NovelToon NovelToon
Yang Hilang Bukan Kamu, Tapi Aku

Yang Hilang Bukan Kamu, Tapi Aku

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: nita.mamitha

Aku pikir bertahan adalah bentuk paling tulus dari cinta.
Sampai aku sadar…
aku tidak sedang memperjuangkan hubungan,
aku hanya sedang menahan luka yang terus berulang.
Ini bukan cerita tentang kehilangan seseorang.
Ini cerita tentang
bagaimana aku perlahan kehilangan diriku sendiri
di hubungan yang tidak pernah benar-benar memilihku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita.mamitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26

Ada saatnya hati yang pernah terluka

tidak langsung menolak…

tapi juga belum berani menerima.

Bukan karena tidak ingin,

tapi karena masih belajar percaya.

Beberapa hari setelah pertemuan itu, Nara merasa ada sesuatu yang berubah.

Bukan sesuatu yang besar.

Bukan juga sesuatu yang langsung terlihat.

Tapi cukup untuk membuatnya berpikir lebih sering dari biasanya.

Tentang Arga.

Tentang cara dia berbicara.

Tentang bagaimana dia tidak memaksa.

Dan tentang satu hal yang terus teringat

“Ambil waktu kamu.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi entah kenapa, terasa berbeda.

Selama ini, Nara selalu merasa harus cepat menentukan.

Harus jelas.

Harus memilih.

Tapi kali ini, untuk pertama kalinya, seseorang memberinya ruang.

Dan itu… membuatnya pelan-pelan merasa aman.

Pagi itu, Nara duduk di depan meja kerjanya dengan secangkir kopi yang belum ia sentuh.

Pikirannya kembali ke percakapan terakhir mereka.

Tentang bagaimana Arga tidak mengejar.

Tidak juga menjauh.

Hanya… tetap ada.

“Aku kenapa, sih?” gumamnya pelan.

Ia menghela napas panjang.

Bukan bingung.

Tapi belum terbiasa.

Perasaan seperti ini sudah lama tidak ia rasakan.

Dan sekarang, saat itu datang kembali

ia tidak tahu harus menyambutnya… atau menghindarinya.

Siang harinya, Dina kembali duduk di sampingnya.

“Kamu akhir-akhir ini beda, deh,” katanya sambil menatap Nara.

Nara menoleh.

“Beda gimana?”

“Lebih… hidup."

Nara tertawa kecil.

“Emang sebelumnya mati?”

Dina ikut tertawa.

“Bukan gitu. Tapi sekarang kamu lebih… kelihatan.”

Nara tidak langsung menjawab.

Ia hanya tersenyum kecil.

Mungkin… memang ada yang berubah.

Sore itu, tanpa rencana panjang, Nara kembali melewati jalan yang sama.

Langkahnya tidak lagi ragu seperti sebelumnya.

Tidak juga terlalu yakin.

Tapi kali ini, ia tidak berhenti.

Ia langsung masuk ke dalam kafe itu.

Seolah sudah memutuskan sesuatu di dalam hatinya.

Suasana masih sama.

Tenang.

Hangat.

Dan di sana

Arga.

Seperti biasa.

Duduk di tempat yang sama.

Saat melihat Nara, ia sedikit terkejut.

Tapi senyumnya langsung muncul.

“Kayaknya ini bukan kebetulan lagi,” katanya pelan.

Nara tersenyum tipis.

“Mungkin nggak.”

Jawaban itu membuat Arga diam sejenak.

Bukan karena bingung.

Tapi karena ia mengerti itu adalah langkah kecil.

Dan itu berarti.

Nara duduk di depannya.

Tidak canggung.

Tidak juga terlalu santai.

Tapi cukup nyaman.

“Aku ganggu nggak?” tanya Nara.

Arga menggeleng.

“Nggak pernah.”

Jawaban itu langsung membuat Nara menunduk sedikit.

Bukan karena tidak nyaman.

Tapi karena ia tidak terbiasa dengan ketulusan seperti itu.

Beberapa menit pertama, mereka hanya berbicara ringan.

Tentang pekerjaan.

Tentang hal-hal kecil yang tidak terlalu penting.

Tapi di tengah percakapan itu, ada satu hal yang terasa berbeda

Nara tidak lagi menahan dirinya sepenuhnya.

