NovelToon NovelToon
The Employer

The Employer

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Misteri / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: zanizen_

Bagi Laily, mendapatkan pekerjaan sebagai pelayan di rumah mewah keluarga Arshawirya adalah sebuah keberuntungan—kesempatan kedua untuk mengubur masa lalu kriminalnya.

Jeffran Arshawirya adalah suami sempurna yang tampan dan penuh perhatian, sementara istrinya, Selina, tampak seperti wanita kaya yang tidak stabil dan gemar menyiksanya dengan aturan tak masuk akal.

Namun, di balik kemegahan rumah serbaputih itu, tersimpan gema masa lalu yang mengerikan. Sebuah rumor berbisik bahwa Selina pernah mencoba membunuh putrinya sendiri di bak mandi. Ketika batas profesional antara Laily dan Jeffran mulai mengabur dalam satu malam yang terlarang, Laily menyadari satu hal: di rumah ini, tidak ada yang benar-benar jujur.

Apakah Selina memang seorang psikopat yang berbahaya, ataukah ada skenario yang jauh lebih gelap yang sedang mengintai nyawa Laily? Ingat, di rumah ini, salah memilih langkah bisa berarti kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanizen_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter satu

"Ceritakan tentang dirimu, Laily."

Selina Arshawirya mencondongkan tubuhnya ke depan di atas sofa kulitnya yang berwarna karamel, kakinya menyilang hingga memperlihatkan sedikit lututnya yang mengintip dari balik rok putih sutranya. Aku tidak terlalu mengerti tentang merek pakaian, tetapi sangat jelas bahwa semua yang dikenakan Selina Arshawirya berasal dari brand ternama. Blus hijau pastelnya membuatku sangat ingin mengulurkan tangan untuk merasakan bahannya, meskipun tindakan seperti itu berarti aku sama sekali tidak akan punya kesempatan untuk diterima bekerja sebagai pelayan dirumahnya.

Lagipula, jujur saja, aku memang tidak punya kesempatan untuk diterima bekerja di sini.

"Begini Nyonya..." 

Aku memulai, memilih kata-kataku dengan hati-hati. Bahkan setelah semua penolakan yang kualami, aku tetap mencoba.

"Saya besar di Bali. Saya punya banyak pengalaman melakukan pekerjaan rumah tangga untuk orang-orang, seperti yang bisa Anda lihat di resume saya." 

Resume-ku yang sudah direkayasa dengan sangat hati-hati. 

"Dan saya menyukai anak-anak. Dan juga..." Aku melirik ke sekeliling ruangan, mencari mainan kunyah anjing dan kotak pasir kucing. "...saya juga menyukai hewan peliharaan?"

Iklan lowongan kerja asisten rumah tangga di internet itu tidak menyebutkan soal hewan peliharaan. Tetapi lebih baik cari aman, barang kali dirumah ini juga memelihara hewan.

Siapa yang tidak menghargai seorang pencinta hewan?

"Bali!" Nyonya Arshawirya berseri-seri menatapku. "Aku juga lahir di Bali. Astaga, Kita masih bertetangga!"

"Benar sekali, Nyonya." Aku membenarkan, meskipun tidak ada kebenaran dari pernyataan itu.

Ada banyak kawasan elite di Bali yang mengharuskan siapapun merogoh kocek sangat dalam demi sebuah rumah kecil. Bukan di tempat elit seperti itu aku dibesarkan. 

Selina Arshawirya dan aku, tidak mungkin berlatar sama, tetapi jika dia ingin percaya bahwa kami seperti bertetangga, maka dengan senang hati, aku akan mengikuti pemikirannya.

Nyonya Arshawirya menyelipkan seuntai rambut coklat terangnya yang berkilau ke belakang telinga. Rambutnya bermodel bob modis sebahu yang menyamarkan dagu berlipatnya. Usianya mungkin sekitar akhir tiga puluhan, dan dengan gaya rambut serta pakaian yang berbeda, dia pasti akan terlihat sangat biasa saja. Namun, dia menggunakan kekayaannya yang melimpah untuk memaksimalkan apa yang dimilikinya. Aku tidak bisa bilang kalau aku tidak menghormati usaha penampilannya itu.

