NovelToon NovelToon
SEKALI TEMBAK JADI ANAK!

SEKALI TEMBAK JADI ANAK!

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: SariRani

Guntur Abimanyu, seorang CEO muda yang hampir berumur 30 tahun dipaksa untuk menikah tapi tidak ingin menikah.

"JIKA AKU MENIKAH HANYA UNTUK MENGHASILKAN ANAK, AKU BISA LAKUKAN SEKALI TEMBAK KEPADA WANITA MANAPUN! JADI TIDAK PERLU MENIKAH" serunya kepada kakek serta ayah ibunya.

Rustam sang kakek yang memegang kendali perusahaan ingin cucu laki laki satu satunya ini segera menikah. Begitupun Randi dan Ela, orang tua Guntur juga ingin segera menikahkan putra sulungnya itu.

"Baiklah kalau begitu, buktikan kemampuan menembak benihmu kepada wanita yang kakek dan orang tuamu pilih" ucap sang kakek.

"OKE SIAPA TAKUT!!" seru Guntur menerima tantangan.

Tapi ternyata takdir berkata lain, setelah kesepakatan ini dibuat, Guntur bertemu dengan wanita yang meninggalkannya dengan cinta terdalam.

Jadi siapa yang menang dalam taruhan keluarga ini? Apakah wanita yang kembali datang atau wanita yang dipilihkan kakek serta orang tuanya, mampu membuat Guntur membuktikan keperkasaannya? Baca novel ini dan dukung terus yaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SariRani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DEAL PERTAMA 30RIBU TERJUAL

Pagi hari jam 6, Ratih dan Gina pergi ke Pekan Baru dengan pesawat.

Mereka berdua datang ke perusahaan sawit yang sudah menggunakan panel surya untuk sumber listriknya.

"Selamat datang di PT Argo Sawit" sapa manager produksi yang menyambut keduanya.

"Selamat pagi Pak Stevanus. Terima kasih sudah menerima kami disini untuk tender penawaran" sahut Gina.

Ratih yang masih belum tau situasi kondisi customer memilih diam dan mengikuti pergerakan Gina.

Mereka dipersilahkan masuk ke ruang meeting.

"Sebentar ya Bu Gina dan Bu Ratih, direktur kami masih ada panggilan bisnis yang lain. Mohon ditunggu sekitar 5 sampai 10 menit apakah tidak apa apa?" ucap Stevanus.

"Oh tidak masalah, Pak. Kami juga akan mempersiapkan diri untuk presentasi" sahut Gina.

"Baiklah. Sambil mempersiapkan diri dan menunggu direktur, silahkan dinikmati hidangan yang ada" ujar Stevanus mempersilahkan.

"Aku dengar direktur PT Agro Sawit ini masih baru. Dia putra bungsu dari direktur sebelumnya yang sudah meninggal. Apakah kamu sudah pernah berinteraksi dengannya?" tanya Ratih kepo.

"Hmm...sebatas tau aja sih, Mbak. Aku tidak terlalu perduli dengan siapa direktur perusahaan yang aku tuju sebagai customer" jawab Gina.

Ratih langsung terdiam. Sepertinya dia salah bertanya.

Sekitar 7 menitan menunggu, pintu ruang meeting terbuka dan memperlihatkan seseorang CEO berjas tampan lalu diikuti oleh pria lain dibelakangnya. Disusul Pak Stevanus sebagai manager produksi.

"Maaf maaf sudah membuat kalian menunggu" sapa sang CEO berwibawa.

"Tidak masalah, Pak Elang" sahut Gina terdengar aneh ditelinga Ratih. Kenapa panggilan Gina terkesan akrab dengan CEO perusahaan PT Agro Sawit ini?

"Oh ternyata Bu Gina sudah mengenal Pak Elang ya?" celetuk Stevanus.

"Siapa yang tidak mengenal Pak Elang? Tiga bulan lalu semua berita bisnis meliput pelantikannya sebagai direktur. Apalagi 1 minggu lalu berita pertunangan Pak Elang dengan wanita cantik dari keluarga terpandang semakin tersebar luas, ya begitulah Pak Stevanus, anda memiliki direktur yang sangat dikenal kalangan anak muda" sahut Gina semakin jelas bahwa ada sesuatu diantara mereka.

Elang hanya tersenyum tipis.

"Hahahaha betul betul. Dalam 3 bulan, perusahaan kami benar benar dirombak, maka dari itu kami membutuhkan panel surya dari perusahaan kalian untuk memulai operasi produksi baru" sahut Stevanus.

"Baik jika semua sudah siap, lebih baik meeting kali ini segera dimulai dikarenakan Pak Elang ada agenda selanjutnya satu jam kedepan" sela pria yang tadi masuk bersama Elang, alias asisten pribadi CEO tersebut.

