Sinopsis
Di Alam Fana, hukum rimba adalah satu-satunya kebenaran. Lin Chen, murid pelataran luar Sekte Pedang Awan, menyadari kenyataan pahit ini sejak hari pertama. Bakatnya pas-pasan, sumber dayanya selalu dirampas, dan nyawanya tak lebih berharga dari rumput liar. Saat maut hampir merenggutnya di ujung tebing, sebuah anomali tanpa asal-usul bangkit di dalam benaknya: Sistem Pilihan Takdir.
Sistem ini menolak memberikan kekuatan instan. Setiap krisis hanya akan memunculkan tiga jalur pilihan di matanya, masing-masing membawa risiko dan hadiah yang berbeda. Hadiah tersebut bukanlah pil dewa yang langsung membuatnya kebal, melainkan teknik dasar, petunjuk tersembunyi, atau sekadar kesempatan bertahan hidup sesaat. Semuanya menuntut Lin Chen untuk memeras keringat, darah, dan akalnya sendiri. Dari kerasnya Alam Fana, merangkak naik menuju kemegahan Dunia Tengah para immortal hingga akhirnya mengincar keabadian sejati di alam dewa , Lin Chen mengukir jalannya selangkah demi selang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22 pasir merah dan iblis berlengan satu
Cahaya dua matahari Dunia Tengah menghantam wajah Lin Chen saat ia melangkah keluar dari kegelapan lorong. Untuk sesaat, penglihatannya memutih, namun indranya yang tajam segera menyesuaikan diri. Pemandangan di depannya adalah sebuah kawah raksasa yang dikelilingi oleh dinding obsidian setinggi tiga puluh meter. Di atas sana, puluhan ribu penonton bersorak-sorai, suara mereka menyatu menjadi dengungan rendah yang menggetarkan dada.
Lantai arena tertutup oleh pasir halus berwarna kemerahan. Itu bukan warna asli pasirnya; itu adalah warna akumulasi darah dari ribuan gladiator yang telah membusuk di bawah terik matahari. Bau amis yang sangat pekat menguap dari tanah, bercampur dengan aroma keringat dan ketakutan.
Lin Chen berdiri sendirian di tengah arena. Jubah hitamnya berkibar pelan, menyembunyikan lengan kanannya yang kaku dan mati. Topeng besi kelabunya memantulkan cahaya matahari, memberikan kesan dingin yang tak tersentuh. Di tangannya yang kiri, ia menggenggam gagang pedang patah, meski ia tahu senjata aslinya adalah telapak tangannya sendiri.
"Selamat datang di Ronde Pertama Jalur Darah!" suara seorang pembawa acara yang diperkuat energi spiritual menggema dari balkon tertinggi. "Hari ini kita kedatangan seorang penantang baru yang misterius! Nomor 404! Siapakah dia? Seorang pecundang yang mencari kematian, ataukah monster yang sedang menyamar?"
Tawa mengejek meledak dari tribun penonton.
"Lihat lengannya! Dia hanya punya satu tangan yang berfungsi!"
"Siapa yang membiarkan orang cacat masuk ke arena? Ini hanya akan menjadi pembantaian singkat!"
"Taruhan sepuluh kristal dia akan mati dalam sepuluh tarikan napas!"
Lin Chen tidak memedulikan ejekan tersebut. Matanya yang sedingin jurang mengamati tiga gerbang besi di seberang arena yang perlahan terbuka. Dari dalam kegelapan gerbang tersebut, muncul lima sosok pria berpakaian compang-camping. Tubuh mereka dipenuhi bekas cambukan, dan mata mereka memancarkan kegilaan murni—sebuah pertanda bahwa mereka telah diberikan obat perangsang Qi untuk meningkatkan kebuasan mereka.
Kelima orang itu adalah 'Umpan Pasir', para narapidana tingkat rendah yang dijanjikan kebebasan jika bisa membunuh satu penantang. Mereka semua berada di Tahap Kondensasi Qi Tingkat Empat, setara dengan level Lin Chen saat ini.
"Bunuh dia! Makan dagingnya!" raung salah satu penjahat tersebut sambil menghunuskan parang berkarat.
Kelimanya menerjang secara bersamaan dari arah yang berbeda, mencoba mengepung Lin Chen yang mereka anggap sebagai mangsa empuk.
Tepat saat mereka berada dalam jarak lima meter, layar cahaya biru transparan berpendar di depan retina Lin Chen.
