Naraya Pramaswari Dhanubrata, seorang CEO muda yang dikenal dingin dan perfeksionis, terbiasa hidup dalam kemewahan. Di usianya yang terbilang matang, ia tidak lagi benar-benar percaya pada cinta, apalagi hubungan rumit.
Segalanya berubah ketika ia bertemu Sagara, pemuda tampan berusia 24 tahun yang sederhana. Namun, penuh semangat hidup. Berbeda jauh dari dunia Naraya, Sagara menjalani berbagai pekerjaan demi bertahan hidup. Mulai dari montir, ojek online, hingga pekerja paruh waktu. Meski hidupnya keras, Sagara tetap hangat, tulus, dan pantang menyerah.
Pertemuan tak terduga mereka perlahan menyeret Naraya ke dalam dunia yang tak pernah ia bayangkan. Sagara yang gigih, tanpa sadar meruntuhkan dinding hati Naraya yang selama ini terkunci rapat.
Namun, perbedaan status, usia, dan prinsip hidup menjadi tantangan besar bagi keduanya. Belum lagi seseorang dari masa lalu Naraya yang kembali hadir.
Akankah cinta mereka mampu bertahan, atau justru menjadi luka yang tak terhindarkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Nara tengah sibuk meneliti dokumen penting di depannya saat Tiwi masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu lebih dulu.
"Nona!" ucapnya sambil berlari mendekati meja kerja Nara.
Nara langsung menghela napas panjang. "Ketuk pintu dulu, Tiwi. Dan jangan masuk sambil berlari seperti itu," tegurnya tegas.
Tiwi segera menghentikan langkahnya. Ia menunduk cepat. "Maaf, Nona. Saya terlalu terburu-buru," ucapnya pelan.
Nara melepas kacamata bacanya, lalu menatap lurus ke arah asistennya itu. "Ada apa?" tanyanya tenang. "Kenapa sampai berlari seperti itu?"
Ekspresi Tiwi langsung berubah aneh. Campuran panik dan bingung.
"Nona ... ada masalah."
Dahi Nara sedikit mengernyit.
"Masalah apa?"
Tiwi menelan ludah sebelum menjawab hati-hati. "Motor yang Nona kirim untuk pria montir itu ...."
"Maksudmu, Sagara?"
Tiwi mengangguk cepat. "Iya, Nona."
"Kenapa dengan motornya?"
Tiwi tampak ragu sesaat sebelum akhirnya berkata pelan... "Motor itu dikembalikan."
DEG.
Nara langsung menegakkan tubuhnya. Tatapannya berubah tajam. "Kau yakin?"
"Pria itu meminta pihak dealer mengirim motor itu kembali pada pengirimannya." Tiwi berhenti sejenak. "Dan motor itu sudah ada di halaman depan perusahaan."
Ruangan langsung sunyi.
Beberapa detik Nara bahkan tidak bergerak sama sekali. Seolah otaknya sedang mencerna kalimat tadi perlahan-lahan.
"Dia ...." Nara tertawa kecil tak percaya, "mengembalikannya?"
Tiwi mengangguk pelan. "Pihak dealer bilang pria itu menolak menerima hadiah semahal itu."
Rahasia kecil di balik ketenangan wajah Nara mulai retak. Untuk pertama kalinya sejak lama, harga dirinya seperti disentil terang-terangan. "Dan dia menyuruh motor itu dikirim balik ke sini?" tanyanya lagi memastikan.
"Iya, Nona."
Nara langsung menyenderkan tubuhnya perlahan pada kursi. Entah kenapa dadanya justru terasa semakin panas. Bukan marah sepenuhnya, tapi lebih ke ... kesal.
Pria itu benar-benar berbeda dari orang-orang yang selama ini dikenalnya. Motor sport keluaran terbaru. Barang yang bahkan diperebutkan banyak orang, tapi pria itu malah mengembalikannya begitu saja.
Tiwi yang melihat perubahan ekspresi atasannya langsung semakin gugup.
"Sekarang sebagian karyawan di bawah sedang mengerumuni motor itu, Nona," ucapnya pelan. "Mereka juga mulai penasaran siapa yang mengirim dan kenapa dikembalikan."
Pelipis Nara berdenyut nyeri. Wanita itu langsung memejamkan mata sejenak sebelum menghembuskan napas panjang. "Hebat sekali," gumamnya lirih. "Untuk pertama kalinya dalam hidupku, hadiah dariku malah ditolak mentah-mentah."
Tiwi hanya tersenyum canggung. Jujur saja, ia sendiri tidak tahu harus kagum atau takut pada pria aneh itu. Di saat banyak orang berlomba mencari perhatian keluarga Dhanubrata, pria itu justru memilih menjaga jarak.
"Nona ...," panggil Tiwi hati-hati.
"Apa lagi?"
"Mungkin ... kita perlu memikirkan cara lain," jawab Tiwi pelan.
Nara membuka matanya perlahan lalu menatap Tiwi datar. "Cara lain seperti apa?"
Tiwi terlihat berpikir keras. "Nona ... bagaimana jika kita mengirim hadiah dengan nominal yang jauh lebih mahal lagi?"
