Tara dan Devan sudah menikah selama tiga tahun. Hanya Tara yang jatuh cinta di sini. Selama tiga tahun, Tara berusaha membuat Devan jatuh cinta. Apakah Tara berhasil saat ia tahu persis pernikahannya dengan Devan berbeda dengan pernikahan normal lainnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yesstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
“Devan menjual rumahnya, Ra.”
Tara berhenti mengunyah dan menoleh. Hanya sesaat, lalu kembali mengunyah sandwich yang dibuatnya.
“Dia bilang, di rumah itu banyak banget kenangan sama kamu. Dia selalu merasa bersalah. Akhirnya terpaksa dia jual rumah itu,” lanjut Haris ikut mengunyah sandwich buatan Tara. Rasanya lumayan enak untuk orang yang pertama kali membuatnya.
Tara mengusap bibirnya dengan sehelai tisue. Sandwich nya sudah habis. “Itu bukan urusanku lagi, Bang.”
“Kamu bilang, kamu akan tetap berteman dengannya setelah kalian cerai, tapi kayaknya kamu masih marah sama dia.”
Tara menghela napas pelan. “Ya.. dia mau jual rumahnya itu hak dia. Rumah itu sudah ada sebelum kami menikah. Jadi, apa urusannya denganku?”
“Abang cuma ngasih informasi aja, Ra.”
“Iya, aku tahu. Tapi informasi Abang nggak penting. Toh aku nggak akan kesana lagi cari dia,” ucap Tara ketus.
Haris mengangguk. “Oh iya, Abang hari ini sepertinya harus lembur sampai malam. Kamu berani di rumah sendiri kan?”
Tara mengangguk. “Berani. Aku bukan Tara yang dulu lagi, Bang. Jadi Abang nggak perlu khawatir.”
“Sepertinya Devan banyak merubahmu, Ra.”
Tara tak menjawab. Dia berdiri membereskan piringnya dan Haris yang sudah kosong lalu membawanya ke dapur. Haris hanya bisa menghela napas perlahan.
David [Hai. Ada waktu longgar nggak?]
Tara terdiam sesaat, setelah membaca pesan masuk ke ponselnya.
David [Kalau ada, kita ketemuan yuk. Jalan-jalan kemanapun kamu mau. Biar nggak suntuk di rumah terus. Daripada terus bersedih, mending bersenang-senang. Menikmati status baru. Hehe.]
Tara mengernyit. Dari mana David tahu kalau dia sudah sah berganti status? Bukankah mereka baru bertemu kemarin di supermarket? Tara juga tak bercerita apapun.
Setelah menimbang sesaat, akhirnya Tara mengiyakan ajakan David.
[Oke. Ketemu dimana?]
David yang berada di dalam kamarnya, sontak langsung turun dari ranjang dan melompat kecil sambil tersenyum lebar.
David [Mau aku jemput di rumah?]
Tara [Jangan.]
David [Oke. Di tepi jalan besar?]
Tara [Tidak. Jemput saja di rumah kedua orang tuaku. Aku mau kesana sebentar.]
David [Oke. Satu jam lagi aku berangkat.]
David bersorak dalam hati. Dia bergegas keluar kamar sambil bersiul riang. Vano yang kebetulan juga keluar dari kamarnya sontak menoleh keheranan melihat wajah kakaknya yang sangat bahagia di pagi ini.
“Kenapa lo, Mas? Pagi-pagi, udah senyum-senyum nggak jelas,” tanya Vano.
David menoleh dan tersenyum. “Kepo. Udah sana, mandi. Bau kali jigong kau nih,” sindir David.
Vano berdecak. “Ck. Namanya juga baru bangun tidur.”
David tertawa. “Udah sana.”
Vano tak menjawab dan melangkah kesal menuju kamar mandi.
“Jangan lama-lama. Gantian!” Seru David.
“Mau kemana, Vid, pagi-pagi? Biasanya kamu berangkat ke bengkel jam sembilan. Ini masih jam tujuh,” ucap Lia sambil menyiapkan sarapan di atas meja makan.