Gina dan Ratih pun memulai presentasi secara bergantian.

Pandangan Elang tidak lepas dari setiap pergerakan Gina.

Sekitar 20 menit presentasi sudah tersampaikan dengan baik serta tanya jawabnya.

"Cukup bagus kualitas panel surya kalian. Jika bisa saya ingin langsung memesan 30 ribu pcs dan dikirim di tanggal yang sama sesuai kesepakatan. Bagaimana? Daripada impor lebih baik produk dalam negeri" ucap Elang.

Mata Ratih sangat berbinar. Semakin banyak panel surya tang terjual, dia pun senang.

Namun berbeda dengan Gina yang menatap Elang dengan tajam.

"Perihal penambahan jumlah yang naik 3x lipat, saya akan sampaikan dulu di bagian produksi perusahaan kami" sahut Gina.

"Oh begitu ya? Saya kira Gelindo Abimanyu selalu siap dengan berapapun order dari customer" balas Elang.

"Benar memang kami selalu siap untuk memenuhi permintaan customer, namun jeda waktu tersisa sesuai jadwal yang disepakati cukup untuk mengirimkan 10 ribu panel surya sehingga menambah 20 ribu lagi akan memerlukan waktu" jelas Gina.

Ratih hanya sebagai pengamat dan menganalisis keadaan.

"Jadi butuh waktu berapa lama lagi untuk mengirimkan 20 ribu panel surya? Setelah pengiriman 10 ribunya?" tanya Elang.

"Sekitar 1 bulan setelah pengiriman pertama, kami bisa mengirimkan sisa pemesanan tersebut" jawab Gina.

"Oke, baik. Kami menerima kesepakatan ini. Jadi bisa saya simpulkan untuk pemesanan dari PT Agro Sawit kepada Gelindo Abimanyu sebanyak 30 ribu panel surya akan dikirimkan secara bertahap. Tahap pertama sejumlah 10 ribu dikirimkan 2 minggu sejak hari ini lalu satu bulan dari pengiriman pertama akan dikirimkan 20 ribu" jelas Elang.

"Suasananya kok jadi tegang begini. Pasti ada sesuatu diantara Gina sama Elang" batin Ratih.

"Baik, Pak Elang. Untuk kesepakatan pembelian ini, akan kami kirimkan kembali surat kesepakatan serta invoice pembayaran" sahut Gina.

"Ya, atur saja bagaimana prosedurnya" ucap Elang lalu tiba tiba berdiri.

"Senang melihat anda bisa datang kesini, Bu Gina. Ternyata benar, kata orang ada yang mengatakan Gelindo Abimanyu memiliki sales yang sangat cantik serta kompeten seperti anda" celetuknya dan langsung meninggalkan ruangan diikuti oleh sang asisten.

Gina terdiam dan berlagak fokus ke laptopnya.

Stevanus serta anak buahnya hanya bisa diam termasuk Ratih.

"Baik, kesepakatan sudah terjadi ya Bu Gina. Kami tunggu untuk MOU dan invoicenya" ujar Stevanus.

"Baik, Pak Stevanus. Besok akan kami kirimkan untuk dokumen dokumennya" sahut Gina.

Tak lama kemudian, setelah Gina dan Ratih berberes, keduanya keluar perusahaan menggunakan mobil sewaan.

Di dalam mobil, Ratih hanya memperhatikan ekspresi Gina yang tidak seceria ketika datang tadi namun Ratih enggan bertanya.

Mereka pergi ke bandara untuk kembali ke Batam.

Sedangkan di ruangan direktur PT Agro Sawit, Elang duduk di kursi kebesarannya.

"Aaaaah...Gina..." batinnya berteriak sambil melihat foto kecil di meja kerjanya.

Di ruangan itu juga ada sang asisten yang sedang membuka laptopnya.

"Pak, meeting anda secara online dengan perusahaan Gas Oil Australia akan dimulai 15 menit lagi" ingat sang asisten.

Belum ada sahutan dari sang bos membuat, asisten tersebut berdiri lalu menghampiri Elang.

"Pak Elang, meeting online akan dimulai 15 menit lagi" ucapnya didepan Elang yang terlihat dingin sambil sorot matanya terarah di samping kiri meja kerjanya.

Sang asisten tau ada apa disana.

"Pak Elang" panggilnya lagi.

"Ya aku dengar. Masih 15 menit lagi kenapa kamu terburu2 begini sih Lon?" tegur Elang dengan tatapan dinginnya kearah sang asisten yang bernama Elon itu.

"Maafkan saya. Saya hanya mengingatkan bahwa GOA ini adalah perusahaan besar di Australia yang akan memberikan kita keuntungan besar" ujar Elon.

"Aku tau" ucap Elang.

"Maafkan saya, Pak" ucap Elon lagi lalu kembali ke kursinya.