Aku terlihat sangat jauh berbeda dalam hal penampilan. Usiaku mungkin sepuluh tahun lebih muda dari wanita yang duduk di hadapanku ini, tetapi aku tidak ingin dia merasa tersaingi sama sekali olehku. Jadi, untuk wawancara ini, aku memilih rok wol panjang dan tebal yang kubeli di toko loak serta blus putih dengan lengan mengembang. Rambut coklat kusamku dicepol kencang di belakang kepala. Aku bahkan membeli sepasang kacamata bermotif polkadot yang kebesaran dan sebenarnya tidak kubutuhkan, yang kini bertengger di hidungku. Aku terlihat profesional dan sama sekali tidak menarik.

"Jadi, pekerjaannya." Katanya. 

"Sebagian besar adalah membersihkan rumah dan sedikit memasak jika kau bersedia. Apakah kau pandai memasak, Laily?"

"Ya, saya cukup pandai, Nyonya." Keahlianku di dapur adalah satu-satunya hal di resume-ku yang bukan kebohongan. 

"Saya seorang juru masak yang sangat handal."

Mata coklatnya berbinar. "Bagus sekali! Sejujurnya, kami hampir tidak pernah menyantap makanan rumahan yang lezat."

Dia terkekeh. "Siapa yang punya waktu untuk memasak?"

Aku menahan diri untuk tidak memberikan tanggapan yang menghakimi. Selina Arshawirya tidak bekerja, dia hanya punya satu anak yang bersekolah sepanjang hari, dan dia menyewa seseorang untuk melakukan semua pekerjaan bersih-bersih untuknya. Aku bahkan melihat seorang pria di halaman depannya yang luas sedang merapikan tanaman. 

Bagaimana mungkin dia tidak punya waktu untuk memasak makanan bagi keluarga kecilnya?

Aku tidak bermaksud untuk menghakimi kepribadiannya. Aku tidak tahu apa-apa tentang seperti apa hidupnya. Hanya karena dia kaya, bukan berarti dia manja.

Tetapi jika aku harus bertaruh sembilan belas juta untuk salah satunya, aku akan bertaruh bahwa Selina Arshawirya adalah orang yang sangat manja dan suka foya-foya.

"Dan kami juga akan membutuhkan bantuan sesekali untuk menjaga Seina." Kata Nyonya Arshawirya. 

"Mungkin mengantarnya ke les sore atau bermain bersama teman-temannya. Kau punya mobil, kan?"

Aku hampir tertawa mendengar pertanyaannya. Ya, aku punya mobil—hanya itu yang kupunya saat ini. Mobil Ayla-ku yang berusia sepuluh tahun sedang terparkir dan membuat pemandangan di depan rumahnya terlihat kumuh, dan di sanalah tempat tinggalku saat ini. Semua barang yang kumiliki ada di dalam bagasi mobil itu. Aku menghabiskan satu bulan terakhir dengan tidur di kursi belakang.

Setelah sebulan tinggal di dalam mobil, aku baru menyadari pentingnya hal-hal kecil dalam hidup. Kamar mandi. Wastafel. Bisa meluruskan kaki saat tidur. Aku paling merindukan hal yang terakhir itu.

"Ya, saya punya mobil." Aku mengonfirmasi.

"Bagus sekali!" Nyonya Arshawirya bertepuk tangan. 

"Aku akan menyediakan kursi khusus anak untuk Seina di mobilmu. Dia hanya butuh kursi pengaman tambahan. Berat dan tingginya belum cukup untuk berkendara tanpa itu. Kedokteran Pediatri sudah merekomendasikannya...."

Sementara Selina Arshawirya mengoceh panjang lebar tentang persyaratan tinggi dan berat badan yang tepat untuk kursi mobil anak, aku mengalihkan pandanganku ke sekeliling ruang tamu. Perabotan di sini semuanya sangat modern, dilengkapi dengan televisi layar datar terbesar yang pernah kulihat di internet, yang kuyakin beresolusi tinggi dan memiliki pelantang suara yang tertanam di setiap sudut ruangan untuk pengalaman mendengarkan yang optimal. 

