NovelToon NovelToon
Tasbih Cinta Ustadzah Buta

Tasbih Cinta Ustadzah Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Penyelamat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: ingflora

Collins Grow—anak seorang milyarder, begitu senang bisa kabur dari pengawasan ketat bodyguard sang ayah. Tanpa sengaja, ia mengejar seorang wanita cantik nan buta bernama Aida Dewi karena menjatuhkan sebuah tasbih di stasiun kereta api. Cinta pada pandangan pertama, dan didukung sebuah keluarga Betawi hangat yang mengangkatnya, Collins mati-matian mengejar cinta Aida. Sayang, ketika semua berjalan mulus, sebuah kenyataan pahit menghancurkan segalanya. Lewat tasbih itu mereka berpisah.

Dapatkah tasbih itu mempersatukan cinta mereka kembali? Ataukah Collins harus menyerah pada penjara dingin sang ayah dengan ibu tiri yang masih mengintainya? Dapatkah Collins membuktikan kejahatan ibu tirinya yang terus dilindungi sang ayah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15. Ronda

"Begini ... ade pencuri nyang ngedatengin rumah warga dan udeh dua rumah nyang disantroni maling. Terang Babe.

"Astaghfirullah aladzim," imbuh Ipah sambil mendengarkan.

"Jadi, kite akan siskamling lagi mulai malem enih." Babe melirik Collins.

"Siskamling apa, Be?" tanya Collins dengan polosnya.

"Itu ... jage malem. Lu kebagian juga yak!"

"Aku? Jaga malam?" Collins menunjuk dirinya, terkejut.

"Iye, tapi jangan takut. Lu kagak sendirian."

Collins masih terlihat bingung. "Sampai pagi?"

"Menjelang subuh udeh boleh pulang. Nanti posnye di pos ronda nyang biase." Babe menerangkan.

"Tapi gimana Bara mau ngojek, Be? Nanti terlanjur ngantuk," protes Bara sambil masih berusaha mencerna bagaimana siskamling ini bekerja. 'Ini maksudnya aku gak tidur semalaman? Kenapa susah sekali hidup jadi orang miskin? Ini tidak ada bedanya dengan orang kaya, hanya orang kaya menghasilkan uang sedang orang miskin tidak. Tapi aku harus bisa melebur bersama mereka karena memang ini konsekuensinya.'

"Ye, keadaan lingkungan sedang genting. Babe sebagai ketua RT di marih harus bisa membuat lingkungan nyang aman dan nyaman untuk wargenye. Enih udeh tanggung jawab babe." Babe menatap keduanya.

"Jum'at atau Sabtu aja ya, Be? Bara 'kan kerja." Collins memberi alasan.

"Ya udeh, nanti babe usahain buat elu." Babe menepuk bahu Collins dengan mantap.

****

"Bang ...." Aida bicara sebelum naik motor Collins.

"Ya?"

"Abang bisa nyetir mobil gak?"

"Bisa. Kenapa?" Collins merapikan duduknya.

"Minggu depan ada jalan-jalan ke pantai. Sebenarnya itu tugas sekolah. Kebetulan karena banyak yang ikut, kekurangan sopir untuk nganter. Abang bisa bantu, gak?"

"Oh, hari apa?" Collins melebarkan kedua matanya.

"Sabtu."

'Oh, Sabtu ya ....' Collins menyentuh dagunya. "Mudah-mudahan bisa."

"Jangan mudah-mudahan, Bang ... aku ingin yang pasti." Wajah wanita itu sedikit merengut.

Collins meliriknya dan tersenyum simpul. 'Lucu juga kalau dia kesal.' "Ya, udah. Boleh."

"Nanti Abang gak perlu keluar uang karena akomodasi dikasih. Cuma sehari aja kok, gak nginep. Nanti kita kasih uang jasa juga."

"Iya, iya," jawab Collins dengan sabar.

"Berarti nanti aku daftarin ya." Wajah Aida terlihat lega.

"Iya, ayo pulang." Pelan-pelan Collins senang, wanita ini mulai percaya padanya, dan akrab karena memanggil diri sendiri dengan 'aku'. Sebuah permulaan yang membahagiakan.

****

Collins hanya menunggu di pinggiran yang teduh, memandangi motornya. Siang itu cukup panas. Ia tidak ingin masuk ke dalam pasar yang riuh menemani Ipah belanja. Terlihat sebuah mobil mewah berwarna hitam memasuki parkiran.

Sebenarnya Collins sering panik setiap kali melihat mobil mewah merek apa pun di jalan karena selalu menyangka mobil itu tengah mencari dirinya. Seperti saat ini. Ia langsung menegakkan kerah jaket tipisnya untuk menyembunyikan kepala. Kemudian ia duduk berbalik arah 'Hah ... aku harus beli topi, kalau begini. Aku tidak bisa mengandalkan helm kalau ingin menyembunyikan wajah.'

Ya, helmnya tertinggal di motor. Orang yang berada di dalam mobil, keluar dan ia adalah seorang wanita berkerudung bersama anak perempuannya yang berusia sekitar 10 tahun. Keduanya melewati Collins saat masuk ke pasar.

Collins lega karena tak mengenal mereka. 'Hah ....' Ia berdiri tegak. 'Kalau begitu aku beli topi dulu deh! Topi yang waktu itu, hilang entah ke mana.' Pria itu kemudian melangkah masuk ke dalam pasar.

****

Langit gelap saat menjemput Aida. Wanita itu bergegas melangkah dengan tongkatnya ketika mendengar motor Collins datang.

