NovelToon NovelToon
The Price Of Power

The Price Of Power

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Penyelamat
Popularitas:408
Nilai: 5
Nama Author: Kharisa Patasiki

Di balik kemegahan istana presiden, cinta hanyalah sebuah bidak yang dikorbankan demi takhta.

Adrian (Ian) menggunakan Rhea, seorang mahasiswi kedokteran, sebagai tunangan kontrak untuk membalas dendam pada ibu tirinya, Cansu. Namun, di balik kebencian itu tersimpan rahasia kelam tentang pengkhianatan dan pengorbanan yang dipaksakan oleh ambisi politik sang Perdana Menteri.
​Saat rahasia masa lalu terbongkar dan nyawa menjadi taruhan, mereka harus menyadari satu kenyataan pahit: di puncak kekuasaan, setiap kemenangan selalu meminta tumbal.
​Kekuasaan memiliki harga, dan mereka harus membayarnya dengan air mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kharisa Patasiki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: PASIR PUTIH DAN BAYANG-BAYANG MAWAR

​Pagi di pesisir pantai Anyer menyambut dengan simfoni ombak yang tenang. Ian memutuskan untuk membawa Rhea menjauh sejenak dari pengapnya aroma rumah sakit dan debu Jakarta. Ini adalah bagian dari rencana "hidup normal" yang sedang ia susun, meski bagi seorang Adrian Diningrat, "normal" berarti menyewa satu area pantai privat agar tidak ada orang yang mengganggu privasi mereka.

​Rhea berjalan bertelanjang kaki di atas pasir yang masih dingin. Ia menenteng sandalnya, membiarkan ujung gaun musim panasnya yang berwarna biru muda tertiup angin laut. Di sampingnya, Ian berjalan dengan gaya yang jauh lebih santai—celana linen putih dan kemeja biru navy yang kancing atasnya dibuka.

​"Aku tidak menyangka kamu tahu tempat seindah ini, Ian," ucap Rhea, menghirup aroma garam dan kebebasan yang pekat.

​Ian hanya tersenyum tipis. "Dulu, tempat ini adalah pelarian bagiku saat tekanan dari kakek terlalu berat."

​Langkah kaki Ian melambat saat mereka mendekati sebuah pohon ketapang besar yang condong ke arah laut. Angin yang berdesir di antara dedaunan seketika memicu sebuah memori yang sudah lama terkubur di bawah lapisan dendam dan luka.

​Memori 15 Tahun Lalu...

​Di pantai yang sama, namun dengan suasana yang lebih liar, seorang remaja laki-laki bernama Adrian sedang mengejar seorang gadis remaja yang tertawa riang. Gadis itu adalah Cansu, versi yang belum tersentuh oleh ambisi busuk Pradikta Kusuma.

​Cansu remaja adalah definisi mawar putih yang murni. Ia mengenakan terusan putih sederhana dengan pita rambut senada. Wajahnya berseri, kulitnya merona karena sinar matahari, dan matanya memancarkan binar kejujuran yang menawan. Ia tidak butuh riasan tebal atau perhiasan zamrud untuk terlihat elegan; keanggunannya bersifat alami, seolah ia memang dilahirkan untuk menjadi pusat perhatian dunia.

​"Adrian! Tangkap aku kalau bisa!" teriak Cansu sambil berlari di antara buih ombak.

​Saat Adrian berhasil menangkap tangannya, Cansu berbalik dan menatapnya dengan tatapan yang begitu tulus. "Berjanjilah, Adrian. Apapun yang terjadi nanti, jangan pernah biarkan dunia mengubah kita."

​Saat itu, Cansu adalah bunga mawar yang sedang mekar dengan indahnya. Namun, Ian tahu bagaimana mawar putih itu perlahan-lahan dicelupkan ke dalam tinta hitam oleh ayahnya sendiri, hingga kelopaknya mengeras menjadi duri yang mematikan saat ia dinobatkan sebagai Ibu Negara.

​"Ian? Kamu melamun?"

​Suara lembut Rhea membuyarkan lamunan Ian. Ia tersentak, menyadari bahwa ia telah berhenti melangkah cukup lama. Ian menatap Rhea, lalu menatap laut lepas. Ada rasa sesak yang aneh; rasa kasihan pada Cansu yang harus kehilangan jiwanya, namun juga rasa syukur karena kini ada sosok lain di sampingnya.

​"Hanya teringat masa kecil," jawab Ian singkat. Ia meraih tangan Rhea, menggenggamnya erat seolah ingin memastikan bahwa ia tidak sedang hidup di masa lalu. "Ayo, matahari mulai naik. Kulitmu bisa terbakar."

​"Tunggu dulu!" Rhea menarik tangan Ian. "Aku ingin membuat sesuatu."

​Rhea berlutut di pasir dan mulai menggambar sesuatu dengan jarinya. Ian memperhatikannya dengan kening berkerut. Rhea menggambar dua karakter stik yang bergandengan tangan, dengan tulisan besar di bawahnya: Rhea & Ian (Bukan Kontrak).

​"Kekanak-kanakan," cibir Ian, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyum yang tak bisa ia sembunyikan.

​"Memang. Tapi ini nyata," balas Rhea bangga. "Pasir mungkin akan menghapusnya, tapi laut menyaksikannya."

​Sementara itu, di mansion pegunungan, suasana "normal" yang diharapkan Ian berubah menjadi medan perang komedi.

