Dipaksa pamannya menikah setelah lulus SMA, kehidupan Andara yang sudah yatim piatu tidak menjadi lebih baik.
Setelah difitnah sudah tidak perawan, dituduh berzinah saat hamil setelah 3 bulan menikah, Andara menjadi janda di usia sembilanbelas tahun.
Penderitaan tidak berhenti di situ, rumah peninggalan orangtua Andara diambil paksa oleh keluarga Irfan, mantan suaminya dengan alasan melunasi hutang-hutang orangtua dan paman Andara.
Dikucilkan karena dianggap aib dan pembawa sial membuat Andara memutuskan untuk mengadu nasib ke Jakarta dalam keadaan hamil.
Bagaimana kehidupan Andara selanjutnya ?
Apakah nasib Andara bisa berubah setelah bertemu dengan bayi Lily yang kehilangan ibunya saat ia dilahirkan ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Meski sudah menduga akan terjadi keributan antara Deswita dan Baskara, tetap saja Rio menggerutu saat tidurnya diganggu oleh kedatangan Aji.
Pasalnya jarang-jarang Baskara membiarkan Rio hidup tenang tanpa gangguan pesan dan telepon dari Baskara.
“Kenapa kamu membiarkan Baskara mengusir perempuan itu ?”
Meski suara Deswita menggelar, Rio tetap tenang malah ia membuang muka sambil menutupi mulutnya yang menguap lebih dari dua kali.
“RIO !”
“Maaf Nyonya, sepertinya nyawa saya belum terkumpul semua.”
Mata Deswita membelalak tapi Rio malah nyengir kuda sambil mengusap tengkuknya.
“Pak Bas tidak mengusir Andara. Dia sendiri yang mengundurkan diri dan memutuskan untuk pergi sebelum Daisy pulang sekolah.”
“Aku minta padamu untuk mejauhkan dia dari Baskara tapi bukan berarti membuatnya pergi !”
“Maafkan saya Nyonya.”
“Aku memang bukan oma yang baik tapi mana mungkin aku tega membiarkan kedua anak itu menangis seharian karena mendadak ditinggal pergi oleh perempuan yang dianggap ibu bagi mereka.”
Rio mengakui apa yang dikatakan Deswita memang betul. Tadi Rio sempat mencegah Andara pergi tapi perempuan itu meyakinkan kalau Lily akan baik-baik saja karena semuanya sudah ia persiapkan termasuk menggantikan ASI dengan susu formula.
“Kamu tidak memasang pelacak di handphonenya ?” tanya Deswita sambil memijat pelipisnya yang mulai berdenyut.
“Sepertinya Andara mematikan handphonenya.”
Deswita menghela nafas. “Temukan perempuan itu secepatnya. Kalau memang Baskara tidak mau dia ada di rumah ini, aku akan membawa Daisy dan Lily untuk tinggal di rumah kami.”
Pernyataan Deswita membuat mata Rio membola, rasa kantuknya langsung hilang.
“Jangan menatapku seperti itu !” tegur Deswita balas melotot
“Maaf Nyonya.” Rio mengulum senyum dengan wajah tersipu.
“Atau sebaiknya aku serahkan kedua anak itu pada Mira ? Bagaimana menurutmu ?”
“Selama keduanya masih menggunakan nama Pradana sebaiknya nyonya yang membesarkan mereka.”
Desiwta menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya sedikit kasar.
*****
“Jadi akhirnya mama membawa mereka ke rumahnya ?” tanya Baskara dengan wajah sumringah bahkan sejak tadi pria itu banyak tersenyum.
Berita tentang keputusan Deswita membawa Daisy dan Lily ke rumahnya membuat hati Baskara senang.
Tidak ada rasa simpati sedikit pun padahal di atas kertas, kedua bocah itu adalah anak kandungnya, menyandang nama besar Pradana sebagai nama keluarga.
“Nyonya Deswita merasa kerepotan kalau harus bolak balik mengawasi nona Daisy dan nona Lily.”
“Kalau memang yakin mereka cucu kandung seharusnya mama tidak perlu menunggu sampai tiga hari. Selalu saja keras kepala !” sinis Baskara.
“Nyonya masih berharap Andara ditemukan dan bisa kembali me…..”
“Berhenti mencari perempuan kampung itu !” Suara Baskara tiba-tiba meninggi bahkan rahangnya ikut mengeras.
“Berpikirlah rasional ! Bisa-bisa dia tambah besar kepala kalau tahu mama memintanya untuk kembali bekerja.”
“Baik Pak.”
“Anggap saja kamu sudah mencarinya namun tidak ketemu. Siapa yang menjamin kalau dia masih di Jakarta ? Buang-buang waktu saja ! Seharusnya mama bisa mencari orang baru asal mau bayar lebih mahal.”
Rio memilih diam karena kalau sudah bicara soal Andara, pendapatnya selalu berseberangan dengan Baskara.
Menurut pendapat Rio pribadi sebetulnya hati Baskara tidak sebenci ucapannya pada Andara. Kalau saja Baskara mau bicara jujur, pembawaannya malah lebih baik dan tidak gampang emosi saat bersama Andara.
