Di kedalaman hutan yang sunyi, di mana wabah asing pernah merenggut segalanya, Alexandria Grace hidup sendirian—seorang gadis yang selamat karena kekuatan muda yang masih membara.
Hutan adalah rumahnya, kesunyian adalah temannya, sampai suatu hari ia menemukan seekor macan kumbang yang terluka, terperangkap dalam jebakan manusia. Rasa iba mengantarnya merawat makhluk itu dengan setia, tak menyadari bahwa ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertolongan.
Saat luka sembuh dan ikatan tak terlihat mulai terjalin, malam musim kawin membawa kejutan yang mengubah segalanya, sosok binatang yang ia kenal berubah menjadi pria dewasa yang memancarkan aura misterius, dan tanda yang pernah ia rasakan kini menjadi janji cinta beda dunia yang tak terelakkan—meskipun dunia di sekitar mereka siap untuk menolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Matahari pagi merambat masuk melalui celah jendela, menyentuh wajah Alexandria yang masih setengah tersembunyi di balik selimut wol tebal. Hangatnya pelan-pelan membangunkan kesadarannya, membuatnya mengerang lirih sebelum akhirnya membuka mata. Cahaya keemasan menari di lantai kayu, suasana pondok terasa tenang seperti biasa, tapi ada satu hal yang langsung ia sadari—sesuatu yang seharusnya ada, kini tidak terasa.
Aroma itu.
Aroma musky yang hangat, yang selalu menyambutnya setiap pagi, yang entah sejak kapan menjadi bagian dari rasa aman yang ia miliki… tidak ada.
Alexandria langsung bangkit, rasa kantuknya hilang begitu saja. Pandangannya menyapu ruangan, mencari sosok besar yang biasanya terbaring di sudut dekat perapian, tapi tempat itu kosong. Tidak ada bulu hitam legam, tidak ada napas berat yang menenangkan, tidak ada sepasang mata keemasan yang menatapnya diam-diam.
“Kumbang?” panggilnya, suaranya masih serak, tapi jelas mengandung kecemasan.
Ia melangkah cepat keluar kamar, matanya bergerak ke segala arah. Tidak ada di ruang tengah, tidak ada di dekat pintu, tidak ada di mana pun. Hanya pintu depan yang sedikit terbuka, bergoyang pelan tertiup angin pagi.
Jantungnya langsung berdegup lebih cepat.
“Kumbang…?” kali ini lebih pelan, hampir seperti bisikan yang takut mendengar jawabannya sendiri.
Pikiran buruk mulai merayap tanpa izin. Bagaimana kalau dia pergi? Bagaimana kalau semua ini hanya sementara, dan sekarang makhluk itu memilih kembali ke dunianya sendiri? Dada Alexandria terasa sesak, seperti ada sesuatu yang diremas pelan dari dalam.
“Tidak… kamu tidak mungkin pergi begitu saja,” gumamnya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri, meski langkahnya sudah berubah lebih cepat menuju pintu.
Ia mendorong pintu itu terbuka lebar.
Dan di sana, di bawah sinar matahari pagi yang hangat, sosok itu berdiri.
Macan kumbang itu menoleh saat mendengar suara pintu. Tubuhnya tegap, bulunya berkilau gelap, dan di dekat kakinya tergeletak seekor rusa kecil yang masih segar, seolah baru saja dijatuhkan beberapa saat lalu. Untuk sesaat, Alexandria hanya berdiri diam, napasnya tertahan, lalu rasa lega itu datang begitu kuat sampai hampir membuat lututnya lemas.
“Kamu…” napasnya keluar pelan.
Macan itu langsung berjalan mendekat, langkahnya mantap, tanpa ragu, seolah jarak di antara mereka tidak pernah benar-benar ada. Begitu sampai di depannya, ia menundukkan kepala, menggosokkan hidungnya ke tangan Alexandria dengan gerakan yang begitu akrab, begitu hangat, seakan menenangkan sesuatu yang tidak perlu dijelaskan.