Ia mulai bercerita sedikit lebih banyak.

Tentang hari-harinya.

Tentang kebiasaannya.

Bahkan sesekali… ia tertawa.

Dan Arga memperhatikan itu.

Tanpa mengomentari.

Tanpa membuatnya merasa diawasi.

Hanya mendengarkan.

“Kalau boleh tahu,” kata Arga pelan setelah beberapa waktu.

Nara menatapnya.

“Iya?”

“Kamu kenapa waktu itu menjauh?”

Pertanyaan itu akhirnya muncul.

Tidak tajam.

Tidak menekan.

Tapi cukup jujur.

Nara terdiam.

Tangannya meremas pelan gelas di depannya.

Ia tidak ingin menjawab.

Tapi juga tidak ingin menghindar lagi.

“Aku… takut,” katanya akhirnya.

Suasana langsung berubah sedikit lebih serius.

Arga tidak langsung menanggapi.

Ia memberi ruang.

“Takut kenapa?” tanyanya pelan.

Nara menarik napas panjang.

Seolah sedang menata kata-kata.

“Aku pernah… ada di posisi di mana semuanya terasa baik di awal,” ucapnya perlahan.

“Dan aku terlalu percaya.”

Ia berhenti sejenak.

Matanya sedikit menghindar.

“Jadi sekarang… kalau ada sesuatu yang terasa nyaman… aku malah jadi curiga.”

Jujur.

Sangat jujur.

Dan itu tidak mudah untuk diucapkan.

Arga mengangguk pelan.

Tidak menyela.

Tidak mencoba memperbaiki.

Hanya menerima.

“Itu wajar,” katanya akhirnya.

Nara menatapnya.

“Aku nggak buru-buru,” lanjut Arga.

“Kamu nggak harus langsung percaya.”

Nara diam.

Mendengarkan.

“Kita bisa pelan-pelan,” tambahnya.

“Tanpa harus jadi apa-apa dulu.”

Kalimat itu terasa ringan.

Tapi dalam.

Tidak ada tuntutan.

Tidak ada label.

Hanya… proses.

Dan untuk pertama kalinya,

Nara tidak merasa tertekan saat mendengarnya.

Ia merasa… aman.

Hening datang kembali.

Tapi kali ini, hening itu tidak canggung.

Justru terasa nyaman.

Seperti dua orang yang sedang belajar memahami satu sama lain.

Tanpa harus terburu-buru.

Sore berubah menjadi malam.

Waktu terasa berjalan lebih cepat dari biasanya.

Dan tanpa disadari, Nara tidak lagi melihat jam sesering sebelumnya.

Ia tidak merasa ingin segera pergi.

Tapi ia juga tahu… ia belum siap untuk terlalu jauh.

“Aku harus pulang,” katanya akhirnya.

Arga mengangguk.

“Iya.”

Tidak ada usaha untuk menahan.

Tidak ada juga kekecewaan yang berlebihan.

Dan itu… membuat semuanya terasa lebih ringan.

Nara berdiri.

Tapi sebelum pergi, ia menoleh sebentar.

“Aku… mungkin belum sepenuhnya siap,” ucapnya.

Arga tersenyum kecil.

“Aku tahu.”

Jawaban itu membuat Nara sedikit terkejut.

“Dan nggak apa-apa,” tambah Arga.

Nara mengangguk pelan.

Lalu melangkah keluar.

Udara malam terasa lebih sejuk.

Langkahnya pelan.

Tapi kali ini… tidak berat.

Ia tidak lagi merasa harus lari.

Tidak juga merasa terjebak.

Untuk pertama kalinya,

ia berjalan dengan perasaan yang lebih jujur.

Tentang apa yang ia rasakan.

Tentang apa yang ia takutkan.

Dan tentang apa yang mungkin… ia inginkan.

Ia belum sepenuhnya percaya.

Belum sepenuhnya berani.

Tapi setidaknya,

ia sudah tidak menutup diri sepenuhnya.

Dan mungkin,

itu adalah langkah kecil

yang selama ini ia butuhkan.

1
Hariyanti
kisah yg TDK biasa menurutku🤔 berat dan butuh renungan. mungkin ini ttg perjalanan orang yang introvert dlm berinteraksi dan menjalin hubungan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!