NovelToon NovelToon
Sweet Love

Sweet Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dokter
Popularitas:536
Nilai: 5
Nama Author: Chocoday

Dia tidak pernah terlihat.... tapi selalu ada.

“Kalau abang serius… kamu mau kenalin abang ke dia?”

Hanif tidak pernah benar-benar muncul di depan Riyani. Namun ia tahu banyak tentangnya—lebih dari yang seharusnya.
Dari kebiasaan kecil, cara berbicara, hingga senyum yang diam-diam ia tunggu.

Melalui adiknya, Hanif memilih jalan yang tidak biasa: mendekati Riyani tanpa pernah benar-benar “hadir” sebelumnya.
Tapi…
bisakah seseorang menerima cinta dari orang yang hampir tidak pernah ia sadari keberadaannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocoday, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rasa Sakit Yang Dekat

Napas riyani terengah, matanya mengeluarkan air mata begitu. Ia melihat orang-orang di sekelilingnya. Hanya ada nenek, kakek, dan juga Hanif yang sejak tadi pagi menemaninya.

Hanif mengelus punggung riyani lembut.

"Tenang ya! Atur napasnya," pintanya.

"Ada yang sakit?"

Riyani menggeleng tapi dengan cepat ia mengangguk.

"Di sini," jawabnya menunjuk dada sesaknya.

Ia kembali menangis, tersedu sampai rasanya hati hanif ikut sakit melihatnya.

"Hanif, kakek minta tolong kamu jaga neng sebentar boleh? Kakek sama nenek mau bawa keperluan buat neng dulu ke rumah."

Hanif mengangguk cepat.

"Boleh, Kek. Biar Hanif yang jaga neng."

"Gak perlu, Aa. Kan Aa juga kerja hari ini," tolak Riyani tidak enak.

Hanif tersenyum.

"Gak apa-apa. Aa udah tukeran shift sama temen tadi."

"Karena aku?"

Hanif menggeleng.

Kakek pamit dengan istrinya. Tapi bukan hanya untuk pulang, melainkan mampir ke rumah anaknya.

Dengan langkah tegasnya, kakek masuk—mengetuk pintu rumah yang kini tertutup.

"ADAM.... ADAM....!?"

Pintu rumah berdecit, dibuka anak kecil laki-laki—iya, itu Haikal.

"Kakek buyut!?" panggil Haikal. Anak laki-laki itu membukanya lebih lebar, meminta kakek dan nenek buyutnya masuk ke rumah.

Bapak dan mamah yang baru saja keluar dari kamar terkejut melihat ayahnya sudah duduk di sofa ruang tengah.

"Bapak!?"

"Ibu juga ada," ucap bapak menyapa orang tuanya. Sedangkan, mamah menyajikan air hangat untuk mertuanya.

"Tidak usah menyajikan apapun. Bapak hanya sebentar mampir ke sini, mau bicara sama kamu juga Adam," ucap Kakek Dayat dengan wajah tegasnya.

"Mau bicara apa, Pak?"

"Semalam kamu bilang apa sama anak gadis kamu?" tanya Kakek Dayat.

Pak Adam terdiam.

"Adam.... Kamu harusnya tau apa yang sudah kamu katakan pada anak kamu. Seharusnya juga kamu tau resiko dari semuanya."

Pak Adam mendongak.

"Apa maksud bapak?"

Kakek Dayat menghela napasnya.

"Kakek ke sini mau bawa baju neng. Dia akan pindah tinggal di kota bersama bapak dan ibu."

"Tapi—"

"Gak ada tapi tapi, kalau kalian gak bisa kasih dia kehidupan dengan baik. Lebih baik dia dirawat sama kita berdua," sela Kakek Dayat.

Kakek Dayat beranjak.

Mengemas beberapa pakaian yang masih tersisa pada lemari kecil di kamar riyani bersama dengan istrinya.

Setelahnya, keduanya pamit.

Tapi sebelum itu, Kakek Dayat sempat berbalik.

"Bapak emang gak berhak pisahin kalian sama anak kalian. Bapak cuman mau kasih tau kalau Riyani yang putusin semuanya, dia yang mau pindah. Dan satu lagi, kamu harus tau kalau dia sekarang ada di rumah sakit karena ucapan kalian semalam."

Pak Adam terdiam.

Kakinya mendadak lemas.

Ia salah jika mengharapkan Riyani kembali hanya karena tidak ada yang membantu di rumah.

...----------------...

Hari sudah mulai sore, orang yang akan menjaga Riyani sudah datang dengan kotak bekal dari nenek dan perlengkapan lainnya.

Memang bukan nenek dan kakek yang menjaga Riyani. Sengaja, kasihan jika mereka yang menjaganya.

Hanif pamit untuk mulai bekerja. Tidak lupa ia mengingatkan beberapa hal yang tidak boleh dilewatkan oleh Riyani, berulang kali wanita itu mengangguk dengan senyuman.

(Bawel sekali pak dokter ini)

Tidak lama setelahnya, bapak dan mamahnya datang. Riyani langsung berbaring, seolah tidak menerima kedatangan keduanya.

