NovelToon NovelToon
MENAKLUKKAN TUAN MUDA ALVARO

MENAKLUKKAN TUAN MUDA ALVARO

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: aera_yong

Di SMA Nusantara Jaya, aturan mainnya sangat sederhana: Uang adalah hukum, dan E4 (The Elite Four) adalah penguasanya. Dipimpin oleh Alvaro Pramudya, pewaris tunggal konglomerat terbesar di Indonesia yang angkuh dan tak tersentuh, geng E4 mengendalikan sekolah dengan sistem "Kartu Merah"—sebuah vonis perundungan kejam yang membuat siapa pun targetnya memilih untuk putus sekolah.

Namun, roda takdir berputar secara instan ketika Kayla Shaqueena, seorang gadis tangguh anak pemilik laundry kiloan, masuk ke sekolah elit tersebut lewat beasiswa jalur khusus. Kayla bukan tipikal gadis yang akan tunduk pada intimidasi. Ketika kartu merah mendarat di mejanya, alih-alih menangis dan memohon ampun, Kayla justru merobek kartu tersebut dan melayangkan

Di antara benturan kasta, harga diri, cinta segitiga yang rumit, dan intrik keluarga kaya yang kotor, akankah Kayla bertahan sebagai rumput liar yang merusak taman indah E4?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SPECIAL SEASON EPISODE 1: PANGERAN YANG KEHILANGAN MAHKOTA (PART B)

Atmosfer di sekitar warung tenda pinggir jalan itu mendadak drop hingga ke titik beku. Aroma sambal pecel lele yang menyengat seolah menguap, tergantikan oleh ketegangan pekat yang dibawa oleh kehadiran Devan Narendra.

Kayla melangkah mundur satu jengkal, tangannya refleks mencengkeram erat tali tas kainnya. Sepasang mata bulatnya menatap Devan dengan kombinasi rasa syok dan kewaspadaan tinggi. Setahun berlalu, namun trauma atas pengkhianatan Devan di aula sekolah tidak pernah benar-benar hilang dari kepalanya.

"Devan..." bisik Kayla, suaranya tercekat.

Sebelum Devan bisa melangkah lebih dekat, sebuah tubuh tegap langsung bergeser ke depan Kayla, memotong jalur pandang Devan sepenuhnya. Alvaro berdiri kokoh dengan rahang yang mengatup rapat, mengurung Kayla di balik punggungnya. Sepasang mata hitam Alvaro berkilat tajam, memancarkan naluri protektif yang seketika membakar udara di antara mereka.

"Mau apa lagi kamu ke sini, Devan?" tanya Alvaro, suaranya berat, rendah, dan penuh dengan nada ancaman yang tak terbantahkan. "Tempatmu bukan di sini. Angkat kaki sebelum aku kehilangan kendali."

Devan tidak mundur sedikit pun. Ia justru menatap Alvaro dari atas ke bawah, memperhatikan kemeja flanel Alvaro yang sedikit berdebu dan sisa keringat di dahinya. Seulas senyuman tipis, senyuman meremehkan yang sangat familier, terukir di sudut bibir Devan.

"Tenang, Alvaro. Aku ke sini tidak untuk bertengkar dengan orang yang bahkan tidak punya modal untuk mengganti kaca mobilku jika tersenggol," sahut Devan luar biasa tenang, namun kata-katanya menusuk tepat ke harga diri Alvaro sebagai seorang pria.

Devan kemudian mengalihkan pandangannya melewati bahu Alvaro, kembali mengunci matanya pada Kayla. "Aku ke sini untuk bisnis, Kayla. Aku tahu kondisi ayahmu. Penyakit paru-paru kronisnya membutuhkan terapi khusus di Singapura, bukan sekadar kontrol bulanan di rumah sakit daerah dengan BPJS, kan?"

Napas Kayla tercekat. Bagaimana Devan bisa tahu kondisi medis ayahnya yang baru memburuk minggu lalu?

