NovelToon NovelToon
Menikah Karena Kasihan

Menikah Karena Kasihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: pipit fitriyani

Bagaimana jadinya jika hubungan yang telah dibina selama ini yang tampak begitu harmonis dan penuh kasih sayang ternyata hanyalah didasari rasa kasihan semata?

Wanita yang dinikahinya adalah seorang yatim piatu yang harus menanggung beban kehidupan kedua adiknya. Karena rasa iba , ia berinisiatif menikahi perempuan tersebut, padahal keduanya baru saling mengenal selama satu tahun. Namun, yang ada di dalam hatinya bukanlah istrinya, melainkan mantan kekasih yang pernah memutuskannya tanpa alasan yang jelas, namun masih sangat dicintainya hingga saat ini.

Apa yang akan terjadi jika kelak sang istri mengetahui kenyataan ini? Akankah ia tetap menerimanya, atau memilih untuk mundur, meski harus melepaskan kehidupan yang sudah terjamin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipit fitriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Demam setelah malam pertama.

Pagi-pagi buta, Amira sudah bangun. Badannya seperti habis tertimpa reruntuhan, terasa sakit dan tidak nyaman di area sensitifnya. Namun, dia harus bangun dan membersihkan diri, semalam dia benar-benar tak sanggup untuk pergi ke kamar mandi. Amira berjalan tertatih ke arah kamar mandi yang ada di kamar itu, menahan perih yang luar biasa hebat. Farhan benar-benar brutal, seolah tidak ada ampun.

"Apa semua orang yang baru pertama kali melakukannya sesakit ini? Badanku benar-benar remuk, sepertinya nggak ada tenaga untuk berjalan," ucap Amira pada dirinya sendiri.

Meski pelan, akhirnya Amira sampai ke kamar mandi. Dia melakukan mandi besar dan berwudhu karena azan subuh sudah berkumandang. Setelah selesai shalat subuh, Amira membangunkan suaminya.

"Mas, bangun. Sudah subuh." Farhan menggeliat, lalu bangun. Dia pun terasa sama lemahnya, dan saat teringat kejadian semalam, dia langsung merasa bersalah pada wanita yang ada di hadapannya saat ini.

"Amira, maafkan aku. Pasti sakit, ya? Maaf sekali lagi, aku terlalu nggak sabaran sampai gabisa nunggu jawaban kamu, mau atau nggak," ucap Farhan dengan wajah menyesal. Padahal, penyesalan terbesar Farhan adalah saat dia mengira Amira adalah orang lain.

Amira tersenyum. "Kenapa minta maaf? Itu sudah jadi hak kamu, dan aku ikhlas melakukannya. Ini sama-sama pengalaman pertama buat kita, jadi bisa dimaklumi," sahut Amira.

Farhan membalas senyum Amira. "Terima kasih, Amira. Aku akan berusaha jadi suami yang baik dan kakak ipar yang baik buat kamu dan adik-adikmu." Amira kembali tersenyum dan mengangguk bahagia.

Di dalam kamar mandi, lamunan Farhan jauh melayang. Air shower yang membasahi tubuhnya diharapkan bisa membawa pergi rasa bersalah yang saat ini sedang ia rasakan.

"Aku jahat banget! Kenapa aku melakukan hal ini? Dasar pengecut!" Farhan memaki dirinya sendiri.

Di dalam kamar, Amira sedang mengganti seprai. Dia berinisiatif mengambilnya di lemari milik Farhan Amira tahu letak tempat menyimpan seprai itu karena semalam dia sempat memasukkan baju ke lemari yang sama dengan milik Farhan.

Seprei itu hanya ada beberapa warna tanpa motif warna hitam, abu-abu tua, abu-abu muda, dan warna-warna sejenis. Amira berinisiatif ingin membeli yang berwarna cerah, dan sepertinya masih banyak hal lain yang ingin dia rubah.

