NovelToon NovelToon
Suami Ku Musuh Bebuyutan Ku

Suami Ku Musuh Bebuyutan Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Bad Boy / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: mahealza

papanya elvaro dan zavira pernah sahabatan di waktu SD ,Namun nasib membedakan mereka , papanya elvaro sudah sukses sekarang. sedangkan papanya zavira hanya mempunyai toko bengkel.

keduanya bertemu setelah beberapa tahun menghilang,tapi masih dengan persahabatan yang hangat, terukir janji mereka yang dulu akan menjodohkan anak mereka. mamanya elvaro sangat keberatan menerima nya ,Karna menurutnya tidak setara. begitu juga dengan zavira menolak keras perjodohan ini Karna elvaro adalah musuh bebuyutan nya di sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mahealza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PINDAH RUMAH

Matahari sore mulai merunduk, menyinari halaman kompleks perumahan yang tenang. Sebuah rumah sederhana berdiri kokoh di sana. Tidak terlalu besar, tapi desainnya sangat eye-catching—konsep minimalis modern dengan cat dominan putih dan aksen kayu yang hangat. Fasadnya bersih, rapi, dengan taman kecil di depan yang tertata apik, membuat suasana terasa begitu estetik dan nyaman meski luas bangunannya tergolong mungil. akhirnya perpindahan itu bertepatan pada hari ini .

Begitu melangkah masuk, kesan luas langsung terasa berkat konsep ruang terbuka. Ruang tamu menyatu dengan dapur, pencahayaan alami masuk lewat jendela-jendela besar, membuat interior berwarna netral terlihat semakin elegan. Lantai keramik berkilau memantulkan cahaya, dan perabotan yang dipilih pun model-model simpel yang fungsional. Rumah kecil ini terasa seperti surga pribadi yang tenang.

 

"Oke, gue punya tantangan buat lo," ucap Elvaro tiba-tiba, memecah keheningan. Matanya berkeliling memandang sekeliling ruangan. "Pilih kamar sendiri-sendiri. Mulai sekarang, kita gak boleh sekamar lagi. Lagian di sini gak ada yang ngawasin, kan gak etis juga kalau masih satu atap tidur bareng."

Zavira mengangguk antusias, matanya berbinar. "Bener juga! Gue mau kamar yang paling bagus!"

Tanpa menunggu lama, Zavira langsung berlari kecil menelusuri lorong sempit menuju bagian dalam rumah. Sementara itu, Elvaro berjalan santai, tangannya masuk ke saku celana, berjalan tenang seolah sedang mengamati properti mewah, memilih dengan teliti mana yang paling cocok dengan vibes-nya.

Zavira yang lebih cepat sudah sampai di ujung lorong. Ia membuka sebuah pintu kayu dan matanya langsung terbelalak kagum.

"Wah! Ini kamar gue!" serunya girang.

Kamar itu jauh lebih besar dari ekspektasinya. Desainnya minimalis banget, dindingnya putih bersih, ada jendela besar yang bikin kamar terang benderang. Sudah ada kasur empuk dan lemari pakaian yang muat banyak. Ini jelas kamar utama terbaik di rumah ini. Zavira langsung melempar tasnya ke atas kasur, menandai wilayahnya.

Di sisi lain, Elvaro baru saja membuka pintu demi pintu. Wajahnya mulai berubah. Pintu pertama... gudang. Pintu kedua... kamar mandi. Pintu ketiga... kosong melompong, bahkan belum ada kasurnya. Ia berbalik, memeriksa seluruh sudut rumah.

Anjir, beneran cuma ada satu kamar yang layak dihuni?

Dengan langkah gontai dan wajah yang sedikit memerah karena malu, Elvaro berjalan kembali ke kamar yang sudah diduduki Zavira. Ia mendorong pintu pelan-pelan dan masuk seenaknya.

Zavira yang sedang mengelus-elus sprei baru sontak melompat kaget. Ia menatap Elvaro dengan tatapan tidak suka.

