WARNING! Sebelum mulai membaca, tolong baca tagar dahulu. Karena di sini area bebas JULID, dilarang mengomel hanya karena keinginan Anda tak sejalan dengan pemikiran Author.
•
Cinta itu menuntun dirinya untuk membuat keputusan paling kejam, memilih satu diantara dua wanita. Di antara tangis dan perih dua wanita yang lain, ia tetap mempertahankan wanita yang ia cinta.
Setelah keinginan diraih, takdir kembali lancang menuliskan jalannya tanpa permisi. Sekali lagi ia kehilangan, tapi kali ini untuk selamanya.
Terombang ambing dalam amarah, serta sempat menjauh dari-Nya. Tapi sepasang tangan kecil tetap meraih dirinya penuh cinta, tulus tanpa berharap imbalan jasa.
Apakah tangan kecil itu mampu menuntun Firza kembali ke jalan-Nya?
Lantas bagaimana dengan dua wanita yang pernah disakiti olehnya?
Mampukah Firza memantapkan hatinya pada cinta yang selama ini terabai oleh keegoisannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#15
#15
Mobil Biru, parkir di depan rumah Firza sesaat sebelum perbincangan Firza dan kedua orang tua mereka di mulai.
Langkah kakinya begitu riang, ketika membayangkan sebentar lagi berjumpa dengan wanita teristimewa yang sudah merawat dan mengasihinya sejak kecil. Ditambah oleh-oleh rendang spesial yang menjadi favoritnya sejak kanak-kanak.
Tapi, perdebatan di dalam rumah membuatnya menghentikan langkah tepat di depan pintu.
•
“Seberapa istimewa wanita itu, hingga kamu ingin menyandingnya pula, sementara di sisimu sudah ada wanita shalihah?” desis Mamak Karmila.
“Ini bukan soal istimewa atau tidak, Mak. Tapi, aku tak mau lagi kehilangan dia untuk kedua kalinya,” sergah Firza, berharap Mamak Karmila mendukung perasaannya.
Tak mau membuang waktu Mamak Karmila pun berdiri, "Ayo, kita temui Ersha. Mamak mau kalian rujuk sekarang juga!"
“T-tapi, Mak—”
“Tidak ada tapi!” sela Mamak Karmila tegas, suaranya pun melengking tinggi.
Tak hanya Firza, tapi Ayah Ismail pun terkejut, seumur-umur mengenal istrinya, amat jarang melihat wanita itu bersuara keras. Pasti ini karena ia sangat meradang kecewa, terutama sekali pemicunya adalah anak yang ia lahirkan dan ia didik dengan pondasi agama yang sedemikian kuat.
Tapi, pada akhirnya, tetap saja berakhir tidak sesuai harapan.
“Berdiri sekarang juga, atau Mamak tak akan pernah menganggapmu sebagai anak!”
Ancaman mengerikan itu, jelas membuat Firza tak berkutik, hingga terpaksa ia berdiri.
Tapi, belum sampai sepuluh langkah, mereka dikejutkan dengan keberadaan Biru yang berdiri mematung di depan pintu.
“Biru,” sapa Ayah Ismail.
Pria itu pun bersalaman dan memeluk Biru untuk sesaat, begitu pula Mamak Karmila. “Ayah belum menelepon, kamu sudah kesini.”
“Insting saja, Yah. Tapi, tak kusangka justru mendengar berita tak mengenakkan.”
Tatapan Biru tajam menusuk, “Baru hari ini, aku merasa seperti tak pernah mengenal kau, benar-benar tak kenal. Dengan sikapmu ini, kau terlihat seperti orang asing yang baru saja aku kenal.”
“Apa salahnya menyimpan cinta?” desis Firza.
“Cinta tak salah, tapi perilakumu dalam memaknai cinta, benar-benar membuatku muak!”
Sebagai orang yang mengenal Firza dengan baik, Biru tahu bahwa Firza memang teramat sangat cinta pada kekasihnya, Resha. Tapi, ketika memutuskan untuk menikahi Ersha, ia kira Firza sudah mampu melupakan Resha, apalagi melihat betapa harmonis hubungan Firza dan istrinya.
Siapa sangka, jika Firza menyimpan bara di balik sekam, kini bara itu mulai menyala dan hampir menghabiskan sekam yang menutupinya.
“Sudah, sudah, jangan berdebat, tak enak didengar para tetangga.” Ayah Ismail mencoba melerai, agar tidak berlanjut.
Tapi, “Kau sendiri? Jangan berpura-pura tak pernah berdosa, dulu juga, kamu mengatas namakan cinta dan tega membohongi Miranda. Bukankah itu sama saja!”
“Kau—”
“Cukup!”
Sekali lagi suara Mamak Karmila melengking keras, “Biru, pulanglah, besok kita bicara lagi.”
“Tapi, Mak—”
“Mamak bilang, pulang! Kami akan menjemput Ersha dan Abizar sekarang.”
Tanpa banyak kata lagi, Biru pun berbalik pergi.
•••
Ersha mengakhiri munajatnya, ia menoleh ke atas ranjang, tempat Abizar kembali terlelap, setelah sempat rewel sesaat lalu.
Dikecupnya pipi Abizar yang mungil menggemaskan, “Tidur yang nyenyak, Nak. Mama mau bicara sama eyang.”
Pelan-pelan, Ersha menutup pintu kamarnya kembali, agar Abizart tidak terusik. Di ruang tengah, Abah dan Ummi-nya sudah menunggu dalam diam, perasaan mereka berkecamuk, namun tak mau menduga-duga.
“Kalian bertengkar?” tanya Abah Husain setelah Ersha duduk nyaman, suaranya lembut dan tenang, seperti pembawaannya setiap hari.