Alexandria tidak menahan diri. Ia langsung memeluk leher besar itu, membenamkan wajahnya di bulu yang hangat.
“Kamu membuatku takut,” bisiknya, suaranya bergetar tipis. “Aku pikir kamu benar-benar pergi.”
Macan itu mengeluarkan dengungan rendah, tubuhnya sedikit merapat, seperti memahami sepenuhnya apa yang ia rasakan. Lalu ia menggeser kepalanya, mengarahkan perhatian Alexandria ke rusa yang tergeletak di tanah.
Alexandria mengikuti arah itu, matanya melembut.
“Kamu berburu… untukku?”
Tidak ada jawaban dengan kata, tapi cara ia kembali mendekat, cara ia menggosokkan pipinya ke lengannya, meninggalkan aroma yang lebih kuat dari biasanya—itu sudah cukup jelas.
Senyum Alexandria muncul pelan.
“Terima kasih… benar-benar.”
Ia mengusap kepala macan itu lebih lama dari biasanya, seolah tidak ingin melepaskan sentuhan itu terlalu cepat.
Hari itu berjalan lebih ringan. Alexandria memotong dan mengolah daging rusa, sebagian ia simpan, sebagian lagi ia masak. Sepanjang waktu itu, macan kumbang itu tidak pernah benar-benar menjauh. Ia duduk di teras, memperhatikan setiap gerakan Alexandria dengan tenang, tapi matanya selalu mengikuti, seolah memastikan wanita itu tetap dalam jangkauannya.
Saat siang mulai bergeser, Alexandria duduk di bawah pohon besar di belakang pondok. Udara terasa sejuk, angin membawa aroma tanah dan dedaunan kering. Ia mengusap bulu hitam yang kini terbaring santai di pangkuannya, jemarinya bergerak perlahan tanpa sadar.
“Aku mimpi aneh semalam,” ucapnya tiba-tiba.
Macan itu tidak bergerak, tapi telinganya sedikit terangkat.
“Ada seseorang di sini… seorang pria. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, tapi aku tahu dia nyata di dalam mimpi itu. Cara dia berdiri, cara dia menatap… rasanya seperti aku sudah mengenalnya sejak lama.”
Gerakan tangan Alexandria melambat.
“Dia memakai pakaian aneh, seperti bangsawan di buku lama milik ibu. Dan saat dia memanggilku…” ia terdiam sejenak, alisnya sedikit berkerut, mencoba mengingat, “aku merasa… aku harus mendekat.”
Macan itu tiba-tiba menegang halus di pangkuannya.
Alexandria tersenyum kecil, tanpa menyadari sepenuhnya perubahan itu.
“Yang aneh, auranya… mirip denganmu. Hangat, tapi kuat. Dan matanya…” ia menatap langsung ke mata keemasan itu, suaranya merendah tanpa sadar, “aku yakin warnanya sama seperti ini.”
Hening sejenak.
“Menurutmu itu hanya mimpi?”
Macan itu mengangkat kepalanya, lalu menjilat pipi Alexandria perlahan, lebih lama dari biasanya. Sentuhan itu membuat Alexandria tertawa pelan, meski ada sesuatu di dalam dadanya yang terasa sedikit berbeda—seperti ada jawaban yang hampir ia pahami, tapi belum sepenuhnya bisa ia tangkap.
Sore harinya, Alexandria memutuskan pergi ke sungai. Keranjang kecil di punggungnya berisi pakaian kotor, dan seperti biasa, macan itu berjalan di sisinya. Namun hari ini, langkahnya tidak setenang biasanya. Ia beberapa kali berhenti, mengangkat kepala, mencium udara lebih lama dari yang seharusnya.
“Ada apa?” tanya Alexandria, memperlambat langkah.
