Seina adalah gadis cantik yang bercita-cita menjadi aktris terkenal. Setelah lulus sekolah, hidupnya terasa sempurna ketika dia berhasil debut di dunia hiburan. Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Di puncak awal kariernya, Seina justru dibunuh oleh seorang haters yang iri padanya.
Saat membuka mata, Seina tidak lagi berada di tubuhnya sendiri. Dia terbangun di tubuh Serina Elvano, seorang wanita egois yang dibenci banyak orang. Lebih mengejutkannya lagi, dia berpindah tubuh saat Serina sedang berjuang melahirkan anaknya.
Serina harus menjalani kehidupan baru sebagai istri Cristian Elvano, pria dingin dan berkuasa yang sama sekali tidak mencintai istrinya. Tidak hanya diabaikan oleh sang suami, Serina juga diperlakukan rendah oleh keluarga Elvano karena sikap buruknya di masa lalu.
Dia bertekad mengubah hidupnya, merebut kembali harga dirinya, dan membuat semua orang yang meremehkannya menyesal, terutama Cristian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Cristian yang jengah mendengar omelan istrinya, secara refleks mengangkat tubuh Serina ke atas tubuhnya. Seketika keduanya tertegun menyadari jika posisi mereka saat ini cukup intim, terlebih Cristian menyadari jika kejantanannya sedang bangun.
Sementara Serina mengerjap beberapa kali, dia merasakan tonjolan keras di pahanya. Sesuatu yang belum pernah dia alami seumur hidupnya.
"Apa kamu menyimpan batang kayu, Cris?" Tanya Serina polos.
Cristian mendengus sebal. "Jangan pura-pura bodoh, kamu yang membuatku seperti ini."
"Aku?" Serina menaikan sebelah alisnya. "Kapan aku melakukannya?"
"Saat ini."
Mochimochi yang menyadari kelemotan tuannya segera berbisik pada Serina. "Itu benda pusaka suamimu, Serina. Benda yang membuat Arcelio hadir di dunia ini."
Mendengar penjelas sistem, seketika wajah Serina langsung memerah. Matanya bersitatap dengan mata Cristian yang sedang menyunggingkan senyum tipis.
"Ke-kenapa kamu tersenyum?" Tanya Serina gugup.
Sial. Dia tidak bisa fokus gara-gara sistem.
"Kapan?" Cristian mempererat pelukan di pinggang istrinya. "Apa saat ini kamu sedang berpikir kotor?"
"Apa maksudmu? Aku tidak pernah berpikiran seperti itu!"
"Lalu kenapa wajahmu merah?" Goda Cristian.
Serina mengalihkan pandangan ke segala arah, mencoba mencari alasan. "I-itu karena kamu memelukku terlalu erat. Aku tidak bisa bernapas."
"Kamu sangat ceroboh dalam berbohong."
Serina melotot, dia langsung melepas paksa pelukan tangan Cristian di pinggangnya lalu beranjak dari atas tubuh pria itu.
Melihat tingkah istrinya yang menurut Cristian lucu, diam-diam pria itu terkekeh. Dia terus mengamati Serina yang berjalan menuju box bayi karena Arcelio terbangun dan menangis, sesaat Cristian seperti terhipnotis oleh pemandangan di depannya.
Bagaimana wanita itu dengan telaten menenangkan bayinya, menyusui, dan menggumamkan kata-kata selamat pagi yang hangat dan lembut pada putra mereka.
Cristian berbalik memunggungi istrinya, dia menunduk melihat benda pusakanya masih saja berdiri tegak.
"Sial, kenapa ini bis terjadi? Sebelumnya aku tidak pernah merasa terangsang pada wanita lain, tapi kenapa hanya menyentuh Serina membuat tubuhku tidak terkendali begini?" Gumam Cristian sangat pelan. "Sepertinya aku perlu ke dokter, bisa saja ini gejala penyakit yang membahayakan."
Berbeda dengan Cristian yang merasa ada yang salah dengan tubuhnya, kini Serina justru sedang menggerutu pada anaknya yang masih menyusu.
"Ayahmu benar-benar bodoh, Nak. Kenapa pula dia melakukan hal seperti itu? Padahal sebelumnya dia tidak pernah melakukannya, itu sungguh memalukan."
Serina menatap wajah Arcelio yang sedang menatapnya, seakan-akan mendengarkan semua curhatan ibunya yang pelan agar tidak terdengar oleh Cristian.
"Tapi kalau aku terus malu seperti ini, kapan aku bisa mendekatinya dan membuat dia berada di pihaku? Sedangkan aku sangat butuh pengakuan Cristian demi masa depan Arcelio kelak jika aku tidak ada di sini lagi."
Meski pemikiran itu terlintas dengan sangat jelas, Serina masih saja merasa malu jika mengingat kejadian tadi terlebih respon Cristian sangat tidak terduga. Dia menoleh ke arah suaminya yang masih memunggungi dirinya, namun ada yang berbeda karena telinga pria itu memerah.
"Apa dia juga malu sama sepertiku?" Gumamnya pelan.
"Aish, kenapa kamu malah bertindak bodoh seperti tadi Serina? Jelas-jelas itu kesempatan langka, harusnya kamu memanfaatkannya dengan baik. Bukan malah kabur, membuat suasana jadi tidak nyaman saja." Cibir Mochimochi dengan wajah kucingnya.
