Season 1 dan 2 ....
Yang seharusnya suami kini menjadi anaknya, yang seharusnya ayah mertua kini menjadi suaminya. Dan sahabatnya yang kini menikah dengan calon suaminya! Bagimana pernikahan bisa tertukar seperti ini? Apa sebenarnya yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rizal sinte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Sepenjang perjalanan Angga tak ada henti-hentinya menatap layar ponselnya kemana arah JPS itu pergi yang sudah terpasang alat pelacak di handphone milik Sera walaupun keadaan sedang mengemudi. Angga mengerutkan keningnya.
"Daerah puncak? Mau ngapain gadis itu pergi ke sana?"
Angga semakin melajukan kecepatan mobilnya agar segera menyusul Sera di sana.
Sementara itu, Sera sudah berada di depan Villa milik keluarganya.
"Sudah lama sekali aku tidak ke sini, tidak ada yang berubah sama sekali." Sera melihat sekitar Villa yang nampak sama sejak 10 tahun yang lalu terakhir dirinya itu menginjakkan kakinya di Villa ini.
Dulu pertama kali Sera pergi dari rumah bersama pengasuh dirinya untuk menenangkan diri karena suatu yang membuat hatinya terluka. Dan sekarang ini terjadi lagi sebab itu ia kembali ke tempat ini namun hanya seorang diri.
Sera sewaktu di perjalan ia sudah memberi tahu kepada kedua orang tua nya jika ia berada di puncak. Tentu saja Bobby dan Dewi menyetujui itu karena mereka tau jika anaknya butuh waktu untuk menenangkan diri dan di Villa itu lah tempat yang tepat untuk Sera. Karena Boby dan Dewi juga percaya jika Sera tidak akan lakukan hal yang tidak diinginkan sebab itulah mereka menyetujui anaknya pergi ke daerah puncak seorang diri.
Setelah sampai di depan pintu, Sera tidak langsung masuk kedalam. Justru ia mengubah arah jalannya menuju taman dimana tempat kesukaannya yang dapat membuat hatinya itu merasa tenang seketika melihat pemandangan bunga-bunga yang bermekaran serta pohon dedaunannya yang hijau tumbuh rapih di pinggiran tembok di tambah lagi hembusan angin sepoi-sepoi yang sangat segar sehingga hati dan pikiran itu benar-benar merasakan ketenangan yang damai.
"Ah, sungguh segar." Sera menghirup udara segar itu dalam-dalam lalu menghembuskan nya secara perlahan sambil duduk di kursi taman bersandar sambil menodongkan kepalanya ke atas menatap langit yang sudah di tutupi oleh awan hitam.
"Mendung," gumamnya.
Cukup lama berdiam di sana bahkan saat ini gadis itu sedang memejamkan matanya, walaupun hari sudah semakin gelap kerena awan hitam semakin tebal tidak berpengaruh bagi Sera yang ingin terus menenangkan dirinya di taman itu.
"Astaghfirullah." Seseorang di kejutkan dengan kehadiran Sera di sana.
Sera pun membuka matanya, lalu terus senyum." Assalamualaikum, Pak Ujang?"
"Waallaikumsalam, tapi Non ini siapa, ya?" tanya nya nampak bingung.
Lagi-lagi Sera terkekeh, hatinya yabg suram itu sedikit terobati. Walaupun sudah lama ia tidak datang lagi ke Villa ini namun daya ingatannya masih begitu tajam sehingga masih dapat mengenali sosok lelaki di hadapannya ini yang sudah semakin tua.
"Saya , Sera Pak Ujang," saut Sera meyakinkan.
"Sera, Sera siapa yo?" Daya ingatan orang tua itu semakin lama semakin berkurang.
"Sera anaknya Bobby Wibowo dan Dewi Sandra. Pak Ujang, masih lupa?" ucap Sera mengingatkan..
"Mashyaallah, Ya Allah Non Sera." ingatannya pun pada akhirnya kembali.
Sera terkekeh, lalu mengangguk.
"Sudah lama sekali Non Sera tidak kesini, bapak sampai lupa karena non Sera semakin besar, dewasa dan begitu sangat cantik. Bapak tidak lagi mengenal non Sera," ujar pak Ujang.
"Sudah 10 tahun ya, Pak. Tapi Villa ini tidak berubah sama sekali," ucap Sera mengingat dulu pada saat dirinya berada di sini.
"Apa yang mesti berubah, Non. Hanya bangunan nya saja yang semakin tua dan tumbuhan nya saja yang berbeda karena bertumbuh yang baru."
"Tapi tidak terlihat tua, sama seperti Pak Ujang yang sama saja seperti dulu gagah dan keren."
Pak Ujang tertawa." Ah si Non mah bisa saja memuji Bapak. Bapak sudah tua apa nya yang masih terlihat muda, Non."
