"Tuhan!, tidak banyak yang ku pinta, hanya kuatkan hati ku, bimbing langkahku, agar aku selalu sabar dan ikhlas dengan semua kehendak dan ketentuan mu ini".
Kisah perjuangan hidup seorang anak manusia, seorang remaja miskin, putra dari seorang penderita odgj bernama Kaenan.
Hinaan, caci maki, fitnah dan perundungan bahkan kekerasan fisik, sudah menjadi lauk makan sehari hari.
Meskipun hidup dalam kemiskinan dan tak punya siapa siapa, satu hal yang masih di yakini Kaenan, dia masih punya Allah dan doa doa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvinoor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Kaenan pulang mengendarai motor metik nya dengan santai, menyusuri jalan yang masih padat merayap.
Saat itu terjadi kemacetan parah di depan Hotel Lestari, ada kecelakaan tabrakan beruntun.
Sambil menunggu kemacetan terurai, Kaenan berhenti di pinggir jalan, tepat di dekat parkiran mobil Hotel Lestari.
Sebuah mobil baru saja memasuki parkiran mobil di dekat pagar tempat Kaenan berhenti.
Dari dalam mobil, keluar sepasang muda mudi, mungkin suami istri, yang berjalan kearah lobby hotel.
Yang membuat Kaenan terhenyak, wanita muda itu adalah wanita yang sangat saat ia dan nenek nya pergi ke Mall dulu, wanita yang berpakaian serba kekurangan bahan itu.
Kali ini wanita itu mengenakan blus Levis yang hanya panjang sejengkal, dengan ujung paling bawah tanpa jahitan, alias di biarkan berjumbai.
Sementara baju wanita muda itu bahan kaos Tampa tangan, sehingga ketek nya yang putih jelas terlihat, beserta payu&ara nya yang besar agak terlihat dari samping.
Sepasang muda mudi itu berjalan kearah lobby hotel sambil berpelukan, seperti nya mereka baru menikah. Namun dilihat dari payu&ara wanita itu yang nampak membengkak, mungkin si wanita seorang janda beranak.
Setelah beberapa saat, akhirnya sepasang muda mudi itu masuk kedalam lobby hotel, sementara Kaenan meneruskan perjalanan, karena kemacetan jalan mulai terurai, setelah beberapa orang polisi tiba.
Perjalanan malam ini terasa begitu melelahkan, baik lahir maupun batin bagi Kaenan .
Setibanya di rumah, Kaenan segera mandi di kamar mandi di kamar tidur nya sendiri, berendam air hangat beberapa saat, hingga Lamat lamat pintu kamar tidur terdengar di ketuk, suara sang nenek memanggil nya.
"Kae!, ayo buru buru nak, kakek sudah menunggu mu di ruang tengah!" suara nenek Carla kamar Lamat.
Kaenan buru buru menyelesaikan mandi nya, berpakaian, lalu turun menemui kakek nya yang sudah menunggu di ruangan tengah.
"Bagai mana Kae?, sukses?" tanya tuan besar Baskoro menyambut kedatangan sang cucunya.
"Mang Ujang, sama mang Nandang, besok mau kerumah, mengambil RAB nya, sedangkan mang Hamit sudah saya serahkan RAB nya, pekerjaan nya yg dahulu tinggal finishing saja, jadi bisa mengambil kerjaan baru" sahut Kaenan.
"Uang hasil kerja mu, rencana nya, mau kau gunakan untuk apa?" tanya tuan besar Baskoro pada cucunya itu.
"Belum ada rencana kek!, masih saya masukan tabungan saja, kalau sudah banyak, mungkin untuk beli tanah, atau apalah nanti kek!" sahut Kaenan lagi.
Tuan besar Baskoro tersenyum mendengar ucapan dari cucu nya itu, ada rasa bangga di dalam hati nya, meskipun Arifin dan Irfan selalu menghambur hambur kan uang, namun tuhan punya cara lain agar cucunya tidak ikut didikan Irfan.
"Bagus itu nak!, Investasi tanah adalah satu kebijakan jangka panjang yang tidak ada rugi nya, yang pasti, kau pastikan dulu tanah nya tidak bermasalah, mau kakek bantu dana?" tawar tuan besar Baskoro pada cucunya itu.