Amira berhasil mengganti seprai sambil menahan rasa sakit di tubuhnya keringat dingin bahkan sudah membasahi dahinya. Setelah selesai, dia membuat sarapan pertama di rumah Farhan. Kali ini, dia membuat nasi goreng dan telur mata sapi.

"Kakak sudah bangun? Kenapa tidak bangunin aku buat bantuin Kakak?" ucap Amara saat melihat kakaknya yang sedang memasak di dapur.

"Tidak apa-apa, Amara. Nanti kamu bisa bantuin Kakak nyapu dan pel lantai kalau mau," ucap Amira sambil menahan rasa perih.

"Kakak kenapa? Sakit? Muka Kakak pucat banget," tanya Amara khawatir melihat kakaknya yang sepertinya sedang sakit.

Amira menggeleng. "Kakak baik-baik saja, cuma sedikit kelelahan saja, mungkin karena acara kemarin," ucap Amira memberi alasan agar Amara tidak khawatir dan tidak curiga dengan aktivitasnya semalam bersama Farhan.

"Syukurlah. Kalau Kakak tidak enak badan, biar aku yang lanjutin saja."

"Tidak usah, Amara. Sebentar lagi selesai. Ammar sudah bangun dan shalat, kan?" tanya Amira.

"Sudah, Kak. Kebiasaan dia belajar sebelum dan sesudah shalat subuh, jadi sekarang dia lagi 'pacaran' sama buku-bukunya," ucap Amara menjelaskan kebiasaan kakak kembarnya.

Amira tersenyum. "Kenapa tidak kamu tiru cara belajar Ammar?"

"Tidak mau ah, aku mah yang normal-normal aja. Toh, isi kepala kita nggak jauh beda. Aku tetap jadi saingan dia, meskipun hasil belajarku ada di bawah Ammar."

Amira hanya tersenyum menanggapi ocehan adik bungsunya. Sebelum sarapan, Amara membantu Amira menyapu dan mengepel lantai. Ia lalu melanjutkan dengan menyiram tanaman, sebelum akhirnya berganti seragam sekolah dan bergabung bersama kakak-kakaknya yang lain.

Sarapan berlangsung dengan tenang. Tidak ada obrolan saat makan menjadi kebiasaan yang mereka bawa ke tempat tinggal baru ini.

Setelah makan, mereka berbincang santai.

"Kalian semalam tidur nyenyak, kan? Semoga betah, ya, tinggal di sini. Pokoknya kalau kalian butuh apa pun, kasih tahu Mas aja, ya," ucap Farhan pada kedua iparnya.

"Terima kasih, Mas. Ini udah lebih dari cukup buat aku sama amara. Makasih udah kasih fasilitas yang sebelumnya nggak pernah kami miliki," sahut Ammar.

Farhan tersenyum. "Sama-sama. Pokoknya kalian harus hidup dengan baik bersama Mas dan kakakmu, belajar yang benar, dan kuliah di tempat yang bagus kalau perlu, ke luar negeri."

Mendengar ucapan Farhan, Amira tersenyum haru, merasa beruntung memiliki suami seperti Farhan. Begitu juga dengan kedua adiknya. Mereka mengangguk patuh dan berjanji akan giat belajar.

**

Rumah sudah sepi Farhan sudah berangkat kerja dengan mobilnya, sementara adik kembarnya pergi ke sekolah menggunakan sepeda motor baru yang diberikan Farhan. Setelah membersihkan piring, Amira kembali ke kamar untuk istirahat. Tiba-tiba, badannya menggigil kedinginan. Sepertinya Amira demam karena aktivitas semalam.

Farhan pergi ke kantor seperti biasa. Seharusnya cuti menikah, tapi karena pernikahan Farhan masih dirahasiakan di kantor maupun di kalangan teman-temannya, hari ini nggak ada bedanya buat Farhan, dia tetap kerja.

Saat jam makan siang, Amira terpaksa menghubungi suaminya. Berkali-kali telepon nggak diangkat sepertinya Farhan lagi makan siang atau lagi rapat. Amira pasrah dan berenti menelpon suaminya, sampai akhirnya Farhan yang menelepon balik.

