Ada nama yang tak pernah disebut.
Ada kebenaran yang selalu disembunyikan di balik senyuman.
Dan ada cinta yang tumbuh… tanpa benar-benar tahu siapa yang dicintai.
Dhea hanya ingin mencintai dengan sederhana.
Namun semakin dekat, ia justru menyadari—
tidak semua yang terlihat, adalah yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Ketemu
“Mas Aren perginya ke mana sih? Kenapa dari tadi aku nggak nemuin dia…” gumam Dhea sambil celingukan ke arah taman kota.
Sejak menutup toko tadi, Dhea langsung pergi mencari Aren.
Namun sampai sekarang, ia belum juga menemukan pria itu di mana pun.
Wajah Dhea terlihat sangat panik dan khawatir.
Ia benar-benar takut jika Aren melakukan sesuatu kepada dirinya sendiri.
“Ayo, Mas Aren… di mana kamu?” ucap Dhea pelan sambil terus berjalan cepat mencari ke sekitar taman.
Sesekali gadis itu menoleh ke kanan dan kiri berharap melihat sosok Aren.
Namun hasilnya tetap sama.
Tidak ada.
Napas Dhea mulai terengah karena terlalu lama berlari kecil ke sana kemari. Tetapi ia tetap tidak ingin menyerah. Karena sejak tadi, hatinya terasa sangat tidak tenang.
“Mas Aren…” panggilnya lagi dengan suara yang mulai melemah.
Tatapannya perlahan menyapu bangku-bangku taman yang mulai sepi menjelang sore. Dan saat itu juga, mata Dhea tiba-tiba menangkap sosok seseorang yang duduk sendirian di sudut taman.
Deg.
Dhea langsung membelalakkan matanya.
“Itu…” lirihnya pelan.
Tanpa berpikir panjang lagi, Dhea langsung berlari menuju sosok tersebut.
Saat Dhea tiba di sana.
“Mas Aren!” panggil Dhea dengan napas ngos-ngosan.
Namun pria yang duduk di bangku taman itu langsung menoleh dengan wajah bingung.
Dan seketika.
Dhea langsung menyadari bahwa orang itu bukan Aren.
“E-eh, maaf, Mas. S-saya salah orang,” ucap Dhea gugup.
Pria itu hanya mengangguk kecil memahami keadaan Dhea. Sedangkan Dhea langsung pergi lagi dari tempat itu. Langkahnya mulai melambat karena kelelahan. Namun rasa khawatir di hatinya justru semakin besar.
“Mas Aren sebenarnya pergi ke mana…” lirihnya pelan.
Dhea terus berjalan sambil menatap sekitar dengan gelisah.
Matanya bahkan mulai berkaca-kaca karena takut.
Karena selama ini, Aren selalu terlihat menyimpan banyak sekali beban sendirian. Dan sekarang setelah semuanya terbongkar, Dhea benar-benar takut pria itu merasa sendirian lagi.
“Aku cuma mau bicara…” gumam Dhea lirih. “Tolong jangan menghilang begini…”
Dhea terus mencari Aren tanpa ingin menyerah. Walaupun sebenarnya, ia sendiri tidak tahu harus mencari ke mana lagi. Ia sudah berkeliling ke banyak tempat.
Taman. Jalan sekitar toko.
Bahkan beberapa tempat yang biasanya ramai. Namun tetap saja, Aren tidak ditemukan.
Dan tanpa terasa, waktu berjalan begitu cepat.
Hari pun berganti malam. Kini Dhea duduk sendirian di taman dengan wajah yang terlihat sangat lelah.
Kakinya terasa pegal karena seharian berjalan ke sana kemari. Namun yang paling terasa lelah adalah hatinya.
“Mas Aren di mana…” lirih Dhea pelan. “Padahal Dhea cuma ingin bicara sama Mas Aren.”
Matanya perlahan mulai berkaca-kaca lagi.
“Tapi kenapa Mas benar-benar menghilang begini…”
Angin malam berembus pelan menerpa wajahnya. Sedangkan Dhea hanya menundukkan kepalanya dengan perasaan tidak tenang.
Ia masih ingat jelas bagaimana wajah Aren sebelum pergi tadi. Takut. Dan penuh rasa bersalah. Seketika Dhea menggenggam tasnya erat.
“Aku nggak marah kok…” gumamnya lirih. “Jadi jangan menghindar seperti ini…”
**
Saat keesokan harinya, Dhea sudah berada di toko bunganya sejak pagi sekali. Ia sengaja datang lebih awal karena takut Aren datang ke toko saat dirinya belum tiba.
Namun ternyata, itu hanya harapannya saja.
Dhea tidak melihat sosok Aren datang seperti biasanya. Hal itu membuat perasaannya semakin gelisah. Sesekali ia terus melirik ke arah pintu toko, berharap pria itu tiba-tiba muncul di hadapannya.
Namun sampai beberapa jam berlalu, Aren tetap tidak datang. Dhea pun perlahan menundukkan kepalanya dengan perasaan sedih. Ia benar-benar ingin bertemu dengan Aren.
Bukan untuk marah.
Bukan juga karena merasa jijik ataupun takut. Dhea hanya ingin berbicara dengan Aren. Karena menurutnya, pria itu pasti sedang merasa sangat hancur sekarang.
Dan entah kenapa, saat ini Dhea hanya ingin berada di samping Aren, sama seperti Aren yang selalu berada di sampingnya selama ini.
“Mas Aren benar-benar jahat…” gumam Dhea dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Ia perlahan menundukkan kepalanya sambil menggenggam ujung bajunya pelan.
“Mas malah menghilang begini…”
Suara Dhea terdengar lirih dan penuh rasa sedih. Padahal dirinya sudah berusaha mencari Aren ke mana-mana.
Namun pria itu justru benar-benar menjauh darinya.
“Padahal Dhea cuma mau bicara…” lanjutnya pelan. “Dhea nggak marah kok…”
Tanpa sadar, setetes air mata jatuh di pipinya. Dhea benar-benar tidak mengerti kenapa Aren memilih pergi dan menghindarinya seperti ini.
Apa pria itu berpikir dirinya akan takut? Atau merasa jijik setelah mengetahui semuanya? Seketika Dhea mengusap matanya cepat-cepat.
“Kalau Mas terus menghilang begini…” gumamnya lirih. “Bagaimana Dhea bisa bilang kalau Dhea nggak membenci Mas…”