NovelToon NovelToon
Selamat Tinggal Orang Yg Kusayang

Selamat Tinggal Orang Yg Kusayang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Dunia Masa Depan
Popularitas:776
Nilai: 5
Nama Author: Arsih Mom

"Bukan berarti apa yang dekat dengan kita adalah yang terbaik, bisa jadi kebaikan itu ada jauh dari kita ataupun tidak terlihat"
Aku pergi karena sangat menyayangi kalian, suatu saat nanti jika masih ada kesempatan aku akan menjemput kalian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arsih Mom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Andai saja masih hidup, pasti sudah sebesar Dia

Terlihat kerumunan orang di depan supermarket dengan teriakan caci dan makian pada seorang gadis yang tersungkur di bawah.

"Sudahlah ngaku saja kalau kamu tadi mau ambil tas ku kan?"

"Tidak... saya sama sekali tidak ada maksud ambil tas Ibu, saya hanya memindahkan saja biar tidak kotor terkena karung saya yang jatuh!"

"Kebanyakan alasan, kita hajar saja anak ini biar kapok!"

'PLAK... DUG...' pukulan serta tendangan dari beberapa orang yang tersulut emosi menghujani wajah dan tubuh Oci. Sambil berteriak dan menangis Dia berusaha memohon dan mencari bantuan orang lain. 

'Seetttt.... Cittt... ' sebuah mobil mewah mendadak berhenti tidak jauh dari kerumunan itu. 

"Nyonya benar mau turun?!"

"He'em.. aku ingin lihat siapa anak itu!"

Wanita dengan kharisma kelas atas turun dari mobil dan mendekat. 

"Hentikan!"

Semua mata tertuju pada wanita itu. Bahkan ada yang masih julid dan mengatainya tidak baik. 

"Oh.. siapa lagi ini? apa kamu bos dari pencuri ini?"

Wanita itu lebih mendekat bahkan meraih tangan Oci dan membantunya untuk berdiri. 

"Aku Bos nya?... Hah... Kalian pikir tampang seperti aku ini adalah wanita jahat?"

Semua terdiam dan memandang tajam wanita itu. 

(Wanita ini seperti keturunan bangsawan, mana mungkin Dia orang jahat) "Kalau begitu kamu mau apa, mau membelanya?"

Dengan sikap wibawa dan ketegasannya wanita itu berdiri dan merangkul Oci tanpa basa-basi. 

"Namaku Santika Darmawan, bukannya kalian tahu keluarga Darmawan juga memiliki beberapa supermarket di kota ini?"

Terdengar seperti ledakan bom yang menghentikan segala kekuasaan dan kesombongan orang-orang yang bertindak seenaknya, mendengar ucapan dari Santika kerumunan itu pun bubar. Hanya tinggal seorang ibu yang mempunyai tas itu. Dengan wajah penuh malu Dia mengambil tas nya dan berencana mundur teratur meninggalkan tempat itu. 

"Tunggu..! Bukannya kamu yang menuduh anak ini mencuri isi tas kamu, katakan berapa uang yang hilang , aku akan menggantinya 10 kali lipat."

"Maaf... Maafkan aku, sebenarnya tidak ada yang hilang, aku cuma tidak terima saja gadis ini memegang tas ku yang mahal."

"Hem.. semahal apa tas kamu hingga berani memfitnah orang yang tidak berdosa!"

Sopir pribadi Santika sangat terkejut melihat majikannya itu. Karena selama Dia bekerja padanya baru kali ini melihat majikannya semarah itu. Dan begitu peduli dengan orang yang belum dikenalnya sama sekali. Berusaha menenangkan majikannya, Si sopir meminta ibu itu pergi. 

"Bu, silahkan pergi sebelum majikan saya marah. Karena supermarket ini juga salah satu milik keluarga Darmawan."

Tidak mau berurusan panjang lagi, ibu itu pergi dan meminta maaf pada Oci dan Santika. 

Oci mengambil karung nya dan berpamitan pada Santika. 

"Bu Santika terima kasih sudah menolong, saya pamit pulang dulu."

Ketika Oci meninggalkan nya beberapa langkah, Santika mencegahnya pergi. 

"Tunggu Nak!" (Kenapa hati ini sakit sekali melihat Dia pergi, apa yang kurasakan?) siapa namamu dan di mana rumah mu?"

Oci kembali berdiri di depan Santika dan mengatakan di mana Dia tinggal. 

Sengaja Dia membatalkan janji pertemuannya dengan klien malam itu hanya untuk mengantarkan Oci pulang. 

Diperjalanan Oci menceritakan tentang kehidupannya dan dengan siapa Dia tinggal sekarang. 

Mendengar cerita dari Oci, Santika tak terasa meneteskan air mata. Dia terus teringat dengan anaknya yang sama sekali tidak ada kabar bahkan Dia sudah mencarinya selama bertahun-tahun. 

