“Demi ibu, apa pun akan kulakukan!”
Dianggap sampah oleh ayahnya sendiri karena tak memiliki bakat kultivasi, Shan Luo hidup dalam hinaan. Demi melindungi ibunya, ia memilih pergi meninggalkan segalanya.
Takdirnya berubah saat ia menemukan sebuah gua misterius yang menyimpan warisan terlarang: Sabit Jiwa Kegelapan.
Dengan kekuatan itu, Shan Luo bersumpah
“Aku akan membalas semua yang menghina aku dan ibuku!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Sebuah pedang
Matahari baru saja tergelincir ke balik bukit saat Shan Luo berdiri di tengah halaman belakang penginapan.
Di tangannya bukan lagi sebilah kayu, melainkan Sabit Jiwa Kegelapan yang memancarkan hawa maut.
Ia mencoba menggabungkan gerakan luwes Teknik Pedang Embun Beku yang diajarkan ibunya ke dalam bilah sabit yang melengkung. Awalnya terasa janggal.
Sabit itu berat dan menuntut tarikan yang kasar, sementara teknik ibunya menuntut ketenangan seperti air yang membeku.
Namun, saat Shan Luo mulai menyalurkan Qinya ke dalam bilah obsidian itu, fenomena mengerikan terjadi.
Kabut hitam yang biasanya keluar dari sabit kini mulai diselimuti oleh bunga-bunga es kristal yang tajam.
Setiap kali ia mengayunkan sabit, udara di sekitarnya membeku seketika, menciptakan garis-garis hitam keunguan yang dilapisi embun beku yang mematikan.
CRACK!
Satu tebasan horizontal membuat batang pohon besar di halaman itu terbelah, namun bekas lukanya tidak berdarah; kayu itu membeku hingga ke intinya dan pecah menjadi serpihan es.
“Luar biasa ... kekuatan es ini mempercepat penyerapan energi jiwaku,” suara parau dari dalam sabit berbisik, serak oleh kesenangan.
Shan Luo terengah, menatap hasil kerjanya. Namun, alih-alih bangga, ia justru merasa waswas. Aura yang dipancarkan sabit ini terlalu mencolok.
Jika ada pendekar kuat di Kota Linyi yang merasakan keberadaan artefak langit terkutuk ini, ia dan ibunya tidak akan punya tempat untuk lari.
"Aku tidak bisa menggunakanmu di turnamen nanti," bisik Shan Luo pada senjatanya. "Kau terlalu berbahaya ... untukku, dan terutama untuk Ibu."
Sabit itu bergetar pelan, seolah memprotes, sebelum akhirnya meredup dan kembali menjadi tato di lengan bawahnya.
Shan Luo mengambil keputusan. Ia butuh "topeng". Ia butuh identitas sebagai pendekar pedang biasa untuk menutupi jati dirinya sebagai pemilik sabit jiwa.
Siang harinya, setelah memastikan ibunya memiliki cukup camilan dan air hangat, Shan Luo pergi ke sudut pasar Linyi yang paling kumuh, tempat para tentara bayaran menjual senjata bekas mereka.
Di sebuah kios pengrajin besi yang pengap, ia menemukan apa yang ia cari. Sebuah pedang baja panjang dengan gagang kulit yang sudah aus. Tidak ada ukiran indah, tidak ada permata penguat Qi. Hanya sebilah besi tajam yang berat.
"Berapa harganya?" tanya Shan Luo datar.
Si penjual, seorang pria tua bertangan satu, melirik pemuda berambut perak-hitam itu. "Tiga keping perak. Itu pedang berat, Nak. Bukan untuk bocah sepertimu."
Shan Luo meletakkan koinnya tanpa bicara, menyambar pedang itu, dan merasakannya di genggaman. "Terlalu ringan dibanding sabitku," pikirnya, "tapi cukup untuk menyembunyikan kekuatanku."
Malam kembali menyelimuti Linyi. Shan Luo tidak membawa sabitnya. Di punggungnya hanya terikat pedang baja barunya. Ia masuk lebih dalam ke hutan, menuju wilayah yang dihuni oleh makhluk buas tingkat 2 menengah.
Tujuannya satu: menstabilkan Qi ranah ke 2 miliknya dan membiasakan diri bertarung tanpa curang menggunakan kekuatan hisap jiwa sang sabit.
Di sebuah lembah kecil yang dipenuhi tulang belulang, ia dihadang oleh sekelompok Serigala Sisik Perunggu.
