menceritakan dua orang mantan kekasih Shinta dan Andika. yang memutuskan untuk berpisah karena perbedaan pandangan tentang masa depan Shinta yang ingin hubungan yang serius ke pelaminan dan Andika yang ingin menata karir dan memastikan finansial mencukupi. namun keduanya tidak menemukan titik tengah dari masalah itu. setahun kemudian mereka di pertemukan di perusahaan sebagai karyawan devisi pemasaran. keduanya yang awalnya tidak ingin masa lalu terungkap dan saling menjauh malah tanpa sadar Melaku kebiasaan mereka saat pacaran. dari Andika yang memperlihatkan Shinta saat kesulitan dan Shinta yang memberikan tempat bersandar saat Andika kelelahan namun itu malah membuat mereka kesal dan membuat perjanjian siapa pun yang masih melakukan kebiasaan mereka saat pacaran di anggap orang yang ingin balikan. namun kenyataannya keduanya malah terus melanggar perjanjian mereka tanpa peduli apa yang salah dari kebiasaan lama mereka saat pacaran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25
Rumah Andika malam itu tampak jauh lebih ramai dari biasanya. Lampu-lampu halaman menyala terang, suara tawa bercampur musik memenuhi udara, sementara aroma sate dan makanan bakar masih terasa sampai ke teras depan. Teman-teman kantor Andika sibuk menikmati pesta ulang tahun kecil yang mereka siapkan secara mendadak. Beberapa orang duduk santai di ruang tamu sambil mengobrol, sebagian lagi sibuk mengambil foto bersama. Dunia manusia memang aneh. Datang ke pesta, makan gratis, lalu memotret diri sendiri sebanyak mungkin seolah itu pencapaian hidup.
Rara berdiri di dekat meja makanan sambil memegang ponselnya. Dahinya berkerut sejak beberapa menit terakhir.
“Masih tidak diangkat?” tanya Mita sambil mengambil minuman dingin.
Rara menghela napas panjang.
“Tidak. Dari tadi aku telepon Shinta tidak dijawab juga.”
“Padahal dia bilang mungkin datang, kan?”
“Iya. Makanya aku kesal. Andika ulang tahun setahun sekali malah tidak muncul.”
Mita melirik ke arah Andika yang sedang berbincang dengan beberapa rekan kerja pria di sudut ruangan.
“Jangan-jangan mereka masih berantem.”
Rara mendecakkan lidah pelan.
“Kalau memang marahan ya minimal datang sebentar kek. Bilang selamat ulang tahun lalu pulang. Tidak usah bikin suasana begini.”
Di saat yang sama, seorang pria paruh baya keluar dari dapur sambil membawa sepiring buah potong. Wajahnya terlihat ramah meski garis-garis usia mulai jelas terlihat. Itu ayah Andika.
Beliau sempat mendengar nama Shinta disebut beberapa kali sejak tadi. Rasa penasaran akhirnya muncul juga.
“Rara,” panggilnya sambil tersenyum kecil. “Dari tadi om dengar nama Shinta terus. Siapa itu?”
Rara langsung tersenyum jahil.
“Itu calon menantu om.”
Ucapan itu membuat ayah Andika tertawa kecil.
“Calon menantu? Jadi Andika sudah punya calon istri?”
“Harusnya begitu, om.”
Ayah Andika mengangguk pelan sambil duduk di sofa.
“Kalau begitu kebetulan sekali.”
Rara terlihat bingung.
“Kebetulan apa, om?”
“Pacar Andika juga namanya Shinta.”
Seketika senyum di wajah Rara membeku.
Beberapa detik suasana terasa canggung.
“Eh... apa?” tanyanya pelan.
Ayah Andika tertawa ringan tanpa menyadari perubahan ekspresi gadis itu.
“Iya. Namanya Shinta juga. Sudah lama pacaran dengan Andika.”
Rara menatap Mita cepat. Mita juga terlihat bingung.
“Serius, om?” tanya Rara hati-hati.
Ayah Andika mengangguk santai.
“Serius. Shinta sekarang sedang kuliah di Amerika. Sudah lama tidak pulang.”
Kalimat itu membuat jantung Rara terasa sedikit tidak nyaman. Deni yang kebetulan lewat sambil membawa minuman ikut berhenti saat mendengar percakapan mereka.
