NovelToon NovelToon
LUNA & THE ALPHA

LUNA & THE ALPHA

Status: tamat
Genre:Romansa Fantasi / Manusia Serigala / Vampir / Cinta pada Pandangan Pertama / Tamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dunia Seleb

"Aku akan menjadi perisaimu, meski seluruh dunia menentang kita."
Menjadi satu-satunya manusia di antara kawanan serigala membuat hidup Luna selalu terancam. Tapi berada di dekapan sang Alpha tampan berhati dingin, dia menemukan perlindungan yang tak pernah ia duga. Akankah cinta mereka bertahan di tengah kutukan dan perebutan kekuasaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Langkah di Hutan Perbatasan

Tiga bulan setelah malam Festival Kedamaian, musim angin utara yang sempat dikhawatirkan akhirnya tiba. Namun, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya di mana musim ini selalu membawa aura kematian dan kelaparan, wilayah Silver Moon kali ini menghadapinya dengan kesiapan yang matang.

Pondok-pondok perawatan di gerbang barat tampak mengepulkan asap hangat dari perapian, dan anak-anak serigala berlarian dengan riang di atas tanah yang mulai memutih oleh salju tipis, tubuh mereka terlindungi rapat oleh jubah bulu domba berwarna merah muda lembut yang digagas oleh Luna.

Siang itu, Luna memutuskan untuk keluar dari batas kastil. Ia ingin melihat langsung kondisi pos penjagaan terluar di hutan perbatasan timur. Didampingi oleh Maya dan dua prajurit pengawal, Luna berjalan menyusuri jalan setapak hutan yang sunyi.

Ia mengenakan mantel tebal berbulu putih dengan aksen sulaman merah muda di sepanjang lengannya—hadiah musim dingin dari Yudha yang dibuat dari kulit serigala perak kuno yang sangat langka.

"Nona Luna, sebaiknya kita tidak berjalan terlalu jauh ke dalam hutan," ucap Maya dengan nada cemas, matanya waspada menatap pepohonan pinus yang menjulang tinggi.

"Meskipun kaum pemberontak sudah musnah, hewan-hewan liar di perbatasan ini kadang bermigrasi karena hawa dingin."

Luna tersenyum menenangkan, langkah kakinya di atas salju terdengar berkerisik lembut. "Jangan khawatir, Maya. Gavan dan pasukannya sudah membersihkan jalur ini kemarin. Lagipula, aku hanya ingin mengantarkan ramuan penghangat ini untuk para prajurit di pos timur. Mereka telah berjaga siang dan malam tanpa mengeluh."

Ketika mereka tiba di pos penjagaan timur—sebuah pondok kayu besar yang kokoh—para prajurit yang sedang bertugas langsung tersentak kaget. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa Luna, sang ibu kawanan yang paling dihormati, akan sudi berjalan kaki menembus salju musim dingin hanya untuk mengunjungi mereka.

"Nona Luna!" Kapten pos segera berlutut, diikuti oleh anak buahnya.

"Apa yang membawa Anda ke tempat sedingin ini? Jika Anda membutuhkan sesuatu, Anda cukup mengirim utusan, kami yang akan menghadap ke kastil."

"Berdirilah, Kapten," ujar Luna lembut, memberi isyarat agar mereka segera bangkit. Ia membuka keranjang yang dibawanya dan mengeluarkan botol-botol keramik berisi cairan hangat.

"Ini ramuan akar ginseng dan madu hutan yang kurebus sendiri pagi ini. Ini sangat bagus untuk menjaga stamina kalian di tengah badai salju."

Para prajurit menerima botol-botol itu dengan tangan gemetar bukan karena dingin, melainkan karena rasa haru yang luar biasa. Selama hidup mereka sebagai mesin perang, mereka hanya mengenal perintah dan hukuman dari Alpha terdahulu. Perhatian tulus seperti ini adalah sesuatu yang terasa begitu asing, namun sangat menghangatkan dada mereka.

