NovelToon NovelToon
The Professor’S Karma

The Professor’S Karma

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

​"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."

​Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.

​4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Teman yang Tulus

Jeda antara jam kuliah Hukum Perdata dan sesi berikutnya menjadi momen yang paling riuh di auditorium. Baskara baru saja melangkah keluar setelah membereskan berkasnya, namun auranya yang dingin masih terasa tertinggal di ruangan itu.

​Michelle segera bangkit dari kursinya, melangkah cepat menuju meja Aruna dengan wajah yang merah padam. "Heh, Aruna! Maksud kamu apa pakai baju seperti ini? Mau menggoda Pak Baskara? Atau mau pamer kalau kamu punya lekuk tubuh?"

​Aruna yang sedang sibuk memasukkan buku ke dalam tasnya mendongak, merasa bingung. "Aku sudah bilang, kemejaku basah karena hujan semalam, Michelle. Tidak ada maksud lain."

​"Alasan!" Paula menimpali dari belakang. "Lihat deh rambutnya, sengaja banget digerai begitu biar kelihatan seksi. Dasar mahasiswi udik yang cari perhatian!"

​Baru saja Aruna ingin membalas dengan senyuman kecilnya yang biasa, sebuah bayangan tinggi tiba-tiba berdiri di depannya, menghalangi pandangan Michelle.

​"Berisik banget sih, pagi-pagi sudah dengar suara gagak," celetuk Devan santai. Ia berdiri dengan tangan dimasukkan ke saku celana, menatap Michelle dengan pandangan bosan.

​Theo ikut berdiri di samping Devan, membetulkan letak kacamatanya yang berkilat tertimpa lampu ruangan. "Lagipula, Michelle, bukannya kamu yang tadi pagi sibuk pakai parfum sampai baunya tercium satu kelas? Kalau bicara soal cari perhatian, sepertinya kamu harus berkaca dulu."

​"Kalian ini kenapa sih selalu membela dia?!" pekik Michelle kesal.

​"Karena dia layak dibela, dan kamu tidak," jawab Devan pendek. Ia kemudian berbalik, membelakangi Michelle yang sedang menghentakkan kaki karena kesal, lalu menunduk menatap Aruna yang tampak terpaku.

​Aruna merasa jemarinya sedikit gemetar. Ini pertama kalinya ada orang di kampus ini yang secara terang-terangan berdiri di depannya untuk melindunginya.

​"Hei," Devan mengulurkan tangannya dengan senyum lebar yang ramah. "Aku Devan. Ketua kelas yang sering kamu abaikan kalau aku sedang bagi-bagi pengumuman di grup WhatsApp."

​Theo ikut mengulurkan tangan setelah Devan. "Dan aku Theo. Kami berdua sebenarnya pengagum rahasia jawaban-jawabanmu di kelas. Kamu pintar, Aruna. Sangat pintar. Kami ingin berteman, boleh?"

​Aruna menatap kedua tangan yang terulur itu secara bergantian. Ia merasa gugup, tenggorokannya mendadak kering. Selama ini ia menutup diri rapat-rapat agar tidak ada yang tahu siapa dia sebenarnya, namun ketulusan di mata Devan dan Theo membuatnya luluh.

​Aruna akhirnya mengangguk pelan, menyambut uluran tangan mereka satu per satu. "A..aruna... Aruna Prawijaya. Maaf kalau aku terkesan sombong selama ini. Aku hanya ingin fokus belajar."

​"Santai saja, kami tahu kok," Devan tertawa kecil, suaranya terdengar sangat bersahabat. "Mulai sekarang, kalau si pirang itu atau siapa pun mengganggumu, bilang pada kami. Kami bosan lihat drama mereka."

​Theo mengangguk setuju. "Benar. Kita bertiga bisa belajar bersama. Aku dengar ujian tengah semester nanti bakal susah, dan kami butuh otak sepertimu untuk diskusi."