"Ngapain lo kesini?! Hah?!" bentak Zavira ketus, tangannya berkacak pinggang. "Ini kan kamar gue! Gue yang nemu pertama kali! Keluar sana!"

Elvaro menggaruk kepalanya yang tidak gatal, berusaha menutupi rasa malunya. Ia mendecakkan lidah pelan, "Cih... Tapi... kayaknya di rumah ini emang cuma ada satu kamar yang jadi. Sisanya kosong melompong atau gudang." suaranya mengecil di akhir kalimat.

"Terus .....! Cari aja yang lain!" seru Zavira, berusaha mendorong tubuh Elvaro keluar.

Namun Elvaro berdiri kokoh seperti tembok. Wajahnya berubah, kembali memasang wajah sombong dan arogan khasnya. Ia melipat tangan di dada, menatap Zavira dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan.

"Heh, jangan kurang ajar lo," ucap Elvaro dingin, nadanya penuh penekanan. "Inget ya... rumah ini dibeli pake uang Papi gue. Semuanya di sini hak gue. Lo itu cuma numpang, Vi."

"Hah?! Alasan aja lo!" Zavira membelalakkan mata, emosinya langsung memuncak. "Beli pake uang papi lo tapi kan buat kita berdua juga! Dasar egois! Gue duluan yang masuk!"

"Duluan apaannya? Hukum rimba apa gimana?" Elvaro mendengus, lalu berjalan seenaknya mendekati kasur dan duduk santai di ujung tempat tidur seolah itu miliknya. "Ya udah, mau gimana lagi? Gak ada kamar lain. Lo mau tidur di luar sama nyamuk? Atau tidur di lantai ruang tamu?"

"eh hello!!! Sombong banget sih lo! Gak tau terima kasih!" Zavira mencubit lengan Elvaro kuat-kuat.

"Aduh! Sakit anjir! Jangan kasar!" Elvaro mendorong kepala Zavira pelan.

"Siapa suruh masuk! Keluar! Pindah sana!"

"Gak mau! Gue disini aja! Lo yang pindah!"

Dan keributan pun tak terelakkan. Teriakan, cubitan, dan dorong-dorongan kecil kembali terjadi di dalam kamar estetik itu. Meski Zavira terus protes dan mengomel, akhirnya mau tak mau mereka harus berbagi kamar itu lagi, dengan perjanjian (yang pasti akan dilanggar) untuk membagi wilayah secara ketat.

***

Hujan deras di luar membuat suasana rumah semakin dingin dan sepi. Elvaro memilih tetap di kamar, bersandar nyaman di kasur empuk sambil fokus menatap layar HP, jari-jarinya lincah menekan tombol bermain game. Suara button dan efek suara game terdengar bersahutan dengan gemuruh hujan.

Sementara itu, Zavira terpaksa berbaring di sofa. Hatinya masih dongkol karena harus mengalah, tapi mau bagaimana lagi, ia tak punya pilihan. Matanya terpaku pada layar televisi, menikmati alur cerita drakor yang seru, berusaha melupakan rasa tidak nyaman tidur di tempat yang sempit itu.

Tiba-tiba... Kruukk... Kruukk...

Suara gemuruh tak biasa terdengar dari perutnya. Rasa lapar yang hebat menyerang, membuat ulu hatinya terasa perih. Penyakit lambungnya seolah memberi sinyal bahaya. Zavira mengerang pelan, memegangi perutnya. Ia buru-buru bangkit dan berjalan tertatih menuju dapur.

ia membuka lemari penyimpanan, untunglah masih ada stok mi instan. Cukup praktis dan cepat. Dengan sigap ia merebus air, memasak mi dengan kuah panas yang diharapkan bisa menenangkan perutnya. Aroma bawang dan bumbu mulai tercium menggugah selera ke seluruh ruangan.

Setelah matang, ia menaruh mangkuk besar itu di meja makan. Baru sadar kalau HP-nya tertinggal entah di mana, mungkin di sofa atau di kamar.

"Sebentar ya, ambil HP dulu," gumamnya pelan, lalu berlalu meninggalkan makanannya sebentar.

