Kecelakaan pesawat mengakhiri hidup Aruna Maheswari— perempuan independent yang menolak akan adanya cinta dan pernikahan di hidupnya. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Sekar Calista Pranawijaya, seorang istri yang dibenci… dan memiliki dua suami.
Sekar dikenal sebagai perempuan temperamental yang membuat rumah tangganya berubah menjadi neraka. Dua pria yang seharusnya menjadi pelindungnya justru menunggu saat ia pergi dari hidup mereka.
Namun kini, wanita yang sama memilih diam.
Tidak marah. Tidak menuntut. Tidak meminta cinta.
Perubahan itu membuat segalanya terasa salah.
Karena di rumah penuh kebencian itu, bukan cinta yang paling berbahaya— melainkan rahasia di balik kematian Sekar, dan fakta bahwa istri yang mereka benci… telah berganti jiwa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandri Ratuloly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
******
Calista mengeliatkan tubuhnya perlahan, mengerjapkan mata berulang kali guna untuk menghalau cahaya matahari yang masuk ke dalam kamar dan mengenai wajahnya.
"Berat." gumam Calista saat merasakan area perutnya terasa berat, seperti ada sesuatu yang menindih.
Ia memejamkan matanya sebentar mengingat kembali kejadian semalam.
"Damar.... "
Flashback on
Setelah makan malam singkat di restoran. Calista dan Damar langsung saja bersiap siap ke bandara untuk kembali pulang.
Terlebih lagi Damar. Pria itu seperti ingin sekali keduanya pergi meninggalkan negara Arctovia ini secepat mungkin, padahal masih ada sejam lagi keduanya pulang sesuai dengan ucapan Damar sebelumnya.
"Aku ingin tidur dengan mu malam ini, di kamar mu. " ujar Damar tiba-tiba, kini keduanya sudah berada di dalam jet pribadi.
"Aku tidak mau! Kenapa kamu tiba-tiba meminta hal seperti ini? Biasanya juga tidak seperti ini. " tolak mentah mentah Calista.
"Kamu menolak, maka aku akan menghamili kamu dengan paksa. " ancam Damar tak main main.
"Di sini, di dalam jet yang tengah beroperasi, biarkan saja kru di dalam jet melihat kegiatan kita. " tambahnya, ia tidak ingin dibantah.
"Kamu gila?! " hardik Calista kesal, ia melirik beberapa kru yang berdiri tidak jauh dari mereka.
Jangan sampai mereka mendengar ucapan absurd Damar tadi, mau di taruh di mana mukanya nanti?
"Kamu tinggal pilih aja, aku tidur di kamar mu atau kamu bersedia kita melakukan—
" Oke! Kamu tidur di kamarku malam ini, puas?! "
Flashback end
"Dasar... "
Ia melirik kearah Damar yang terlihat begitu nyenyak dan damai tidurnya, sangat nyenyak. Bahkan sampai memeluk lingkaran perut Calista dengan kuat dan posesif, padahal semalam sebelum terpejam, Calista sudah memberikan batal pembatas di antara keduanya.
Dengan kekuatan sedikit ekstra. Calista melepaskan lilitan tangan Damar pada perutnya yang cukup erat.
"Susah sekali, " Calista masih berusaha melepaskan, dengan kuat dan akhirnya terlepasnya juga. Namun si empunya malah tetap terlelap nyenyak, padahal pergerakan Calista cukup kuat.
"Dasar kebo. " ledek Calista sebelum akhirnya melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk bebersih diri.
Hari ini ia ingin ke salah satu proyek pembangunan restoran yang dalam sesi setengah pembuatan, ia sudah meminta kepada Tuan Hendra agar proyek ini dia yang akan memegangnya. Mengingat kerja sama perusahaan dengan Dimas bukan lagi dia yang memegang karena kecemburuan tak jelas Damar.
Pagi ini Calista berencana untuk meredam sebentar untuk merilekskan tubuh, semalam sesampainya di mansion. Calista tidak terlebih dahulu membersihkan diri melainkan langsung menjatuhkan tubuh ke atas kasur, perjalanan dari negara Arctovia ke negara Norvastia memakan waktu sampai empat jam lamanya, tergantung cuaca.
"Kamu kenapa gak bangunin aku, Calista? " Damar tiba-tiba datang masuk ke dalam kamar mandi, mengagetkan Calista yang tengah berendam sambil memejamkan matanya.
Ia melototkan matanya melihat kedatangan Damar yang asal masuk ke dalam kamar mandi, posisinya kini tengah telanj*ng bulat walau tubuhnya kini di tutupi busa di dalam bathtub dan hanya menyisakan kepala sampai leher jenjangnya.
"Gila! Kamu ngapain masuk ke sini, hah? " Calista menatap garang pada Damar yang malah terlihat biasa saja, bahkan mata pria itu sudah jelatan menatap kearahnya.
"Kamu berendam? Aku ikut ya.... "
"Dasar gila! Pergi kamu dari sini. " Calista mengambil botol sampo dan melemparkan ke arah Damar.
Brak!
"Pergi, sebelum botol kaca ini aku lempar ke kepala kamu. " ancam Calista sambil menunjukkan botol kaca besar berisikan sabun mandi.
"Iya iya aku keluar sekarang, galak sekali. " Damar akhirnya mengalah juga, sedikit takut dengan ancaman Calista yang ingin melemparkan botol kaca padanya.
Padahal Damar masih ingin menggoda Calista.