Macan itu tidak langsung menjawab dengan gerakan biasa. Ia mendekat, hampir menempel di sisi Alexandria, lalu mengeluarkan geraman rendah yang tidak pernah ia dengar sebelumnya—bukan sekadar peringatan, tapi sesuatu yang lebih tajam.
Hutan terasa… terlalu sunyi.
Tidak ada suara burung. Tidak ada gerakan kecil di semak. Hanya langkah mereka berdua yang terdengar, dan itu membuat Alexandria tanpa sadar menahan napas.
Sesampainya di sungai, ia tetap mulai mencuci, tapi perhatiannya tidak benar-benar di sana. Sementara itu, macan kumbang itu bergerak mengitari area dengan lebih intens, lalu berhenti di satu titik, tepat di tepi tanah yang masih lembap.
Ia menunduk, mencium.
Tubuhnya langsung menegang.
Geraman yang keluar kali ini lebih dalam, lebih berat.
Alexandria segera berdiri dan mendekat. Pandangannya jatuh pada tanah di depan mereka—jejak kaki. Bukan jejak hewan, bukan pula milik penduduk desa. Polanya asing, besar, dan di sampingnya ada bekas tekanan yang lebih dalam, seperti sesuatu dengan kekuatan besar pernah berpijak di sana.
Perut Alexandria terasa dingin.
“Ini… bukan dari desa,” gumamnya pelan.
Ia tidak perlu penjelasan panjang. Instingnya sudah cukup.
Macan itu bergerak cepat, berdiri di depannya, seolah tanpa sadar mengambil posisi sebagai pelindung. Tubuhnya sedikit merendah, siap menerkam jika perlu. Alexandria menatap punggung besar itu, lalu tanpa ragu memeluknya dari samping, mencari kehangatan yang selalu ia percaya.
“Mereka masih di sekitar sini… ya?”
Tidak ada jawaban, tapi cara macan itu tetap berdiri di depannya, tidak bergeser sedikit pun, sudah cukup menjelaskan semuanya.
Mereka tidak berlama-lama. Alexandria segera mengemasi barangnya, dan perjalanan pulang terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Tidak ada percakapan, hanya langkah cepat dan waspada.
Sesampainya di pondok, Alexandria langsung menutup pintu dan mengunci jendela. Tangannya bergerak cepat, tapi napasnya masih belum sepenuhnya stabil. Ia berdiri di tengah ruangan sejenak, mencoba menenangkan diri.
Lalu matanya jatuh pada macan kumbang itu.
Masih di sana. Tegap. Waspada.
Menjaga.
Langkah Alexandria melunak. Ia mendekat, lalu memeluk leher itu sekali lagi, lebih erat dari sebelumnya.
“Kamu tidak akan membiarkan siapa pun menyakitiku… kan?”
Dengungan rendah menjawabnya, hangat dan mantap.
Malam datang dengan suasana yang berbeda. Tidak ada lagi ketenangan yang benar-benar utuh, tapi ada sesuatu yang lain yang tumbuh lebih kuat—ikatan yang tidak perlu diucapkan.
Alexandria tertidur dengan tubuh masih terasa lelah, tapi tidak lagi sendirian.
Dan di sisi lain ruangan, macan kumbang itu tetap terjaga.
Matanya terbuka, menatap kegelapan dengan diam, tapi tidak kosong. Ada sesuatu di sana—kemarahan yang tertahan, tekad yang mulai mengeras, dan satu keputusan yang perlahan terbentuk.
Ia tidak bisa terus seperti ini.
Tidak jika bahaya sudah mulai mendekat.
Tidak jika Alexandria berada di dalam lingkarannya.
Udara malam bergerak pelan, membawa aroma yang terlalu familiar untuk diabaikan. Dan untuk pertama kalinya sejak lama, sesuatu di dalam dirinya mulai bergeser—seperti batas yang perlahan retak, menunggu waktu yang tepat untuk pecah.
Waktu itu semakin dekat.