"Cepat, Mbak. Sebentar lagi hujan!" teriak Collins dari atas motor.

"Iya, iya." Baru saja Aida meletakkan bokkongnya, motor itu langsung bergerak sehingga ia terkejut. "Eh!" Aida terpaksa meraih apa saja yang berada di depannya agar tak jatuh ke belakang.

Collins mempercepat laju motornya, melewati gang-gang yang biasa ia lalui. Butiran air mulai jatuh satu-satu.

Aida terlihat cemas. "Apa tidak sebaiknya menepi dulu?"

Tak ada jawaban. Collins fokus menembus rintik hujan dan menjalankan motornya setengah ngebut. Aida harus berpegangan pada kedua sisi jaket pria itu kuat-kuat.

Perjuangan Collins tak sia-sia. Ia sampai di depan rumah Aida dalam keadaan hujan masih rintik. Namun ketika Aida turun dan hendak membuka pagar, hujan turun lebih deras. "Bang, berteduh dulu!"

"Apa?"

Wanita itu membuka pagar lebar-lebar. Tanpa pikir panjang, Collins memasukkan motornya ke dalam dan turun. Sebelum berteduh, ia menarik tangan Aida agar cepat masuk ke teras. Namun tak ayal keduanya basah kuyup.

"Eh ...." Aida menarik tangannya dari genggaman Collins dan mengusap wajahnya yang basah.

"Oh, maaf."

"Tidak apa-apa." Aida memberi senyum manisnya. "Abang di sini saja. Aku mau ganti baju dulu."

"E, iya." Collins melepas helm dan duduk di kursi sementara sang wanita masuk.

Tak lama Aida keluar dengan menyodorkan handuk. Ia sendiri meletakkan handuk di kepala.

"Terima kasih." Pria itu meraih handuk yang diberikan.

Aida kembali masuk. Collins memandangi hujan yang turun deras sambil menutup tubuhnya dengan handuk walau rambutnya sedikit basah. Pikirannya menerawang. 'Aku harus beli helm satu lagi, agar Mbak Aida gak basah. Tapi tetap saja, hujannya terlalu deras.'

Lama terdiam, tiba-tiba Aida datang membawa wadah berisi segelas teh hangat. Ia juga telah berganti pakaian dengan daster panjang dari batik. "Ayo, Bang, diminum nanti masuk angin."

"Iya. Terima kasih." Collins meraih gelas bertangkai yang sudah diletakkan di meja. Sebelum meneguk, ia menangkup cangkir itu dengan kedua tangannya. Terasa hangat.

Ya, hujan deras membuat udara perlahan dingin. Apalagi Collins sempat kehujanan. Handuk yang diberikan Aida hanya menahan agar tubuhnya tak kedinginan. "Hatcuhh!"

Namun tak ayal, wanita itu tahu Collins tengah kedinginan. "Dingin ya, Bang?"

"Eh, iya, tapi untung ada handukmu, terima kasih."

Aida terlihat ingin tertawa hingga menutup mulutnya.

Hal itu membuat Collins mengerut dahi. "Kenapa? Ada yang lucu?"

"Iya. Dulu aja, aku bilang terima kasih, Abang ngeledekin. Sekarang udah dua kali Abang bilang terima kasih."

"Oh, begitu." Pria itu tersenyum lebar. Ia kembali memandang halaman yang basah karena hujan yang belum berhenti. Collins meneguk sedikit air teh itu ketika Aida mencoba duduk di kursi beranda. Ia melirik sang wanita yang mencoba mendengarkan suara hujan.

'Bagaimana rasanya dunia yang hanya bisa mendengarkan? Menyedihkan atau menenangkan?' Collins melihat senyum Aida yang tengah mendengar derasnya hujan. 'Apakah bahagia hidup tanpa melihat? Apakah senyummu itu asli berasal dari hatimu?'

Pria itu kembali teringat masa-masa ketika bersama keluarganya. 'Mungkin benar lebih bahagia bila kita tak perlu melihat sesuatu yang menyakitkan, tapi ... kasusku beda. Aku juga tak ingin mendengarnya. Dan itu sama saja dengan mati.'

Collins tak tahan dengan suasana sendu kala itu. Dilihatnya hujan mulai reda. Ia meletakkan gelas dan melepas handuk. Dengan segera pria itu meraih helm lalu memakainya. "Terima kasih, Mbak, tapi aku harus buru-buru!" teriaknya.

Collins menaiki motor dan memutar keluar. Masih dalam rintik hujan, ia menjalankan motornya pulang.

Aida hanya bisa mendengarkan motor pria itu pergi. "Padahal masih hujan," gumamnya. "Dan Abang bilang terima kasih untuk yang ketiga kalinya." Wanita tersenyum datar.

****

"... Bara!" Ipah berulang kali mengetuk pintu kamar mandi.

Pria itu keluar dengan mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil. "Apaan sih, Mpok? Gak bisa pake kamar mandi lain, apa?" Ia mengusap wajahnya yang sedikit basah dengan merengut.

Bersambung ....

1
elief
lanjut thor, makin seru ceritanya
Mustofa Aris
lanjutannya mana?
Baby_Miracles: iya, otw ya
total 1 replies
RaDja
terima kasih
Wiwi Sukaesih
up LG Thor
elief
Bagus thor ceritanya, tetap semangat berkarya nya💪💪💪
Baby_Miracles: makasih
total 1 replies
elief
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!