"Tuhan!, tidak banyak yang ku pinta, hanya kuatkan hati ku, bimbing langkahku, agar aku selalu sabar dan ikhlas dengan semua kehendak dan ketentuan mu ini".
Kisah perjuangan hidup seorang anak manusia, seorang remaja miskin, putra dari seorang penderita odgj bernama Kaenan.
Hinaan, caci maki, fitnah dan perundungan bahkan kekerasan fisik, sudah menjadi lauk makan sehari hari.
Meskipun hidup dalam kemiskinan dan tak punya siapa siapa, satu hal yang masih di yakini Kaenan, dia masih punya Allah dan doa doa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvinoor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
"Ada apa Ayi?" pak Kiai Nuruddin mengulangi pertanyaan nya, seraya menatap kearah wajah Kaenan yang bengkak dan biru lebam.
Kaenan tidak menjawab, hanya menunduk saja, saat Aisyah menarik tangan nya untuk masuk ke dalam rumah di ikuti oleh Kiai Nuruddin dari belakang.
Kaenan duduk di lantai ruang tamu, sementara Aisyah masuk ke kamar nya, dan Kiai Nuruddin juga masuk kedalam kamar nya.
Beberapa saat kemudian, Kiai Nuruddin keluar, dan duduk di sofa.
"Sini duduk di sofa ini nak, ayo!" ajak Kiai Nuruddin.
"Iya Kiai, disini saja" tolak Kaenan sambil bersandar di tembok ruangan tamu.
"Ada apa nak?, kau berkelahi?" tanya sang Kiai lembut.
Kaenan menggelengkan kepala nya.
"Lantas wajah mu bonyok seperti ini kenapa?" tanya Kiai lagi.
Secara singkat, Kaenan menceritakan kesialan nasib nya pagi ini kepada Kiai Nuruddin.
"Tidak ada jalan keluar bagi manusia, selain bersikap sabar nak, hidup di Dunia ini hanyalah jalan menuju kematian, sehebat apapun, sekuat apapun, kematian jualah tujuan akhir hidup kita, beruntung orang yang sabar dan ikhlas dengan takdir hidup nya, dan rugi orang yang hidup hanya mencari kemuliaan Duniawi semata, apa lagi sampai menyakiti dan mencelakai sesama, harta sebanyak apapun, jika kau mati, kelak juga akan di tinggalkan, istana yang megah, mobil yang banyak dan mahal mahal, hanya jadi rebutan orang yang tinggal, istri yang banyak dan cantik cantik, kelak akan mencari suami baru, sehebat apapun seseorang itu, tak ada yang hidup kekal, semua nya akan berujung pada kematian, rumah yang sesungguhnya hanyalah liang kuburnya" ujar Kiai Nuruddin menatap kearah Kaenan dengan tatapan matanya yang sedih.
"Abi bangga pada mu nak, kau penghafal Al Qur'an termuda di pesantren ini" tambah Kiai Nuruddin lagi.
Aisyah keluar dari kamar nya, membawa kotak p3k, air hangat dan kain bersih, untuk membersihkan luka Kaenan.
Selama hampir sembilan tahun berlalu, masuk dalam keluarga Kiai Nuruddin, sekalipun Kaenan tidak pernah melihat rambut Aisyah, karena setiap keluar dari kamar nya, gadis itu selalu tertutup dengan busana muslimah nya.
Aisyah membersihkan luka lebam di wajah Kaenan dengan kain bersih dan air hangat. Mata nya berkaca kaca menatap wajah anak muda ini.
"Kak!" Kaenan mengangkat wajah nya, menatap wajah cantik Aisyah.
"Hm!" hanya itulah jawaban gadis cantik itu.
"Bagai mana jikalau Kae berhenti saja sekolah kak?" tanya Kaenan.
"Haaah?, apa kau bilang?, berhenti?, tidak!, tidak!, tidak!, kau tidak boleh berhenti sekolah dik, kau harus sekolah, kapan perlu hingga kuliah, iya kan Abi?" ujar Aisyah menatap kearah Abi nya.
"Tentu nak, selama Abi masih mampu membiayai, Kae harus terus sekolah setinggi tingginya, tidak boleh putus di tengah jalan" ujar Kiai Nuruddin.
"Kenapa adik ingin berhenti sekolah?, apa hanya karena perundungan itu saja?" tanya Aisyah.
"Tidak kak!, bukan cuma karena itu, Kae kasihan sama ibu, setiap hari memulung untuk Kae, Kae ingin ibu istirahat dan Kae saja yang kerja, lagi pula, semua orang di sekolah tidak ada satupun yang menyukai Kae" jawab Kaenan dengan wajah sedih.