Handphone Baskara berdering. Rio sengaja menjaga jarak untuk memberikan privasi pada bossnya.
“Halo sayang.”
Sapaan Baskara yang mesra dan tidak dibuat-buat membuat Rio terkejut.
Saat perjalanan dinas selama 2 minggu Baskara sering menghindari telepon Savira dan kalau pun diangkat, pria itu selalu punya seribu satu alasan untuk mempersingkat pembicaraan.
Bahkan dalam satu dua kali kesempatan Baskara pernah mengungkapkan keraguannya untuk melanjutkan hubungan dengan Savira.
Perasaan cintanya sudah tidak sama bahkan kadang-kadang Baskara merasa hambar, tidak ada gairah seperti sebelum Savira pergi ke Perancis.
Keraguan Baskara itulah yang membuatnya menunda pernikahan.
Tapi sekarang……
“Aku pergi makan siang dulu dengan Savira,” ujar Baskara sambil berbalik badan.
“Apa rapat nanti sore perlu dtunda ?”
“Tidak usah !” Baskara menggeleng. “Aku akan kembali sebelum jam 3.”
“Baik Pak.”
“Tolong siapkan apa saja yang perlu aku tanyakan pada mereka,” ujar Baskara sambil menepuk bahu Rio dan kembali ke arah lift.
Sambil menghela nafas Rio melangkah ke arah berlawanan. Ia masih sempat mendengar bunyi lift yang tiba di lantai 7.
Tidak aneh kalau nyonya Deswita menganggap anda tidak dewasa dan sulit memberikan kepercayaan pada anda pak Bas.
Gara-gara Baskara terburu-buru, Rio sampai lupa menghubungi sopir untuk membawa mobil ke lobi. Tapi selama Baskara tidak menghubunginya, Rio yakin semuanya baik-baik saja.
Ternyata Baskara pergi tanpa membawa sopir. Sebenarnya yang membuat hatinya benar-benar bahagia bukanlah telepon Savira yang mengajaknya makan siang tapi keputusan Deswita membawa Daisy dan Lily tinggal di rumahnya.
Baru kali ini Baskara merasa jadi pemenang karena bisa membuat Deswita menyerah, tidak memaksakan kehendak pada Baskara
Sepanjang perjalanan yang lengang berkali-kali Baskara tersenyum menandakan hatinya benar1benar sedang bahagia.
Hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai di tempat yang dpilih Savira.
Melihat masih ada waktu, Baskara memutuskan untuk parkir sendiri, tidak menggunakan jasa valet. Mobil diarahkan ke parkiran basement, untungnya ada tempat kosong persis di dekaf lift.
Baru saja Baskara mematikan mesin mobil, matanya menangkap pemandangan yang tidak terduga.
Savira sedang berbicara dengan seseorang. Posisinya seperti orang bersembunyi dan cukup sering kepalanya beredar, memastikan tidak ada orang yang melihat.
Seharusnya Savira bisa melihat mobil Baskara dari tempatnya berdiri tapi sepertinya perempuan itu tidak sadar sama sekali.
Lawan bicaranya seorang pria, memakai topi hitam tanpa kacamata tapi sayang posisinya membelakangi Baskara.
Penasaran, Baskara menghubungi nomor Savira. Bunyinya bergaung di dalam basement yang tenang, tanpa suara mobil.
“Maaf aku mungkin terlambat,” ujar Baskara membuka percakapan.
“Tidak apa-apa sayang, sepertinya aku lebih terlambat . Tadi sempat tertahan oleh tamunya papa., tidak enak kalau buru-buru pergi.”
“Hhhhmmmm….. Sampai ketemu nanti.” Baskara memutus pembicaraan tanpa menunggu Savira menyelesaikan ucapannya.
Penasaran siapa pria itu, Baskara siap mengambil foto dengan handphonenya, menunggu sampai wajah pria itu kelihatan.
Lama-lama pegal Baskara hampir menyerah tapi keberuntungan berpihak padanya. Tiba-tiba saja pria iti melepas topinya dan berbalik badan.
Secepatnya Baskara mengambil beberapa foto, bukan hanya pria itu tapi Savira juga. Tanpa sadar Baskara menghela nafas, suasana hatinya yang sedang bahagia berubah lagi.
Sempat terpikir untuk membatalkan janji makan siang tapi niat itu diurungkannya. Baskara malah tertarik ingin menguji kejujuran Savira dan kebohongan apa saja yang akan diceritakan perempuan itu.
Begitu pria itu pergi, Savira langsung menghubungi nomor Baskara.
“Sayang, aku sudah sampai,” ujar Savira dengan nada manja.
“Sebentar lagi aku sampai,” bohong Baskara.
Setelah Savira sudah tidak terlihat lagi, Baskarra baru turun dari mobilnya.
Sambil menunggu lift, ia mengirimkan foto-foto ke nomor Rio untuk mencari tahu siapa pria yang tadi berbicara dengan kekasihnya.
Betapa terkejutnya saat membaca informssi dari Rio bahkan Baskara menerima kiriman video dari asistennya.
Apa yang sebetulnya kamu ingjnkan ? Apa mungkin situasi semacam ini yang membuat hatiku sering merasa hambarz