“Ada urusan, Bu,” jawab David singkat.
“Urusan bengkel?”
“Iya, Bu,” angguk David mengiyakan. Dia belum ingin menceritakan apapun pada Ibunya tentang Tara. Setidaknya sampai Tara membuka hati untuknya.
***
Dua jam kemudian, David sudah berada di depan rumah kedua orang tua Tara. Rumah yang tak lagi ditempati oleh Tara ataupun Haris. Rumahnya masih terawat karena Haris membayar seseorang untuk sekedar bersih-bersih. Tak ada kendaraan yang parkir di depan rumah. David mengambil ponselnya dan menelepon Tara.
“Halo.”
“Dimana, Ra? Belum sampai ya?”
“Kamu dimana?”
“Aku sudah ada di depan.”
“Oke. Aku akan keluar.”
Sambungan pun terputus. David keluar dari mobilnya dan berdiri bersandar. Dia menatap ke arah pintu rumah.
Tak lama kemudian, pintu terbuka. Tara keluar dan mengunci pintunya. Tara berjalan ke arah David seraya tersenyum. Untuk sesaat David terpana. Tara memang selalu cantik. Dia merasa jatuh cinta berkali-kali pada mantannya ini.
“Tutup mulutmu, Vid,” ucap Tara pelan.
David yang tak sadar membuka mulutnya lebar karena terpana dengan kecantikan Tara sontak menutup mulutnya dan salah tingkah.
Tara terkekeh tanpa suara. Kenapa jadi canggung begini? Mereka seperti sepasang remaja yang akan kencan pertama. Salah tingkah dengan pipi bersemu merah.
“Eh.. silahkan masuk, Ra,” ucap David kikuk lalu membuka pintu mobilnya untuk Tara.
Tara mengangguk dan masuk. David tersenyum lebar dan mengitari mobilnya, duduk di depan kemudi.
“Mau kemana?” David menoleh pada mantan cantiknya. Tara sedikit merias wajahnya dengan make up tipis. Membuat kecantikan Tara bertambah kali lipat. Apalagi ini kencan pertama mereka setelah Tara menyandang status barunya.
Kencan? Boleh kah David menamakan pertemuan mereka ini dengan istilah kencan?
“Terserah, deh. Jujur, aku nggak punya tujuan mau kemana. Waktu kamu bilang mau ngajak jalan-jalan biar aku nggak suntuk di rumah, ya udah aku iya in aja.”
“Maksudnya, kamu punya banyak waktu atau enggak? Kalau waktunya cuma sebentar, mungkin kita jalan-jalan sekitar sini saja.”
“Aku punya banyak waktu. Abang lembur sampai malam. Itu artinya aku bakal sendirian di rumah sepanjang hari. Jadi, mungkin kita bisa ke kota sebelah aja? Aku cukup bosan dengan pemandangan kota ini. Pingin lihat pemandangan kota lain,” ucap Tara menghindari tatapan David.
Sedari tadi, David memang selalu menatapnya, memandanginya, membuat Tara salah tingkah dan malu sendiri.
David bersorak dalam hati. Dia akan punya banyak waktu seharian ini bersama Tara. Maka, tak ragu lagi, David langsung melajukan mobilnya ke kota sebelah.
Setelah dua jam pelajaran, akhirnya mereka sampai di sebuah danau yang begitu indah. Ada banyak pohon-pohon besar dan kursi taman yang mengelilingi danau tersebut. Itu bukan tempat wisata. Itu hanya danau buatan di pinggir jalan.
Pohon-pohon besar itulah yang menaungi kursi taman di bawahnya, sehingga orang yang duduk di kursi, tak terkena panas matahari.
Setelah memarkirkan mobilnya di tempat parkir tak jauh dari danau, keduanya pun melangkah santai menuju salah satu kursi taman yang kosong.