Di sudut ruangan terdapat perapian yang tampaknya berfungsi, dengan bagian atasnya dipenuhi foto-foto keluarga Arshawirya dalam perjalanan mereka ke berbagai belahan dunia. Saat aku mendongak, langit-langit yang sangat tinggi itu bersinar di bawah cahaya lampu gantung kristal yang berkilauan.

"Bukankah begitu, Laily?" Nyonya Arshawirya berkata.

Aku tersentak kecil, mengerjapkan mata ke arahnya. Aku mencoba memutar kembali ingatanku dan mencari tahu apa yang baru saja dia tanyakan padaku.

Tetapi sialnya, aku tidak mendengar apa-apa dari pertanyaan itu.

"Ya?" Kataku ragu.

Apa pun yang kusetujui tadi tampaknya membuatnya sangat senang. "Aku senang sekali kau juga berpikir demikian."

"Tentu saja." Kataku lebih tegas kali ini.

Dia mengubah posisi silangan kakinya yang agak gempal. "Dan tentu saja...." Tambahnya.

"....ada masalah kompensasi untukmu. Kau sudah melihat penawaran di iklan saya, kan? Apakah itu bisa kau terima?"

Aku menelan ludah. Angka dalam iklan pekerjaan itu lebih dari sekadar bisa diterima.

Jika aku adalah karakter kartun, simbol uang—($👄$) ,pasti sudah muncul di kedua bola mataku saat membaca iklan tersebut. Namun, jumlah gaji itu hampir membuatku mengurungkan niat untuk melamar. Tidak ada orang yang menawarkan uang sebanyak itu, yang tinggal di rumah megah seperti ini, yang akan sudi mempertimbangkan untuk mempekerjakanku.

"Ya." Jawabku dengan suara agak tercekat. "Itu sudah sangat baik."

Dia mengangkat sebelah alisnya. "Dan kau tahu perkerjaan ini harus tinggal di dalam rumah, kan?"

Apakah dia sedang bertanya apakah aku keberatan meninggalkan kemewahan kursi belakang mobil Ayla-ku? 

"Benar. Saya tahu."

"Luar biasa!" Dia menarik ujung roknya dan bangkit berdiri. 

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita keliling rumah? Untuk melihat ruangan apa yang akan kau bersihkan?"

Aku ikut berdiri. Dengan sepatu hak tingginya, Nyonya Arshawirya hanya beberapa inci lebih tinggi dariku yang memakai sepatu datar, tetapi rasanya dia jauh lebih tinggi. 

"Baiklah Nyonya."

Dia membimbingku menyusuri rumah dengan detail yang sangat melelahkan, sampai-sampai aku khawatir aku salah membaca iklan dan mengira dia adalah seorang agen properti yang menganggapku siap membeli rumah ini.

Ini rumah yang indah. Jika aku punya uang empat atau lima miliar yang menganggur di saku, aku akan langsung membelinya tanpa menawar lagi. Selain lantai dasar yang berisi ruang tamu seluas lapangan basket dan dapur yang baru direnovasi, lantai dua rumah ini memiliki kamar tidur utama keluarga Arshawirya, kamar putri mereka Seina, ruang kerja Tuan Arshawirya, dan kamar tidur tamu yang terlihat seperti langsung dipindahkan dari hotel terbaik di Jakarta. 

Dia berhenti dengan dramatis di depan pintu berikutnya.

"Dan di sini adalah..." Dia membuka pintu lebar-lebar. "Bioskop rumah kami!"

Itu benar-benar bioskop sungguhan di dalam rumah mereka—selain televisi ukuran besar di lantai bawah. Ruangan ini memiliki beberapa baris kursi bioskop berundak, menghadap ke layar monitor yang membentang dari lantai hingga langit-langit. Bahkan ada mesin popcorn dan mesin eskrim di sudut ruangan.

Setelah beberapa saat, aku menyadari Nyonya Arshawirya sedang menatapku, menunggu tanggapan.

"Wahh!" Kataku dengan antusiasme yang kuharap terlihat meyakinkan.

"Bukankah ini menakjubkan?" Dia bergidik gembira.

"Dan kami punya koleksi film lengkap untuk dipilih. Tentu saja, kami juga punya semua saluran biasa serta layanan streaming."

"Tentu saja, Nyonya." Kataku.

