Suatu hari sikap Maya mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Dia yang tadinya gadis pendiam dan lemah, kini memiliki tatapan tajam mematikan. Semua itu terjadi setelah pingsan yang dia alami. Semua orang terkejut dengan perubahan Maya. Julukan psiko mulai tersemat pada dirinya.
Abang tirinya yang mesum dan geng yang sering membully Maya di sekolah sekarang hanya bisa tercengang. Jika dahulu Maya hanya pasrah hingga bahkan tak berani menatap, maka kini dia malah berkata, "Aku akan sobek mulutmu jika berani menyentuhku!"
Apa yang terjadi pada Maya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9 - Mendatangi Maya
Setelah selesai makan, Kemal berdiri sambil merapikan map hitam miliknya. Tatapannya kembali tertuju pada Maya yang sedang menghabiskan sate usus terakhir dengan bahagia.
“Kamu yakin nggak mau saya antar ke rumah?” tanyanya pelan.
Maya langsung menggeleng cepat. “Nggak usah.”
“Kamu tinggal di mana sekarang?”
Bobby yang sedang minum langsung tersedak kecil.
“Uhuk!”
Maya menoleh santai. “Rusun Melati, blok C lantai tiga.”
Bobby langsung melotot. “WOI! Gampang banget ngasih alamat!”
Maya mengangkat bahu. “Dia guru gue.”
“Guru juga manusia!”
Kemal malah tertawa kecil melihat kepanikan Bobby. “Saya nggak akan macam-macam.”
Maya mengangguk santai. Entah kenapa instingnya mengatakan Kemal bisa dipercaya. Tatapan lelaki itu terlalu tulus untuk dicurigai.
Sebelum pergi, Kemal sempat memandang Maya lama. “Kamu hati-hati ya.”
Maya hanya mengangguk pelan.
...***...
Sore harinya, Kemal sudah kembali ke sekolah. Langit mulai mendung ketika ia memasuki ruang guru sambil membawa tas kerja. Beberapa guru yang masih berada di sana langsung menoleh.
“Pak Kemal baru datang?” tanya seorang guru wanita berkacamata.
Kemal menghela napas panjang lalu duduk di kursinya. “Saya ketemu Maya.”
Deg.
Beberapa guru langsung saling pandang.
“Maya?!” sahut seorang guru matematika kaget. “Bukannya dia nggak masuk hampir seminggu?”
Wali kelas Maya yang bernama Fitri langsung mendekat cepat. “Serius? Dia di mana sekarang?”
Kemal terlihat ragu beberapa detik sebelum akhirnya menceritakan semuanya.
Tentang Maya yang tampak berubah. Tentang bagaimana dia terlihat hidup terlantar. Tentang ucapan Maya soal disiksa keluarga dan diusir dari rumah.
Ruangan guru langsung mendadak sunyi. Fitri tampak paling terpukul. “Ya ampun...” lirihnya.
Kemal mengusap wajah pelan. “Awalnya saya kira dia cuma membolos biasa,” katanya lelah. “Tapi kondisi anak itu... nggak normal.”
“Orang tuanya gimana?” tanya guru lain.
Kemal menggeleng. “Saya belum tahu pasti.”
Fitri langsung berdiri. “Kita harus datangi rumahnya.”
Kemal mengangguk setuju.
Malam menjelang ketika mobil kecil milik Fitri berhenti di depan rumah mewah keluarga Maya. Lampu taman menyala terang. Rumah itu terlihat megah dan sempurna dari luar.
Sulit dipercaya kalau seorang anak bisa merasa tersiksa di tempat seperti itu.
Fitri memencet bel. Tak lama kemudian pintu terbuka. Norma muncul dengan pakaian elegan dan senyum tipis sopan. Namun senyum itu langsung sedikit membeku saat melihat dua guru berdiri di depan rumahnya.
“Eh... ada apa ya?”
Fitri tersenyum ramah. “Selamat malam, Bu. Kami dari sekolah Maya.”
Nama itu langsung membuat jantung Norma berdebar. Namun wajahnya tetap tenang.
“Oh... silakan masuk.”
Mereka dipersilakan duduk di ruang tamu besar yang mewah.
Kemal memperhatikan sekitar dengan tenang. Rumah ini terlalu nyaman untuk disebut tempat anak terlantar.
Norma duduk di depan mereka sambil menyilangkan kaki anggun. “Ada masalah apa ya soal Maya?”
Fitri menatapnya hati-hati. “Bu Norma, Maya sudah lama tidak masuk sekolah.”
Norma langsung menghela napas panjang seperti ibu yang lelah menghadapi anak bermasalah. “Ah... anak itu memang sedang sulit diatur.”
Kemal menyipitkan mata sedikit.
Fitri kembali bertanya lembut, “Kami mendengar Maya sekarang tidak tinggal di rumah?”
Norma langsung terlihat kaget pura-pura. “Hah? Dia bilang begitu?”
