Update setiap hari
"Di rumah ini, aku adalah madu yang paling manis, namun di dalam nadiku mengalir racun yang paling mematikan."
Gendis hanyalah seorang wanita dengan tutur kata lembut dan senyum yang menenangkan. Tidak ada yang menyangka, di balik wajah polosnya, ia menyimpan dendam membara terhadap Maya—istri pertama dari pengusaha muda sukses, Baskara. Baginya, kebahagiaan yang Maya miliki saat ini dibangun di atas puing-puing kehancuran keluarga Gendis di masa lalu.
Demi menuntaskan dendamnya, Gendis rela menanggalkan harga diri. Ia masuk ke dalam rumah tangga itu sebagai istri kedua, menjadi bayang-bayang yang perlahan-lahan menggerogoti kebahagiaan Maya dari dalam. Dengan siasat yang begitu halus dan manis, Gendis merebut simpati ibu mertua yang kaku, perhatian para pelayan, hingga seluruh ruang di hati Baskara.
Setiap tetes air mata yang jatuh di rumah itu adalah bagian dari simfoni balasan Gendis. Namun, saat rencana besarnya hampir mencapai puncak dan Maya mul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: BENIH DI ATAS TANAH KEJUJURAN
Jakarta di bulan April sering kali membawa kejutan lewat hujan sore yang tiba-tiba, namun pagi ini, langit di atas apartemen Larasati tampak begitu bersih, biru pucat tanpa noda awan. Di atas meja makan kayu yang minimalis, terdapat sebuah kalender kecil dengan lingkaran merah pada tanggal hari ini. Tepat satu tahun yang lalu, di sebuah kantor urusan agama yang sederhana dan tanpa sorot kamera wartawan, Larasati dan Baskara mengucap janji setia yang sesungguhnya—bukan lagi sebagai bagian dari siasat, melainkan sebagai dua jiwa yang saling menemukan rumah.
Larasati berdiri di dekat jendela, menyesap teh jahe hangatnya. Ia tidak lagi minum kopi sejak seminggu lalu. Ada rasa aneh yang menggelitik di perutnya, sebuah sensasi yang belum pernah ia rasakan selama sepuluh tahun masa "pernikahan" palsunya dengan Tuan Pratama.
"Laras, kamu sudah siap?" suara Baskara terdengar dari arah kamar.
Pria itu muncul dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, tampak segar dan jauh lebih muda sejak ia melepaskan beban dendamnya. Ia mendekati Larasati, melingkarkan lengannya di pinggang istrinya, dan mengecup tengkuknya lembut.
"Selamat satu tahun, Ratu-ku," bisik Baskara. "Terima kasih sudah memilih untuk tetap berdiri di sampingku saat aku hampir jatuh."
Larasati berbalik dalam pelukan suaminya, menatap mata hitam Baskara yang kini selalu memancarkan kehangatan. "Selamat satu tahun, Baskara. Kamu adalah satu-satunya jembatan yang benar-benar membawaku pulang."
Baskara mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Namun, sebelum ia sempat membukanya, Larasati menahan tangan suaminya.
"Baskara, sebelum kita merayakan ini dengan hadiah, aku punya sesuatu untukmu. Sesuatu yang... mungkin akan mengubah seluruh rencana kerja kita di Yayasan untuk beberapa bulan ke depan."
Larasati mengambil sebuah kotak kecil lainnya dari balik vas bunga di meja. Ia menyodorkannya pada Baskara dengan tangan yang sedikit gemetar. Baskara membukanya dengan dahi berkerut, namun sedetik kemudian, napasnya seolah terhenti. Di dalam sana, terdapat sebuah alat tes kehamilan dengan dua garis merah yang tegas.
"Laras... ini?" suara Baskara pecah, matanya seketika berkaca-kaca.
Larasati mengangguk, air mata kebahagiaan mulai mengalir di pipinya. "Ada kehidupan baru di sini, Baskara. Benih yang tumbuh di atas tanah yang sekarang sudah bersih dari rahasia dan dendam."
Baskara berlutut di depan Larasati, menyandarkan keningnya di perut Larasati yang masih rata. Ia menangis tanpa suara—tangis syukur seorang pria yang pernah kehilangan arah dan kini diberikan anugerah tertinggi. "Terima kasih, Laras. Terima kasih. Aku bersumpah, anak ini tidak akan pernah merasakan pahitnya pengkhianatan yang kita rasakan. Dia akan tumbuh dalam cinta yang murni."
Sore harinya, mereka memutuskan untuk merayakan hari istimewa ini dengan cara yang tidak biasa. Bukan di restoran bintang lima dengan pemandangan kota, melainkan dengan mengunjungi makam Tuan Hardianto. Larasati ingin ayahnya menjadi orang pertama yang "tahu" tentang cucunya.
Makam itu kini tampak sangat terawat, dikelilingi bunga-bunga putih yang harum. Larasati berlutut, mengusap nisan batu marmer ayahnya dengan lembut.