"Dik!, kau tidak boleh patah semangat, buktikan pada semua orang, jika kau juga mampu bangkit dan berhasil, sebentar lagi ujian akhir semester ganjil, jangan buat kakak dan Abi kecewa dik, kakak mohon, teruskan sekolah mu hingga perguruan tinggi!" pinta Aisyah sungguh sungguh.
"Tidak ada tapi tapian!" tegas Aisyah.
Kiai Nuruddin rupanya sudah memanggil seorang tukang pijat untuk datang memijat tubuh Kaenan.
Seorang laki-laki tua datang memijat tubuh Kaenan yang bengkak biru lebam.
"Apakah kita harus diam saja bi, lihat tubuh adik sampai seperti ini!"tanya Aisyah sedih melihat tubuh Kaenan seperti itu.
"Tidak usah memperpanjang urusan kak, nanti malah merembet kemana mana, Kae takut pesantren ini turut terkena getah nya, biarlah kak, Hasbunallahi wani'mal wakil, ni'mal Maula wani'mal nasir, Allah maha tahu kak, biar seluruh Dunia membenci, asal Allah senang, itu lebih dari segala nya, walau seluruh Dunia senang, namun jika Allah benci, itu malapetaka besar, Kae sudah ikhlas kok kak" sahut Kaenan.
Kiai Nuruddin tersenyum mendengar kata kata yang meluncur keluar dari mulut Kaenan itu.
Memang Kaenan disamping bersekolah di sekolah umum, namun juga sore hingga malam hari nya mengaji di pondok pesantren Al Ilmi, setelah selesai sholat isya barulah dia pulang ke pondok nya di pinggiran TPS (tempat pembuangan sampah).
Kaenan meskipun sangat irit jika berbicara dengan orang lain, namun tidak jika dengan Kiai Nuruddin dan keluarga nya.
Seorang wanita cantik berusia paruh baya, berhidung mancung khas wanita Mesir, keluar dengan membawa nampan berisi tiga gelas teh panas.
"Ayo nak Kaenan, di minum air nya!" tawar ummi Nazeha, istri dari Kiai Nuruddin.
"Astaghfirullah!, apa yang terjadi nak?, kau berkelahi?" tanya ummi Nazeha kaget melihat wajah dan tubuh Kaenan yang babak belur itu.
Kiai Nuruddin menjelaskan apa yang telah dialami oleh Kaenan disekolah.
"Astaghfirullah hal azim!, tega sekali mereka melakukan ini kepada mu nak!" ucap ummi Nazeha berlinangan air mata. Wanita cantik kelahiran Kairo itu tidak mampu menahan air mata nya, melihat derita Kaenan, yang dia rawat semenjak usia lima tahun itu.
"Apa cita-citamu Kae?" tanya ummi Nazeha.
"Saya tidak tahu ummi, belum terpikirkan, kalau kak Aisyah?" Kaenan balas bertanya.
"Saya ingin kuliah di universitas Al Azhar dik" sahut Aisyah.
Aisyah ini meskipun usia nya baru tujuh belas tahun, namun dia sudah duduk di kelas dua belas Aliyah (setingkat SMA), itu karena semasa ibtidaiyah dahulu, dia pernah jamping kelas satu kali, waktu masuk, langsung ke kelas dua, itu karena waktu itu dia sudah bisa baca tulis Al-Qur'an dan latin.
Jadi tahun ini, Aisyah lulus dan langsung kuliah ke universitas Al Azhar Mesir, selama empat tahun.
Seharusnya Kaenan bila tidak sekolah, dia bantu bantu di pondok pesantren, baik motong rumput, maupun sampah di lingkungan pesantren. Namun hari ini, dia disuruh Kiai Nuruddin untuk liburan total setelah di pijit.
Setelah sholat Maghrib, ada acara rutin, yaitu pengajian hingga tiba waktu isya.
Setelah selesai sholat isya, barulah Kaenan pulang ke pondok nya, dimana bu Limah sudah menunggu nya.
Ke esokan hari nya, karena Kaenan merasa sudah agak mendingan, maka dia memutuskan untuk turun ke sekolah kembali, walaupun ijin libur nya belum habis.
Namun rupanya peristiwa kemarin belumlah benar benar selesai, Syafea mengadukan perihal Kaenan kepada pak Irfan Hanggada ayah nya.
Spontan pak Irfan menjadi sangat murka, hingga pagi pagi sekali, sudah mendatangi sekolah.
