NovelToon NovelToon
Om Duda Come To Me!

Om Duda Come To Me!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Duda
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: neyrfly

Apa jadinya kalau Zyan, Direktur dingin yang dunianya cuma berisi angka dan rapat bosan, harus menikah dengan Alexa, mahasiswi bar-bar yang lebih sayang motor ZX-nya daripada sisir rambut?

​Zyan baru saja menduda dan bersumpah nggak mau berurusan sama drama cinta lagi. Tapi, takdir (dan paksaan orang tua) membawanya ke pelaminan bersama gadis rambut wolfcut yang hobinya nantangin maut.

​Bagi Alexa, nikah muda itu bencana. Tapi melihat wajah kaku Zyan yang kayak manekin, jiwa jahilnya meronta-ronta. Misi Alexa cuma satu: Bikin si Om kaku ini darah tinggi tiap hari sampai minta ampun! Tapi, siapa sangka, di balik tembok es Zyan, ada kehangatan yang bikin Alexa perlahan lupa cara nge-gas motornya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Kediaman keluarga Atmadja hari ini tampak sangat ramai. Karpet merah digelar dari pintu depan hingga ke area taman belakang yang luas. Beberapa karangan bunga ucapan selamat atas pernikahan Zyan dan Alexa berderet rapi di sepanjang pagar. Keluarga besar dari kedua belah pihak sudah berkumpul, lengkap dengan tante-tante yang hobi ngerumpi dan paman-paman yang sibuk membicarakan politik.

Mobil Rolls Royce Zyan berhenti tepat di depan teras. Zyan turun lebih dulu, lalu memutari mobil untuk membukakan pintu bagi Alexa. Sebuah tindakan gentleman yang sebenarnya hanya ia lakukan untuk menjaga citra di depan mertuanya.

"Ingat, Alexa. Jaga bicaramu. Jangan ada kata 'Om', jangan ada bahasan soal mesin motor, dan jangan berani-berani melakukan hal konyol," bisik Zyan sambil mengulurkan tangannya agar Alexa bisa menggandeng lengannya.

Alexa, yang masih dongkol soal ancaman gunting tadi pagi, menyambut tangan Zyan dengan senyum manis yang dipaksakan. "Tenang aja, Suamiku sayang. Gue bakal jadi istri paling 'berbakti' sedunia hari ini," balas Alexa dengan nada yang membuat bulu kuduk Zyan meremang. Zyan tahu, kalau Alexa sudah selembut ini, berarti ada badai yang sedang disiapkan.

Begitu mereka masuk, sambutan meriah langsung terdengar. Bu Ratna dan Ibu Alexa segera menghampiri, memuji betapa serasinya mereka berdua.

"Zyan, kamu kelihatan segar sekali. Menikah memang membawa perubahan ya," puji salah satu tante Zyan yang sosialita.

"Terima kasih, Tante. Alexa yang banyak membantu saya untuk lebih... santai," jawab Zyan sambil melirik Alexa yang sedang tersenyum sopan—senyum yang menurut Zyan lebih mirip seringai kucing yang baru saja menangkap tikus.

Acara inti dimulai dengan doa bersama dan sambutan singkat dari kedua kepala keluarga. Setelah itu, tibalah saat yang ditunggu-tunggu: makan siang prasmanan. Di sinilah rencana balas dendam Alexa dimulai.

Alexa tahu betul bahwa Zyan Arsalan adalah pria yang sangat menjaga image dan... dia sangat benci makanan pedas. Zyan punya perut yang sensitif dan selalu makan makanan yang hambar nan sehat.

"Om—eh, Sayang, kamu duduk aja di meja utama ya. Biar aku yang ambilin makanannya. Sebagai istri yang baik, aku mau melayani kamu sepenuhnya," ujar Alexa dengan nada bicara yang dibuat-buat semanja mungkin di depan ibu mertuanya.

Bu Ratna yang mendengar itu langsung terharu. "Tuh kan Zyan, Alexa itu perhatian sekali. Beruntung kamu punya istri seperti dia."