Namun, momen hangat itu mendadak terinterupsi. Angin dingin yang berembus kencang tiba-tiba membawa aroma asing yang tajam. Dua prajurit pengawal Luna langsung memasang posisi bertarung, taring mereka mencuat samar dan mata mereka berkilat waspada. Dari balik semak-semak belukar yang tertutup salju di ujung perbatasan, terdengar suara geraman rendah yang menderita.

"Ada sesuatu di sana," bisik Kapten pos, menghunus pedangnya dan melangkah maju di depan Luna guna membentuk barisan pelindung.

"Tunggu," tahan Luna. Insting manusianya yang peka menangkap sesuatu yang lain dari geraman itu. Itu bukan geraman ancaman, melainkan suara rintihan menahan sakit yang amat sangat.

Luna melangkah maju, mengabaikan tarikan cemas di jubahnya oleh Maya. Di balik tumpukan salju, runtuhan dahan pohon pinus yang besar tampak menimpa tubuh seekor serigala abu-abu muda yang kurus. Kakinya terjepit parah, dan darah segar merembes keluar, menodai salju putih di sekitarnya menjadi merah anyir. Hewan itu tampak kelelahan, seolah telah terjebak di sana selama berjam-jam.

"Dia bukan dari kawanan kita, Nona. Itu adalah serigala liar dari luar wilayah," cegah Gavan yang entah sejak kapan sudah muncul di lokasi untuk melakukan patroli rutinnya.

"Serigala liar biasanya sangat agresif dan tidak bisa dijinakkan. Sebaiknya kita menyelesaikannya saja agar tidak menjadi ancaman."

"Tidak, Gavan!" seru Luna tegas, menatap tajam ke arah komandan berwajah sangar itu.

"Dia terluka dan tidak berdaya. Kita tidak bisa membunuh makhluk hidup yang sedang sekarat di depan mata kita sendiri. Bukankah kita sedang merayakan era kedamaian?"

Luna perlahan mendekati serigala liar itu. Melihat kehadiran manusia, serigala itu sempat mencoba memamerkan taringnya yang patah, namun tubuhnya terlalu lemah untuk bergerak. Luna berlutut di atas salju tanpa memedulikan gaunnya yang menjadi kotor. Ia mengulurkan tangannya yang mungil secara perlahan, membiarkan aroma lavendernya yang manis menguar bebas di udara untuk menenangkan ketakutan hewan tersebut.

"Tenanglah... aku tidak akan menyakitimu," bisik Luna dengan suara yang begitu lembut dan penuh ketulusan.

Ajaibnya, mendengar suara Luna dan menghirup aroma lavendernya, serigala liar itu perlahan mengatupkan rahangnya. Sorot matanya yang liar mendadak melunak, berganti dengan pandangan memohon kepasrahan. Luna menoleh ke arah Gavan dan para prajurit. "Bantu aku mengangkat dahan pohon ini. Cepat!"

Gavan menghela napas pasrah, namun tidak berani membantah perintah mutlak sang Luna. Dengan kekuatan fisiknya yang besar, Gavan mengangkat dahan pohon itu dalam sekali sentakan. Luna dengan cekatan segera memeriksa kaki serigala yang terluka. Ia merobek ujung syal merah muda yang dipakainya, lalu membalut luka robek di kaki serigala itu dengan hati-hati sembari menyalurkan kehangatan dari sentuhan energinya yang memiliki kemampuan penyembuhan alami.

Tanpa mereka sadari, dari balik bayangan pohon pinus terbesar di dekat pos, sosok Yudha telah berdiri di sana sejak awal kejadian. Sang Alpha sejati sengaja tidak mengintervensi karena ingin melihat bagaimana Lunanya menghadapi situasi tersebut.

Menyaksikan bagaimana kelembutan hati seorang gadis manusia mampu menjinakkan seekor predator liar dari luar wilayah tanpa perlu mengeluarkan satu cakar pun, Yudha merasakan dadanya bergemuruh oleh rasa pemujaan yang kian menggila.

Yudha melangkah keluar dari bayangan, membuat seluruh prajurit segera berlutut dalam posisi hormat tertinggi. Luna mendongak, matanya berbinar saat melihat kehadiran belahan jiwanya.

