Mita tidak pernah menyangka, satu ajakan sederhana dari suaminya akan mengubah segalanya.
Reuni sekolah yang seharusnya menjadi malam biasa justru membuka luka yang tak pernah ia sadari sebelumnya. Di tengah keramaian, Mita berdiri di samping Rio--namun terasa seperti tidak pernah ada. Terlebih saat Rio kembali bertemu dengan cinta pertamanya... dan memilih tenggelam dalam masa lalu.
Ditinggalkan tanpa penjelasan, Mita justru dipertemukan dengan Adrian-teman lama sekaligus rekan kerja Rio. Sosok yang dulu hanya sekadar kenangan, kini hadir sebagai satu-satunya orang yang benar-benar melihatnya.
Dan Reuni itu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rachmaraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Mita melamun di ruang tunggu saat menunggu Adrian datang untuk menjemput. Tiba-tiba saja ia merasa tidak enak badan menjelang sore. Mungkin efek kelelahan makanya tubuhnya demam lalu drop.
Ia merebahkan kepalanya di atas meja, memejamkan matanya supaya tenang. Namun, pikiran tentang ucapan Rio selalu membayanginya.
"Jangan nikah sama Adrian, Ta. Aku mohon."
"Kenapa? Kok kamu ikut campur? Istrimu tau kalau kamu kesini?" Mita rasanya kesal sekali.
"Istri nggak tau. Aku kesini karena memang harus ketemu kamu. Aku—nyesel ninggalin kamu dulu, Ta. Aku ingin ceraikan istri ku dan... Ingin rujuk sama kamu." Rio mengatakannya tanpa rasa bersalah dan menyesal sama sekali.
"Hah! Gila kamu ya! Mendingan pulang sana. Nggak usah ngawur. Imajinasi kamu terlalu tinggi. Aku masih harus kerja." Mita berbalik tapi tangannya ditahan.
"Tunggu! Tunggu, Ta." Rio membalik tubuh Mita supaya kembali menatapnya.
Mita menepis sentuhan Rio. Seperti orang yang kena kotoran, ia membersihkan tangannya tempat Rio tadi menyentuhnya.
"Ya... Ampun, Ta. Sejijik itu kamu sama aku?"
"Aku nih harus kerja. Aku nggak mau dapet peringatan gara-gara kamu yang nggak jelas gini!" Mita mendelik sebal.
"Kalau kamu dipecat, biar aku yang tanggung jawab penuh atas dirimu," ucap Rio lagi.
Tak habis pikir, Mita hanya menggeleng jengah.
"Aku udah lama mau kembali sama kamu. Kamu tuh istri terbaikku. Kamu bisa mengerti aku, meskipun aku sedang dalam kesulitan finansial. Kamu yang nerima aku tanpa mengeluh. Aku minta maaf, Ta. Aku nyesel banget udah ceraikan kamu. Kita bisa rujuk kan? Aku janji akan memperbaiki diriku dari sebelumnya. Aku janji akan membahagiakan kamu, Ta. Kalau kamu bilang iya, besok aku akan ceraikan istri ku," jelasnya panjang lebar dengan wajah memelas.
"Kamu perlu ke rumah sakit deh. Periksa otak kamu. Meskipun aku nggak nikah dengan Adrian, sampai kapan pun, aku nggak mau rujuk sama kamu. Pergi dan jangan pernah datang lagi!" Mita benar-benar berbalik dan meninggalkan Rio yang masih saja meneriaki namanya.
Sesampainya di dalam toko, tubuhnya gemeteran hebat. Rasa mual dan sakit kepala hebat melandanya. Untungnya Bu bos memahami situasi Mita.
"Pulang aja, Ta. Ambil cuti. Kamu kayaknya emang butuh waktu untuk istirahat. Besok kan Minggu, nah istirahat deh, Senin masih cuti juga nggak apa-apa. Biar aku yang handel toko. Nanti kalau udah merasa lebih baik, baru masuk lagi."
"Makasih banyak, Bu." Mita bersiap untuk pulang karena Adrian sudah menunggu. "Saya pamit pulang ya, Bu. Maaf udah ngerepotin."
"Ngerepotin apaan deh. Nggak lah. Udah sana istirahat. Kasian calonmu nungguin."
Mita keluar ruangan istirahat dan melihat Adrian berdiri gelisah. Saat mata mereka bertemu, Adrian bergegas menghampiri dan mengambil alih tas Mita.
"Bu, saya izin bawa pulang Mita untuk istirahat dulu di rumah," ucap Adrian pada Bu bos.
"Oh, iya, Mas, silakan. Mita memang harus istirahat banyak. Hati-hati di jalan."
Adrian menjaga Mita supaya tidak jatuh ke lantai atau aspal. Lalu, buru-buru membuka pintu mobil supaya Mita bisa masuk dengan nyaman.