 

Aroma sedap itu ternyata langsung tercium oleh Elvaro di kamar. Jempolnya yang tadinya sibuk main game berhenti. Perutnya pun ikut berbunyi. Tanpa pikir panjang, ia berjalan santai menuju dapur. Melihat mangkuk berisi mi mengepul di meja, ia sama sekali tidak bertanya atau peduli itu punya siapa. Baginya, yang ada di depan mata adalah makanan.

Slurp! Slurp!

Suara menyeruput terdengar lahap. Dalam hitungan menit, mangkuk itu sudah kosong melompong, bahkan kuahnya pun habis terseruput. Elvaro mengelus perutnya yang kini terasa penuh dan hangat, wajahnya tampak puas tak terkira.

Tepat saat itu, Zavira kembali datang. Langkahnya terhenti, matanya terbelalak menatap meja makan yang kini hanya menyisakan mangkuk kosong.

Wajahnya pucat. Keningnya berkerut dalam, matanya membelalak menatap Elvaro tak percaya. Napasnya memburu bukan karena marah besar, tapi karena rasa sakit di perutnya makin menjadi-jadi karena kelaparan.

"El...varo..." panggilnya pelan tapi penuh penekanan, suaranya terdengar lemah tapi menusuk.

Elvaro menoleh, mengusap mulutnya dengan tisu seenaknya. "Hmm? Enak banget Vi, makasih ya udah masakin. Gue laper banget tadi," jawabnya santai, senyum kecil terlihat di wajahnya yang sama sekali tidak merasa bersalah.

"Itu... itu kan gue masak buat gue..." Zavira menunjuk mangkuk kosong, tangannya gemetar. Rasa kecewa dan sakit perut bercampur jadi satu. Ia ingin mengomel, ingin membentak, tapi ulu hatinya terasa begitu perih, kepalanya sedikit pusing. Hanya bisa keluar keluhan pelan yang tak berdaya. "Sakit tau... lambung gue kambuh... lo egois banget sih..."

Elvaro hanya mendengus, "Yaaa siapa suruh ninggalin seenaknya. Lagian kan masih bisa masak lagi."

Zavira tak sanggup lagi berdebat. Matanya berkaca-kaca karena kesal dan sakit. Ia berbalik badan, berjalan cepat meninggalkan dapur.

BAM!

Pintu kamar dibanting keras hingga dinding bergetar. Zavira meringkuk di ujung sofa, memeluk lututnya, wajahnya tertunduk lesu namun tatapannya tajam ke arah TV yang menyala. Matanya memancarkan kekesalan luar biasa, bibirnya manyun sampai bisa digantungi jemuran. Ia benar-benar muak dengan kelakuan cowok itu.

Tak lama, Elvaro masuk dengan santai, tangan di saku, wajah masih terlihat puas dan kenyang. ia duduk di sisi ranjang tangan nya sibuk dengan ponselnya,tapi matanya pokus menatap zavira di unjung sana. sedikit ada rasa bersalah ,tapi binggung untuk melakukan apa . meminta maaf ? oh itu bukan elvaro banget!!!!!!!!

***

lanjut ke part selanjutnya gaisy.

jangan lupa di vote teman teman semua.

semoga suka ya

maaf udah jarang update

1
Nesya
el g ingat kejadian semalam y wkwk🤭
Nesya
ngak mungkin elvaro pelaku pelecehan itu.. takut bgt el udah bucin parah tapi endingny vira pergi tingalin el
mahealza: semoga jangan😲
total 1 replies
Nesya
huh 😥
Nesya
aura cemburu el kuat bgt 😂
Nesya
lemes kali mulutmu el ketos apa macam kau oon bgt
mahealza: gadungan kak🤭
total 1 replies
Nesya
kereeen vira 👍🏻👍🏻
Nesya
wkwkwk gengsi kali minta bantuan savira juga bodoh amat 😂
Nesya
wah penasaran ni siapa yg bakal bucin duluan 😂
Nesya
kocak pasturi yang satu ini 😂
Nesya
seruuuuu 🤭👍🏻
mahealza: semoga selalu suka kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!