Setelah meninggalkan ruangan itu, kami sampai di pintu terakhir di ujung lorong. Selina berhenti, tangannya tertahan di kenop pintu.

"Apakah ini akan menjadi kamar saya, Nyonya?" Tanyaku.

"Semacam itu..." Dia memutar kenop pintu, yang berderit keras. Aku menyadari bahwa kayu pintu ini jauh lebih tebal daripada pintu-pintu lainnya. Di balik pintu itu, terdapat tangga yang gelap. 

"Kamarmu ada di atas. Kami punya loteng yang sudah dialih fungsikan."

Tangga yang gelap dan sempit ini agak kurang menawan dibandingkan bagian rumah lainnya—dan apakah mereka akan jatuh miskin jika memasang satu bohlam lampu di sini?

Tapi tentu saja, aku hanyalah pekerja bayaran.

Aku tidak mengharapkannya menghabiskan uang sebanyak yang dia keluarkan untuk bioskop rumah demi kamarku.

Di puncak tangga terdapat sebuah lorong kecil yang sempit. Berbeda dengan lantai satu, langit-langit di sini sangat rendah. Aku sama sekali tidak tinggi, tetapi aku merasa seolah-olah harus membungkuk.

"Kau punya kamar mandi sendiri." Dia menatap ke arah pintu di sebelah kiri. 

"Dan ini adalah kamarmu, di sini."

Dia membuka pintu terakhir. Bagian dalamnya benar-benar gelap, sampai dia menarik seutas tali dan lampu ruangan pun menyala.

Kamarnya sangat kecil. Tidak ada kata lain untuk menggambarkannya. Bukan hanya itu, langit-langitnya miring mengikuti atap rumah. Bagian langit-langit yang paling rendah hanya setinggi pinggangku.

Alih-alih tempat tidur ukuran king-size yang besar seperti di kamar utama keluarga Arshawirya dengan lemari besar dan meja rias kayu jatinya, kamar ini hanya berisi sebuah ranjang lipat tunggal yang kecil, rak buku setengah tinggi, dan sebuah lemari laci kecil, diterangi oleh dua bohlam tanpa pelindung yang tergantung dari langit-langit.

Kamar ini sangat sederhana, tetapi tidak masalah bagiku. Jika kamar ini terlalu bagus, sudah pasti aku tidak akan punya peluang untuk mendapatkan pekerjaan ini. Kenyataan bahwa kamar ini agak menyedihkan berarti mungkin standarnya cukup rendah sehingga aku punya sedikit kesempatan yang sangat kecil.

Namun, ada hal lain tentang kamar ini. Sesuatu yang menggangguku.

"Maaf kamarnya kecil." Nyonya Arshawirya mengerucutkan bibirnya. 

"Tetapi kau akan mendapatkan banyak privasi di sini."

Aku berjalan mendekati satu-satunya jendela. Sama seperti kamarnya, ukuran kaca itu kecil. Nyaris tidak lebih besar dari telapak tanganku. Dan jendela itu menghadap ke halaman belakang. Ada seorang penata taman di bawah sana—pria yang sama, yang kulihat di halaman depan—sedang memangkas salah satu semak pagar dengan gunting rumput berukuran besar.

"Jadi bagaimana menurutmu, Laily? Apa kau menyukainya?"

Aku berbalik dari jendela untuk menatap wajah tersenyum Nyonya Arshawirya. Aku masih belum bisa memastikan apa yang menggangguku. Ada sesuatu tentang kamar ini yang membuat rasa cemas mulai terbentuk di lubuk hatiku.

Mungkin karena jendelanya.

Jendela itu menghadap ke bagian belakang rumah. Jika aku berada dalam kesulitan dan mencoba menarik perhatian seseorang, tidak akan ada yang bisa melihatku dari belakang sini. Aku bisa menjerit dan berteriak sepuasnya, dan tidak akan ada yang mendengar.

Tetapi, siapa yang bilang aku tidak suka kamar ini?

Aku sudah merasa sangat beruntung jika aku bisa tinggal di kamar ini. Dengan kamar mandi sendiri dan tempat tidur sungguhan di mana aku bisa meluruskan kakiku sepenuhnya. Ranjang lipat kecil itu terlihat sangat nyaman dibandingkan dengan mobilku, sampai-sampai aku ingin menangis.