Nara menggeleng pelan. "Tidak. Sepertinya itu tidak akan berpengaruh. Dia mungkin akan mengirim kembali hadiah itu."
Tiwi mengangguk setuju. "Kalau hadiah mahal tidak berhasil, mungkin kita harus mencari sesuatu yang benar-benar dibutuhkan pria itu."
Nara terdiam. Ucapan itu membuatnya mulai berpikir. Selama ini ia selalu menyelesaikan banyak hal dengan uang, fasilitas, atau kekuasaan. Namun, semua itu apakah benar-benar tidak mempan pada pria bernama Sagara?
Dan itu membuatnya semakin sulit ditebak.
"Menurutmu apa yang diinginkannya?" tanya Nara pelan.
Tiwi menggeleng cepat. "Saya tidak tahu, Nona. Tapi sepertinya pria itu bukan tipe yang mudah tergoda barang mahal."
Ruangan kembali hening.
Nara lalu bangkit dari kursinya perlahan dan berjalan mendekati jendela kaca besar. Dari lantai atas itu, motor sport yang masih terparkir di halaman perusahaan terlihat jelas. Beberapa karyawan masih diam-diam memotretnya.
Tatapan Nara menyipit tipis. Namun, otaknya justru bekerja keras memikirkan langkah berikutnya untuk mendekati pria itu tanpa menimbulkan kecurigaan.
Hingga tiba-tiba sebuah ide melintas di kepalanya. Ia langsung menoleh pada Tiwi yang masih berdiri setia menunggu perintah.
"Tiwi," panggilnya pelan.
"Iya, Nona?"
Nara mendekat sedikit, lalu membisikkan sesuatu ke telinga asistennya itu.
Mata Tiwi langsung membesar. "Nona serius?"
"Lakukan saja."
Tiwi terlihat ragu beberapa detik. Namun, pada akhirnya ia tetap mengangguk patuh.
"Baik, Nona."
******
Siang harinya.
Suasana bengkel tempat Sagara bekerja berjalan seperti biasa. Suara mesin kendaraan dan dentingan alat-alat perbaikan memenuhi udara siang yang panas.
Sagara tengah sibuk memperbaiki mobil pelanggan bersama beberapa montir lain. Akhirnya ia bisa kembali bekerja dengan tenang setelah lebih dari satu jam lamanya mendengar ceramah Andi panjang lebar tentang dirinya yang memilih mengembalikan motor alih-alih menerimanya.
Namun, suara rem kendaraan besar yang berhenti tepat di depan bengkel membuat semua orang menoleh bersamaan.
Sebuah truk pengangkut berhenti perlahan. Di belakangnya, sebuah mobil hitam lewat ikut terparkir.
Andi yang sejak tadi memegang kunci Inggris langsung mengernyit bingung.
"Siapa itu?"
Beberapa pria berseragam perusahaan logistik turun dari truk tersebut. Tanpa banyak bicara, mereka langsung membuka bagian belakang kendaraan. Lalu ...
BRAK!
Satu per satu alat-alat perbengkelan baru mulai diturunkan. Mulai dari kotak peralatan lengkap, mesin hidrolik modern, kompresor baru, bahkan beberapa perangkat servis yang biasanya hanya dimiliki bengkel besar dan mewah.
Seluruh montir langsung melongo.
"Woi ... barang mahal itu," bisik salah satu montir tak percaya.
Andi bahkan sampai mendekati alat-alat itu sambil melotot kagum.
"Tumben si Bos belanja alat-alat mahal," celetuk salah satu montir senior.
"Lagi banyak duit kali ya," timpal Bang Dori sambil terus memperhatikan setiap peralatan yang diturunkan dari atas truck.
"Buset ... bengkel kita bakal naik kasta, nih?" celetuk Andi.
Sementara itu, Sagara hanya berdiri diam sambil memperhatikan semuanya dengan tatapan tajam. Perasaannya langsung tidak enak. Dan benar saja ... Salah satu pegawai pengiriman berjalan mendekatinya sambil membawa map dokumen.
"Permisi," ucap pria itu sopan. "Kami mencari Tuan Sagara."
Tatapan Sagara langsung berubah datar. "Saya Sagara," jawabnya.
Pria itu tersenyum ramah lalu menyerahkan sebuah dokumen. "Seluruh peralatan ini dikirim atas nama Nona Naraya Dhanubrata untuk bengkel ini."
Suasana langsung hening beberapa detik.
Nama besar keluarga Dhanubrata jelas tidak asing di telinga mereka.
Andi yang tadinya masih sibuk memperhatikan mesin baru langsung menoleh cepat ke arah Sagara. Matanya membesar tidak percaya.
"Tunggu dulu ...," gumamnya pelan. "Jangan bilang semua ini dikirim cewek yang tadi pagi ngirimin lu motor itu?"
Beberapa montir lain ikut menatap Sagara penuh rasa penasaran.
Sagara sendiri langsung menghembuskan napas berat sambil menatap deretan alat-alat mahal di depannya. Rahangnya mulai mengeras. "Wanita itu benar-benar keras kepala," gumamnya dalam hati.
**** bersambung