​Aruna merasa beban di pundaknya sedikit terangkat. Untuk pertama kalinya di London, ia tidak merasa benar-benar sendirian.

​Namun, tanpa mereka sadari, Baskara ternyata kembali ke depan pintu auditorium karena tertinggal pulpen mahalnya di meja dosen. Ia berdiri mematung di ambang pintu, menyaksikan pemandangan Aruna yang sedang tertawa kecil bersama Devan dan Theo.

​Baskara memicingkan mata. Ada rasa tidak nyaman yang aneh muncul di sudut hatinya saat melihat Aruna bisa tersenyum begitu lepas pada mahasiswa lain, padahal saat bersamanya, gadis itu hanya menunjukkan wajah takut atau senyum formal yang kaku.

​"Baru satu hari merubah penampilan, sudah dapat pengawal," gumam Baskara pelan dengan nada sinis. Ia tidak jadi masuk mengambil pulpennya, melainkan berbalik arah dengan langkah yang lebih cepat dan keras dari biasanya, meninggalkan koridor fakultas dengan suasana hati yang semakin memburuk.

Persiapan ujian tengah semester membuat atmosfer di Universitas London semakin mencekam. Lorong-lorong kampus yang biasanya ramai kini penuh dengan mahasiswa yang duduk bersandar di dinding sambil memegang buku teks tebal. Aruna, Devan, dan Theo kini sering terlihat bersama di pojok perpustakaan, berdiskusi dengan tenang.

​Namun, ketenangan itu terusik saat jadwal pembagian kelompok untuk proyek besar Hukum Perdata diumumkan. Proyek ini sangat krusial karena nilainya mencakup empat puluh persen dari nilai akhir semester.

​Baskara masuk ke kelas dengan wajah yang lebih dingin dari es di musim dingin London. Ia meletakkan tumpukan silabus di meja dengan suara cukup kuat yang membuat seisi kelas langsung tegak.

​"Tugas ini dilakukan berkelompok, masing-masing tiga orang. Saya bebaskan kalian memilih, asalkan semua bekerja. Saya tidak mau melihat ada nama yang hanya menumpang nilai," ujar Baskara dengan nada tajam. Matanya melirik sekilas ke arah Aruna, seolah secara tidak langsung menuduh bahwa Aruna lah yang biasanya menumpang nilai, padahal kenyataannya justru sebaliknya.

​Baru saja Aruna ingin menoleh ke arah Devan dan Theo, suara melengking Michelle memotong suasana.

​"Pak Baskara! Saya sudah punya kelompok. Saya, Paula, dan Aruna Prawijaya," ucap Michelle dengan wajah tanpa dosa, seolah ia baru saja memberikan anugerah besar bagi Aruna.

​Aruna tertegun. Ia segera berdiri, tangannya mencengkeram pinggiran meja. "Maaf, Pak. Saya keberatan. Saya sudah punya rencana kelompok sendiri bersama Devan dan Theo."

​Michelle langsung berbalik, menatap Aruna dengan api kemarahan di matanya. "Aruna! Kamu jangan sok jual mahal, ya! Harusnya kamu bersyukur aku mau mengajakmu masuk kelompokku. Kamu tahu kan kalau relasi papaku itu banyak? Kamu butuh koneksi kalau mau kerja nanti!"

​"Aku ke sini untuk belajar, bukan mencari koneksi dengan cara menjadi asisten pribadimu, Michelle," balas Aruna tenang, namun tegas. "Pak Baskara, saya mohon izin untuk tetap bersama kelompok yang sudah saya diskusikan sebelumnya."

​Baskara melipat tangan di depan dada, menyandarkan punggungnya di kursi dosen sambil menatap drama di depannya dengan pandangan meremehkan. "Aruna, bukankah biasanya kamu sangat senang membantu tugas orang lain? Kenapa sekarang tiba-tiba menolak? Apa karena sekarang kamu merasa punya pelindung?"