Danau tersebut ramai oleh orang-orang yang sepertinya sedang menghabiskan waktu istirahat kerja mereka. Maklum, ketika mereka tiba, jam sudah menunjukkan pukul setengah satu siang. Ada beberapa gerombolan mahasiswa dan mahasiswi juga disana seperti sedang mengobrol, atau mungkin membahas tugas kuliah, terlihat dari almamater jas yang mereka pakai.
Tadi kenapa nggak mampir dulu ke minimarket beli camilan, ya?”
David menoleh. “Kamu nggak bilang kalau mau ke danau ini.”
“Iya. Tadi lihat danau ini, kayaknya tempatnya adem banget. Makanya refreshing ke sini aja. Nggak niat juga mau kesini,” ujar Tara lalu duduk di kursi, memandangi danau yang airnya bersih, walau tak bening.
LMau aku beliin camilan di minimarket dekat sini?” tanya David masih berdiri. Siap berangkat jika Tara menyuruhnya membeli camilan.
Tara menggeleng dan menepuk kursi di sebelahnya. “Duduklah. Aku juga belum lapar kok.”
“Beneran? Nggak papa kok, aku beli camilan dulu.”
“Nggak usah, Vid. Nanti aja sekalian makan berat.”
David mengangguk dan duduk di sebelah Tara. Kursi taman itu hanya muat untuk dua orang saja. Jadilah Tara dan David duduk berdekatan.
David menatap danau di depannya dan sekali-kali melirik Tara. Tara terdiam dengan pandang mata ke arah danau.
“Gimana perasaanmu sekarang, Ra?” tanya David tanpa menoleh.
Tara tersenyum. “Lebih baik. Ya walaupun masih ada sedihnya.”
David mengangguk. “Itu hal yang wajar. Perpisahan memang selalu menyakitkan. Apalagi untuk dia yang masih mencintai.”
Tara menoleh dan menatap David. “Kamu tahu dari mana tentang status baruku?”
David menoleh dan tersenyum. “Aku bahkan ada di gedung pengadilan itu. Ya walaupun nggak bisa masuk ke ruang sidang. Tapi aku melihatmu.”
Tara mengernyitkan dahi. “Kamu juga tahu kapan sidangku? Dari siapa?”
“Itu nggak penting. Yang jelas aku bahagia. Sorry, Ra. Mungkin aku terkesan bahagia di atas kesedihanmu. Tapi, aku yakin kesedihanmu itu akan hilang suatu saat nanti. Kamu akan bahagia setelah bercerai dari suamimu itu. Cepat atau lambat.”
Tara menatap ke danau lagi dan menghela napas perlahan. “Aku harap semua rasa sedihku segera menghilang total. Tapi jika teringat, tetap saja rasanya masih sakit. Aku sama dia tiga tahun menikah. Saling mengenal lima tahun. Tapi nyatanya itu semua tak cukup. Ya… mungkin.. kami memang tak berjodoh.”
“Apa kalian masih saling komunikasi?” David menatap wajah sendu Tara.
Tara menggeleng. “Sejak keluar dari ruang sidang, kami tak pernah berhubungan lagi. Entah, bagaimana kabarnya. Tapi aku yakin dia baik-baik saja. Dia nggak akan bunuh diri hanya karena cerai dari aku,” ucap Tara tertawa sinis.
“Apa selama itu kalian dekat, dia sama sekali nggak mencintai kamu, Ra? Maksudku, kalian bersama hampir setiap waktu, hingga menikah, tinggal satu atap, apa sedikitpun dia nggak bisa membuka hatinya untukmu?”
Tara menggeleng lirih. David menatap Tara tak percaya. “Tapi, bagaimana mungkin? Dua orang, beda jenis kelamin, tinggal bersama, tak ada rasa ketertarikan? Suamimu normal, kan, Ra?”
Tara menoleh dan tertawa pelan. “Aku juga nggak tahu, Vid. Yang jelas, kami tak pernah bersentuhan lebih. Paling hanya peluk, gandengan tangan, cium kening, cium pipi.. Ya hanya begitu saja.”