Tanpa Adrian sadari, ada sosok Rio yang sedang memperhatikan dari sebrang sambil makan siomay.
。◕‿◕。
Selama perjalanan Adrian tidak banyak mengajak Mita untuk ngobrol. Karena ia khawatir, jadi membiarkannya istirahat. Hingga akhirnya mereka sampai di rumah Adrian.
Adrian mengecek kening Mita dengan punggung tangannya. Panas.
"Sayang... Maaf ya bangunin kamu. Pindah ke dalam aja yuk," ajak Adrian dengan nada yang lembut dan hati-hati.
Mita dengan amat berat membuka matanya. Tubuhnya rasanya lemas seperti tak bertulang, kepalanya berat dan pusing. Ia mencoba senyum.
"Masuk ke rumah aja. Istirahat di dalam. Nanti aku masakin bubur buat makan dan kamu minum obat." Adrian mengusap pipi Mita dengan lembut.
"Mas, maaf ya, ngerepotin," ucap Mita pelan.
Adrian menggeleng, "sama sekali nggak repotin. Aku bersyukur nggak lagi dinas luar. Jadi, aku bisa jemput kamu. Masuk?"
Mita mengangguk.
Mereka pun turun dari mobil. Adrian berlari ke arah Mita untuk membantunya berjalan sampai ke dalam rumah.
"Langsung masuk ke kamar aja. Tidur di kamar," titah Adrian yang langsung membimbing Mita ke arah kamarnya.
Saat berjalan ke arah kamar, Mita merasa de javu dengan kejadian beberapa waktu lalu. Saat mereka hampir bercinta di kamar ini. Bibirnya tersenyum dan ia pun berbaring.
"Senyum senyum sendiri nih! Aku nggak diajak," tegur Adrian, melihat Mita yang tersenyum.
Mita mengulurkan tangannya dan meminta untuk dipeluk.
"Mau dipeluk, Mas."
Adrian tersenyum dan langsung memeluk tubuh Mita yang suhunya lebih hangat dari biasanya.
"Lekas membaik ya, Sayangku."
"Makasih, Mas. Oya, Mas... Aku mau cerita," kata Mita lagi.
Mita menceritakan tentang Rio yang datang ke toko siang tadi. Menceritakan semuanya dari awal hingga akhir. Seterbuka mungkin tanpa ada yang disembunyikan oleh Mita. Semua yang dikatakan Rio, ia utarakan pada Adrian.
"Astaga... Gila banget itu orang! Niatnya udah nggak bener. Aku harus ketemu Rio. Aku bakal kasih pelajaran ke dia sekalian aku kasih tau istrinya kalau hari ini dia nemuin kamu." Adrian mengusap wajahnya, dadanya rasanya panas sekali. Ia tidak menyangka, Rio akan segila ini.
"Kamu mau nemuin dia hari ini juga?" tanya Mita penasaran.
"Iya. Kalau besok-besok, bisa lebih nekat dari hari ini. Tapi, sebelum kesana, aku mau buat bubur dulu, supaya kamu bisa makan terus minum obat dan istirahat. Supaya demamnya turun. Untuk sementara, kamu jangan mikirin apapun ya? Tolong pikirin diri kamu aja." Adrian mengecup kening Mita dan mengusap kepalanya dengan lembut. "Jangan khawatir, ini ujian menuju pernikahan kita. Kalau kita saling percaya, insyaallah kita bakalan mampu lewatinya."
Mita mengangguk dan masuk ke dalam dekapan Adrian. Rasanya hangat dan nyaman.
"Aku sayang sama kamu, Mas."
Ini adalah ungkapan isi hati Mita yang pertama diucapkan, setelah beberapa bulan bersama. Adrian tersenyum lebar sambil membubuhkan kecupan di puncak kepala Mita.
"Aku juga sayang banget sama kamu, Dek. Aku berharap kamu kuat ya."
Mita menjauhkan kepalanya dan menatap wajah Adrian dengan sayu. "Mas...."
"Hmm? Ada apa?"
"Boleh nggak, kalau udah nggak demam—ehm..."
"Kenapa, Sayang? Kok bimbang gitu? Ada yang mau dimakan? Dibeli? Bilang aja." Adrian menangkup wajah Mita yang kini sudah memerah. Entah karena demam atau memang sedang malu.
"Eehmm... Kita—bercinta."
"Apa? Maksudnya bercinta? Making love?" Meskipun agak shock, jauh di lubuk hati Adrian, girang bukan main. Ini sebuah undangan yang mubazir untuk ditolak.
Mita mengangguk dan malu. "Ah, kepalaku pusing. Aku tidur dulu ya, Mas." sambil menutup wajahnya dengan selimut.
Adrian menarik selimut itu untuk memastikan kalau Mita bicara serius. "Sayang... Kamu serius? Apa kamu sebenarnya ngelindur karena demam?"
[]