Tiba tiba Elang menatap anak muda yang menjadi asistennya itu dengan ide baru. Lebih tepatnya ide gila, segila idenya untuk bisa mendekati Gina lagi.

"Lon" panggil Elang.

"Iya, Pak?" sahut Elon.

"Apakah aku bisa meminta tolong sesuatu kepadamu? Ini misi besar" ujar Elang.

"Apa itu pak? Saya harap tidak melibatkan saya dalam kisah cinta anda dengan Bu Gina serta Bu Hana" ucap Elon.

"Sayang sekali, harapanmu tidak terwujud. Aku ingin memintamu untuk mendekati Hana dan membuatnya jatuh cinta padamu lalu membatalkan pertunangan kita" minta Elang membuat Elon menggeleng cepat.

Elang pun berdiri lalu menghampiri sang asisten dan duduk disampingnya.

"Please..apapun yang kamu inginkan akan aku berikan" mohon Elang.

"Tidak, Pak. Saya yang akan jadi korban nantinya" ujar Elon.

"Korban apaan sih? Ini bukan kriminal atau kejahatan. Ayolah bantu bosmu. Lagipula usia kalian tidak jauh beda. Dia terlalu bersikap seperti anak anak untukku, aku tidak bisa" jelas Elang.

"Menurutku tidak seperti itu, Pak. Bu Hana memang terlihat manja tapi sebenarnya dia hanya ingin anda perhatikan" balas Elon.

Mendengar Elon memuji tunangannya, Elang malah senang.

"Yakan kamu aja bisa melihat hal pasitif dari sikapnya, jadi please mau ya bantu aku, beneran apapun yang kamu inginkan di dunia ini akan aku berikan selama aku mampu" ujar Elang.

"Tidak bisa, Pak. Aku tidak ingin menyakiti seorang wanita karena aku memiliki 2 adik perempuan serta ibu yang sangat saya sayangi. Saya tidak bisa menyakiti wanita lain" tolak Elon.

Elang pun menghembuskan nafas panjang.

"Ya sudah, jika kamu tidak ingin membantuku, aku juga tidak ingin memaksamu. Aku tau saat ini adik adikmu memerlukan biaya untuk bersekolah serta pengobatan ibumu. Aku hanya ingin menjadi solusi keuangan untuk membantu keluargamu" ucapnya lalu berdiri dan saat hendak berjalan kembali ke kursinya, suara Elok membuatnya berbalik.

"Pak Elang memang bisa menyudutkan saya. Sebenarnya saya sangat tidak ingin memanfaatkan hal ini untuk bisa membiayai kehidupan keluarga saya, tapi karena Pak Elang lebih dulu menyebutkannya maka saya pun tidak sungkan lagi" ucap Elon.

Elang tersenyum tipis.

"Jadi gimana? Kita deal? Kamu membuat Hana membatalkan pertunangan denganku dan aku akan membiayai semua kebutuhan keluargamu?" ujarnya sambil mengulurkan tangan.

Elon menerima uluran tangan itu.

"Deal, Pak" sahutnya menjabat tangan sang bos.

"Waktumu hanya 3 bulan sebelum pernikahan ku dan Hana. Jika kamu gagal, maafkan aku mengharuskanmu melakukan sesuatu untuk menggantikan ku dalam pernikahan itu. Aku benar benar mencintai Gina dan tidak ingin menikahi wanita lain" ujar Elang.

"Pak Elang berani bayar saya berapa dengan misi yang mengorbankan masa depan saya ini? Pada akhirnya jika saya gagal, saya juga yang akan bersama Bu Hana" serang Elon.

"Hahahaa kamu berbicara seperti ini sangat berbanding terbalik dengan apa yang kamu katakan tentang Hana tadi. Kamu bilang dia tidak manja dan hanya ingin mencari perhatianku, jadi coba ubah dia manja kepadamu bukan kepadaku" ucap Elang.

"Aku berani memberikan 1 milyar untukmu demi misi ini. Berhasil atau tidak 1 milyar ini akan jadi milikmu karena kamu pun bersama Hana pada akhirnya kecuali dia memiliki pria lain atau dia tidak menginginkan mu, kamu harus pergi dari hidupnya" lanjutnya.

"Deal! 1 milyar, saya menjual hidup saya pada anda, Pak Elang" ujar Elon sepakat.

Jabatan tangan itu terlepas karena meeting dengan pihak Australia akan dimulai.

"Oh iya, 1 milyar ini akan aku tf 3 kali ya, hari ini bulan depan dan akhir 3 bulan misi ini berjalan" ujar Elang yang sudah didepan komputernya.

"Baik, Pak Elang" sahut Elon.

Keduanya pun kembali sibuk pada pekerjaan dan mulai meeting.

*(Cerita Elang & Gina serta Elon & Hana akan diceritakan di novel lainnya)*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!