"Ini sempurna sekali, Nyonya!" Kataku antusias.

Nyonya Arshawirya tampak sangat gembira mendengar jawabanku. Dia mengangguk dan membimbingku kembali menuruni tangga gelap ke lantai dua, dan ketika aku keluar dari tangga itu, aku mengembuskan napas yang tidak kusadari sempat kutahan. Ada sesuatu tentang kamar itu yang terasa sangat menakutkan, tetapi jika aku entah bagaimana berhasil mendapatkan pekerjaan ini, aku akan mengabaikan firasat horor itu.

Mudah saja.

Bahuku akhirnya rileks dan bibirku baru saja akan membentuk pertanyaan lain ketika aku mendengar sebuah suara dari belakang kami—

"Mommy?"

Aku tersentak dan berbalik untuk melihat seorang anak perempuan kecil berdiri di belakang kami di lorong. Anak itu memiliki mata coklat yang sama dengan Selina Arshawirya, hanya saja terlihat lebih terang dan mencolok, rambutnya sangat coklat hampir terlihat pirang. Anak itu mengenakan gaun putih yang sangat pucat dengan hiasan renda kream. Dan dia menatapku seolah-olah dia bisa melihat menembus pikiranku. 

Aku jadi teringat film-film tentang sekte menyeramkan yang berisi anak-anak aneh yang bisa membaca pikiran, menyembah setan, dan tinggal di panti asuhan atau semacamnya.

Nah, jika sutradara film seperti itu sedang mencari pemeran untuk salah satu film itu, anak ini pasti langsung mendapatkan perannya. Mereka bahkan tidak perlu mengaudisinya. Mereka hanya perlu melihatnya sekali dan langsung berkata, Ya, kau adalah anak setan nomor tiga.

"Eina!" Seru Nyonya Arshawirya. "Kau sudah pulang dari les baletmu?"

Anak itu mengangguk pelan. "Ibunya Hanna yang mengantarku, Mommy."

Nyonya Arshawirya merangkulkan lengannya ke bahu kurus putrinya, tetapi ekspresi wajah sang anak tidak pernah berubah dan mata coklat mencoloknya tidak pernah lepas dari wajahku.

Apakah ada yang salah denganku sampai-sampai aku takut anak perempuan berusia sembilan tahun itu akan membunuhku?

"Ini Laily." Kata Nyonya Arshawirya kepada putrinya. "Laily, ini putriku, Seina."

Mata Seina yang kecil itu memicing, "Senang bertemu denganmu, Laily." Katanya dengan sopan.

Aku membayangkan setidaknya ada dua puluh lima persen kemungkinan dia akan membunuhku saat aku tidur, jika aku mendapatkan pekerjaan ini. Namun, aku tetap menginginkannya.

Nyonya Arshawirya mengecup kening putrinya, lalu anak perempuan kecil itu bergegas pergi ke kamarnya. Dia pasti punya rumah boneka yang menyeramkan di dalam sana, di mana boneka-bonekanya hidup di malam hari. Mungkin salah satu boneka itu yang akan membunuhku.

Sudahlah, aku terlalu konyol karena membayangkan film horror didunia nyata. 

Anak perempuan kecil itu kemungkinan besar sangat manis. Bukan salahnya jika dia didandani dengan pakaian hantu anak orang kaya zaman penjajahan yang menyeramkan. Dan aku menyukai anak-anak, pada umumnya. Walaupun, aku tidak banyak berinteraksi dengan mereka selama sepuluh tahun terakhir ini.

Begitu kami kembali ke lantai satu, ketegangan di tubuhku sirna. Nyonya Arshawirya cukup ramah dan normal—untuk ukuran wanita sekaya ini—dan saat dia mengoceh tentang rumah, putrinya, serta pekerjaannya, aku hanya mendengarkan sekilas. Yang kutahu adalah ini akan menjadi tempat kerja yang menyenangkan. Aku rela melakukan apa saja demi mendapatkan pekerjaan ini.

"Apakah kau punya pertanyaan, Laily?" Dia bertanya padaku.

Aku menggelengkan kepala. "Tidak, Nyonya Arshawirya."

