Dalam sekejap identitas pribadinya diganti oleh kekasih suaminya. Ia dituduh melakukan berbagai kejahatan.
Kejahatan apa yang dituduhkan oleh kekasih suaminya hingga dirinya harus menebus kejahatan itu dibalik jeruji besi? apakah Kiara mampu melepaskan jeratan permainan orang-orang hebat yang menghancurkan hidupnya dalam sekejap? apakah ada yang bisa membantunya untuk melewati semua ujian hidupnya itu? ikuti cerita gadis cantik nan jenius bernama Kiara...!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sindya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Kasus
Sekitar pukul 5 sore, Kiara menarik kopernya keluar dari kamarnya. Ia berjalan melewati Amanda yang sedang asyik menatap ponselnya sambil scroll media sosial. Tidak ada kata pamit atau apapun pada Amanda karena Evert juga sedang pergi membeli sesuatu atas permintaan Amanda. Alasan klasik kalau dirinya sedang ngidam.
Kiara membuka pintu sambil membaca doa keluar rumah untuk melakukan safar. Sementara dibawah sana Billy dan Marco sedang menunggu Kiara di mobil. Kiara memesan taksi untuk mengantarnya ke bandara. Billy tampak tegang menatap wajah teduh nan cantik milik Kiara yang berjalan anggun masuk ke dalam mobil taksi.
"Aku pasti sangat merindukanmu, Kiara," desis Billy yang tidak rela Kiara meninggalkan kota itu. Kenangan singkat bersama Kiara sangat membekas begitu dalam dan sangat sulit untuk mengabaikannya.
Padahal dia punya segalanya untuk bisa mendapatkan wanita cantik manapun. Tapi entah mengapa kecantikan fisik tidak membuat dirinya tersentuh apalagi untuk jatuh cinta. Tapi melihat Kiara pertama kali mampu membuat jantungnya tidak tenang. Mobil mulai bergerak keluar meninggalkan gedung apartemen nan megah itu. Siapa yang menyangka kalau Billy pemilik gedung apartemen itu.
"Ikuti mobilnya...! jangan sampai hilang dari pandanganmu, Marco...!" Billy menatap satu taksi itu sambil menghafal nomor kendaraannya. Tiba-tiba saja perasaan Kiara tidak enak. Rasa gelisah dan ketakutan yang luar biasa menyergap jiwanya.
"Ya Allah ada apa...? kenapa perasaanku jadi kacau begini?" gumam Kiara lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi sang bunda.
"Sayang, ada apa nak?" tanya nyonya Rubby.
"Apakah bunda baik-baik saja?" tanya Kiara dengan nafas berat.
"Alhamdulillah bunda sehat selalu. Tidak usah pikirkan bunda. Fokus saja pada kehamilanmu...!" Rubby menenangkan Kiara yang terdengar cemas.
"Syukurlah kalau bunda sehat. Aku tutup telpnya ya bunda," pamit Kiara dengan tetap merasa cemas.
"Apakah nanti pesawatnya akan jatuh?" batin Kiara. Matanya langsung terbelalak. Pikiran negatif mengisi kepalanya, namun ia menyayangkan tiket pesawat yang sangat mahal ditangannya terbuang sia-sia.
"Ah sudahlah. Takdir Allah yang ngatur, jika mati yah memang harus mati kenapa harus takut? bukankah pertemuan dengan Allah lebih menyenangkan daripada bertahan di dunia penuh dengan kepalsuan? jujur aku lelah ya Allah," gumam Kiara.
Tidak terasa mobilnya sudah tiba di bandara. Kiara turun di ikuti sopir yang mengambil koper dari bagasi. Langkah Kiara gontai tidak seperti tadi terlihat sangat semangat. Jantungnya makin kuat memacu dengan cepat. Seakan dirinya siap dieksekusi dengan hukuman mati.
"Kiara...! suara bariton itu mengalun di udara membuat Kiara mencari sumber suara itu.
Keduanya saling bertatapan. Ada ruang rindu di hati mereka yang sudah mulai tumbuh walau raga belum terpisah. Billy berharap waktu berhenti sejenak agar ia bisa menatap lebih lama wajah yang membuatnya tidak bisa pergi dari benaknya sampai terbawa tidur.
"Tolong jangan pergi Kiara...!" suara hati itu hanya bisa berucap bisu tapi begitu takut untuk meminta langsung.
Kiara telah melanggar batasannya. Ia menatap dengan berani pahatan wajah tampan yang hampir terlihat sempurna. Jantungnya tidak bisa lagi tolerir bahwa ia mulai jatuh cinta pada pria di depannya. Namun ada sesuatu yang mulai menegur dirinya untuk kembali ke batas awal.
