Naja Belial muncul saat keadilan gagal. Dia tidak datang untuk menyelamatkan, tapi untuk memastikan dosamu dibayar lunas.
Saat hukum bisa dibeli.
Saat kebenaran dimanipulasi.
Saat manusia saling menghancurkan demi kepentingan sendiri…
Entitas urban legend itu akan datang.
Ada yang menganggapnya penyelamat.
Ada pula yang menyebutnya kutukan.
Lalu, apakah keadilan yang dipaksakan benar-benar lebih baik daripada kehancuran yang dibiarkan?
Story by Instagram & Tiktok @penulis_rain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26 : Kisah Kuli Proyek
Jeritan para pekerja masih menggema dalam ruangan itu. Suara mereka memantul ke dinding-dinding tua yang mulai retak. Sementara di atas, suara genteng masih berderak pelan seperti menahan sesuatu yang belum selesai jatuh.
Beberapa kuli mundur sambil menutup mulut mereka. Pandangan mereka tak berhenti menatap ke atas sana. Beberapa ada yang berlari tanpa arah, mencari pintu keluar dari sini. Debu dari reruntuhan atap masih berterbangan membuat udara terasa sesak.
Di tengah kepanikan itu, seorang mandor tiba-tiba saja datang dengan raut tegas. "Jangan berhamburan dan membuat gaduh! Semua kumpul di taman sekarang!" ucapnya atas perintah insinyur setelah laporan dari Arman dan kejadian teror beruntun.
Akan tetapi, tidak semua orang mendengar. Mereka bahkan tidak bisa melihat mandor itu dengan jelas, karena debu yang menyelimuti ruangan membuat mata mereka menjadi perih. Pandangan mata mereka semua tampak buram dan saat berjalan, mereka tidak sengaja bertabrakan satu sama lain. Seolah, ketakutan sudah lebih dulu mengambil alih kewarasan mereka.
Sementara itu, Arman yang baru saja keluar dari kantor insinyur menuju dapur, tiba-tiba saja terhenti saat mendengar suara keributan dari belakang gedung. Dia mendengus kesal dan menoleh ke belakang.
"Ada apa lagi ini?" gumamnya
Arman bergegas menghampiri sumber suara. Langkahnya cepat, sepatunya menghantam lantai dengan suara berat. Semakin ia mendekat ke sana, semakin jelas aroma anyir darah bercampur debu semen yang pecah.
Tubuh Arman seketika mematung saat sampai. Kedua matanya membulat melihat dua mayat, satu tertimpa tertimpa reruntuhan atap sampai tubuhnya hampir tak terbentuk lagi. Sementara satunya, tertindih badan mayat itu, leher membiru bekas cekikan, mata memutih, dan tangan berlumuran darah.
Pria itu memandang orang-orang di sekitarnya sambil memicingkan mata dan menautkan alis. "Bagaimana ini bisa terjadi?" tanyanya pada semua orang.
Tidak ada jawaban. Mereka semua terdiam seperti mulut sedang dikunci oleh sosok tak kasat mata. Pandangan mereka terus menatap kosong dan sesekali hanya menjerit pelan penuh rasa takut. Baju mereka sudah sangat kotor terkena debu yang berterbangan.
"Sial, bagaimana penjahat itu bisa melakukan ini?" heran Arman sambil menundukkan pandangannya dan menggaruk kepala.
***
Insinyur seharian tenang bekerja di ruangannya. Pria itu sibuk mengurus dokumen dan mempelajari struktur dokumen, tiba-tiba saja dia dikejutkan oleh suara gaduh dari gedung panti asuhan. Dia mendengus kesal dan beranjak dari tempat duduknya.
Sejenak, ia memilih diam di ruangan sambil memandang keadaan panti asuhan dari balik jendela. Di sana tempat itu begitu gelap dan sunyi. Daun pohon beringin yang berterbangan menambah kesunyian malam itu. Samar-samar, dia mendengar suara orang-orang sedang ribut. Insinyur itu mengerutkan kening, karena penasaran, ia segera menuju tempat itu.
"Ada apa ini?" tanya insinyur saat dia tiba di panti asuhan.
Arman yang sedari tadi kebingungan dan merasa tertekan, seketika berlari menghampiri insinyur dengan raut wajah panik.
"Pak, saya juga tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi. Saya berusaha melakukan tugas saya, berjaga di sini tapi teror terus saja ada. Bahkan tiba-tiba saja saat saya membicarakan masalah ini di ruangan bapak, tiba-tiba saja ada dua orang lagi yang meninggal," jelas satpam itu dengan suara sedikit tergesa-gesa diiringi rasa panik.