​Sindiran Baskara membuat Michelle semakin berani. "Benar, Pak! Dia cuma mau dekat-dekat dengan Devan karena Devan itu populer. Dia cuma mau memanfaatkan Devan!"

​Devan tidak bisa lagi menahan diri. Ia berdiri, membuat kursi kayunya berderit keras. "Cukup, Michelle! Siapa yang sebenarnya mau memanfaatkan siapa? Selama ini Aruna yang mengerjakan tugas-tugasmu sampai begadang, sementara kamu sibuk belanja di Bond Street. Kamu itu tidak tahu malu ya?"

​Theo ikut berdiri, membenarkan letak kacamatanya dengan ekspresi dingin. "Lagipula, Pak Baskara, secara akademis, memasukkan Michelle ke kelompok kami hanya akan menurunkan standar kualitas kerja kami. Kami bertiga, saya, Devan, dan Aruna sudah memiliki pembagian materi yang jelas. Jika Michelle masuk, dia hanya akan menjadi beban."

​Wajah Michelle merah padam, antara malu dan emosi yang meluap. "Kalian berdua benar-benar sudah dicuci otak oleh gadis desa ini, ya!"

​Baskara terdiam sejenak. Ia menatap Aruna yang berdiri di baris depan. Ada sesuatu dalam sorot mata Aruna yang tidak goyah sedikit pun meski ia sedang dipojokkan. Namun, sifat keras kepala Baskara membuatnya enggan terlihat membela Aruna.

​"Sudah, jangan berisik," potong Baskara dengan suara rendah yang mengancam. "Michelle, cari anggota lain. Dan Aruna... jika hasil kerja kelompokmu tidak sempurna, saya tidak akan ragu memberikan nilai nol untuk kalian bertiga. Jangan pikir karena kamu bersama ketua kelas, saya akan memberikan keringanan."

​"Kami tidak butuh keringanan, Pak. Kami hanya butuh Bapak menilai secara objektif," jawab Aruna singkat sebelum kembali duduk.

​Baskara mendengus sinis, meski jauh di dalam lubuk hatinya, ia merasa terusik dengan keberanian Aruna yang semakin terlihat. Ia seolah sedang melihat sosok lain yang jauh lebih kuat di balik penampilan sederhana gadis itu. Sesuatu yang mengingatkannya pada rekan-rekan bisnis ayahnya yang sangat berpengaruh, namun ia segera menepis pikiran konyol itu.

​"Mulai kerjakan hari ini. Kelas selesai," tutup Baskara sambil melangkah keluar, meninggalkan Michelle yang masih memandang Aruna dengan tatapan penuh dendam.

1
Desi Santiani
semangat trus thor up nyaa 😍💪
Desi Santiani
semakin seruuu, dtunggu selalu thor update kisah mereka😍
Desi Santiani
terima kasih thor, untuk up kisah mereka dgn lgsg bbrp bab, selalu dtunggu cerita mereka, sehat selalu thor /Heart/
Ra H Fadillah: Sama-sama 😉 Semoga kamu suka dengan ceritanya !
total 1 replies
Desi Santiani
semangat up nya trus thor, alur ceritanya sgt seru
Ra H Fadillah: Terima kasih, senang sekali melihat komentar mu yang sangat positif 😉 💞
total 1 replies
Ra H Fadillah
Terima kasih sudah bantu ngeramein💕 Semoga betah terus marathon bacanya ya!😇
Desi Santiani
up lg thor... ceritanya keren
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Mantap, Aruna, tunjukkan 'pesona'mu 🔥🔥🔥
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱: Cama², Ade, Siap, kami tunggu, udh gk sabar liat 'Karma' utk yg udh nyakitin Tuan Putri ❤️🤗😘
total 2 replies
Anonim
sepele bgt ni dosen 😡
Anonim
masuk tata rias aja lu michel 😡
Anonim
wahhhh 💞 cerita baru lagi dri author kesygn 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!