"Astagfirullah...! Apa yang aku pikirkan barusan? tidak...! aku tidak boleh kalah dari setan. Kiara mengubah sikapnya lalu bertanya dengan anggun pada Billy walaupun sebenarnya ia sangat gugup.
"Tuan ...! mengapa anda di sini?" tanya Kiara polos.
"Aku ada urusan di sini," Billy terlihat gugup dan Kiara mengerti jika pria sedang mengawasinya.
"Oh begitu. Baiklah, aku mau pamit pulang. Senang bisa melihat anda lagi tuan. Aku akan mengabari anda jika sudah tiba," ucap Kiara untuk menenangkan Billy.
Ponselnya Marco berdering. Pria dewasa itu bicara sebentar lalu membisikkan sesuatu pada Billy yang langsung terlihat syok.
"Tuan, nona Anabell dilarikan ke rumah sakit. Informasinya belum jelas nona sakit apa. Kita diminta ke rumah sakit sekarang...!" ucap Marco dan Billy segera pamit pada Kiara yang juga bingung dengan sikap Billy yang pamit buru-buru tanpa ada penjelasan.
"Maafkan aku Kiara. Aku ada urusan mendadak. Nanti tolong hubungi aku kalau kamu sudah tiba. Jaga dirimu dan rindukan aku...!" ucap Billy terdengar tulus tanpa ada rasa canda di dalamnya. Kiara mengangguk sambil melambaikan tangannya.
Setelah masuk ke bagian pemeriksaan imigran, Kiara memberikan paspornya. Petugas mengamati Kiara berulang kali dan melihat nama tiket beda dengan nama paspor.
"Siapa namamu?" tanya petugas itu.
"Kiara, " ucap Kiara menyebutkan nama lengkap dan tanggal lahirnya.
"Maaf nona tolong ikut dengan petugas kami sebentar...!" titah petugas imigran itu.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Kiara masih terlihat tenang.
"Biar petugas kami yang akan jelaskan kepada anda, nona. Ikuti prosedurnya dan dibelakang anda ada antrian, " jelas petugas itu.
Kiara mengikuti kedua petugas laki-laki dan perempuan. Keduanya mulai melakukan interogasi kepada Kiara.
"Apakah anda menggunakan tiket orang lain untuk menyelamatkan diri dari penangkapan?" tanya petugas itu mulai membuat Kiara makin bingung.
"Penangkapan? Penangkapan apa?" bingung Kiara.
"Nama di paspor dan nama ditiket anda berbeda dan anda adalah buronan yang selama ini kami cari, " ucap petugas itu makin membuat Kiara tidak paham. Kiara segera mengambil buku paspornya dan melihat namanya adalah Amanda Alexandra Orlando.
"Bagaimana bisa nama Amanda ada dibuka paspor diikuti fotoku?" Kiara terlihat syok. Belum sempat ia menjelaskan tentang dirinya, petugas keamanan bandara langsung memborgol dirinya.
"Anda ditangkap atas sejumlah kasus kejahatan yang anda perbuat dan sudah menjadi buronan yang kami cari selama ini," ucap petugas wanita itu membuat Kiara makin panik.
"Tidak. Ini salah. Paspor itu palsu. Tolong dengarkan aku...! aku bukan penjahat. Aku bisa membuktikannya kalau aku bukan Amanda. Wanita itu telah menjebakku, " ucap Kiara sambil menangis. Namun apapun yang dikatakannya tidak digubris oleh petugas bandara yang langsung menyerahkan dirinya pada agen FBI.
Nama Amanda cukup populer di anggota FBI namun mereka belum melihat seperti apa wajah Amanda sebenarnya. Hanya modal nama lengkap dan tanggal lahirnya Amanda yang bisa disesuaikan dengan informasi kejahatan oleh wanita itu.
"Ini dia pak. Kami berhasil menangkapnya...!" ucap petugas wanita imigran itu sambil mendorong tubuh Kiara.
Agen rahasia FBI itu mengamati sosok Kiara dari puncak kepala hingga kaki Kiara yang terlihat gemetar dari celana kulit yang dipakainya.
"Kamu tidak perlu menyamar sebagai wanita baik-baik dengan menggunakan hijab ini nona karena selihai apapun dirimu menyembunyikan dirimu, kami tetap akan menangkap," ucap agen rahasia FBI itu lalu menarik lengan Kiara untuk dibawa masuk ke mobil.
"Anda salah tangkap orang tuan. Aku bukan wanita yang anda cari. Jika saja anda lebih cerdas, anda tidak akan tertipu dengan permainan wanita licik itu," ucap Kiara masih berusaha membujuk agen FBI itu untuk melepaskannya.
"
sampe punya anak dan cucu dan alat alat canggihnya yg bs menghilang dll.
aq penggemar author dari cerita nenek amina lupa namanya🤭