Insinyur itu melirik ke atas. Dia memandang orang-orang di sekitar yang masih dalam keadaan takut. Saat pria itu melihat beberapa orang sudah meninggal secara tragis, dia pun menghela napas panjang.
"Baiklah, semuanya hari ini kalian libur saja. Pulang ke rumah dan istirahatlah," perintah insinyur itu.
Orang-orang di sana awalnya sibuk dalam dunia masing-masing. Mereka tidak begitu jelas mendengar perintah sang atasan. Namun, setelah ditenangkan oleh petugas keamanan lain yang merupakan rekan Arman, mereka mulai bisa fokus.
Sekali lagi, insinyur itu menatap mereka penuh perhatian tapi juga penuh ketegasan di wajahnya. "Saya perintahkan, kalian semua untuk pulang malam ini dan istirahat. Kita akan lanjutkan pekerjaan besok pagi," ujar pria itu sekali lagi.
Semua mengangguk gugup. "Baik, terimakasih, Pak," ucap mereka lalu membungkuk saat melewati insinyur. Dengan hati yang masih waspada, mereka pulang dengan berlari, menghindari sosok menyeramkan yang mengintai selama mereka bekerja di panti asuhan itu.
Sementara, insinyur dan Arman masih terdiam di lokasi. Mereka terus mengamati seluruh gedung dengan teliti. Tidak ada yang aneh, semua tampak normal. Sejenak, mereka menoleh ke jendela. Di sana secara samar-samar terlihat sosok Naja berwujud menyeramkan, setengah cantik setengah gelap. Sosok itu mengamati mereka dengan mata yang memerah dan seringai tajam.
Sejak kasus teror dan tiga kematian beruntun di hari yang sama, insinyur pun menegaskan bahwa para kuli hanya akan bekerja di pagi sampai sore hari saja. Namun, meski mereka sudah berusaha menghindari teror yang ada di malam hari, mereka tetap saja mendapatkan ancaman. Ancaman itu bukan hanya berupa gangguan suara tak kasat mata atau tulisan ancaman biasa tapi juga mulai ada kasus tumbal proyek.
Saat mereka sibuk bekerja membenahi gedung yang akan dibangun jadi mall, tiba-tiba saja ada orang meninggal tertimpa batu, kayu, atau alat berat pembangunan. Semua orang berusaha menolong mereka yang hampir dilanda maut, tapi selalu dihalangi oleh sosok tak kasat mata.
Merasa ada yang aneh, insinyur itu mulai merasa gelisah. Dia jadi tidak bisa fokus mengerjakan proyek ini dengan baik seperti kemarin-kemarin. Di kepalanya hanya terbayang para pekerjanya yang mati mendadak secara tragis. Tiba-tiba saja, pikiran pria itu melayang. Dia teringat bagaimana mereka menyiksa orang-orang panti dan mengusirnya dengan kasar.
"Apa ini teror dari Naja?" gumamnya seolah tidak percaya. Dia melirik ke jendela, memandang beberapa kuli yang sibuk bekerja membangun mall.
Insinyur itu menghela napas panjang. "Aku harus membicarakannya dengan pak Hendra. Menurut dia ini benar-benar aneh dan terasa berbahaya jika dilanjutkan, karena akan memakan korban jiwa lebih banyak lagi.”
Saat hari senggang, insinyur itu mengadakan rapat dengan Hendra, Satya, dan Arman. Mereka membicarakan masalah kasus kematian selama pekerjaan di gedung panti asuhan. Hendra dari awal tampak skeptis dan tidak senang mereka membicarakan keanehan itu.
"Bisa saja itu kecelakaan, lagi pula ini proyek besar. Sudah jelas jika nanti akan terjadi kasus kecelakaan," sinis Hendra, matanya menatap insinyur dengan rasa ketidakpedulian.
"Saya tadi berpikir hal yang sama, tapi ini terjadi setiap hari bahkan di siang hari. Sudah ada 30 orang tewas selama bekerja, saya merasa proyek ini tidak aman," ucap insinyur itu dengan suara tegas tapi sedikit gelisah.
Hendra membulatkan matanya, tak percaya dengan jumlah korban yang baru saja disebutkan oleh insinyur. Dia menggelengkan kepala pelan. Wajah pria itu seketika memucat dan jantungnya mulai berdebar diiringi keringat dingin yang mulai bercucuran.
"Itu tidak mungkin, kau pasti berbohong!"