Calista akhirnya menghembuskan napas lega saat Damar sudah keluar dari kamar mandi dan menutup kembali pintunya.
"Dasar, sialan. "
******
Sejam lebih lamanya akhirnya Calista turun ke lantai bawah untuk sarapan, ia sempat ketiduran tadi di kamar mandi makanya keluar kamar selama itu.
Untungnya kepala pelayan datang memanggilnya, kalau tidak mungkin saja Calista masih nyenyak dengan tidurnya.
"Kamu baru turun sarapan? Padahal sekarang sudah jam sembilan pagi. " suara Arkana menyambut kedatangan Calista di meja makan, pria itu sengaja menunggu Calista.
Calista tidak membalas, masih ada perasaan kesal dalam dirinya karena ulah Damar tadi.
"Kamu semalam tidur bareng, Damar? " Arkana kembali berbicara saat tak mendapatkan jawaban apapun dari Calista.
Istrinya ini kenapa semenjak terjatuh dan keluar dari rumah sakit jadi berubah drastis begini?
"Bukan urusan kamu. " jawab Calista ketus, ia sibuk dengan sarapannya.
Arkana berusaha sabar mendengar jawaban tak bersahabat dari Calista, mungkin saja wanita ini tengah datang bulan, makanya mood terlihat berantakan sekali.
"Kamu mau periksa proyek pembangunan restoran, kan? Aku ikut memantau, ayah mertua yang memerintahkan. "
Mendengar itu Calista hanya bisa menghembuskan napas dalam-dalam, semoga kali ini tidak ada kejadian aneh seperti Damar kemarin. Calista sudah pusing menghadapinya.
Semesta juga kenapa membiarkan ia menempati tubuh wanita yang sudah bersuami? Bahkan ada dua lagi!
Calista pusing akan nasibnya sekarang.
******
Kini Calista dan Arkana sudah tiba di tempat pembangunan proyek restoran.
"Sudah berapa lama? "
Arkana menoleh ke arah Calista yang tengah menyipitkan matanya karena terik sinar matahari.
"Sudah hampir dua bulan. " jawab Arkana mantap.
Calista mengangguk mengerti, menatap seluruh bangunan restoran yang begitu besar. "Lumayan cepat. "
"Kamu yakin bangunannya kokoh, Arkana? " tanya Calista memastikan, terbilang cukup cepat pengerjaan bangunan restoran lantai lima ini dalam sebulan.
"Yakin sekali, aku yang selama ini yang mengawasinya dari awal membangun. Ayah mertua hanya sesekali datang untuk mengecek, " jawab Arkana dengan yakin, walau ia juga disibukkan dengan pekerjaannya di kantor. Arkana juga rajin sekali memantau proses pembuatan pembangunan proyek restoran ini.
"Mmm, bagus. " Calista sedikit merasakan pening dikepalanya karena sinar matahari yang begitu terik. Arkana disampingnya yang menyadari kondisi Calista dengan segera membawa Calista ke tempat yang lebih teduh dan menyandarkan tubuh Calista ke dada bidangnya dengan posisi keduanya masih berdiri menatap proses pengerjaan para tukang membangun restoran.
Tangan besar dan kekar Arkana satunya menghalau di depan wajah Calista dari sinar matahari, sedangkan tangan lainnya sibuk memeluk posesif perut kecil Calista agar semakin dekat dengannya.
Calista yang masih sedikit pening juga tertekun dengan posisi keduanya yang terlihat begitu intim tanpa ada jarak sedikitpun.
‘Kenapa sekarang aku bisa sedekat ini dengan makhluk yang berjenis pria? Aku dulu bahkan sangat anti sekali berdekatan dengan mereka, melihat muka saja aku sudah muak.’ batin Calista masih linglung, ia juga masih tidak habis pikir bahwa ia sudah tidur seranjang dengan Damar semalam, apalagi dengan kejadian di kamar mandi tadi. Sebagian tubuhnya sudah dilihat terang terangan oleh seorang pria.
"Aku senang dengan perubahan mu ini, kamu terlihat begitu tenang dan sedikit menggoda. " bisik Arkana tepat di telinga Calista membuat wanita itu menegang.
Cup!
Cup!
Cup!
Calista tanpa sadar menelan ludahnya dengan susah payah saat Arkana dengan tiba-tiba mengecup tulang lehernya sebanyak tiga kali.
Mama papa, anakmu kini sudah tidak suci lagi. Aaaaa, tolong bawa aku dari sini....
******
😒😒😒😒
lanjuut kak ,,
sad tu bukan berarti calista meninggal ,, buat dy menghilang aj ,,
Aruna di tubuh calista
apa kah arkana juga terlibat???
krn waktu damar kerjaa di kmr mereka arkana pun melihat apa yg di kerjakan damar ,,
ad sesuatu niih ,,
aaaaa kak author jgn di gantung dooonk ,, 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
makin seruuu niiih ,,
ad rahasia yg Blum terungkap niii ,, ap yg lgi di kerjakan damar😁😁😁🤭🤭🤭🤭
terkadang kesalahan org tua justru ank yg jd pelampiasan ,,
semangat trus arkana ,,
bukti ny skrang km sukses ,,
jgn yg aneh2 yx damar ,, 👍👍👍
next kak
waaaah Atharva km slah org ,,
dy buukan. sekar yg cengeng dn manjaaa ,,
dy arunaaa si ratu bisnis ,,
jgn maen maen ,, jgn maen maen ,, 🤭🤭🤭