Kemal mengangguk.
Norma langsung memasang ekspresi sedih. “Ya ampun... Maya pasti salah paham.”
Fitri dan Kemal saling pandang.
Norma melanjutkan dengan nada penuh drama. “Justru dia sendiri yang pergi dari rumah.”
“Kabur?” tanya Kemal.
Norma mengangguk pelan sambil berpura-pura sedih. “Kami sudah berusaha menasihati dia. Tapi sejak ayahnya meninggal, Maya memang jadi sulit dikendalikan.”
Fitri terlihat ragu. “Sulit dikendalikan bagaimana maksudnya?”
Norma menghela napas lagi. “Dia sering marah sendiri. Emosinya nggak stabil.” Norma sengaja menunduk sedih. “Kami sebenarnya khawatir sekali.”
Kemal diam memperhatikan. Entah kenapa ada sesuatu yang terasa palsu dari wanita ini.
Norma kembali bicara lembut. “Kami juga bingung dia sekarang di mana.”
Padahal beberapa jam lalu dia jelas mengancam Maya lewat telepon. Namun ekspresinya sekarang benar-benar seperti ibu baik yang kebingungan mencari anak.
Kemal mulai paham. Wanita ini berbahaya. Pandai bermain peran.
Fitri mencoba lagi. “Bu... Maya bilang dia merasa tidak nyaman tinggal di rumah.”
Norma langsung menatap terkejut. “Tidak nyaman?”
Lalu wanita itu tertawa kecil hambar. “Anak remaja kadang memang suka berlebihan.”
Kemal mengepalkan tangan kecil di bawah meja. Dia tidak suka nada bicara Norma. Terlalu meremehkan.
“Kalau Maya kembali,” lanjut Norma lembut, “tolong bilang suruh pulang ya, Pak, Bu. Kami khawatir.”
Fitri tersenyum tipis walau jelas belum puas. “Baik, Bu.”
Karena tak mendapat jawaban jelas, akhirnya mereka pamit pergi. Namun begitu mobil kembali berjalan keluar kompleks, Fitri langsung menghela napas berat.
“Saya nggak percaya sama wanita itu.”
Kemal mengangguk pelan. “Saya juga.”
“Mata dia aneh.”
“Dan terlalu tenang.”
Mereka terdiam beberapa saat. Lalu Kemal berkata, “Kita ke rusun Maya sekarang.”
Rusun Melati malam itu masih ramai. Anak-anak berlarian di lorong. Suara televisi dan pertengkaran tetangga bercampur jadi satu.
Fitri tampak sedikit canggung memasuki tempat kumuh seperti ini. “Astaga...” gumamnya.
Kemal berjalan di depan sambil mencari nomor kamar. Saat akhirnya sampai di depan kamar Bobby.
Tok tok tok.
Dari dalam terdengar suara ribut.
“WOY BALIKIN BANTAL GUE!”
“Bantal bau gini aja pelit.”
“ITU BANTAL KESAYANGAN GUE!”
Kemal dan Fitri saling pandang bingung.
Pintu mendadak terbuka. Bobby muncul dengan kaus kusut dan rambut berantakan. Begitu melihat dua guru berdiri di depan pintu, wajahnya langsung pucat.
“WADUH!"
Kemal mengangkat alis. “Selamat malam.”
Bobby langsung panik. “Bukan saya yang ngajarin Maya nyopet sumpah!”
Dari dalam kamar langsung terdengar suara Maya. “Bego! Ngaku sendiri!”
Fitri membelalak. “Apa?!”
Bobby langsung menutup mulut sendiri. "Maaf... Saya salah bicara.”
Maya muncul dari dalam kamar sambil menggigit roti. “Oh, Pak Kemal.”
Lalu matanya berpindah ke Fitri. Tiba-tiba tubuhnya membeku. Sebuah ingatan asing menyeruak deras di kepalanya. Wanita berkacamata ini, wali kelas Maya. Bu Fitri.
“Maya...” suara Fitri langsung melembut. “Kamu benar-benar di sini.”
Untuk pertama kalinya sejak masuk ke tubuh ini, Maya merasakan sesuatu aneh di dadanya.
Fitri mendekat perlahan. “Kamu bikin ibu khawatir.”
Kalimat sederhana itu mendadak membuat kepala Maya berdenyut. Potongan-potongan ingatan mulai bermunculan. Buku, kelas dan suara bel sekolah.
Atw ramuan bwt orang lain?
Mau nunggu diperkosa sama Jomie lagikah baru bertindak Priska?
Atw nunggu dibully rame² baru dibales Priska?
Enak banget tuh yang nge bully & merkosa dikasih waktu pengampunan terus sama Priska
🤨
Karena gak disinggung sama sekali keamanan sekolah baik penjaga sekolah, CCTV atw harus divideokan oleh orang lain baru viral semua kelakuan minus anggota sekolah disitu? 🤔