**[Ronde 1 Dimulai: Pembersihan Umpan Pasir.]**
**[Musuh: 5 Praktisi Tingkat 4 (Terpengaruh Obat Perangsang). Kelemahan: Koordinasi buruk, pertahanan mental hancur.]**
**[Silakan tentukan metode pembersihan Anda:]**
**[Pilihan 1: Gunakan Pedang Patah untuk menangkis serangan.
Hadiah: Anda bertahan hidup. Ronde akan berlangsung selama 15 menit. Anda akan kehilangan banyak stamina fisik sebelum ronde berikutnya.]**
**[Pilihan 2: Gunakan 'Langkah Bayangan Berat' untuk melarikan diri ke pinggir arena dan menunggu mereka kehabisan energi obat.
Hadiah: Anda selamat. Penonton akan melempari Anda dengan batu karena dianggap pengecut. Penguasa Arena mungkin akan melepaskan binatang buas untuk mempercepat pertarungan.]**
**[Pilihan 3: Ledakkan Qi Abadi di kaki kiri dan gunakan 'Telapak Penghancur Bintang' secara beruntun. Selesaikan pertarungan dalam waktu kurang dari 30 detik.
Hadiah: Intimidasi Massa meningkat. Efisiensi sirkulasi Qi Abadi meningkat 5%. Fragmen Teknik Pergerakan 'Langkah Bayangan Iblis' (Dunia Tengah).]**
Mata Lin Chen berkilat. Pilihan ketiga adalah satu-satunya jalan untuk membangun dominasi sejak awal. Di tempat seperti Koloseum Jalur Darah, belas kasihan adalah tiket menuju liang lahat.
"Pilihan ketiga," batin Lin Chen.
*BOOM!*
Lantai pasir di bawah kaki kiri Lin Chen meledak. Meskipun hanya memiliki satu kaki yang berfungsi maksimal untuk mendorong, kepadatan ototnya yang telah ditempa lava vulkanik membuatnya melesat seperti anak panah hitam.
Penjahat pertama bahkan tidak sempat mengayunkan parangnya. Lin Chen muncul tepat di depannya. Tangan kiri pemuda bertopeng itu melesat, telapak tangannya mendarat ringan di dahi pria tersebut.
*Telapak Penghancur Bintang.*
Pusaran energi merah dan biru meledak di dalam tengkorak pria itu. Tanpa suara ledakan di luar, otak dan saraf pusat pria itu seketika hancur menjadi cairan. Ia rubuh ke tanah tanpa sempat berteriak.
Lin Chen tidak berhenti. Memanfaatkan momentum dorongan kakinya, ia berputar di udara. Tubuhnya yang hanya memiliki satu lengan aktif memberikan keseimbangan yang aneh namun sangat sulit diprediksi. Ia mendarat di belakang dua penjahat lainnya.
*Brak! Brak!*
Dua sentuhan cepat di punggung mereka. Kekuatan Yin-Yang yang berbenturan menghancurkan tulang belakang dan organ dalam mereka sekaligus. Keduanya terlempar ke depan, memuntahkan gumpalan darah hitam sebelum akhirnya tewas di atas pasir merah.
Dua penjahat yang tersisa membeku. Efek obat perangsang di otak mereka seolah sirna sesaat, digantikan oleh naluri ketakutan primitif. Mereka melihat tiga rekan mereka mati dalam hitungan detik tanpa ada luka luar yang terlihat.
Lin Chen melangkah maju. Suara langkah kakinya di atas pasir terdengar seperti lonceng kematian.
"M-Monster..." gagap salah satu dari mereka.
Ia mencoba berbalik untuk lari kembali ke gerbang, namun Lin Chen lebih cepat. Menggunakan sisa Qi Abadi di meridian lengannya, ia menembakkan tekanan udara melalui telapak tangannya. Tekanan itu menghantam tengkuk kedua pria tersebut, menghancurkan jalur energi mereka dan menghentikan jantung mereka seketika.
Hening.
Seluruh koloseum yang tadinya berisik dengan ejekan kini terbungkam. Pasir merah arena masih mengepulkan debu tipis. Lima mayat tergeletak kaku, sementara Lin Chen berdiri tegak di tengah-tengah mereka. Lengan kanannya masih terikat tenang di balik jubah, dan topeng besinya tidak menunjukkan emosi sedikit pun.