Cukup lama pria paruh baya itu berdiri di depan kelas bersama Syafea, menunggu kedatangan Kaenan.
"Lihat Stev, hari ini bakalan ada pertunjukan seru lagi nih!" bisik Jhonatan pada Stevanus teman satu geng nya.
Stevanus menatap kearah yang ditunjuk oleh sahabat nya itu.
"Ah! Bakalan bonyok lagi tuh anak, kasihan dia Natan!, padahal seingat ku, dia tidak pernah menjahili ataupun mengganggu mu!" tangkal Stevanus.
"Aku juga heran, ada dendam apa kau sama dia Natan, dia tidak berharga bagi kita, punya uang juga tidak, jagoan malah jauh, play boy juga bukan, kalau soal IQ, meskipun dia juara kelas, toh kau sendiri juga tidak pernah dapat rangking, jadi dia bukan saingan mu!" sela Judanto merasa heran.
"Aku hanya tidak suka sama dia, tanpa perlu ada alasan nya segala, tidak suka ya tidak suka, seharus nya sekolah kebangsaan ini tidak boleh dimasuki oleh orang miskin seperti dia, apalagi dia anak orang gila!" sanggah Jhonatan.
Saat Kaenan berjalan dengan buru buru memasuki gerbang sekolah, Syafea segera berseru kepada ayah nya.
"Pah! itu orang nya!" teriak Syafea sambil menunjuk kearah Kaenan.
Buru buru pak Irfan melangkah menghampiri Kaenan yang berjalan sambil menunduk itu.
"Hei kau!, berhenti!" teriak pak Irfan.
Kaenan kaget mendengar bentakan dari seseorang yang sudah berdiri di hadapannya menghalangi jalan.
"A… ada apa om?" tanya Kaenan gagap.
Arena berjalan sambil menunduk, Kaenan tidak melihat jika tidak jauh di depan nya tadi, ada Syafea dan papah nya yang berdiri menunggu nya.
"Kau yang bernama Kaenan?" tanya pak Irfan nyaring.
"Be… benar om" sahut Kaenan.
"Plak!" ....
"Plak!" ....
"Plak!" ....
"Plak!" ....
Tanpa basa basi, tangan pak Irfan langsung bersarang di wajah Kaenan hingga memar dan biru lebam semakin terlihat parah.
"Rasain kau bangsat hina dina, anak sampah, anak orang gila!" teriak Syafea dari kejauhan sambil bersorak, hati nya benar benar puas sekarang.
Tak sedikitpun terdengar suara rintihan ataupun tangisan yang keluar dari mulut Kaenan, meskipun kini hidung dan kedua bibirnya sudah bercucuran darah.
"Kurang ajar, kau sudah melakukan pelecehan pada putri ku, bangsat anak sampah ini, kau pikir kau setara dengan putri ku, hingga berani mencium nya, iya?" teriak pak Irfan murka.
Tidak ada suara bantahan sedikitpun juga yang keluar dari mulut Kaenan.
Kali dan tangan pak Irfan terus bergerak, menyiksa tubuh Kaenan.
Secara pikiran orang yang singkat, pak Irfan tidak bisa sepenuh nya disalah kan, siapa juga yang tidak khilaf jika tiba-tiba sang putri mengaku dilecehkan dan dicium oleh seorang pria melarat putra seorang penderita odgj. Begitu juga dengan pak Irfan, saat mendengar laporan dari putri nya, darah nya langsung mendidih, kemurkaan membutakan akal dan pikiran nya.
Hampir semalaman pak Irfan tidak bisa tidur, karena pikiran nya terbawa hawa amarah.
Entah berapa kali pukulan dan tendangan mendarat di tubuh Kaenan, hingga tubuh anak muda itu limbung.
Untung pak Bambang yang baru datang, segera berlari menangkap tangan pak Irfan, agar tidak keterusan.
"Pak Irfan!, berhenti pak!, berhenti!,bisa mati anak orang!" teriak pak Bambang.
"Biar mati sekalian!" jawab pak Irfan murka.
"Dan bapak akan di hukum mati karena melakukan pembunuhan berencana, bapak bisa kena pasal tiga ratus empat puluh pak!" teriak pak Bambang nyaring.
Mendengar kata hukuman mati, jangan kan pak Irfan, Syafea juga gemetaran karena nya.
Setidak nya, yang paling ditakuti gadis itu adalah kehilangan orang tua nya.
Pak Bambang menggandeng tangan pak Irfan masuk kedalam ruangan kepala sekolah, sementara Kaenan dibawa beberapa orang guru ke ruang UKS.
...****************...