Valerie, pengacara berdarah dingin di belakang Devan, maju satu langkah dan membuka map kulitnya dengan gerakan taktis. "Nona Shaqueena, Narendra Tech baru saja membuka divisi Corporate Social Responsibility (CSR) yang baru. Kami menawarkan posisi sebagai *Associate Manager* untuk Anda, dengan gaji awal dua puluh lima juta rupiah per bulan, ditambah fasilitas jaminan kesehatan penuh kelas VIP untuk seluruh anggota keluarga Anda yang menanggung pengobatan di luar negeri."

"Ambil dokumen ini, Kayla. Pikirkan kesehatan ayahmu," sambung Devan lembut, seolah ia adalah malaikat penolong yang tulus. "Jangan biarkan ego kemiskinan Alvaro membuat ayahmu menderita."

*Brak!!!*

Alvaro menghantam meja plastik di sebelahnya hingga bergetar keras. Ia maju satu langkah, mencengkeram kerah jas mahal Devan dengan satu tangan, menariknya paksa hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.

"Jangan pernah berani mendikte hidup kami dengan uang sialanmu itu, Narendra!" geram Alvaro, urat-urat di lehernya menonjol tegang. Amarahnya yang selama setahun ini ia jinakkan, malam ini hampir meledak kembali melihat cara Devan yang licik.

Devan sama sekali tidak panik. Ia tidak membalas cengkeraman Alvaro, melainkan membiarkan Alvaro memosisikan diri sebagai pihak yang kasar di depan publik.

"Lihat dirimu, Alvaro. Masih labil, kasar, dan tidak punya apa-apa selain otot," bisik Devan tepat di depan wajah Alvaro, suaranya sangat lirih hingga hanya bisa didengar oleh mereka bertiga. "Satu tahun ini aku belajar di London bagaimana cara menghancurkan seseorang secara elegan tanpa perlu mengotori tanganku. Kamu pikir usahamu—*A-Logistics*—bisa bertahan di Jakarta? Aku bisa meruntuhkan gudang tuamu itu besok pagi jika aku mau."

"Alvaro, cukup! Lepaskan dia!" Kayla berteriak panik, meraba lengan Alvaro dan menariknya mundur. Ia takut Alvaro akan kembali berurusan dengan hukum jika memukul Devan di tempat umum.

Mendengar suara Kayla, Alvaro perlahan mengendurkan cengkeramannya, lalu menghempaskan tubuh Devan menjauh dengan sentakan kasar.

Devan merapikan kerah jasnya yang kusut tanpa melepaskan pandangan kemenangannya. Ia memberi isyarat kepada Valerie untuk menyimpan kembali dokumen tersebut.

"Tanda tanganku akan selalu terbuka untukmu di Narendra Tower, Kayla. Datanglah sebelum semuanya terlambat," ujar Devan tenang. Ia berbalik, melangkah masuk ke dalam mobil Maybach mewah miliknya dengan gerakan anggun.

Pintu mobil tertutup kedap suara. Sedan hitam itu perlahan melaju, membelah kemacetan jalanan Jakarta malam itu, meninggalkan Alvaro dan Kayla dalam keheningan yang mencekam di bawah temaram lampu warung tenda.

Alvaro berdiri mematung, menatap tangannya yang bergetar hebat karena menahan amarah dan rasa tidak berdaya yang teramat sangat. Di dalam labirin elite yang baru ini, Devan telah menabuh genderang perang dengan cara yang jauh lebih kejam: menyerang titik terlemah mereka, yaitu kesehatan ayah Kayla dan harga diri Alvaro yang sedang merangkak dari nol.

---

Bersambung

1
falea sezi
pergi jauh aja kayla😒 toxic bgt devan sama Alvaro sama aja bangke😒 biar aja mereka berantem bodoh amat😒
falea sezi
jahat amat devan😒
falea sezi
kayak f 4 aja masak sama🤣
Aera_yong
💪💪💪🥳
Aera_yong
😭 the four elite
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!