"Yudha! Tolong biarkan dia tinggal di pondok perawatan sampai lukanya sembuh," pinta Luna dengan mata bulatnya yang memoho senjata paling mematikan yang selalu berhasil meruntuhkan pertahanan sedingin es milik sang Alpha.

Yudha berjalan mendekat, lalu berlutut di samping Luna. Tangan besarnya mengusap sisa salju yang menempel di pipi gadis itu, lalu beralih menatap serigala liar yang kini tertunduk patuh di depan mereka, mengakui aura dominasi mutlak dari sang Alpha sejati.

"Apapun yang diinginkan oleh Lunaku, akan selalu menjadi kenyataan," ucap Yudha dengan suara rendah, lalu menoleh ke arah Gavan.

"Bawa serigala ini ke pos perawatan barat. Rawat dia atas nama Luna Silver Moon. Jika ada yang berani menentang hal ini, mereka harus berhadapan langsung dengan pedangku."

"Perintah dilaksanakan, Alpha!" jawab Gavan sigap, segera mengangkat tubuh serigala itu dengan hati-hati bersama prajurit lainnya.

Setelah para prajurit pergi, Yudha langsung menarik Luna ke dalam pelukan hangatnya, membungkus tubuh mungil gadis itu dengan jubah hitam besarnya sendiri. "Kamu selalu penuh dengan kejutan, Luna. Kelembutanmu jauh lebih kuat daripada racun atau senjata tertajam mana pun di dunia ini. Kamu baru saja memenangkan loyalitas dari seekor serigala liar tanpa pertumpahan darah."

Luna menyandarkan kepalanya di dada bidang Yudha, tersenyum bahagia sembari memegang setangkai bunga mawar pink yang dibawanya.

"Karena aku percaya, Yudha... kedamaian yang sejati tidak dibangun di atas tumpukan tengkorak musuh, melainkan di atas jembatan kasih sayang yang kita bentangkan untuk mereka yang membutuhkan."

---

Penerus Takhta Silver Moon

Waktu terus bergulir dengan cepat, menghapus sisa-sisa kelam dari masa lalu dan menggantikannya dengan lembaran sejarah yang baru. Dua tahun telah berlalu sejak malam pengikatan sumpah suci di Altar Perak.

Di bawah kepemimpinan Yudha yang bijaksana dan kelembutan hati Luna, wilayah Silver Moon berkembang menjadi pusat perdagangan dan perdamaian terbesar di seluruh wilayah utara. Tidak ada lagi sekat pembatas yang kaku antara bangsa manusia dan bangsa serigala, keduanya kini hidup berdampingan dalam harmoni yang indah.

Namun, pagi itu, keheningan Kastil *Silver Moon* mendadak pecah oleh ketegangan yang sama sekali berbeda dari ketegangan perang. Di koridor depan kamar menara selatan, sang Alpha sejati, pria yang paling ditakuti di seluruh daratan utara karena ketenangannya yang mematikan, tampak berjalan bolak-balik dengan wajah yang sangat tegang dan pucat. Keringat dingin membasahi pelipisnya, dan tangannya yang biasa menggenggam pedang dengan kokoh kini tampak bergetar hebat.

Dari dalam kamar, terdengar suara erangan tertahan dari Luna yang sedang berjuang melahirkan anak pertama mereka, diselingi oleh instruksi-instruksi cekatan dari Maya dan tabib kastil.

"Alpha, tenanglah. Anda merusak lantai batu kastil dengan mondar-mandir seperti itu," tegur Gavan yang berdiri berjaga di dekat pintu, mencoba mencairkan suasana meskipun ia sendiri sebenarnya ikut merasa tegang.

Yudha berhenti melangkah, lalu menatap Gavan dengan sorot mata emasnya yang berkilat liar karena panik. "Bagaimana aku bisa tenang, Gavan?! Dia adalah seorang manusia! Tubuhnya sangat rapuh untuk melahirkan keturunan darah Alpha. Jika terjadi sesuatu padanya... jika aku kehilangan dia, aku bersumpah akan meratakan seluruh gunung ini dengan tanganku sendiri!"