“Hanya pertengkaran kecil, Bah.”
Abah Husain menghela nafas, “Pertengkaran kecil? Tapi membuatmu bertingkah kekanakan seperti ini.”
“Nduk,” ucap Ummi Fitria ikut menengahi. “Kalian berdua sama-sama sarjana, ngerti agama, tahu syariat mana yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan. Tapi, kenapa masih berani melakukan hal ini?”
“Ersha mengerti, Bah, Mi. Langkah ini pun, bukan keputusan yang mudah. Sudah kupertimbangkan masak-masak, termasuk keberadaan Abizar. Tapi sungguh, hanya akan menambah dosa bila kami tetap bersama.”
Ersha menunduk dalam, tak berani menatap wajah teduh kedua orang tua yang telah ia kecewakan sedemikian rupa.
“Jadi ada masalah apa sebenarnya?”
“Bang Firza—”
Ucapan Ersha menggantung, karena tiba-tiba terdengar suara mobil di depan rumah. Ersha yang sudah sangat familiar dengan suara itu, jadi ia bisa menebak siapa yang datang.
Apa mungkin suaminya datang karena menyesal setelah kepergiannya dari rumah?
Rupanya dugaan Ersha salah, karena yang datang ke rumah, bukan hanya Firza, melainkan ada kedua mertuanya.
“Mamak, Ayah,” sapa Ersha segera mencium punggung tangan kedua mertuanya itu. Tapi, Ersha sengaja mengabaikan keberadaan Firza.
“Mari silahkan masuk,” kata Ersha, mempersilahkan dengan ramah kedua mertuanya untuk masuk ke dalam rumah.
Setelah saling bersalaman, bertanya kabar dengan ekspresi canggung tak seperti biasa, mereka pun duduk saling berhadapan. Ersha masuk ke bilik belakang, lalu keluar dengan nampan berisi teh hangat, serta sedikit kudapan yang ada di dapur.
Setelah menyuguhkan semua, lengan Ersha di tahan Mamak Karmila, padahal ia hendak mengembalikan nampan ke belakang. “Duduklah, Nak. Mamak dan Ayah ingin membicarakan hal penting.”
Ersha pun duduk, urung kembali ke dapur. Cukup penasaran dengan maksud mertua dan suaminya datang ke rumah orang tuanya saat ini.
“Selaku orang tua Firza, kami minta maaf, Nak,” ucap Mamak Karmila, tanpa basa-basi atau mengulang pertanyaan yang sudah pasti menyakiti hati menantunya.
“Kenapa Mamak yang meminta maaf, Mamak dan Ayah tak salah apa-apa.”
“Justru kami yang merasa paling bersalah dalam hal ini. Karena merasa gagal mendidik Firza yang seharusnya menjadi imam yang baik untukmu, tapi justru— justru—” ucap Mamak Karmila terputus, karena air mata yang terus berurai.
Dengan ketabahan luar biasa, Ersha mengusap air mata yang membasahi wajah sang mertua, ia lega setidaknya masih disayangi dan dicintai oleh mertuanya.
“Mamak tentu sudah tahu, masalah utama yang menggerogoti rumah tangga kami,” kata Ersha, tak ingin diam yang justru membuat masalah kian parah.
“Mamak tahu, dan sampai kapanpun Mamak tak ridho dia melakukannya, Mamak tak menginginkan menantu selain kau, Nak,” sahut Mamak Karmila cepat.
Abah Husain dan Ummi Fitria terdiam di tempat, rupanya inilah masalahnya. “Apa itu benar, Firza?” tanya Abah Husain tenang, tapi nampak jelas memendam geram. Bahkan baginda nabi saja tak rela putrinya di duakan oleh sang suami, apalagi dirinya yang hanya manusia biasa?
Firza merunduk semakin dalam, kedua tangannya mulai dingin, namun hanya saling mengepal. Tak ada. kesempatan untuk mundur, ini saatnya terus melangkah maju, “Sebagai laki-laki saya bisa saja melakukan itu, tanpa izin dari Ersha. Tapi saya masih menaruh rasa hormat padanya, bahkan meminta izin darinya. Tapi, Ersha tetap bersikeras ingin berpisah.”
Ummi Fitria hanya bisa mengelus dada, tak menyangka bahwa menantu yang selama ini ia banggakan, tega berucap demikian. “Abang yakin hanya itu masalah kita, hmm? Abang tidak mengatakan tentang perasaan Abang yang mulai berat sebelah, hingga menyentuhku saja Abang tak bisa.”
“Jangan mengumbar masalah kamar kita di depan orang, Er, malu!”
Ersha tersenyum miris.
“Apa itu benar?” Ayah Ismail mulai bicara.
Diamnya Firza, dan tajamnya tatapan Ersha kiranya bisa menjawab semua.
“Mamak tak mau tahu, Firza. Malam ini juga, kalian berdua harus rujuk, titik! Lupakan egomu, setidaknya pikirkan anakmu.”
Tapi tidak demikian pemikiran Ersha. “Maaf, Mak. Aku rasa, sudah tak bisa.”
“Kenapa, Nak? Kenapa? Mamak tahu benar bagaimana sifatmu, kamu tak mungkin gegabah dalam mengambil keputusan.”
“Benar sekali, Mak. Keputusan ini pun sudah sangat lama aku pertimbangkan.”
Mamak Karmila terperangah, “Sangat lama—”
“Bahkan di rentang waktu itu juga, Bang Firza tak lagi bisa memberikan nafkah batinnya padaku. Jadi secara hukum islam, sudah jatuh talaq satu atas diriku, Mak.”
toh sama" single