Kaenan hanya tersenyum kikuk mendapat tawaran dari sang kakek, "tidak deh kek!, biar Kae usaha sendiri, supaya ada kebanggaan di hati Kae, kakek tolong Carikan saja dulu tanah yang tidak bermasalah, sisanya biar Kae usaha sendiri" ujar nya.
"Lalu!…… bagai mana tanggapan mu dengan perjodohan itu nak?, pertentangan antara paman Arifin dan papah mu semakin menghawatirkan saja, mereka tidak lagi saling sindir, tapi sudah membuka front secara langsung, kalau perpecahan ini kian melebar, kolega kakek akan pergi satu persatu nanti nya, mereka akan menilai jika Hanggada group tidak punya masa depan lagi" ujar tuan besar Baskoro dengan wajah sendu.
Kaenan hanya diam membisu, tidak membantah atau mengiyakan.
Sejujurnya, didalam hati Kaenan , tidak ingin buru buru menikah di usia nya yang masih sangat muda itu, dia masih ingin bekerja sampai bisa membeli tanah yang cukup luas, lalu akan dia bangun komplek perumahan, itulah rencana Kaenan yang sudah dia rancang.
Tetapi bila dia hanya menuruti egois nya sendiri, efek nya adalah keluarga inti nya akan berantakan semua nya.
"Nak!, hidup ini adalah lautan takdir, kalau kau ingin selamat, harus ikhlas mengikuti arah arus takdir itu membawa mu, jangan melawan arus, karena jika kau bersikeras melawan arus, kau tidak akan tiba dengan selamat, yang ada kau akan hancur nak!" nasehat Kiai Nuruddin tiba tiba bergaung kembali di ingatan Kaenan.
Kaenan mengangkat wajah nya, memantapkan hati nya, dia akan mengikuti arah arus takdir yang akan membawa nya kelak, dia akan ikhlas dengan hasil akhirnya nanti.
"Kek!, saya serahkan semua nya kepada kakek, saya akan mengikuti semua keputusan kakek, yang kakek anggap terbaik buat kita semua, Kae yakin Allah punya cara dan rencana buat kita semua!" sahut Kaenan.
Tuan besar Baskoro dan istri nya nyonya Carla, saling berpandangan, lalu keduanya tersenyum.
Meskipun di dalam hati nyonya Carla ada rasa perih dan tidak rela, namun hanya itu cara agar putra putra mereka bisa hidup akur.
"Baiklah Kae jika itu keputusan mu, kakek akan atur waktu pertunangan kau dan Caca nanti, kau tidak usah repot , cukup iya kan saja, selebih nya biar kakek dan nenek yang melakukan nya" ujar tuan besar Baskoro menepuk pundak Kaenan.
Di dalam pandangan tuan besar Baskoro, meskipun usia Kaenan masih sangat belia, namun pikiran anak muda ini jauh melampaui pagar batas usia nya.
Yang lebih membuat tuan besar Baskoro kagum, meskipun sekarang hidup bergelimang harta benda, namun tidak membuat Kaenan lupa diri, tidak mentang mentang, tidak aji mumpung, apalagi sampai berubah menjadi angkuh dan sombong.
Bahkan kartu ATM yang dia berikan, belum pernah di pergunakan sama sekali, hal itu terus terpantau oleh tuan besar Baskoro.
Beda kepala, beda pula pemikiran, itulah kenyataan. Meskipun nyonya Carla adalah istri setia tuan besar Baskoro, namun hati kecilnya yang paling dalam, terasa perih bukan main, ada rasa tidak tega mengorbankan cucu kesayangan nya itu, sekedar untuk di jadikan tumbal harta benda milik sang kakek nya.
Ya!, terasa sangat perih, nyonya Carla ingin sekali menjerit dan menangis, melontarkan protes dan ketidak setujuan nya. Tapi apa daya, dia hanyalah seorang wanita yang menumpang hidup pada sang suami.
Namun di depan semua orang, wanita tua yang masih terlihat awet muda dan cantik itu berusaha mengubur seluruh beban batin nya dalam dalam, mengulas senyum kepalsuan seperti sebuah topeng, agar hanya dia sendiri yang tahu rasa perih itu seperti apa.
Di usia usia senja nya, tidak ada ambisi apapun di hati nyonya Carla, hanya bagai mana berpulang kepada sang pencipta nya, dengan hati yang lapang.