"Dua puluh dua detik..." gumam wasit arena dari balkon, suaranya terdengar tidak percaya. "Pemenang Ronde Pertama: Nomor 404!"
Sorakan pecah, namun kali ini nadanya berbeda. Bukan lagi ejekan, melainkan campuran antara rasa takjub dan ketakutan. Beberapa petaruh besar mulai menulis ulang nama Lin Chen di lembar taruhan mereka.
**[Pilihan 3 Diselesaikan. Efisiensi sirkulasi meningkat. Fragmen 'Langkah Bayangan Iblis' diperoleh.]**
Lin Chen merasakan aliran Qi di kakinya menjadi sedikit lebih lancar. Pengetahuan baru tentang bagaimana memanipulasi bayangan untuk menipu penglihatan musuh meresap ke dalam ingatannya. Ini adalah teknik pergerakan tingkat tinggi yang jauh lebih superior dibandingkan tekniknya di Alam Fana.
Ronde kedua hingga ronde kelima berlangsung dengan cepat. Pihak koloseum sengaja menaikkan tingkat kesulitan. Lin Chen harus berhadapan dengan serigala sisik besi, gladiator bertubuh raksasa, hingga seorang pembunuh bayaran yang menggunakan jarum beracun.
Setiap ronde, Lin Chen menggunakan metode yang sama: efisiensi pembunuhan. Ia tidak membuang energi untuk gerakan yang tidak perlu. Ia belajar untuk bertarung dengan satu tangan, menggunakan rotasi bahu dan pinggang untuk mengompensasi hilangnya lengan kanan sebagai penyeimbang.
Pada ronde ketujuh, Lin Chen berdiri di tengah genangan darah yang lebih luas. Jubah hitamnya kini robek di beberapa bagian, namun kulit perunggu keabu-abuannya tetap kokoh.
"Ronde Kedelapan!" teriak pembawa acara, suaranya kini dipenuhi antusiasme gila. "Mari kita sambut sang 'Iblis Satu Tangan'! Kali ini, ia akan berhadapan dengan seseorang yang memiliki reputasi yang tak kalah mengerikan! Sang Penjagal dari Rawa Utara, Han Zo!"
Sebuah gerbang besar di sisi utara terbuka. Seorang pria kurus dengan kulit berwarna pucat kehijauan melangkah keluar. Ia membawa sepasang sabit rantai yang mengeluarkan aroma karat dan racun yang sangat menyengat. Han Zo berada di Tahap Kondensasi Qi Tingkat Lima Puncak—satu level di atas Lin Chen saat ini.
Han Zo menjilat bibirnya yang kering, matanya menatap tajam ke arah topeng besi Lin Chen. "Ascender cacat... kudengar kau membunuh gladiator tingkat empat dengan satu sentuhan. Tapi di depanku, kau hanya akan menjadi potongan daging yang dikeringkan."
Han Zo mengayunkan sabit rantainya. Suara gesekan logamnya menciptakan nada melengking yang mengganggu konsentrasi. Senjata itu memiliki jangkauan jauh, sebuah keuntungan besar saat melawan petarung jarak dekat seperti Lin Chen yang hanya memiliki satu tangan.
Lin Chen merasakan tekanan energi dari Han Zo. Qi Abadi pria itu jauh lebih padat dan mengandung unsur racun korosif.
*Napas Karang Esensi* di dalam tubuh Lin Chen menderu. Ia memusatkan energinya ke telapak tangan kiri. Ia tahu, satu kesalahan kecil dalam menghindari sabit itu akan berakibat fatal.
"Datanglah," ucap Lin Chen rendah.
Han Zo meraung, melontarkan sabit kanannya. Senjata itu melesat memutar bagai ular kobra yang menyerang. Lin Chen menggunakan *Langkah Bayangan Iblis* yang baru dipelajarinya. Tubuhnya seolah terbelah menjadi tiga bayangan kabur.
Sabit itu menembus bayangan pertama, namun Han Zo segera menarik rantainya dan meledakkan Qi Abadi di ujung sabit tersebut, menciptakan ledakan racun hijau yang meluas.
Lin Chen terhempas oleh gelombang kejut, ia berhasil mendarat dengan stabil. Bahu kirinya sedikit terkena uap racun, membuat kulitnya terasa gatal terbakar.