“Wah,” ucap Rara sambil tertawa canggung. “Jangan-jangan pacarnya Andika di sana sudah punya pacar baru.”
Ayah Andika malah ikut tertawa.
“Tidak mungkin.”
“Kenapa om yakin sekali?”
“Soalnya Andika sama Shinta sudah berencana menikah nanti setelah kuliahnya selesai.”
Deni yang mendengar itu langsung diam.
Tatapannya perlahan bergeser ke arah Andika yang masih terlihat biasa saja di tengah keramaian.
Ada sesuatu yang tidak beres.
Dan Deni cukup mengenal sahabatnya untuk tahu bahwa Andika sedang menyembunyikan sesuatu besar.
Sementara itu Rara mulai merasa tidak nyaman. Selama ini semua orang kantor mengira Shinta yang bekerja bersama mereka adalah mantan Andika. Tidak pernah ada cerita soal pacar lain yang kuliah di luar negeri.
Mita berusaha mencairkan suasana.
“Wah berarti setia sekali ya, om.”
Ayah Andika tersenyum bangga.
“Andika memang keras kepala, tapi kalau soal perasaan dia serius.”
Rara hanya tertawa kecil sambil mengangguk. Namun setelah itu ia langsung mencari Andika dengan pandangan tajam.
Beberapa menit kemudian Andika masuk ke dapur untuk mengambil es batu tambahan. Begitu melihat kesempatan itu, Deni segera menyusulnya.
Dapur rumah itu jauh lebih tenang dibanding ruang tamu yang ramai.
Andika membuka freezer tanpa menoleh.
“Mau apa?” tanyanya datar.
Deni menyandarkan tubuh ke meja dapur.
“Aku mau tanya sesuatu.”
“Kalau soal kerja besok, malas bahas sekarang.”
“Bukan soal kerja.”
Andika akhirnya menoleh sebentar.
Tatapan Deni terlihat serius.
“Tadi ayahmu cerita soal Shinta.”
Ekspresi Andika langsung berubah tipis.
Namun hanya sepersekian detik sebelum kembali datar.
“Terus?”
Deni menatapnya lama.
“Kamu tidak pernah cerita kalau ayahmu masih mengira kalian pacaran.”
Andika mengambil wadah es batu tanpa bicara.
Deni mendekat sedikit.
“Dia bahkan bilang kalian mau nikah.”
Suasana dapur tiba-tiba terasa lebih dingin.
Andika menutup freezer pelan lalu mengembuskan napas pendek.
“Itu urusanku.”
Deni mengerutkan dahi.
“Urusanmu bagaimana? Kamu bohong sama ayah sendiri.”
Andika terdiam.
Rahangnya terlihat sedikit mengeras.
"Aku tidak mau bikin pikirannya kacau.”
“Tetap saja kamu tidak bisa terus begini.”
“Aku tahu.”
“Kalau suatu hari beliau tahu sendiri?”
Andika tertawa kecil. Tawanya hambar.
“Kalau hari itu datang ya datang.”
Deni mulai kesal.
“Kamu pikir ini solusi?”
Andika langsung menatap sahabatnya tajam.
“Aku tidak minta pendapatmu.”
Deni ikut diam beberapa saat.
Andika memang seperti itu sejak dulu. Kalau sudah menutup diri, tidak ada yang bisa memaksanya bicara.
“Aku cuma tidak suka lihat kamu makin tenggelam dalam kebohongan sendiri,” ucap Deni akhirnya.
Andika memalingkan wajah.
“Tidak semua orang punya pilihan bagus.”
Kalimat itu membuat Deni kehilangan kata-kata.
Untuk sesaat ia melihat kelelahan yang selama ini disembunyikan Andika di balik sikap dinginnya.
Namun Andika kembali bersikap biasa.
“Sudah sana balik ke pesta. Jangan ikut campur.”
Nada suaranya memang tidak keras, tapi cukup jelas untuk mengakhiri percakapan.
Deni menghela napas pelan lalu keluar dari dapur tanpa berkata apa-apa lagi.
Sementara Andika tetap berdiri sendirian beberapa detik.
Tangannya menggenggam erat wadah es batu.