Dia berdecak. "Tolong, panggil aku Selina saja. Jika kau bekerja di sini, aku akan merasa sangat aneh jika kau memanggilku Nyonya Arshawirya." 

Dia tertawa. "Seolah-olah aku ini wanita tua yang kaya raya."

"Terima kasih... Selina" Kataku.

Aneh sekali. Baru pertama kalinya aku melihat calon majikan yang tidak mau di panggil Nyonya dengan marga suaminya.

Wajah Selina tampak berseri-seri, meskipun itu bisa jadi karena masker berlian atau emas atau apa pun yang biasa dioleskan orang kaya ke wajah mereka. Aku menduga, Selina Arshawirya adalah tipe wanita yang rutin melakukan perawatan spa. 

"Aku punya firasat baik tentang ini, Laily. Benar-benar firasat yang baik."

Sulit untuk tidak terbawa oleh antusiasmenya. Sulit untuk tidak merasakan secercah harapan saat dia meremas telapak tanganku yang kasar dengan tangannya yang sehalus kulit bayi.

Aku ingin percaya bahwa dalam beberapa hari ke depan, aku akan menerima telepon dari Selina Arshawirya, yang menawarkan kesempatan untuk bekerja di rumahnya dan akhirnya meninggalkan jok mobil Ayla-ku yang sempit.

Aku sangat ingin memercayai hal itu.

Namun, apa pun yang bisa kukatakan tentang Selina, dia bukan orang bodoh. Dia tidak akan mempekerjakan seorang wanita untuk bekerja, tinggal di rumahnya, dan merawat anaknya tanpa melakukan pemeriksaan latar belakang yang sederhana. Dan begitu dia melakukannya...

Aku menelan ludah dengan keras.

Selina Arshawirya mengucapkan selamat tinggal yang hangat kepadaku di pintu depan. "Terima kasih sudah datang, Laily." 

Dia mengulurkan tangan untuk menggenggam tanganku sekali lagi. "Aku berjanji, kau akan segera mendengar kabar kontrak pekerjaan ini dariku."

Aku tidak akan mendengarnya. Ini akan menjadi terakhir kalinya aku menginjakkan kaki di rumah megah ini. Seharusnya aku tidak pernah datang ke sini sejak awal. Seharusnya aku mencoba melamar pekerjaan yang berpeluang kudapatkan, alih-alih membuang-buang waktu kami berdua di sini. Mungkin sesuatu di industri makanan cepat saji.

Penata taman yang kulihat dari jendela loteng tadi sudah kembali ke halaman depan. Dia masih memegang gunting raksasa itu dan sedang merapikan salah satu tanaman pagar tepat di depan rumah. Dia pria yang bertubuh besar, mengenakan kaus yang memamerkan otot-ototnya yang mengesankan dan nyaris tidak menyembunyikan tato di lengan atasnya. Dia membetulkan posisi topi hitamnya, dan matanya yang sangat gelap beralih sejenak dari gunting tanaman untuk menatap mataku di seberang halaman.

Aku mengangkat tangan untuk menyapa. "Apa kabar, Tuan..." Kataku.

Pria itu hanya menatapku. Dia tidak membalas sapaanku. Dia tidak berkata "Jangan menginjak bunga-bungaku." Dia hanya menatapku.

"Senang bertemu denganmu." Gumamku pelan. Meskipun dia tidak membalasku sedikitpun, aku tidak peduli. 

Aku keluar melalui gerbang besi otomatis yang mengelilingi rumah megah itu dan berjalan gontai kembali ke mobil atau lebih tepatnya adalah rumahku. Aku menengok ke belakang untuk terakhir kalinya ke arah pria penata taman di halaman, dan dia masih memperhatikanku. Ada sesuatu dalam ekspresinya yang mengirimkan rasa merinding di punggungku. Dan kemudian dia menggelengkan kepalanya, hampir tidak terlihat. Hampir seperti dia sedang mencoba memperingatkanku.

Namun, dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Aku yakin, dia pasti memang orang yang aneh.

.

.

.

.

.

.

To be continue....

Vote gaes!!

1
Kim Borahae
hi, saya pembaca baru. ceritanya bagus. semangat ya 💪

btw, saya pun baru mula menulis novel, kalau ada masa, boleh singgah profile. terima kasih 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!