NovelToon NovelToon
GILA! IDOLA SMA-KU JADI ATASAN YANG GENIT BANGET

GILA! IDOLA SMA-KU JADI ATASAN YANG GENIT BANGET

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Idola sekolah
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Abu

Zea pernah diam-diam mencintai Bara, sang kakak kelas di SMA . Namun sebuah kejadian memaksanya pergi, meninggalkan perasaan itu tanpa sempat terungkap.

Sepuluh tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali dalam posisi yang berbeda yaitu Bara sebagai atasan dan Zea sebagai bawahan.

Perasaan lama yang Zea kira telah hilang, ternyata masih tersimpan rapi. Tanpa ia sadari, Bara pun menyimpan hal yang sama selama ini.

Namun waktu telah mengubah banyak hal. Rahasia masa lalu, jarak yang dulu tercipta, dan keadaan sekarang menjadi penghalang yang tak mudah dilewati.

Kini, keduanya harus memilih bertahan dalam diam, atau akhirnya memperjuangkan cinta yang sempat tertinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali dengan kesedihan

Hari berganti hari. Sudah hampir seminggu penuh Bara tidak masuk kantor. Selama itu pula Zea hanya bisa menunggu, mendoakan, dan sesekali menerima telepon singkat dari pria itu.

Suara Bara terdengar makin hari makin hancur, seolah beban di pundaknya semakin berat tak tertahan.

Hingga pagi ini...

Pintu ruangan utama terbuka perlahan. Suara engsel yang berdecit kecil seakan memecah keheningan yang mencekam.

Zea yang sedang merapikan berkas di meja, langsung menoleh kaget. Jantungnya serasa berhenti berdetak sesaat.

Bara berdiri di ambang pintu. Ia masih mengenakan setelan jas rapi yang sama, tapi auranya terlihat sangat berbeda. Wajahnya tampak lebih tirus, matanya sayu dan gelap, menandakan ia mungkin tidak tidur berhari-hari.

Tidak ada senyum miring yang biasa ia pasang, tidak ada tatapan tajam yang menakutkan, bahkan tidak ada aura dinginnya yang mengintimidasi.

Hanya ada kesedihan mendalam yang terpancar dari setiap inci tubuhnya. Seolah-olah ada bagian dari jiwanya yang baru saja hilang.

Zea langsung berdiri refleks, suaranya keluar pelan penuh rasa sayang dan khawatir.

"T-tuan Bara...? Tuan sudah datang?" tanya Zea terbata-bata.

Bara hanya mengangguk singkat tanpa menjawab sepatah kata pun. Wajahnya datar, namun matanya menyimpan luka yang tak terlihat.

Ia berjalan lemas menuju meja kerjanya yang besar, lalu mendudukkan tubuhnya dengan sangat pelan, seolah setiap gerakan terasa sangat menyakitkan.

Sepanjang pagi itu, suasana ruangan hening total. Mencekam namun menyedihkan.

Bara tidak memerintah, tidak marah, dan tidak mengajak mengobrol sama sekali. Ia hanya duduk menatap layar komputer atau menatap dokumen dengan pandangan kosong.

Sesekali ia menghela napas panjang yang terdengar sangat berat, seakan menghembuskan seluruh rasa lelahnya.

Zea mengerti betul situasi ini. Dia tahu pria itu sedang berusaha menata kembali kepingan hatinya yang hancur berkeping-keping.

Tanpa banyak bicara, Zea mulai bertindak.

Ia membuatkan teh hangat dengan rasa lebih manis dari biasanya, berharap bisa sedikit menghangatkan hati pria itu. Meletakkannya di meja Bara dengan sangat pelan agar tidak mengagetkan.

"Minum dulu ya Tuan... Biar hangat tenggorokannya." bisik Zea lembut.

Bara hanya menoleh sekilas, mengangguk tipis, lalu mengambil cangkir itu dengan tangan yang sedikit gemetar.

Tidak ada ucapan terima kasih, tapi tatapannya kali ini terlihat jauh lebih lembut dan penuh rasa butuh. Seolah Zea adalah satu-satunya cahaya di kegelapan yang ia rasakan.

 

Siang harinya, Zea tidak pergi ke kantin. Dia membeli makanan dan duduk diam di samping meja Bara, memastikan pria itu juga mau mengisi perutnya meski hanya suapan demi suapan.

"Makan sedikit aja ya... Nanti sakit kalau perut kosong terus. Papa Tuan pasti juga mau liat Tuan Bara sehat dan kuat kan?" ujar Zea pelan, berusaha menyemangati dengan nada yang paling lembut.

Mendengar kata 'Papa', bahu tegap Bara sedikit bergetar hebat. Ia cepat-cepat menunduk, menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca, berusaha menahan air mata agar tidak jatuh.

Tiba-tiba...

Bara mengulurkan tangannya di bawah meja, lalu menggenggam erat tangan Zea yang sedang berada di sana. Genggaman itu dingin, lemas, tapi mencengkeram sangat kuat seolah-olah dia sedang mencari pegangan hidup satu-satunya agar tidak tenggelam.

"Zea..." gumam Bara pelan, suaranya serak dan parau hampir tidak terdengar. "Terima kasih udah ada di sini. Maaf ya aku jadi pendiem dan gak jelas gini. Rasanya... rasanya kayak ada bagian dari diri aku yang ilang."

Air mata Zea hampir tumpah melihat pria sekuat dan sekeren itu selemah ini. Ia membalas genggaman tangan itu erat-erat, memberinya kekuatan sebanyak yang ia punya.

"Iya Tuan... Nggak apa-apa. Pelan-pelan aja. Saya di sini kok. Nggak ke mana-mana. Tuan mau diam, saya temenin diam. Tuan mau nangis, saya temenin nangis. Yang penting Tuan nggak sendirian." jawab Zea lembut dan tenang, berusaha menjadi pendengar dan sandaran terbaik.