Keduanya sama-sama tertawa, inilah membuat hati Sera merasa tenang dan damai. Ia merasakan ke nyaman di tempat ini apa lagi ada pak Ujang yang selalu membuatnya terhibur sama seperti dulu.
"Mari masuk Non, hari sudah mau hujan. Nanti Bapak suruh ibu memasak makanan kesukaannya non Sera! ", ajak pak Ujang.
Di Villa keluarga Sera ini, selain pak Ujang ada juga Ibu Siti yaitu istrinya. Mereka hanya tinggal berdua di tempat ini untuk menjaga dan mengurus Villa tersebut. Mereka sudah lama menikah tetapi tidak di karuniai anak namun keharmonisan kedua tetep terjaga hingga setua ini.
"Nanti saja Pak, Sera masih masih mau di sini sebentar lagi," tolak Sera halus.
"Ah, Non Sera selalu saja seperti itu. Ya sudah kalau begitu Bapak memberi tahu ibu kalau non ada di sini. Dan Bapak akan menyiapkan kamar untuk non Sera dan juga makanan kesukaan Non ya itu semur jengkol."
Pak Ujang ingat, 10 tahun yang lalu jika gadis kecil itu berada di tempat ini sedang menenangkan hatinya yang terluka. Dan hari ini pak Ujang juga yakin jika anak majikannya itu mengalami hal yang sama.
"Hahahaha, Pak Ujang masih ingat aja kesukaan Sera."
"Jelas dong, karena bagi Bapak Non sudah bapak anggap seperti anak sendiri dan tidak akan lupa tentang kesukaannya Non. Hanya saja melupakan wajah Non karena perubahan begitu jauh berbeda dari yang dulu."
"Dulukan Sera masih kecil, Pak. Wajar saja kalau Sera sudah banyak berubah."
Pak Ujang pun manggut-manggut, lalu pamit masuk kedalam untuk menyiapkan segala keperluan Sera selama beberapa malam menginap disini.
Sementara itu, Sera kembali duduk lagi. Hingga tanpa di sadari hujan sudah turun membasahi bumi. Sera bukanya berlari berteduh, ia malah menikmati air hujan itu.
"Ah, begini rasanya hujan." Sera berdiri melentangkan kedua tangannya, memejamkan kedua matanya lalu mendongakkan kepalanya menghadap langit menikmati guyuran air hujan membasahi dirinya.
Cukup lama berdiam berdiri di bawah guyuran air hujan. Lalu tiba-tiba air itu tak terasa lagi mengguyur dirinya membuat Sera kebingungan kemudian membuka kedua matanya.
"Om..."Sera terkejut kehadiran Angga ada di tempat ini.
Angga menarik tangan Sera lalu membawa nya kedalam pelukan. Hatinya sakit melihat kedua bola mata Sera yang merah.
"O-om..."
"Menangis lah, aku tau kamu sedang menahan tangisanmu. Aku sudah di sini, menangis lah sepuasnya!" ujar Angga lirih memeluk erat tubuh Sera dan membuang payung yang ada di tangannya hingga membiarkan tubuh keduanya kembali di guyur oleh hujan.
Sera yang sedari tadi berusaha untuk menahan dirinya agar tidak menangis
Karena ia tidak mau terlihat lemah sehingga sekuat tenaga mencoba menahan air mata itu walaupun sedikit keluar di bawah guyuran air hujan tadi namun ia tidak terisak pilu.
Dan sekarang, pertahanan nya itu goyah, ternyata dirinya tidak sekuat batu karang yang mampu menahan semuanya seorang diri sehingga tangisan itu akhirnya pecah dan ia pun terisak di dalam pelukan Angga.
"Menangis lah, tetapi berjanjilah ini untuk yang terakhir kalinya aku mendengar suara tangisan ini. Dan berjanjilah setelah ini tak ada lagi air mata selain air mata kebahagiaan. Dan percayalah aku akan membawa kebahagiaan dalam hidup mu," batin Angga semakin mempererat pelukannya merasakan sesak di dada mendengar suara tangisan pilu itu yang begitu menyayat hati.
Setelah cukup lama, air mata itu juga sepertinya sudah kering hingga tak ada lagi yang tersisa untuk di keluarkan.
"Om!" panggil nya lirih dengan suara yang sudah gemetar kedinginan.
Angga melepaskan pelukannya lalu menatap Sera yang sudah membiru di bibirnya itu akibat kedinginan.
Cup...
Angga memberikan kehangatan dengan cara mencium bibirnya lembut.
"Sera ... menikahlah denganku!"
************
Tak ada henti-hentinya mengingatkan, karena ini membuat hati semangat jika melihat like di setiap bab. Sebab itulah jangan lupa untuk tinggalkan jejak dan menekan tombol jempol Like nya 😊😊😊 love u....😘😘😘