Memang setelah Santana meninggalkannya di Rumah Sakit, Santika diangkat anak oleh Darmawan. Saat itu Santana sengaja menyerahkan Santika pada Darmawan karena Dia harus kembali pada keluarganya. Dan Dia yakin bahwa ditangan Darmawan Santika akan hidup dengan tenang dan layak. 

"Oci, bolehkah kamu ibu anggap sebagai anak sendiri? Dan mulai saat ini panggil lah aku dengan sebutan ibu."

Tidak langsung menyetujui permintaan Santika, Oci meminta turun di ujung jalan yang terlihat sepi. 

"Bu Santika, terima kasih sudah menolong dan mengantarku pulang."

Oci keluar dari mobil tanpa meninggalkan sepatah kata pun. 

Melihat kepergian Oci, hati Santika terasa tersayat senjata tajam hingga ke tulang-tulang nya. 

Sopirnya Pak Nono pun merasa khawatir melihat sikap majikannya. 

"Nyonya tunggulah di sini, biar saya yang turun dan mencari tahu tempat tinggal anak itu."

Menunggu dengan sabar di dalam mobil kabar dari sopir kepercayaannya, dengan tatapan kosong Dia merenungi masa lalunya yang tanpa cerita jelas. 

(Mas Santana, kenapa kamu begitu tega meninggalkan kami, bahkan aku sendiri sama sekali belum pernah melihat wajah anak kita,di mana aku harus mencarinya)  

Selang waktu 30 menit Pak Nono kembali membawa kabar yang membuat Santika semakin ingin mengangkat Oci sebagai anak nya. 

"Apa...!? Jadi Oci hanya tinggal bersama nenek nya yang sudah tidak bisa apa-apa?"

"Iya Nyonya, tadi saya juga sempat berbincang dengan neneknya dan.... "

Kalimat yang begitu saja terhenti dari bibir Pak Nono membuat Santika semakin penasaran. 

"Dan apa..? Katakan apa yang terjadi pada mereka?"

"Neneknya bilang, Oci... Oci itu bukan cucu kandungnya."

'GLEK... ' Santika menelan ludah nya dengan raut wajah yang sulit untuk diartikan. Dan sikap itu membuat Pak Nono melihatnya menjadi aneh. 

"Pak tolong antar saya ke rumah mereka!"

Dengan langkah cepat mereka menyusuri gang kecil dan tiba di depan rumah yang terbuat dari papan triplek. Hanya dengan menyibakkan kain penutup sebagai pintu rumah itu, Santika melihat pemandangan yang sangat mengenaskan. Dia masuk dengan kaki gemetar. 

"Oci, ada apa dengan nenek mu?"

"Hiks.. nenek kambuh lagi sesak napas nya."

Wajah yang renta dan keriput itu sedang berjuang melawan penyakitnya dengan nafas yang tersengal-sengal. Tanpa berfikir panjang, Santika meminta Pak Nono untuk membawanya ke Rumah Sakit. 

Dengan dibantu beberapa orang yang ada di sekitar rumah mereka, nenek Oci berhasil di bawa masuk ke mobil. 

Diperjalanan Santika terus menenangkan Oci dan memberinya kekuatan agar bisa menghadapi ini semua. 

"Oci, ibu janji akan berusaha maksimal untuk menolong nenek mu, kamu jangan menangis lagi."

Seperti ada ikatan batin sendiri, Santika memeluk Oci sambil berkaca-kaca kedua matanya.

(aku berharap kamu benar-benar anakku, tapi meskipun bukan aku akan tetap memperlakukan kamu sebagai anakku sendiri)

Tiba di UGD nenek Oci segera mendapatkan penanganan dari tim dokter. Santika dan Oci menunggu di luar dengan gelisah.

Beberapa menit kemudian, dokter keluar dari ruang UGD.

"siapa keluarga nenek Sumirah?"

Oci berlari mendekati Dokter itu dengan wajah yang masih basah dengan air mata.

"Saya cucunya Dok!"

Dokter melihat Oci semakin tidak tega, Dia membawa Oci duduk di kursi tunggu.

"Nak , sabar ya, kami minta maaf karena tidak bisa menyelamatkan nenek kamu."

"Maksud Dokter nenek ku meninggal!?"

Dokter menganggukan kepalanya dan membuat tangisan pecah dari Oci.

"Nenek... jangan tinggalkan Oci sendiri!"

Santika beranjak berdiri dan memeluk erat Oci. Dia juga meminta Pak Nono untuk mengurus administrasi Rumah sakit serta pemakaman Nenek Sumirah.

(apa mungkin ini jawaban sekaligus jalan keluar dari Allah untukku)

Semakin erat Santika memeluk Oci yang masih dirundung rasa sedih dan air mata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!