​Mbok Yem, Pak Totok, Yusuf, dan Vier sedang sibuk menyiapkan kejutan ulang tahun Rhea yang akan dirayakan sepulangnya mereka dari pantai. Masalah utamanya adalah: Mereka tidak bisa menyepakati tema pesta.

​"Pokoknya harus ada nasi tumpeng! Itu simbol keberkahan!" seru Mbok Yem sambil mengacungkan centong nasi.

​"Mbok, Nona Rhea itu anak muda kekinian. Harus ada standing party dengan canape dan mocktail," sanggah Yusuf sambil menunjuk tabel rencana di tabletnya. "Tuan Muda sudah memesan dekorasi minimalis modern."

​"Minimalis itu artinya pelit, Mas Yusuf!" sahut Pak Totok yang sedang sibuk memasang kabel lampu hias di pohon. "Lebih baik kita pasang lampu warna-warni yang bisa kedap-kedip seperti di pasar malam. Biar ramai!"

​Vier yang sedang duduk di atas meja dapur sambil mengemil kacang, hanya menggeleng-gelengkan kepala. "Kalian semua salah. Kak Ian itu orangnya kaku. Kalau kalian buat acara aneh-aneh, bisa-basi besok kita semua dipecat dan dikirim ke perkebunan teh di pelosok."

​Tiba-tiba, suara klakson mobil terdengar dari depan.

​"Aduh! Mereka sudah pulang!" teriak Mbok Yem panik. "Lampu! Matikan lampu!"

​"Belum selesai, Mbok! Kabelnya masih telanjang!" seru Pak Totok.

​Breeeet!

​Suara korsleting listrik terdengar, dan seketika seluruh mansion menjadi gelap gulita tepat saat pintu depan terbuka.

​Ian dan Rhea melangkah masuk ke dalam rumah yang sunyi dan gelap.

​"Listriknya padam?" tanya Rhea heran.

​Ian langsung siaga. Ia menarik Rhea ke belakang punggungnya, tangannya meraba saku belakang—kebiasaan lama sebagai orang yang selalu diincar musuh. "Tetap di belakangku, Rhea."

​Ian berjalan perlahan menuju ruang tengah. "Yusuf? Pak Totok?"

​Hening.

​Tiba-tiba, cahaya lilin kecil muncul dari arah dapur. Namun, bukan suasana romantis yang terlihat. Di balik lilin itu, wajah Mbok Yem terlihat sangat menyeramkan karena pencahayaan dari bawah.

​"SELAMAT ULANG TAHUN!" teriak mereka serentak, namun suaranya pecah karena kaget.

​Pak Totok yang panik karena kabelnya masih bermasalah, tidak sengaja menyenggol ember berisi air siraman bunga, membuat airnya tumpah tepat mengenai kaki Yusuf. Yusuf yang kaget refleks melakukan gerakan bela diri, membuat tablet mahalnya terbang dan mendarat di atas kue ulang tahun yang baru saja dikeluarkan Mbok Yem.

​Plakkk!

​Kue cokelat itu hancur tertimpa tablet.

​Rhea terdiam. Ian memijat pangkal hidungnya, mencoba menahan emosi yang bergejolak antara ingin marah atau tertawa.

​"Yusuf... tabletmu baru saja mencicipi kue ulang tahun Rhea," ucap Ian datar.

​"Maaf, Tuan Muda. Ini di luar kalkulasi," bisik Yusuf, mencoba menarik tabletnya yang sudah berlumuran krim cokelat.

​Vier akhirnya menyalakan senter dari ponselnya. "Yah, selamat ulang tahun, Kak Rhea. Maaf, rumah ini isinya orang-orang aneh semua."

​Rhea, bukannya marah atau kecewa, justru tertawa terpingkal-pingkal sampai mengeluarkan air mata. Ia melihat Mbok Yem yang merasa bersalah, Pak Totok yang basah kuyup, dan Yusuf yang meratapi tabletnya.

​"Ini... ini kejutan terbaik yang pernah ada!" seru Rhea. "Terima kasih semuanya!"

​Ian menatap Rhea yang tertawa lepas, lalu menatap para pekerjanya yang berantakan. Ia menyadari bahwa kekacauan ini jauh lebih hangat daripada jamuan makan malam sempurna di istana yang penuh dengan kepalsuan.

​"Nyalakan genset, Pak Totok," perintah Ian lembut. "Kita akan makan malam dengan kue yang sudah hancur itu. Kurasa rasanya tetap sama."

​Malam itu, di tengah kegelapan yang perlahan diterangi lampu genset, mereka semua makan bersama di meja panjang. Ian duduk di samping Rhea, sesekali membersihkan sisa krim di sudut bibir gadis itu.

​Namun, di sela tawa mereka, Ian menyadari sesuatu. Ponselnya yang ia letakkan di meja bergetar. Sebuah notifikasi berita muncul:

​"Mantan Ibu Negara Cansu Alessandra Terlihat di Bandara Malpensa, Italia, Bersama Seorang Pria Misterius."

​Ian menatap layar itu sejenak, lalu meletakkannya dengan posisi terbalik. Masa lalu biarlah menjadi bagian dari laut yang menghapus lukisan pasir, karena sekarang, ia memiliki mawar yang nyata untuk ia jaga.

​"Selamat ulang tahun, Rhea," bisik Ian di telinga Rhea. "Terima kasih sudah membawaku pulang."

​Rhea tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Ian. Di rumah ini, mawar tidak perlu menjadi hitam atau putih; ia hanya perlu tumbuh dengan bebas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!