Nama Shinta kembali memenuhi pikirannya malam itu.
Nama yang sekarang terasa begitu dekat sekaligus jauh.
Pesta berlangsung sampai hampir tengah malam. Satu per satu tamu mulai pulang setelah puas makan dan bercanda. Beberapa sempat berpamitan dengan ayah Andika sebelum keluar rumah.
Rara termasuk orang terakhir yang pulang.
Sebelum masuk mobil online, ia sempat menatap Andika lama.
“Shinta benar-benar tidak datang?” tanyanya pelan.
Andika hanya menggeleng.
“Tidak.”
Rara terlihat ingin mengatakan sesuatu, namun akhirnya mengurungkan niatnya.
“Hati-hati ya.”
“Iya.”
Setelah mobil Rara pergi, rumah perlahan mulai sepi.
Suara musik dimatikan.
Lampu ruang tamu mulai diredupkan.
Sisa-sisa pesta masih terlihat di mana-mana. Gelas plastik, piring kotor, tusuk sate, dan botol minuman memenuhi meja.
Andika mulai membereskannya sendirian.
Ayahnya keluar dari kamar sambil membawa sapu kecil.
“Biar ayah bantu.”
“Tidak usah. Ayah istirahat saja.”
“Kalau sudah tua memang dianggap tidak berguna.”
Andika tersenyum tipis.
“Bukan begitu.”
Ayahnya ikut duduk sambil mengumpulkan beberapa gelas kosong.
Beberapa saat mereka membereskan rumah dalam diam.
Lalu ayahnya kembali membuka pembicaraan.
“Shinta belum menelepon?”
Tangan Andika sempat berhenti sesaat.
Namun ia segera melanjutkan pekerjaannya.
“Belum.”
“Aneh juga.”
“Mungkin masih sibuk kuliah.”
Ayahnya mengangguk pelan.
“Perbedaan waktunya jauh ya?”
“Iya. Di sana masih siang mungkin.”
Ayahnya tersenyum kecil.
“Nanti kalau dia telepon bilang ayah kangen.”
Andika menunduk pelan sambil memasukkan piring kotor ke wastafel.
“Pasti.”
Ayahnya menatap putranya beberapa detik.
“Sudah lama sekali dia tidak pulang.”
“Iya.”
“Ayah kadang rindu suara cerewetnya.”
Andika diam.
“Ayah masih ingat dulu dia sering datang ke rumah bawa makanan aneh buat ayah coba.”
Sudut bibir ayahnya terangkat kecil mengenang masa lalu.
“Padahal rasanya tidak enak.”
Andika tertawa kecil.
“Shinta memang tidak bisa masak.”
“Tapi dia niat.”
Suasana kembali hening.
Ayahnya terlihat murung setelah itu.
“Kalau dipikir-pikir waktu cepat sekali ya.”
Andika tidak menjawab.
“Ayah cuma berharap bisa lihat kalian menikah nanti.”
Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang menekan dada Andika pelan-pelan.
Ia menatap wastafel cukup lama.
Air mengalir membasahi tangannya, namun pikirannya terasa jauh ke mana-mana.
Andika tahu semua itu hanyalah kebohongan yang terus ia pertahankan.
Tidak ada Shinta yang sedang kuliah di Amerika.
Tidak ada hubungan yang masih berjalan.
Tidak ada rencana pernikahan.
Semua sudah berakhir lama sekali.
Namun setiap kali melihat ayahnya tersenyum saat membicarakan Shinta, Andika tidak pernah tega menghancurkan harapan itu.
Mungkin itu pengecut.
Mungkin juga egois.
Tetapi untuk sekarang, ia memilih membiarkan kebohongan itu tetap hidup.
Demi ayahnya yang begitu berharap pada Shinta.
Demi pria tua yang masih percaya suatu hari gadis itu akan kembali datang ke rumah mereka sambil tersenyum seperti dulu.
Andika memejamkan mata sebentar.
Ia bahkan tidak berani membayangkan bagaimana reaksi ayahnya jika tahu dirinya dan Shinta sudah lama tidak bersama lagi.
Dan yang paling menyakitkan...
Shinta yang sekarang berada di dekatnya justru bukan lagi miliknya.