Serina menatap Mochimochi yang sedang duduk santai di box bayi, dia memutar bola mata. "Kalau begitu kamu saja yang melakukannya, kenapa kamu malah menyuruhku?"
"Kalau saja aku manusia pasti aku sudah melakukannya tanpa perlu kamu minta, tapi lihatlah tubuhku yang imut dan menggemaskan ini, Cristian tidak bisa melihatku dan sayangnya tubuh gemoy ku ini hanya untukmu bukan orang lain. Kamu harus bersyukur akan hal itu Serina."
"Dasar kucing sok kecakepan, aku bisa saja mengubah mu menjadi daging cincang jika kamu terus mengomel seperti emak-emak penagih hutang," gerutu Serina mulai kesal.
Mendengar itu, sontak Mochimochi bergidik ngeri. Dia sempat lupa jika Serina bisa bertindak tanpa perasaan jika sudah di buat jengkel.
"Ups, aku tidak berniat jadi daging cincang. Sepertinya aku melupakan sesuatu, semoga harimu menyenangkan Serina. Aku pergi dulu..."
Mochimochi langsung menghilang dari hadapan Serina dengan terburu-buru, bisa-bisa dia di jadikan daging cincang sungguhan bila terus bersama dengan Serina.
"Dasar sistem idiot." Gumam Serina.
***
Keesokan paginya, suasana rumah kediaman Elvano tampak ribut. Bukan karena adanya pertengkaran, melainkan hari ini adalah hari kepulangan Abigail setelah menginap beberapa hari di kediaman Elvano untuk melihat cicitnya.
"Ibu yakin mau pulang hari ini? Bukankah Ibu bilang akan menginap lebih lama di sini?" Tanya Mariam pada Abigail.
"Aku sudah tidak betah tinggal di kota, banyak polusi dan bising. Lebih enak tinggal di pedesaan."
Robin mengangguk paham dengan keputusan Abigail. "Jika itu yang Ibu inginkan, maka aku dan istriku tidak bisa menghalanginya. Jadi hati-hatilah di perjalanan, Bu."
Abigail tersenyum. "Tentu saja."
Lalu pandangan wanita paruh baya itu mengarah pada Serina serta Cristian yang berdiri tidak terlalu jauh darinya. "Serina, Cristian."
Serina yang sedang menggendong Arcelio bergegas mendekati Abigail, dia sadar jika tatapan keluarga Elvano padanya masih tajam dan itu membuat tidak nyaman tapi dia tidak terlalu menghiraukannya.
"Ada apa, Nek?" Tanya Serina begitu tiba di depan Abigail.
Sedangkan Cristian sama sekali tidak mengeluarkan suara sejak tadi, hingga Abigail meraih kedua tangan Serina dan Cristian lalu menyatukan tangan itu di atas telapak tangannya.
"Sebelum Nenek pergi, ada satu permintaan yang ingin Nenek ajukan pada kalian berdua."
"Apa itu?" Tanya Serina heran.
"Nenek titip cicit Nenek, ya. Dan kalian harus rukun terus, jangan sampai Nenek mendengar kata kalau kalian akan bercerai karena Nenek sangat menentangnya. Nenek ingin Arcelio memiliki keluarga yang utuh, dan kamu Cristian tolong jaga Serina dan Arcelio. Jangan sakiti mereka." Kata Abigail serius.
"Baik," jawab Cristian datar.
Sejak tadi Serina sama sekali tidak menatap Cristian, semua karena kejadian di kamar tidur yang membuatnya jadi kikuk dadakan.
Abigail tersenyum puas, dia berbalik menatap Mariam, Robin, Salsa, dan juga Jesika.
"Untuk kalian berempat, jangan menyusahkan Serina atau menyakitinya. Jika itu terjadi, aku tidak segan-segan menghukum kalian semua tanpa terkecuali." Sorot mata Abigail seperti laser yang memindai targetnya dengan seksama.
"Sesuai kemauan Ibu, kami tidak akan melanggar perintah itu." Jawab Mariam tegas.
Abigail mengangguk singkat lalu kembali menatap Serina. "Serina, kalau ada yang menyakitimu jangan sungkan untuk mengatakannya padaku."
"Baik, Nek. Aku akan mengingatnya dengan baik."
"Ah, hampir lupa. Nenek juga punya hadiah untukmu," Abigail menunjuk salah satu pelayan yang berdiri di sana. "Bawakan map di atas meja rias di kamarku."
Segera pelayan itu bergegas menuju kamar yang Abigail tempati, lalu kembali dengan membawa berkas yang di minta oleh wanita tua itu.
"Ini untukmu Serina," kata Abigail seraya menyerahkan map tersebut pada Serina.
Melihat Serina yang kesusahan saat menerima map itu, Cristian dengan santai mengulurkan tangannya. "Berikan Arcelio padaku"
"Hah?" Ulang Serina terkejut.
Cristian berdecak pelan, lalu merebut bayi itu dari gendongan sang istri tanpa peduli dengan tatapan tertegun yang di arahkan padanya dari semua keluarganya.
.. pelan pelan sajaaaaa 🎵🎶🎵
mulai berpihak ke serin kamu cris🫶