"Teh tolong temenin tamu yaa. Aku mau tidur dulu," ucap Riyani lalu memejamkan matanya.

Teh Syifa—pelayan toko kue nenek yang menjaga riyani, sedikit bingung setelahnya.

Bapak dan mamah hanya terdiam, lalu menaruh bingkisan buah dan kue yang dibelinya di jalan tadi.

Merasa tidak enak, bapak membawa istrinya kembali—keluar dari ruangan.

Setelah pintu ruangan kembali ditutup, Riyani menangis. Rasanya sakit ketika orang tua tidak bisa menjadi rumahnya lagi untuk pulang.

Teh Syifa memilih untuk keluar dari ruangan. Wanita itu memberikan waktu untuk Riyani tenang.

Adzan Maghrib terdengar berkumandang, tapi Riyani masih terlihat tidur. Sedangkan Teh Syifa baru saja selesai dari sholatnya.

"Neng, kamu mau sholat gak?" tanya Teh Syifa mendekatinya.

Merasa heran, Teh Syifa mencoba membangunkannya. Tapi tidak ada reaksi sedikitpun, apalagi wanita itu melihat keringat sudah bercucuran pada wajah riyani.

Dengan cepat ia memanggil dokter jaga. Hanif yang datang, ia masuk dengan beberapa perawat lalu meminta Teh Syifa untuk menunggu di luar.

Riyani demam kembali. Tubuhnya menggigil, bahkan suhu tubuhnya melebih tadi pagi saat ia ditemukan pingsan.

Jelas Hanif panik, tapi ia juga harus bekerja kembali. Lelaki itu meminta Teh Syifa untuk menjaganya malam ini lebih ekstra. Apalagi jika demamnya tidak turun hingga beberapa jam ke depan.

...----------------...

Keesokan paginya, Riyani terbangun. Tubuhnya terasa remuk, pada keningnya ada lap yang sedikit basah. Ia lihat lelaki dengan jas putih itu membungkuk tidur pada kursi di samping ranjangnya.

"Aa!?" panggil Riyani.

Suara samar saja mampu membangunkan lelaki yang baru saja tertidur itu. Mata kantuknya terlihat, dengan cepat ia memeriksa kening riyani.

"Alhamdulillah!"

Helaan nafasnya terdengar lega.

"Aa yang kompres semaleman?" tanya Riyani.

Hanif mengangguk.

"Semalem Teh Syifa jagain kamu. Tapi demam kamu gak turun, makanya Aa kompres kamu semalaman. Jaga di sini, sesekali juga liat pasien lain."

"Maaf ya neng ngerepotin Aa,"

"Hey.... ngerepotin apa sih. Aa sama sekali gak merasa direpotkan, kan kamu juga setengahnya tanggungjawab Aa."

"Setengah?"

Hanif mengangguk.

"Kan belum resmi jadi suami. Jadi masih setengah tanggungjawabnya."

Riyani terkekeh mendengarnya.

Pandangannya celingukan.

"Terus Teh Syifa sekarang mana?"

"Tadi pas Aa masuk, dia izin keluar dulu. Belum kembali lagi," jawab Hanif.

"Aa udah selesai jadwal kerjanya?" tanya Riyani.

Hanif memeriksa jam di tangannya.

"Sebentar lagi selesai. Aa mau periksa dulu pasien lain, terus selesai kerja nanti ke sini lagi ya!"

"Istirahat aja. Neng gak apa-apa kok, kan Aa juga semalaman gak tidur."

"Ya udah, nanti Aa ke sini lagi pas udah istirahat ya!"

Riyani mengangguk mengiyakan.

...----------------...

Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi, nenek datang dengan kotak bekal yang cukup banyak.

"Nenek kok bawa bekalnya banyak banget? Kan Neng makannya dari rumah sakit, Teh Syifa juga beli dari kantin tadi."

"Gak apa-apa, ini buat siang. Terus ada cemilan buat kamu, biar gak mual terus makan makanan dari rumah sakit. Sisanya buat Hanif sama Yila."

"Mereka ada di rumah sakit gak?" tanya nenek.

"Aku ada, Nek. Abang juga lagi istirahat di ruang dokter," ucap Seyila yang baru saja masuk ke ruangan.

"Nih buat kamu sama abang kamu," ucap nenek memberikan dua kotak bekal padanya.

"Nenek emang paling ngerti. Makasih Nek," puji Seyila lalu mengecup pipi nenek dengan senangnya.

Wanita itu langsung pergi ke ruang istirahat khusus dokter. Hanif masih terlihat lelap pada ranjang tingkat.

"Bang mau makan gak?" tawar Seyila.

"Tumben kamu nawarin makanan," ucap Hanif tanpa membuka matanya.

"Dih ini dikasih calon nenek mertua tau," ucap Seyila.

Hanif langsung terbangun.

"Siapa calon nenek mertua kamu? Emang ada yang suka sama kamu? Cewek tomboy begini?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!