Zyan menyipitkan mata, menaruh curiga. "Tidak perlu, Alexa. Saya bisa ambil sendiri."

"Eh, jangan dong! Ini kan hari spesial kita. Kamu duduk manis aja ya," Alexa menekan pundak Zyan agar tetap duduk, lalu melenggang pergi menuju meja prasmanan dengan langkah riang.

Di meja prasmanan, Alexa beraksi. Ia mengambil sepiring nasi putih, lalu menuju pojok hidangan tradisional. Di sana ada sambal goreng ati yang sangat merah dan sambal terasi ulek yang level pedasnya bisa bikin orang pingsan.

Dengan lihai, Alexa menyisipkan tiga sendok besar sambal terasi di bawah tumpukan nasi, lalu menutupinya kembali dengan rendang dan sayur mayur sehingga sambal itu benar-benar tersembunyi. Tidak puas sampai di situ, ia juga mengambil segelas jus jeruk yang sudah ia campur sedikit dengan air cuka dari meja acar yang ia temukan di dapur tadi.

"Ini dia hidangan spesial buat si Om Kaku," gumam Alexa puas.

Ia kembali ke meja utama dengan wajah tanpa dosa. "Ini makanannya, Sayang. Habisin ya, aku capek lho antrenya."

Zyan menatap piring itu dengan ragu. "Kenapa porsinya banyak sekali?"

"Kan kamu butuh tenaga buat... 'bimbing' aku terus, iya kan?" Alexa mengedipkan mata, membuat para tante di meja sebelah bersorak menggoda.

Zyan, yang tidak ingin dicap sebagai suami yang tidak menghargai pemberian istri di depan umum, akhirnya mulai menyuap nasi tersebut. Suapan pertama masih aman karena hanya terkena rendang. Suapan kedua, Zyan mulai merasa ada rasa yang aneh. Dan pada suapan ketiga, saat ia mengeruk nasi bagian bawah...

BOOM!

Wajah Zyan yang biasanya putih bersih mendadak berubah menjadi merah padam dalam hitungan detik. Matanya mulai berair, dan keringat dingin mulai muncul di pelipisnya. Rasa pedas yang luar biasa membakar lidah dan kerongkongannya.

"Zyan? Kamu kenapa? Kok mukanya merah begitu?" tanya Bu Ratna panik.

Zyan ingin berteriak, tapi lidahnya terasa kelu. Ia segera meraih gelas jus jeruk di sampingnya dan meminumnya dengan cepat untuk meredakan rasa pedas. Namun, bukannya lega, rasa asam cuka yang menyengat langsung menyerang tenggorokannya, membuat Zyan tersedak hebat.

"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Zyan terbatuk-batuk sampai badannya terguncang.

"Ya ampun, Zyan! Pelan-pelan makannya!" Pak Surya ikut panik dan menepuk-nepuk punggung Zyan.

Alexa langsung berakting panik. "Aduh, Sayang! Kamu kenapa? Keselek ya? Aduh kasihan banget..." Alexa mengusap-usap punggung Zyan, tapi sebenarnya ia sedang menahan tawa sampai perutnya sakit.

Zyan menoleh ke arah Alexa dengan mata yang merah dan berair karena pedas. Di tengah batuknya, ia bisa melihat tatapan penuh kemenangan di mata istrinya. Ia sadar, ini adalah balasan untuk ancaman gunting tadi pagi.

"Air... air putih..." suara Zyan terdengar serak.

Setelah meminum tiga gelas air putih berturut-turut, rasa pedas di mulut Zyan mulai sedikit mereda, meski perutnya sekarang terasa seperti sedang diaduk-aduk. Ia duduk dengan lemas, mencoba mengatur napasnya kembali agar tetap terlihat berwibawa, meski harga dirinya sudah sedikit runtuh.

"Maaf semuanya, sepertinya saya terlalu bersemangat makannya," ujar Zyan dengan suara parau, mencoba tersenyum profesional meski rasanya ia ingin pingsan.

Setelah drama makan siang itu mereda, Alexa pamit sebentar ke toilet untuk tertawa sepuasnya. Begitu ia keluar dari toilet, ia mendadak ditarik oleh sebuah tangan kuat ke lorong yang sepi di dekat gudang belakang.