"Halo, ada apa, Mir?" tanya Farhan setelah sambungan teleponnya diangkat.

"Mas, tolong... Aku sakit," ucap Amira sambil menggigil kedinginan. Mendengar hal itu, Farhan merasa khawatir. Bukankah tadi pagi dia baik-baik saja? Lalu kenapa sekarang dia terlihat sangat kesakitan?

"Tunggu sebentar, aku pulang sekarang." Farhan langsung pergi ke parkiran mencari mobilnya dan meninggalkan kantor tanpa memberi tahu siapa pun. Dia benar-benar khawatir terjadi sesuatu pada Amira.

Sesampainya di rumah, Farhan langsung membuka pintu dan berlari ke arah kamar. Benar saja, Amira sedang menggigil dengan suhu badan yang cukup tinggi. Farhan langsung membawa Amira ke dokter. Saat dibawa ke IGD, dokter umum yang mendengarkan keluhan serta cerita di baliknya langsung menelpon dokter kandungan untuk membuatkan janji temu, dan beruntungnya dokter tersebut baru saja akan memulai jam praktik.

Dokter perempuan bernama Imelda itu memeriksa area intim Amira.

Dokter Imelda memeriksa dengan teliti, lalu menggeleng pelan sambil menghela napas.

"Ada lecet parah dan pembengkakan hebat di sini, akibat gesekan yang terlalu kasar dan berlebihan," ucap Dokter Imelda tegas. "Istri Bapak mengalami trauma fisik cukup berat, demamnya reaksi tubuh menahan sakit. Kalau terlambat ditangani, bisa timbul infeksi berbahaya."

Farhan menunduk dalam, rasa bersalahnya makin memuncak. Dokter memberikan obat dan peringatan keras Amira butuh istirahat total, dan selama sebulan penuh dilarang berhubungan suami istri agar lukanya sembuh sempurna.

"Apa tidak perlu rawat inap, dok?" tanya Farhan.

dokter menggeleng, dan memberikan nasihat yang sama seperti sebelumnya.

"Tidak perlu lagi, Pak. Nanti kalau keadaannya tidak membaik atau semakin parah bapak bisa balik lagi ke Rs."

Farhan mengangguk patuh. Ia menggendong Amira lembut ke mobil, berjanji dalam hati akan merawat istrinya sebagai bentuk penyesalan.

1
Lilis Yuanita
bgus
rasahaz
bnr2 nyesek kmu jdi amira,, jdi mnding go ja lh,,, 😤😤😤💪
Salsa Bilah
aku bolak-balik buat liat bab selanjutnya blom ada ihhh
Lilis Yuanita
sedih critay
rasahaz
nah kaan baru tau skrng gmn kelakuan laki mu amira,, mkany jgn polos2 bgt ahk, masa ngga bsa pke insting seorng istri sh,,, jdi udh mnding minggat ja minta pisah ngapain msh dpertahankn,, 😤😤😤😤
rasahaz
jgn trllu lemot amira,, masa ngga bsa pke insting sma skli sh,, 😄😄😄
rasahaz
mng dasar laki pengecut pecundang kau farhan,, 😡😡😡
rasahaz
ayo amira kmu hrus jdi wanita tanggung,, jgn menye2 yg dikit2 nangis,, 💪💪💪🔥
rasahaz
pergi amira pergi bwa adik2 mu,, mnding berdiri dkaki sndri dri pda brgntung sma laki modeln c farhan,,,
rasahaz
waaaahh bnr2 suami dzolim kau farhan,,, 😡😡
rasahaz
kau sprti menabur madu pdhal kau memberi racun,,, 😡😡
rasahaz
sikap mu bgtu manis tpi bnyak bgt mengandung racun ny,,,
rasahaz
dpt notif da cerita baru karya kak pipit,, langsung mlncur,🔥🔥🔥💪😄
Penikmat Sunyi: terima kasih, dukung terus ya kak biar semangat nulisnya😄😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!