Bara menatap mata Zea dalam-dalam, kali ini tatapannya penuh ketergantungan dan rasa syukur yang tak terhingga.

"Makasih ya... jadi sandaran aku sekarang." bisik Bara lirih.

 

Suasana di dalam ruangan sudah mulai sepi karena karyawan lain sudah pulang. Tinggal mereka berdua yang masih duduk berdampingan, tangan masih saling menggenggam erat tak ingin lepas.

Bara menatap wajah Zea dengan tatapan yang sangat dalam, lelah, namun perlahan berubah menjadi penuh kerinduan dan rasa memiliki. Matanya sayu, tapi ada api yang mulai menyala kembali di sana.

Dengan suara bergetar pelan, Bara mengajukan permintaan yang sangat manis dan memohon.

"Zea... Boleh nggak aku minta sesuatu?" ujar Bara lembut.

Zea menatapnya khawatir, ia mengangguk pelan siap membantu apa saja.

"Boleh, Apa yang bisa saya bantu?" jawab Zea.

Bara menarik napas panjang, mencoba menenangkan gejolak di dadanya, lalu menatap mata Zea tak berkedip.

"Aku lagi butuh banget kekuatan... Aku lagi butuh rasa hangat. Boleh... boleh aku peluk kamu sebentar aja? Cuma sebentar kok. Janji nggak bakal ngapa-ngapain." lanjut Bara penuh harap.

DEG!

Jantung Zea berdegup kencang bak genderang perang. Ia tahu betapa rapuhnya pria ini saat ini. Ia juga merasakan keinginan yang sama untuk memberi kenyamanan dan ketenangan.

Dengan wajah memerah dan hati yang berdebar hebat, Zea mengangguk sangat pelan.

"I... Iya Tuan, boleh." bisik Zea nyaris tak terdengar.

Seketika izin itu keluar, Bara langsung menarik tubuh Zea ke dalam pelukannya erat-erat. Tanpa ragu, tanpa jarak.

Ia memeluk wanita itu sangat kuat, seolah-olah takut jika dilepas sedikit saja Zea akan menghilang seperti hal-hal berharga lainnya dalam hidupnya. Kepalanya bersandar nyaman di bahu dan leher Zea, menghirup dalam-dalam aroma tubuh wanita itu yang wangi dan menenangkan jiwa.

"Hmm... Hangat banget... Rasanya beban di pundak aku ilang semua kalau lagi gini. Makasih ya sayang..." gumam Bara pelan di dada Zea, suaranya terdengar sangat lega.

Zea memejamkan mata, membiarkan dirinya dimiliki sejenak. Tangannya perlahan terangkat mengusap punggung lebar Bara pelan-pelan, berusaha menenangkannya sebaik mungkin.

"Ssst... Tenang ya. Saya di sini kok. Peluk aja sepuasnya." gumam Zea lembut.

Tapi... Suasana tenang dan haru itu perlahan berubah menjadi lebih hangat dan menegangkan.

Bara yang tadinya hanya diam memeluk, perlahan mulai menggerakkan tangannya dengan gerakan yang berbeda.

Satu tangannya naik memegang tengkuk leher Zea dengan lembut namun memilik, tangan lainnya mengerat di pinggang kecil wanita itu, menarik tubuh mereka semakin dekat hingga tak ada celah sedikitpun yang tersisa.

Wajahnya yang tadinya bersandar di bahu, perlahan terangkat mendekati wajah Zea.

Mata mereka bertemu. Jaraknya tinggal beberapa senti saja. Zea bisa merasakan napas Bara yang memburu dan hangat menyentuh wajahnya.

Tatapan mata Bara berubah total. Dari tatapan sedih dan rapuh, kini berubah jadi tatapan gelap penuh hasrat, rindu yang membara, dan keinginan yang tak bisa ditahan lagi.

"Zea... Kamu tau nggak... Dari tadi aku lagi berantem hebat sama diri aku sendiri." bisik Bara parau dan serak, matanya tajam menatap lurus ke bibir Zea.

Zea menelan ludah gugup, tubuhnya kaku karena jarak yang terlalu dekat dan aroma maskulin pria itu yang memabukkan.

"Be... Berantem kenapa Tuan?" seru Zea pelan, suaranya bergetar.

Bara tersenyum miring tipis, senyum nakal yang sangat khas dirinya, tapi matanya terlihat gelap dan menantang.

"Aku berantem sama nafsu aku sendiri... Aku janji cuma mau peluk, tapi sekarang... tangan dan hati aku minta lebih." lanjut Bara pelan namun penuh penekanan.

Tanpa memberi waktu Zea untuk menjawab atau berpikir jernih, Bara perlahan mendekatkan wajahnya semakin dekat. Hidung mereka bersentuhan, menciptakan sentuhan listrik yang menyengat.

"Aku pengen... aku pengen nyium kamu Zea. Sekarang juga. Boleh nggak...?" bisik Bara tepat di bibir Zea, napasnya panas dan meminta.

JLEB!

Zea langsung mematung, matanya membelalak lebar syok. Wajahnya memerah padam seketika. Jantungnya serasa mau meledak keluar dari rongga dada!

GILA! DARI MINTA PELUK KOK LANGSUNG NAKAL GITU SIH?! DIA ITU LAGI SEDIH ATAU LAGI NGERAYU INI?! teriak batin Zea panik campur aduk.

1
paijo londo
aduuuh zea kamu bikin bara gregetan campur penasaran tuh🤦🤦🤭🤭🤭
paijo londo
lucu ya kalo malu malah g mau ketemu🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!