Akhir akhir ini, nyonya Carla rutin mengikuti pengajian yang di berikan oleh ummi Nazeha di lingkungan RT setempat, bahkan nyonya Carla sudah beberapa kali mengajak suami nya untuk pergi umrah atau bahkan naik haji'. Namun sang suami selalu beralasan sibuk, belum ada waktu, masih banyak kerjaan.
Perih hati nyonya Carla bila memikirkan kata kata ustazah ummi Nazeha dalam satu tausiyah nya, "Allah tidak akan perduli dengan apa kesibukan mu?, apa halangan mu?, apa beban mu?, jika waktu nya tiba, nyawa mu akan tetap di cabut nya, meskipun kau meninggalkan bayi merah yang perlu disusui, Allah tidak perduli kau siap atau tidak!, punya bekal atau tidak!, rela atau tidak rela, jika waktu nya tiba, roh mu akan tetap pergi meninggalkan jasad mu yang kelak akan terhina, tidak ada lagi wajah cantik dan tampan, tubuh indah dan seksi, kulit putih bak susu baru diperas, yang ada bau busuk dari raga mu yang mulai hancur, rupa mu yang kelak akan berubah mengerikan, jangan kata istri setia, anak tercinta mu pun tak Sudi berlama lama bersama mu!" ....
Namun nyonya Carla berusaha mengubur semua itu dalam dalam, karena dia tahu jika ucapan nya, hanyalah desauan angin menerpa dedaunan, setelah angin berlalu, daun tidak akan pernah berubah apa apa, hanya usia daun itu saja yang berubah.
Nyonya Carla juga tahu apa yang dirasakan Kaenan cucu nya, perih nya batin Kaenan berselubung senyum kepalsuan dia tahu.
Namun dia juga sadar, jika dia tidak punya hak apa apa dengan hidup nya sendiri.
Nyonya Carla bangkit berdiri, memeluk tubuh Kaenan dari belakang, "sudah malam sayang, tidurlah!, biarkan kakek yang atur semua nya" ucap nya sedikit bergetar, dengan seulas senyum yang nampak terlalu dipaksakan.
Hari hari pun berjalan seperti biasa nya, rutinitas tak ada yang berubah, Kaenan masih sibuk dengan proyek baru nya, mengawasi dan mengontrol jalan nya pembangunan.
Seminggu sesudah pembicaraan dengan tuan besar Baskoro itu, malam Minggu berikutnya, tuan muda Arifin dan tuan muda Irfan sekeluarga berkumpul di Rumah kediaman tuan besar Baskoro.
Sesungguhnya tidak ada pembicaraan terlebih dahulu dengan Kaenan, mungkin tuan besar Baskoro ingin membuat acara kejutan.
Bahkan tuan muda Arifin dan tuan muda Irfan tidak di beritahukan terlebih dahulu oleh tuan besar Baskoro, pria tua itu hanya mengatakan ingin mengadakan jamuan makan malam bersama seluruh keluarga besar nya.
Hadir saat itu, tuan muda Arifin, istri nya nyonya Mona, dan Gracia putri mereka.
Lalu tuan muda Irfan, bersama sang shanty istri nya yang kini kesehatan nya telah pulih seratus persen, serta Syafea.
Saat makan malam, duduk di ujung meja, tuan besar Baskoro dan nyonya Carla di samping kiri nya, serta di samping kanan nya.
Lalu di sisi kanan tuan muda Arifin sekeluarga, berhadap hadapan dengan tuan muda Irfan sekeluarga.
Kaenan tersentak kaget beberapa saat, waktu keluarga paman nya memperkenalkan diri.
Meskipun kali ini Gracia atau Caca datang dengan penampilan cukup tertutup dengan gaun panjang nya, namun Kaenan masih mengenali jika Gracia adalah wanita yang dia lihat di Mall tempo hari, serta yang masuk kedalam Hotel bersama seorang pria.
Kaenan terdiam beberapa saat, dia baru sadar, jika pria yang dia lihat di Mall dan pria yang bersama Gracia di Hotel saat itu adalah pria yang sama.
Meskipun Kaenan mengeluh dalam hati, tetapi keputusan telah dia ambil, langkah pun telah dia mulai, dan tidak ada istilah kembali lagi sekarang. Atau semua rencana kakek nya akan hancur berantakan, hanya karena ego nya semata.
...****************...