Serigala di dalam dada Yudha menggeram frustrasi, merasa tidak berdaya karena tidak bisa menanggung rasa sakit yang sedang dialami oleh belahan jiwanya di dalam ruangan sana. Setiap kali mendengar rintihan Luna, jantung Yudha seakan berhenti berdetak.

*Oeeek... Oeeek... Oeeek...*

Suara tangisan bayi yang melengking nyaring tiba-tiba memecah ketegangan di koridor tersebut. Langkah kaki Yudha langsung terhenti total. Matanya melebar, dan seluruh tubuhnya mendadak kaku bagai patung. Suara tangisan itu begitu bersih, begitu bertenaga, memancarkan aura kehidupan baru yang sangat kuat.

Pintu kamar perlahan terbuka, dan Maya keluar dengan wajah yang dipenuhi oleh air mata bahagia sembari tersenyum lebar. "Selamat, Alpha... Nona Luna berhasil. Anak Anda... seorang putra, dan dia sangat sehat. Nona Luna juga baik-baik saja dan sedang menunggu Anda di dalam."

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Yudha langsung melesat masuk ke dalam kamar, mengabaikan segala protokol kebangsawanan. Di atas ranjang besar, Luna terbaring lelah dengan wajah pucat namun memancarkan binar kebahagiaan yang paling indah yang pernah dilihat Yudha sepanjang hidupnya. Di sampingnya, sekelompok kain sutra berwarna merah muda lembut membungkus sesosok bayi mungil yang sedang menggeliat pelan.

Yudha berlutut di tepi ranjang, mengambil tangan kecil Luna dan mengecupnya berkali-kali dengan penuh perasaan, air mata kelegaan akhirnya menetes dari sudut mata sang Alpha sejati. "Terima kasih... terima kasih telah bertahan untukku, Luna. Kamu adalah wanita terhebat di dunia ini."

Luna tersenyum lemah, mengusap rambut hitam Yudha dengan sisa tenaganya. "Lihatlah putra kita, Yudha. Dia sangat mirip denganmu."

Yudha perlahan mengalihkan pandangannya pada bayi mungil itu. Saat ia mendekatkan wajahnya, bayi itu membuka sepasang matanya yang kecil. Yudha tertegun, anak itu memiliki mata gelap yang teduh persis seperti milik Luna, namun sesekali berkilat dengan pendar keemasan magis khas darah Alpha sejati. Yang lebih menakjubkan lagi, helai rambut halus di kepala bayi itu memiliki warna perpaduan yang sangat unik antara hitam legam milik Yudha dan lavender manis milik Luna.

Ketika Yudha menyentuhkan jari telunjuknya yang besar, jemari mungil sang bayi langsung menggenggamnya dengan sangat kuat—sebuah simbol kekuatan fisik yang diwarisi dari genetik serigala terkuat, namun dipenuhi oleh kelembutan aura sang ibu manusia.

"Siapa nama yang akan kita berikan untuk penerus takhta *Silver Moon* ini, Lunaku?" bisik Yudha lembut, suaranya bergetar penuh dengan rasa haru yang mendalam.

Luna menatap ke luar jendela kaca kamar mereka, di mana matahari pagi yang baru terbit sedang menyapu seluruh wilayah kastil dengan cahaya keemasan yang hangat, berpadu dengan kibaran panji-panji merah muda di sepanjang benteng yang melambangkan kedamaian abadi.

"Aero," ucap Luna lirih namun penuh kepastian.

"Aero Silver Moon. Yang berarti angin pagi yang membawa kedamaian dan harapan baru bagi seluruh kawanan kita."

Yudha tersenyum tipis, mengecup dahi Luna dengan sangat lama sebelum akhirnya beralih mengecup puncak kepala putra kecil mereka yang kini tertidur lelap di dalam dekapan kain merah muda hangat.

Di dalam kamar menara selatan yang penuh dengan kehangatan itu, di bawah kesaksian fajar baru yang benderang, kisah panjang mereka tidak lagi hanya tentang badai dan pertumbuhannya—melainkan tentang sebuah warisan cinta abadi yang akan terus hidup dan terukir indah dalam sejarah bangsa serigala untuk selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!