**[Situasi Kritis: Musuh Jarak Jauh dengan Racun Korosif.]**
**[Kondisi: Stamina Anda tersisa 40%. Kecepatan musuh melebihi persepsi visual Anda saat ini.]**
**[Silakan tentukan serangan balik Anda:]**
**[Pilihan 1: Bertahan secara total dan menunggu musuh mendekat.
Hadiah: Anda akan perlahan keracunan oleh uap di udara. Kesempatan menang 20%.]**
**[Pilihan 2: Gunakan Pedang Patah sebagai proyektil untuk merusak rantai sabit musuh.
Hadiah: Musuh kehilangan satu senjata. Anda kehilangan senjata pertahanan satu-satunya.]**
**[Pilihan 3: Biarkan sabit musuh menusuk area non-vital di lengan kanan Anda yang mati. Gunakan rantai tersebut untuk menarik musuh ke arah Anda dan lepaskan 'Telapak Penghancur Bintang' kekuatan penuh ke kepalanya.
Hadiah: Kemenangan instan. Risiko: Rasa sakit luar biasa dan kerusakan saraf lengan kanan lebih lanjut. Hadiah tambahan: Kristal Abadi Menengah dan Pemulihan Meridian Lengan Kanan 5%.]**
Lin Chen menatap lengan kanannya yang lumpuh di balik jubah. Lengan itu tidak bisa merasakan apa-apa, namun ia tahu syarafnya masih terhubung dengan otaknya. Pilihan ketiga adalah kegilaan yang hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang telah menelan penderitaan sebagai makanan harian.
"Lakukan," batin Lin Chen.
Han Zo melihat celah. Ia melontarkan kedua sabitnya sekaligus dalam gerakan menjepit. "Mati kau, Cacat!"
Lin Chen tidak menghindar. Ia justru maju satu langkah ke depan. Ia sengaja memosisikan bahu kanannya yang mati tepat di jalur salah satu sabit.
*JLEB!*
Sabit beracun itu menembus dalam ke otot lengan kanan Lin Chen yang layu. Darah hitam memercik keluar. Han Zo tertawa penuh kemenangan, mengira ia telah mengunci gerakan lawannya.
"Aku menang!" teriak Han Zo sambil menarik rantainya dengan sekuat tenaga.
Namun, Lin Chen tidak terseret. Ia justru menggunakan tarikan Han Zo sebagai bantuan untuk melesat maju. Pemuda itu mencengkeram rantai yang tertanam di lengannya menggunakan tangan kirinya, lalu menariknya balik dengan kekuatan yang luar biasa.
Han Zo tersentak. Ia ditarik paksa mendekati Lin Chen. Wajah sang penjagal berubah dari kemenangan menjadi teror saat melihat mata Lin Chen yang bersinar merah dari balik topeng.
"Kau... apa yang kau lakukan?!"
Lin Chen sudah berada di depannya. Tangan kiri Lin Chen yang kini bersinar dengan pusaran energi Yin-Yang yang sangat padat menghantam tepat di dahi Han Zo.
*BAMMM!*
Seluruh energi *Telapak Penghancur Bintang* dilepaskan tanpa sisa. Kepala Han Zo tidak pecah, namun seluruh isi kepalanya hancur seketika. Tubuhnya membeku, matanya membelalak, lalu ia roboh ke atas pasir tanpa nyawa.
Lin Chen mencabut sabit yang tertanam di lengan kanannya dengan gerakan kasar. Ia bahkan tidak mengerang. Darah segar mulai mengalir dari luka tersebut, namun ia merasakan sensasi hangat yang sangat tipis merambat di meridian lengannya yang mati.
**[Pilihan 3 Diselesaikan. Kemenangan Ronde 8. Pemulihan Meridian Lengan Kanan dimulai.]**
Lin Chen berdiri tegak di tengah sorakan penonton yang kini menggila. Mereka melihat seorang pria yang menggunakan lengannya yang hancur sebagai umpan untuk membunuh seorang ahli tingkat lima.
"Ronde Kesembilan dan Kesepuluh..." gumam Lin Chen, menatap ke arah balkon tempat para penguasa kota duduk mengawasi.
Ia bisa merasakan stamina fisiknya berada di titik terendah, namun setiap tetes darah yang jatuh di atas pasir merah ini justru membuat jiwanya semakin tajam. Jalan menuju dasar Tambang Batu Hitam sudah berada di depan mata, dan tidak ada satu pun True Immortal yang akan bisa menghentikan langkah sang Iblis Satu Tangan.