Di sekolah, semua orang mengenal Aurora Kayanza sebagai gadis yang selalu mengejar uang. Baginya, uang bisa menyelesaikan banyak hal, bahkan menjadi alasan untuk menerima tantangan paling nekat sekalipun. Demi imbalan yang menggiurkan dari teman-temannya, Aurora setuju melakukan satu hal yang dianggap mustahil—mendekati cowok paling dingin dan sulit disentuh di sekolah mereka.
Namun semuanya berubah ketika Aurora tiba-tiba menemui Gama di rooftop sekolah dan tanpa ragu mengajaknya berpacaran.
Ajakan yang awalnya hanya dianggap permainan dan tantangan perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit. Di balik sikap dingin Gama, tersimpan luka dan rahasia yang tidak diketahui siapa pun. Sedangkan Aurora mulai terjebak di antara uang, rasa bersalah, dan perasaan yang tumbuh tanpa ia sadari.
Hubungan yang dimulai karena kepentingan itu perlahan mengubah hidup mereka berdua, membawa Aurora dan Gama pada kisah penuh rahasia, konflik sekolah, perasaan yang tak pernah mereka rencanakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xylona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN 19.
Aurora yang sedang bersantai kembali ke kamarnya setelah acara sarapan pagi beres. Di saat sedang bersantai Arkan adiknya mengetuk pintu dengan tak sabaran.
Dengan kesal Aurora bangkit berdiri dan membukakan pintu kamarnya yang memang selalu Aurora kunci.
"Apa sih?."
"Itu di bawah ada cowok lo." Ketus Arkan, setelah menyampaikannya Arkan melenggang pergi begitu saja.
Aurora tidak langsung turun, tidak menyangka bahwa Gama akan kesini di pagi buta.
Karena mereka sama sekali tidak ada janji apapun hari ini, bahkan karna kemarin ia dan Gama tidak bisa berbicara tidak ada kelanjutan lagi setelah itu.
Aurora buru buru merapihkan penampilan yang masih kayak gembel meski belum mandi asalkan rapi enak di pandang, melihat ke cermin takut masih ada belek yang nempel di sisi matanya. Setelah siap Aurora turun ke bawah untuk menemui Gama.
Dan entah kenapa jantungnya terus berdetak tidak karuan.
Padahal ia hanya ingin menemui Gama yang sejak tadi berada di teras rumah bersama ibunya. Namun semakin dekat langkahnya menuju teras, semakin sulit Aurora mengendalikan dirinya sendiri.
Tangannya bahkan terasa dingin.
Dari balik tirai tipis ruang tamu, sosok Gama terlihat duduk santai dengan tubuh tinggi yang sedikit bersandar pada kursi kayu. Wajahnya tetap datar seperti biasa, mendengarkan ibunya berbicara sesekali sambil mengangguk pelan. Tidak banyak ekspresi, tetapi justru itu yang membuat Aurora semakin gugup tanpa alasan jelas.
Aurora tidak mengerti kenapa kehadiran laki-laki itu perlahan membuat suasana rumah yang biasa terasa berbeda. Bahkan hanya untuk menghampirinya saja, ia harus berkali-kali mengatur napas agar terlihat tenang.
"Nah, nih orangnya datang." Ujar Ibu Larasati.
Tatapan Gama langsung mengarah tepat di mata Aurora.
"Makanya kalau pagi tuh langsung mandi bukannya malah tidur lagi." Ibunya malah mengomel, tidak melihat bahwa Aurora sedang menahan malu karna ucapan ibunya yang blak-blakan.
"Gih mandi sana masa mau main keluar nggak mandi, ih jorok." Tukas ibunya.
"Emang siapa yang mau keluar." Bela Aurora.
"Loh, bukannya kalian sekarang mau main?."
Gama tersenyum kecil menimpali." Saya ke sini nggak ngabarin dulu Aurora bu, mau ngajak keluar."
"Oh... pantes, yaudah sana kamu mandi dulu."
"Nak Gama masuk dulu, nunggunya di dalem aja." Ajak Ibu Larasati.
Gama menggeleng pelan." Nggak usah bu, saya di sini aja mau ngadem."
"Oh yaudah deh, kamu suka teh atau kopi?." Tanya Ibu Larasati.
Gama yang merasa sungkan mencoba menolak tawaran ibu Larasati." Eh, nggak usah bu."
"Nggak apa apa, mau kopi atau teh?."
"Teh aja bu." Akhirnya karna paksaan Gama dengan malu menerima tawarannya.
Ibu Larasati mengangguk." Yaudah ibu siapin dulu ya."
Aurora kembali ke kamarnya untuk mandi, setelah menghabiskan waktu sekitar hampir satu jam lebih lamanya, Aurora mematut dirinya di cermin untuk melihat penampilan dirinya.
Aurora berdiri cukup lama di depan cermin, sesekali menarik ujung dress yang ia pakai. Gaun panjang berwarna abu muda itu jatuh longgar sampai bawah kaki, kainnya tipis dan ringan, membuat setiap gerakan kecil terlihat lembut. Bagian roknya bertumpuk pelan, memberi kesan manis tanpa terlihat terlalu berlebihan. Ada pita kecil di sisi pinggang yang membuat tampilannya terlihat sederhana tapi tetap cantik.
Dipadukan dengan sepatu putih dan kaus kaki tinggi, penampilannya terlihat seperti gadis yang sederhana tapi tetap menarik dilihat. Bukan tipe yang mencolok, tapi justru punya pesona kalem yang susah diabaikan.
