan kulit bening dan pipi yang mudah memerah, mata lebar dan indah, bibir yang sangat sensual sewarna mawar merekah.
Tetapi yang membuatnya makin terpesona justru ketika Erina dengan berani menantang dan memarahi semua orang yang ingin menjatuhkan putranya. Ia bisa melihat dan merasakan kekuatan seorang ibu yang sangat mencintai anaknya, rela melakukan apa saja dan pasang badan demi melindungi buah hatinya--meski ternyata tubuhnya sendiri merapuh akibat digerogoti penyakit mematikan.
Semakin Alvin dekat dan mengenal berbagai sisi Erina--keabsurdan dan kekonyolannya, keras kepala yang tidak pada tempatnya, kegigihannya, pengorbanannya, termasuk sisi lembut dan rapuh yang coba disembunyikannya dari dunia... semakin Erina terlihat begitu istimewa di mata dan hatinya.
Apalagi Erina tak pernah berusaha mendekatinya hanya karena ia sangat tampan atau kaya raya--bahkan Erina sempat terkesan ingin berjarak darinya. Sangat berbeda dari banyaknya perempuan yang ada di luar sana, yang pernah dekat dan menjalin hubungan istimewa dengannya--termasuk mendiang istrinya sendiri.
Alvin pun merasa ada yang berubah dari dalam dirinya sejak mengenal Erina. Ini pertama kalinya ia tak mencoba mengesankan seorang perempuan dengan pesona dan uang yang dimilikinya. Ia justru lebih terpanggil untuk menolong dan melindungi--sampai rela menggelontorkan dana ratusan juta rupiah untuk menyembuhkan penyakit Erina, bukan demi membeli tas Hèrmes atau berlian langka seperti yang pernah dilakukannya untuk menaklukkan hati seorang wanita.
Dan setelah semua itu, alih-alih jalan cintanya terbangun mulus seperti jalan tol Jakarta-Cikampek, ia malah harus dihadapkan kenyataan pahit--ada tembok yang telanjur berdiri lebih kokoh dan tinggi dari Great Wall di China, membuatnya mustahil bisa bersanding dengan Erina.
Sekalipun ia membangun rumah sakit khusus untuk menjamin kesembuhan Erina hingga berumur seratus tahun, atau membeli perusahaan LVMH (Moët Hennessy Louis Vuitton) sekalian supaya bisa memberi Erina koleksi tak terbatas dari tas-tas termahal di dunia... semua itu tak akan bisa melembutkan hati batu anak kandung Erina, Saga, yang sampai mati tak sudi punya ayah tiri.
Belum lagi tentangan dari keluarganya sendiri--terutama Kanjeng Ibunda Ratu Titisan Dewi Durga alias Andini Hermawan yang tak mau ada sosok baru, apalagi tak sederajat, bersanding di sisi Alvin hingga menciptakan tragedi lain, seperti yang sudah-sudah.
Untuk pertama kalinya, segala yang dimiliki Alvin tak ada gunanya.
Cintanya patah sebelum merekah indah.
Hatinya akan terus sepi--barangkali sampai ajal menjemputnya nanti.
Alvin kembali membuang napas panjang, tatapannya menerawang bayangan wajahnya sendiri yang terpantul samar di pintu kaca, yang meski terlihat letih dan hampa, tetapi sesuatu juga memancar kuat dari kedalaman netra cokelatnya yang indah.
Tekad untuk terus mengasihi dan melindungi satu-satunya yang telanjur bertahta di hati. Meski harus dari jauh. Meski tak akan pernah bisa kembali dekat, apalagi merengkuh...
Asal kamu hidup, sehat, aman, bahagia... aku pun bahagia, Erina...
Alvin menggeleng dan hampir tertawa akibat suara hatinya sendiri. Terdengar konyol dan picisan, tetapi itulah kejujurannya. Perubahan terbesar dalam hidupnya--yang meski tak memenuhi harapan, tetapi entah bagaimana, membuatnya merasa lebih utuh dan bermakna sebagai manusia.
Hujan semakin deras. Alvin meregangkan tubuhnya sejenak dan beringsut menuju tempat tidurnya yang besar dan nyaman. Mimpinya barangkali akan indah malam ini... syukur-syukur jika ia bisa memimpikan sosok yang paling dicintainya kini.
Kali ini, harapan kecilnya terkabul.
Alvin tak sadar sama sekali itu adalah mimpi--sebab terkesan begitu nyata dan membahagiakan. Ia bersanding dengan Erina di pelaminan. Keduanya berdansa di pesta pernikahan yang megah dan meriah. Semua orang tersenyum dan merayakan--bahkan Saga dan Nala dengan hangat dan ceria memanggilnya "Papa."
Kebahagiaannya kian memuncak saat ia dan Erina memasuki kamar pengantin.
"Al..."
Erina duduk di tepi tempat tidur berhiaskan kelopak mawar segar, pipinya yang merona semakin mempertegas kecantikannya, dan membangkitkan gairah Alvin yang sudah lama terpendam seperti harta karun terlupakan.
"Rin...," Alvin tersenyum dan mendekat.
Tubuh Erina terasa lembut dan hangat.
DUN DUN DUN DUN DADUN DUN DADUN... TET TET TET TET TEREREEEETTT. 🎶
"Imperial March"--musik tema Darth Vader di film Star Wars: The Imperial Strikes Back, yang sesuai judulnya seperti genderang dan terompet pengiring pasukan mau berangkat perang dan menjadi dering ponsel Alvin, berbunyi nyaring dan mengejutkan, hampir terasa seperti ledakan di telinga Alvin.
Alvin seketika terjaga--pusing dan tak nyaman. Tubuhnya kaku seakan tidur di atas batu bukannya kasur seempuk bulu--tegang juga, terutama di bagian yang "itu" karena otaknya sempat pelesiran dalam mimpi bernuansa tabu.
"Shiiit!" umpat Alvin, mengutuki momen yang terasa menyakitkan baginya kini.
"Apaan telepon jam segini?! Kalau sampai ini bukan hal darurat, kamu saya pecat!" bentak Alvin saat mengangkat telepon dari asisten pribadinya.
Beberapa detik kemudian, ekspresi Alvin berubah. Semakin tegang dan pucat, meski dengan alasan berbeda.
"Aku... dilaporkan ke polisi?!"
***