Makhluk-makhluk ini memiliki kulit sekeras logam, hampir mustahil ditembus oleh pedang biasa jika tidak dialiri Qi yang kuat.
"Datanglah," tantang Shan Luo.
Serigala pertama melompat. Shan Luo tidak menggunakan kekuatan kasarnya. Ia mengingat gerakan ibunya. Bahunya harus serileks salju yang jatuh.
Sring!
Pedang bajanya bergerak dalam lintasan melengkung yang indah. Ia menyalurkan sedikit Qi es ke ujung pedangnya.
Saat bilahnya bersentuhan dengan sisik serigala, lapisan es tipis merambat cepat, membuat sisik logam itu menjadi rapuh karena perubahan suhu yang ekstrem.
BRAK!
Pedang itu membelah kepala serigala tersebut hingga hancur. Namun, tanpa bantuan sabit, Shan Luo harus merasakan dampaknya secara fisik.
Lengannya bergetar karena benturan keras, dan ia tidak mendapatkan asupan energi jiwa secara instan.
"Ini ... jauh lebih sulit," gumamnya sambil menyeka darah yang menciprat ke pipinya.
Tiba-tiba, lima serigala lainnya menyerang secara bersamaan dari berbagai arah. Shan Luo memejamkan mata sejenak, membiarkan Qi dingin di dalam dadanya mengalir ke kakinya.
Langkah Embun Beku!
Ia bergerak seperti bayangan yang meluncur di atas es. Setiap langkahnya meninggalkan jejak beku di tanah, membuat kaki para serigala terpeleset dan melambat.
SLASH! STAB! SLASH!
Dalam tarian pedang yang sunyi namun mematikan, Shan Luo membelah tenggorokan para makhluk itu satu per satu.
Ia tidak lagi membantai dengan kasar; ia membedah dengan presisi seorang ahli pedang.
Hingga tersisa pemimpin kelompok itu, seekor serigala raksasa yang sudah berada di puncak Tahap Pengumpulan Qi. Makhluk itu meraung, mengeluarkan aura perunggu yang menyilaukan.
Bentrokan terjadi. Pedang baja Shan Luo beradu dengan taring logam sang serigala.
TRANG! TRANG! TRANG!
Suara logam beradu bergema di hutan. Shan Luo terdesak. Kakinya terseret di tanah, punggungnya menghantam pohon. Namun, matanya tidak menunjukkan ketakutan. Hanya ada kalkulasi yang dingin.
Saat serigala itu membuka mulutnya untuk gigitan terakhir, Shan Luo melepaskan pedangnya.
Ia meluncur di bawah perut makhluk itu, menangkap pedangnya kembali di udara, dan menyalurkan seluruh Qi es yang tersisa ke dalam bilahnya.
Ia menusukkan pedangnya ke atas, menembus perut hingga ke jantung serigala itu. Seketika, seluruh tubuh serigala raksasa itu membeku dari dalam ke luar, berubah menjadi patung es raksasa di tengah hutan gelap.
Shan Luo menarik pedangnya, napasnya memburu hebat. Seluruh tubuhnya sakit, otot-ototnya menjerit karena kelelahan.
Tanpa sabit untuk memulihkan energinya, ia benar-benar harus mengandalkan daya tahan tubuh manusianya.
Namun, ia tersenyum.
"Aku bisa ... aku bisa bertarung tanpa menjadi monster sepenuhnya," bisiknya.
Ia menghabiskan sisa malam itu dengan bermeditasi di samping patung es serigala tersebut, menyerap energi alam yang dingin untuk memperkuat fondasi Qi-nya.
Perlahan, energi liar di dalam tubuhnya mulai tenang, mengalir dengan pola yang lebih teratur mengikuti teknik ibunya.
Menjelang fajar, ia kembali ke penginapan. Pedang bajanya kini penuh dengan goresan dan noda darah, namun tangannya terasa jauh lebih mantap.
Sebelum masuk ke kamar, ia membersihkan dirinya di sumur belakang. Ia menatap telapak tangannya yang kapalan dan penuh luka kecil.
"Dua bulan ... dalam dua bulan, pedang tua ini akan mengantarkanku pada seratus tael emas itu. Dan siapa pun dari Klan Shan yang mencoba menghalangi ... mereka akan merasakan betapa dinginnya kematian di tanganku."
Ia masuk ke kamar dengan langkah ringan, melihat ibunya yang masih terlelap dengan senyum damai.