Entah kenapa, tiba-tiba muncul rasa aneh di dadanya—sejenis gugup kecil yang sulit dijelaskan, seolah ia diam-diam berharap seseorang memperhatikan penampilannya.
Aurora menggeleng dengan pikirannya sendiri untuk apa ia berharap padanya, Aurora berpenampilan seperti ini untuk dirinya sendiri bukan untuk yang lain.
Aurora turun ke bawah untuk menemui Gama yang sedang menunggunya mungkin terlalu lama.
Dan benar saja dugaannya Aurora karna melihat ibunya memandang ke arahnya dengan tatapan melotot.
Aurora meringis merasa bersalah telah membuat Gama menunggu lama bahkan saking lamanya teh yang tadi di siapkan oleh ibunya hampir tandas.
"Kebiasaan kamu kalau mau kemana mana suka lama." Omel ibu Larasati.
Aurora cemberut." Kan aku harus mandi terus belum dandan dulu."
"Ya masa lama banget hampir satu jam lebih, kasian nak Gama nungguin kamu yang ngaret kayak gini."
Aurora hendak protes. Tapi, Gama segera menyela Aurora." Nggak apa apa bu, namanya juga perempuan, mungkin mau terlihat cantik."
Entah kenapa Aurora menjadi salah tingkah menahan senyum yang ingin terbit di bibirnya.
Gama yang melihat tingkah Aurora yang menahan senyum menjadi gemas sendiri.
"Yaudah bu, saya izin mau bawa Aurora sebentar." Pamit Gama.
"Lama juga Nggak apa apa."
Aurora mendelik seolah ibunya menjual Aurora kepada Gama.
Gama tertawa kecil mendengar respon cepat dari ibu Larasati.
Setelah berpamitan dengan ibu Larasati Gama dan Aurora akhirnya berangkat meninggalkan perkarangan rumah Aurora.
Selama perjalanan yang entah kemana Aurora dan Gama tidak ada yang memulai percakapan diam membisu seperti tidak ada manusia lain di sisi Aurora.
Tak di sangka mobil Gama berhenti di tempat parkir Mall elit, Aurora yang bingung memandang Gama yang sedang membuka seatbelt dan membuka pintu mobil. Aurora yang masih di dalam belum bisa mencerna semuanya, di kejutkan dengan Gama yang membuka pintu mobil di samping Aurora dan bahkan sampai membuka seatbeltnya.
"Turun—atau mau gue gendong?."
Aurora mendelik sinis apa apaan gendong gendong di kira ia masih anak anak apa main gendong.
Akhirnya Aurora keluar merapihkan pakaiannya takut ada yang kusut.
Mereka berjalan di Mall mengelilingi tanpa tujuan yang jelas, Aurora yang lelah dengan suasana canggung ini memulai percakapan.
"Ini kita mau kemana?." Tanya Aurora akhirnya.
"Nanti juga lo tau sendiri."
"Ish." Decak Aurora tidak puas dengan jawaban Gama yang terlalu cuek.
Hening kembali dengan masih mereka berjalan di sekitar Mall elit itu, seketika Gama berbelok ke store handphone Samsung. Aurora hanya mengikuti kemana langkah Gama.
Aurora seketika terbayang di benaknya kapan ia bisa membeli handphone keinginannya, tapi itu hanya harapan semu yang tidak mudah terwujud.
"Saya ingin handphone Samsung Galaxy S26 Ultra." Ujar Gama enteng tanpa tanya dulu harganya berapa, memang orang kaya itu beda.
"Mau warna apa mas?."
"Warna abu."
"Okay saya siapkan di sana mas bisa di san buat cek handphonenya."
Gama mengangguk dan mengajak Aurora ke sana juga.
Aurora hanya bengong melihat orang kaya sedang berbelanja, dan pikirannya merancang masa depan yang cerah. Kapan ia kaya supaya apa yang ia mau bisa membelinya tanpa melihat harga, seperti yang tadi Gama lakukan.
Aurora di buat sesak napas mendengar harganya seharga motor dan kalian ingin tahu berapa harganya Rp 31.999.000, tiga puluh satu juta lebih hanya untuk sebuah handphone. waw Aurora buat speechless.
Setelah transaksi selesai Gama keluar store Samsung, membawa Aurora ke tempat taman yang ada di Mall ini mereka duduk di pojok dekat pohon menghalangi sinar matahari yang mulai terik.
"Nih." Ujar Gama sembari menyerahkan totebag yang tadi Gama beli.
Aurora diam tanpa mengambilnya." Hah? apa?."
"Buat lo."
Aurora menggeleng menolak buat apa Gama membelikan handphone untuknya.
"Gue yang udah rusak in hp lo, dan gue harus tanggungjawab buat gantiin."
"Gue juga mau minta maaf atas kejadian tempo lalu, gue bener bener kelepasan waktu itu—karna lo mau putus dari gue." Jelas Gama.
Aurora diam seolah kata yang ingin ia keluar tertahan di tenggorokannya.
"Mau kan lo maafin gue?." Gama memandang dalam dan tulus ke arah Aurora.
Aurora memalingkan wajahnya malu di tatap seperti itu oleh Gama, entah kenapa pipinya tiba-tiba merasa panas apa karna cuaca sekarang sedang panas atau karna tatapan Gama yang dalam.
Aurora mengangguk tanpa memandang Gama.
"Tatap gue, dan bilang kalau lo udah maafin gue."
Aurora dengan pelan berbalik menatap Gama meski matanya masih berkeliaran tak tentu arah.
"Iya."
Gama tersenyum gemas dan mengusak rambut Aurora lembut.