Di sebuah kampung tua di pinggiran Jawa Barat, muncul teror mengerikan dari sosok makhluk yang dipercaya sebagai Jurig Jarian — hantu penghuni tempat sampah yang lahir dari kebencian, keserakahan, dan sampah manusia yang menumpuk selama puluhan tahun. Siapa pun yang membuang sesuatu sembarangan pada malam tertentu akan mendengar suara garukan dari tong sampah… sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peringatan Penghuni Jarian
Kata-kata Aki Sukra terus terngiang di kepala Adrian sepanjang jalan pulang. Dengan tubuh yang masih gemetar akibat ngeri melihat jenazah Maman, ia melangkah cepat membelah kabut malam yang kian tebal. Rumah kolonial Belanda tempat mereka tinggal kini terasa berkali-kali lipat lebih mencekam.
Saat Adrian melangkah masuk ke dalam rumah, suasana mendadak terasa begitu dingin sampai-sampai deru napasnya memicu uap tipis. Keheningan yang pekat langsung menyergap.
Sreeettt... sreeettt...
Suara kain yang bergesekan dengan lantai terdengar samar dari ujung lorong ruang tengah. Adrian mematung. Di bawah temaram lampu gantung yang bergoyang pelan, ia melihat sesosok siluet perempuan berjalan membelakanginya. Perempuan itu mengenakan kebaya lawas dengan kain jarik bawah yang menyeret lantai. Rambutnya yang hitam panjang terurai berantakan, menutupi sebagian besar punggungnya.
Jantung Adrian berdegup kencang. Ada rasa akrab sekaligus ngeri yang menusuk dadanya.
"Apakah itu Sinta?"bisik Adrian dalam hati.
"Sinta? Kamu Sinta?" panggil Adrian dengan suara bergetar.
Sosok berkebaya itu tidak menjawab. Ia terus melangkah lambat, berbelok masuk ke dalam kamar tidur Dinda. Driven oleh rasa penasaran dan kepanikan yang campur aduk, Adrian mengabaikan rasa sakit di tubuhnya. Ia berlari mengejar sosok tersebut.
Wuuusshh.
Adrian menerobos masuk ke dalam kamar Dinda. Kamar itu kosong. Sosok berkebaya tadi seperti menguap ditelan bumi. Hanya ada aroma melati yang menyengat, bercampur dengan bau busuk yang samar aroma yang sama dengan yang dia cium di hutan larangan tadi malam. Di atas meja rias, buku harian Dinda masih tergeletak terbuka.
"Sinta... kamu di mana?". Adrian berputar di tengah ruangan, dadanya naik turun memburu napas.
Merasa ada sesuatu yang tidak beres, hawa dingin di tengkuknya semakin menjadi-jadi. Bulu kuduk Adrian berdiri sempurna. Merasa ada kehadiran yang sangat dekat di belakangnya, Adrian perlahan-lahan membalikkan badannya.
DEG!
Darah Adrian rasanya berhenti mengalir. Sepasang matanya membelalak sempurna karena terkejut dan teror yang luar biasa.
Tepat beberapa sentimeter di depan wajahnya, sosok perempuan itu sudah berdiri menghadang.
Wajah perempuan itu sangat mengerikan kulitnya putih pucat kebiruan seperti mayat yang terendam air, dengan sebagian daging di pipinya membusuk hingga memperlihatkan tulang rahang. Sepasang matanya hitam legam tanpa bagian putih, mengalirkan cairan kental berwarna merah kehitaman yang menetes ke kebayanya. Rambutnya yang berantakan tercium bau tanah makam yang menyengat.
Makhluk itu menyeringai lebar, memamerkan deretan gigi yang menghitam dan runcing.
"Dia menderita di dalam sana dan kamu akan segera menyusulnya.". Bisik makhluk itu. Suaranya terdengar seperti berlapis-lapis, parau, dan menggema langsung di dalam kepala Adrian.
Sebelum Adrian sempat berteriak atau melangkah mundur, makhluk perempuan itu menjerit melengking memekakkan telinga, bersamaan dengan embusan angin dingin yang menghantam wajah Adrian hingga lampu kamar mendadak padam total, menyisakan kegelapan yang mencekam.
Teriakan melengking itu begitu memekakkan telinga, melengking tinggi hingga membuat gendang telinga Adrian terasa mau pecah. Nada suaranya sarat akan penderitaan sekaligus ancaman yang murni, mencabik-cabik keheningan kamar tua itu. Adrian refleks memejamkan mata erat-erat dan menutup kedua telinganya dengan tangan, berjongkok di lantai menahan gelombang teror yang menghantam kesadarannya.
Namun, hanya dalam hitungan detik, jeritan itu terputus berbarengan dengan redanya embusan angin sedingin es yang tadi sempat mengacak-acak isi kamar.
Sunyi.
Suasana mendadak kembali senyap. Rasa mencekam yang tadinya begitu menakutkan, perlahan-lahan menghilang.
Adrian memberanikan diri membuka mata. Keadaan sekelilingnya masih gelap gulita karena lampu kamar yang padam, namun dari celah jendela jalusi kayu, seberkas cahaya bulan malam meremang, menerangi ruangan yang kini kosong melongpong. Sosok hantu perempuan berkebaya dengan wajah membusuk itu telah lenyap tanpa bekas, seolah-olah dia menguap ke dalam bayang-bayang kegelapan.
Hanya bau busuk tanah makam dan wangi melati yang masih tertinggal pekat di udara, menjadi bukti nyata bahwa barusan bukan sekadar halusinasi.
Adrian terduduk lemas di lantai, napasnya memburu terengah-engah dengan keringat dingin yang membasahi seluruh tubuh. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga badannya ikut bergetar. Dia tahu betul, kemunculan makhluk tadi bukanlah serangan fisik untuk membunuhnya melainkan sebuah peringatan keras. Sebuah peringatan dari dimensi Jarian agar Adrian mengurungkan niatnya. Iblis itu ingin menegaskan bahwa mereka tahu apa yang direncanakan Adrian dan mereka telah bersiap di dalam sana untuk menyiksa siapa saja yang berani mengusik wilayah kekuasaan mereka.
"Dia menderita di dalam sana.". Adrian menggumamkan kembali ucapan hantu perempuan tadi dengan bibir yang gemetar.
Pikiran Adrian langsung tertuju pada Dinda dan Bagas. Peringatan mengerikan ini justru menjadi jawaban bahwa waktu mereka benar-benar sudah di ujung tanduk. Tidak ada lagi ruang untuk rasa takut. Jika hantu-hantu Jarian sudah mulai berani menerornya hingga ke dalam rumah kolonial ini, maka satu-satunya cara untuk menghentikan semua kegilaan ini adalah dengan menghadapi mereka langsung.
Sambil memegangi dadanya yang masih nyeri, Adrian bangkit berdiri di tengah kegelapan kamar. Dia menatap ke luar jendela, menembus kabut yang menyelimuti halaman rumah, lurus ke arah hutan larangan yang menanti di esok malam.