Zyan sudah berdiri di sana, mengurungnya dengan kedua tangan di tembok. Wajahnya tidak lagi merah, tapi tatapannya jauh lebih berbahaya daripada sambal terasi tadi.

"Kamu sengaja, kan?" tanya Zyan dengan nada rendah yang bergetar karena menahan amarah.

Alexa mendongak, mencoba terlihat berani. "Sengaja apa, Om? Gue kan cuma mau kasih makan istri—eh, suami tercinta."

"Sambal di bawah nasi dan cuka di dalam jus? Kamu pikir itu lucu, Alexa? Saya hampir mati tersedak di depan semua klien bisnis saya yang hadir di sini!"

"Yah, siapa suruh tadi pagi ngancem mau robek kaos gue? Itu namanya hukum karma, Om. Di dunia motor, kita selalu bayar utang secepat mungkin."

Zyan menarik napas panjang, mencoba mengendalikan diri. Ia menatap wajah Alexa yang masih tampak puas dengan aksinya. "Kamu benar-benar tidak tahu kapan harus berhenti bermain-main, ya?"

"Hidup itu permainan, Om Kaku. Kalau lo nggak mau main, ya jangan ajak gue masuk ke dunia lo."

Tiba-tiba, Zyan mendekatkan wajahnya. Kali ini tidak ada jarak sama sekali. Alexa bisa merasakan napas Zyan yang masih beraroma jeruk dan sedikit sisa pedas. "Oke. Kalau kamu mau main kasar, saya akan layani."

"Mau apa lo? Ngancem lagi?"

"Tidak. Saya akan melakukan sesuatu yang lebih... nyata."

Tanpa peringatan, Zyan menarik tangan Alexa dan membawanya menuju parkiran belakang yang sepi. Ia membuka bagasi mobilnya dan mengambil sebuah tas kecil.

"Apa itu?" tanya Alexa curiga.

Zyan mengeluarkan sepasang kunci motor. Tapi bukan kunci ZX milik Alexa. "Saya tahu kamu sangat menyayangi motor kamu. Tapi mulai besok, motor ZX kamu akan saya kunci di gudang kantor. Sebagai gantinya, kamu harus berangkat kuliah dengan supir."

"APA?! NGGAK BISA! LO NGGAK BOLEH LAKUIN ITU!" teriak Alexa histeris.

"Saya bisa. Sebagai suami, saya punya hak untuk memastikan keamanan istri saya. Dan setelah melihat betapa 'berbahayanya' kamu dengan sambal, saya rasa kamu terlalu tidak stabil untuk membawa kendaraan berkecepatan tinggi di jalanan."

"Ini pemerasan! Ini kediktatoran!"

Zyan memasukkan kembali kunci itu ke sakunya dengan santai. "Ini namanya konsekuensi. Satu-satunya cara kamu bisa dapet kunci itu balik adalah... kalau kamu mau patuh sama saya selama seminggu penuh tanpa protes."

Alexa mengepalkan tangannya. Ia baru saja menang perang kecil di meja makan, tapi Zyan baru saja menjatuhkan bom atom di dunianya. Hidup tanpa motor ZX-nya adalah mimpi buruk paling ngeri yang pernah ia bayangkan.

"Lo bener-bener duda licik, Om Zyan!"

Zyan tersenyum dingin, senyum yang kali ini benar-benar tulus karena merasa menang. "Terima kasih atas pujiannya, Alexa. Sekarang, ayo kembali ke dalam. Kita masih harus bersalaman dengan sepuluh orang lagi sebelum pulang."

Zyan berjalan mendahului Alexa dengan langkah kemenangan. Sementara Alexa berdiri mematung di parkiran, meratapi nasib motornya dan memikirkan cara bagaimana ia bisa mencuri kunci itu kembali dari saku celana Zyan yang sangat ketat itu.

Perang antara mahasiswi bar-bar dan duda dingin ini baru saja memasuki level baru: Level Sabotase.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!