"Ayah," bisik Larasati. "Putri kecilmu sudah menang. Perusahaan Ayah sudah bersih, sekolah Ayah sudah berdiri, dan sekarang... ada satu lagi Hardianto yang sedang tumbuh. Dia akan membawa nama besar Ayah dengan kehormatan, bukan dengan ketakutan."
Baskara berdiri di belakangnya, memegang bahu Larasati dengan protektif. "Aku akan menjaganya, Tuan Hardianto. Aku akan memastikan dia menjadi pria atau wanita yang sehebat ibunya."
Setelah dari makam, mereka pergi ke panti asuhan tempat Maya kini mengabdi. Ini adalah bagian dari "perayaan" mereka: berbagi kebahagiaan dengan mereka yang sedang mencoba memperbaiki hidup.
Di sana, mereka melihat pemandangan yang menyentuh hati. Maya, dengan pakaian sederhana dan tanpa riasan, sedang mengajari anak-anak kecil menggambar di bawah pohon rindang. Wajahnya yang dulu selalu dipenuhi ketegangan kini tampak damai, meski sisa-sisa kesedihan itu belum sepenuhnya hilang.
Begitu melihat Larasati dan Baskara, Maya berdiri dan tersenyum tulus—sebuah senyum yang tidak lagi mengandung duri.
"Selamat ulang tahun pernikahan, kalian berdua," ucap Maya lembut saat mereka bertemu di beranda panti. "Aditama memberitahuku lewat telepon pagi tadi."
Larasati menggenggam tangan Maya. "Terima kasih, Maya. Bagaimana kabarmu di sini?"
"Jauh lebih baik, Laras. Anak-anak ini... mereka memberiku alasan untuk bangun setiap pagi tanpa harus merasa benci pada bayanganku sendiri di cermin," jawab Maya. Ia menatap perut Larasati sejenak, seolah memiliki insting wanita yang tajam. "Ada cahaya yang berbeda di matamu, Laras. Apakah... ada kabar baik?"
Larasati tersenyum malu-malu dan mengangguk pelan. Maya seketika memeluk Larasati—sebuah pelukan tulus antar dua wanita yang pernah menjadi musuh bebuyutan karena kesalahan pria-pria di masa lalu mereka.
"Jaga dia baik-baik," bisik Maya. "Dia adalah masa depan yang kita semua harapkan."
Malam harinya, Larasati dan Baskara kembali ke apartemen. Mereka duduk di balkon, ditemani suara rintik hujan yang mulai membasahi Jakarta. Baskara memberikan hadiah yang sempat tertunda pagi tadi.
Bukan berlian, bukan saham. Itu adalah sebuah kunci tua yang sudah dibersihkan hingga berkilau.
"Kunci apa ini?" tanya Larasati bingung.
"Itu kunci rumah lama keluargamu, Laras. Rumah tempat kamu lahir dan dibesarkan. Aku berhasil membelinya kembali dari bank secara resmi atas namamu hari ini. Aku ingin anak kita lahir di rumah yang penuh dengan kenangan indah kakeknya, bukan di apartemen dingin di tengah kota ini."
Larasati tak sanggup lagi berkata-kata. Ia memeluk suaminya erat. Baskara telah memberikan segalanya yang pernah terampas darinya—martabatnya, cintanya, dan kini, rumah masa kecilnya.
"Kita akan merenovasi rumah itu bersama, kan?" tanya Larasati di sela isaknya.
"Tentu. Tanpa kontraktor luar. Aku sendiri yang akan memimpin pembangunannya. Aku ingin setiap paku dan semen di rumah itu diletakkan dengan doa untuk keluarga kita," jawab Baskara.
Namun, di tengah suasana romantis itu, sebuah berita di televisi menangkap perhatian mereka. Aditama masuk ke ruangan dengan wajah yang sedikit serius, membawa kabar dari pengadilan.
"Laras, Baskara... Adrian Wijaya menolak banding. Dia menerima hukuman sepuluh tahun penjara tanpa perlawanan. Tapi ada sesuatu yang aneh. Sebelum masuk ke selnya, dia meninggalkan sebuah kotak kecil untuk kalian. Petugas baru saja mengantarnya ke kantor."
Aditama menyodorkan sebuah kotak kayu kecil yang sudah diperiksa oleh tim keamanan. Larasati membukanya. Di dalamnya bukan bom, bukan ancaman, melainkan sebuah mainan kayu berbentuk burung kecil yang diukir dengan tangan—sangat mirip dengan gaya ukiran Baskara.
Di bawah mainan itu ada secarik kertas kecil: "Darah memang lebih kental dari air mata. Untuk keponakanku yang belum lahir... maaf karena pernah ingin menghancurkan dunianya sebelum dia mengenalku. - Adrian."
Larasati dan Baskara saling berpandangan. Ternyata, berita kehamilan itu sudah menyebar lebih cepat dari yang mereka duga, dan ternyata, sisi kemanusiaan Adrian belum sepenuhnya mati.
"Sepertinya dia benar-benar ingin sembuh, Laras," gumam Baskara sambil memegang mainan kayu itu.
"Mungkin suatu hari nanti, saat dia keluar, anak kita bisa mengenalnya sebagai paman yang sudah belajar dari kesalahannya," balas Larasati dengan bijak.