David menggeleng tak percaya. “Kayaknya nggak normal dia, Ra. Masa cewek secantik kamu, dianggurin selama bertahun-tahun?”
Tara mengiyakan dalam hati. Devan memang tak normal. Tapi tak mungkin Tara menceritakannya pada orang lain, apalagi David. Tara tetap akan menjaga aib mantan suaminya sampai kapanpun.
“Nih ya, kalau aku jadi dia, kamu pasti sudah hamil berkali-kali,” celetuk David.
Tara melotot dan mencubit lengan David. David meringis.
“Dan untungnya dia bukan kamu,” ucap Tara ketus tapi tertawa juga.
David ikut tertawa. Bahagia rasanya saat melihat Tara tersenyum dan tertawa saat bersama dirinya. Setidaknya kesedihan Tara tersamarkan selama bersamanya.
Jika Tara dan David saling tertawa, maka lain halnya dengan Devan. Devan justru sedang sibuk pindah rumah. Rumahnya sudah terjual dan dia akan pindah ke rumah baru yang tak jauh dari rumah lamanya. Itu karena dia masih harus memantau Toko ponsel yang berada dekat dengan rumah lamanya.
“Barang-barang lo segini doang?” Alan melihat barang-barang yang berserakan di sekitarnya.
Devan mengangguk. Devan memang meminta bantuan Alan untuk membantunya pindahan. Setelah resmi bercerai dengan Tara, Devan bukannya berubah, malah justru kembali berhubungan dengan Alan. Jika Tara melihatnya, mungkin Tara akan membencinya.
Namun, apa pedulinya. Tara sudah pergi darinya. Jadi untuk apa lagi memikirkan perasaan Tara. Devan bebas sekarang, hendak berhubungan dengan siapapun. Dan itulah sebabnya dia kembali menghubungi Alan setelah berbulan-bulan.
“Rumah lo yang ini kecil,” ujar Alan sambil melihat sekeliling rumah satu lantai milik Devan yang baru.
“Gue emang nggak mau cari rumah yang besar. Toh gue tinggal sendiri ini.”
“Lo kayak yang santai gitu? Apa cerai sama bini lo nggak mempengaruhi lo?” tanya Alan sambil duduk di sofa.
Sekeliling mereka masih banyak barang yang berantakan. Tapi Alan sudah kelelahan karena membantu Devan sedari pagi.
“Udah cukup sedihnya. Sekarang saatnya lanjutin hidup,” jawab Devan ikut duduk di sofa, berseberangan dengan Alan.
“Lo nggak niat berubah? Maksud gue, berubah normal. Suka sama cewek.”
Devan menatap Alan dan tersenyum sinis. “Buat apa? Kalau gue niat berubah, pasti udah gue lakuin dari dulu. Dan mungkin Tara nggak bakal minta cerai dari gue.”
“Tapi setelah kita ketahuan waktu itu, lo nggak ngehubungi gue hingga kemarin. Gue pikir lo berubah. Mulai suka sama bini lo. Nggak tahunya lo malah cerai sama dia.”
“Ya, niatnya gue emang mau berubah kalau Tara ngasih gue kesempatan buat memperbaiki pernikahan kami. Tapi nyatanya Tara tetep minta cerai.”
“Tapi hebat sih bini lo. Dia sanggup nerima kelakuan lo yang nggak normal ini dan tetap bertahan tiga tahun nikah sama lo. Kalau cewek lain, mungkin nggak ada sebulan nikah sama lo, pasti minta cerai.”
Devan mengangguk. “Itulah sebabnya gue nggak niat nyari cewek lagi. Gue nggak mau nyakitin cewek lagi. Udah cukup gue kehilangan istri sekaligus sahabat gue selama ini. Gue nggak mau ngrasain kehilangan lagi.”
Alan tersenyum lebar. “ Jadi,kita bakal bebas nglakuin apapun?”
Devan mengangguk dan tersenyum penuh makna. “Ya. Kita bebas sekarang.”
Bersambung ….